
Beberapa minggu berlalu, bulan pun telah berganti. Topan semakin berani terang-terangan mendekati Alena, seperti saat Alena kembali harus pulang malam.
"Duh, udah jam 7 malam. Tapi hujan masih deras, nunggu reda takut kemaleman." Alena masih berdiri di area pabrik, Ia belum bisa pulang karena hujan yang deras.
Ketika tengah menunggu hujan reda, tiba-tiba saja Topan datang menghampiri Alena. Topan menggunakan jas hujan berjalan menuju Alena, dan memberikan sebuah jas hujan pada Alena.
"Pakai jasnya!" Pinta Topan.
Alena menatap jas itu, "buat apa?" Tanya Alena.
"Ya buat Kamu pulang sekarang. Hujan kayak gini redanya lama, nanti kemaleman. Aku anterin aja, Kamu sekarang pakai jasnya!" Seru Topan.
"Ya ampun, gak usah, Kak. Kasian Kak Topan bolak balik hujan-hujanan, Aku nunggu reda aja." Alena menolak dengan alasan tak mau merepotkan Topan yang hampir setiap Ia lembur pasti mengantarkannya pulang.
"Udah, ayo!" Topan memaksa.
Alena pun memakai jas yang di berikan oleh Topan, dan Ia pun akhirnya pulang di antar oleh Topan dalam keadaan hujan yang masih deras.
Selama perjalanan, hujan masih turun dengan derasnya. Bahkan ketika Mereka sampai pun, hujan bahkan semakin menderas.
"Kak. Makasih banyak ya udah nganterin," ucap Alena.
"Iya. Kamu masuk sana! Dari gang gak jauh kan ke rumah?" Tanya Topan.
"Nggak, kok. Sekali lagi makasih, maaf gak bisa ngajak mampir ke rumah dulu." Alena masih belum mempersilahkan Topan untuk mampir ke rumahnya, bagi Alena membawa seorang laki-laki ke rumah adalah ketika hubungan itu menuju jenjang serius.
"Iya gak apa-apa, Aku pulang ya!" Seru Topan.
"Iya. Hati-hati!" Balas Alena.
Topan pun memutar balik motornya, dan segera melajukan kembali motornya. Alena segera berjalan menyusuri gang rumahnya, setelah memastikan Topan yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sesampainya di rumah, Alena segera berganti pakaian dan meminum air hangat agar tak masuk angin.
Alena mengecek ponselnya, sudah lima belas menit berlalu setelah Topan mengantarnya.
"Kak Topan udah pulang belum, ya?" Alena menunggu kabar dari Topan, Ia khawatir karena hujan memang masih sangat deras.
Ketika menatap ponselnya, Alena teringat pada Ezra.
"Udah beberapa minggu ini Ezra gak ada kabar. Hemm, mungkin sekarang emang Dia punya kehidupan baru."
Alena sudah memastikan untuk tak menunggu kabar Ezra lagi, Ia enggan jika harus berjuang sendiri.
__ADS_1
Saat hendak beristiarahat, ponsel Alena berbunyi. Sebuah pesan di kirim oleh Topan, Alena pun segera membuka pesan dari Topan.
Alena bersyukur, karena Topan sudah sampai di Mes.
Namun ketika hendak tidur, kembali Topan mengirim pesan dimana Ia menyatakan cintanya lagi pada Alena.
"Len. Kurang pembuktian apa lagi Aku sama Kamu? Apa Kamu masih gak bisa buka hati Kamu?" Tanya Topan.
Alena merenung, Ia merasa simpati pada Topan. Melihat bagaimana Topan selalu ada untuknya di akhir-akhir ini, membuat Alena semakin tersentuh. Namun di sisi lain, hati Alena belum sepenuhnya bisa Ia berikan pada Topan.
"Kak. Aku ngucapin makasih banyak buat semua yang Kakak lakuin buat Aku, Aku bukan gak mau buka hati. Cuma, Aku gak mau jalanin hubungan dengan setengah hati," jawab Alena.
"Aku tahu, Kamu masih berharap sama mantan Kamu itu. Tapi kan Dia udah gak ada kabar, gimana kalau ternyata Dia lebih dulu punya pasangan baru? Sedangkan Kamu disini malah menutup hati?" Tanya Topan.
Alena sedikit tersentil dengan perkataan Topan, dan nyatanya perkataan Topan memang ada benarnya juga.
"Ya udah, Aku mau terima Kakak. Tapi maaf kalau Aku belum bisa sepenuhnya kasih hati Aku sama Kakak," ucap Alena.
"Kamu beneran, Len? Gak apa-apa, cinta itu datang seiring berjalannya waktu!" Topan begitu antusias mendapat jawaban dari Alena.
Dan malam itu pun, Alena menerima cinta Topan. Ia mencoba untuk membuka lembaran baru, berharap pilihannya adalah yang paling terbaik.
***
Saat bekerja pun, Topan sering mengunjungi gudang dengan alasab mengambil barang.
Di awal-awal berhubungan, Topan termasuk laki-laki yang begitu meratukan Alena.
Hampir setiap hari, Topan mengantarkan Alena pulang.
Hampir setiap hari juga, Topan membelikan Alena sarapan bahkan jajanan di makan siang.
"Kak. Kayaknya ini berlebihan deh, udah gak usah beliin Aku apa-apa lagi. Aku bisa kok beli sendiri," ujar Alena.
"Gak apa-apa, Aku senang kok bisa kayak gini ke Kamu." Topan menatap Alena dengan tulus.
Alena merasa beruntung, perlakuan Topan hampir menyerupai Ezra di awal-awal Mereka berpacaran.
Bahkan mungkin, Topan memiliki nilai lebih di banding Ezra.
Sore itu, ketika hendak pulang. Alena tengah menunggu Topan yang harus menyelesaikan dulu pekerjaannya, ketika itu Yanto datang menghampiri Alena.
"Len. Pajak jadiannya dong!" Sindir Yanto.
__ADS_1
"Dih, Bapak apaan sih. Mau PJ apa?" Tanya Alena.
"Nggak, deh. Bercanda!" Seru Yanto sambil tertawa.
"Eh, iya. Kamu kok bisa nerima si Topan akhirnya?" Tanya Yanto.
Alena sempat terdiam, Ia seperti tengah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Yanto.
"Kenapa, ya?" Alena tampak kebingungan.
"Hemm, karena Dia royal, ya? Karena Dia baik banget?" Tebak Yanto.
"Lebih dari baik, Pak. Malah terlalu baik," jawab Alena.
Yanto terdiam mencerna perkataan Alena, "inu Kamu nerima Dia karena emang mulai ada rasa, atau karena... Kasian?" Tanya Yanto lagi.
Alena kembali terdiam, perkataan Yanto membuatnya kembali berpikir keras.
"Gak tahu, Pak. Jujur gak tahu kenapa, kayaknya Aku emang belum ada rasa sama Topan. Padahal kalau di pikir, Dia kurang apa? Dia memperlakukan Aku begitu baik, sampai kadang Aku ngerasa gak enak karena kebaikannya Dia. Tapi semua perhatian, semua perlakuan manis Topan itu gak mudah bikin Aku jatuh hati sama Dia. Aku juga gak tahu kenapa?"
Yanto menatap Alena, "itu artinya Kamu cuma kasihan sama Dia. Ya Bapak sih cuma bisa nasihatin Kamu aja, kalau emang gak suka gak ada rasa jangan di paksain. Jangan membuat luka semakin dalam dan susah buat di obati!" Saran Yanto.
Alena mendengarkan semua perkataan Yanto dengan baik, Alena pun kini seakan tengah meyakinkan dirinya untuk melanjutkan hubungannya dengan Topan.
"Bapak sendiri, gimana sama Kak Ria?" Tanya Alena.
"Hah, si Ria mh udah gak aneh. Gak butuh ngilang, giliran ada maunya deketin, nempel-nempel, nelponin!" Gerutu Yanto.
"Ya kan resiko, kenapa juga Bapak mau sama istri orang? Pak, ingetloh. Istri Bapak kerja di negara orang itu buat membantu Bapak disini, membantu kebutuhan anak Kalian. Bapak malah main api!" Seru Alena.
"Hemm, ya gimana ya. Karena sering ketemu sama ngobrol juga sih sama Dia jadi begini. Susah Len kalau udah sejauh ini," ujar Yanto.
"Tapi apa Bapak gak sayang sama istri? Kalau emang udah gak sayang, lepasin. Jangan biarin luka itu semakin dalam dan susah buat di obati nantinya!" Seru Alena.
"Dih, itumah kata-kata Bapak!" Tukas Yanto.
"Ya sama, kan? Udahlah, kembali fokus sama istri dan anak Bapak. Gak usahlah kayak gini, gak baik!" Saran Alena.
"Lihat nantilah," jawab Yanto.
Alena begitu miris, ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, begitu banyak orang yang telah menikah mengkhianati pernikahan Mereka. Entah apa yang ada di pikiran Mereka yang berselingkuh, apa yang Mereka cari di diri orang lain. Sedangkan Mereka sendiri, telah berkomitmen untuk hidup bersama dengan orang yang Mereka pilih sendiri untuk menjalani biduk rumah tangga.
Kata bosan, menjadi sebuah alasan yang sering Alena dengar. Padahal jika di pikir ketika sebuah rumah itu atapnya bocor, yang di ganti itu gentingnya bukan rumahnya.
__ADS_1