Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Masa Lalu Yusuf


__ADS_3

Alena sudah mulai kembali bekerja, setelah berbincang dengan Alin dan mengetahui bagaimana kehidupan di pabrik, Lena beranggapan bahwa tak ada pasangan yang benar-benar jujur dan setia.


Alena melihat bagaimana seorang pria beristri, bersikap manis terhadapt wanita yang bukan pasangannya. Bahkan, banyak yang mengaku lajang di saat anak istri Mereka menunggu di rumah.


"Len. Nanti sore ada barang datang, kayaknya Kita lembur deh." Yusuf menuturkan.


"Barang apa, Cup? Banyak?" Tanya Alena.


"Datang kain. Pak Iyan sama Bu Novi juga kayaknya pada lembur, Mereka ada meeting. Gimana, sanggup lembur?" Tanya Yusuf.


Untuk pertama kalinya, Alena lembur. Ia tak keberatan sama sekali, namun yang Ia khawatirkan adalah mobil angkutan umum. Alena belum pernah pulang malam sebelumnya, apalagi sampai naik angkutan umum sendiri di malam hari.


"Kira-kira sampai jam berapa, Cup?" Tanya Alena.


"Emm kayaknya lewat dari jam tujuh malem, sih. Gak akan malem banget kok," jawab Yusuf.


Alena berpikir sejenak, di bawah jam 10 malam biasanya angkutan umum dan jalanan masih ramai. Alena pun menyanggupi untuk lembur kala itu, Ia menyempatkan untuk menghubungi ibunya dan memberitahukan bahwa Ia akan pulang terlambat.


***


Bel pulanh telah berbunyi, semua karyawan sudah membubarkan diri. Kecuali orang-orang yang memang di haruskan untuk lembur, saat itu beberapa orang memilih untuk beristirahat sejenak sebelum kembali lembur.


"Len, mau beli makanan dulu, gak?" Tanya Yusuf.


"Boleh, Cup. Kamu mau jajan apa?" Tanya Alena.


"Aku mau beli batagor, di depan ada yang jualan batagor enak. Mau gak?" Tanya Yusuf.


"Oh, boleh, Cup. Ya udah yuk!" Alena dan Yusuf pun keluar pabrik sebentar untuk membeli makanan, aktivitas lembur di lakukan selepas shalat mahgrib.


Terlihat beberapan orang berkumpul di mesjid depan Mes karyawan, kebanyakan dari Mereka adalah laki-laki.

__ADS_1


"Cup. Malu lewatnya," ujar Alena.


"Ngapain malu? Santai aja kali!" Seru Yusuf.


Alena pun berjalan dengan kepala menunduk, Ia memang menjadi bulan-bulanan para karyawan karena kabat kedekatannya dengan Topan.


"Cup. Mau kemana?" Tanya salah seorang karyawan bernama Toni.


"Jajan. Kenapa? Mau ngejajanin?" Tanya Yusuf.


"Dih, nggaklah. Itu awas lo nanti si Topan ngamuk ceweknya di ajak jalan sama Lo!" Timpal Toni lagi.


"Huh ngaku-ngaku!" Balas Yusuf. Alena dan Yusuf pun melewati kerumunan itu, dan keluar dari gerbang pabrik.


Saat hendak menuju pedagang batagor, Alena melihat ada Topan yang juga tengah membeli makanan yang sama.


"Cup. Gak mau jajan yang lain aja?" Tanya Alena.


Alena menghela nafasnya, mau tak mau Ia menghampiri Topan yang masih berada di tempat itu.


"Eh, Len. Jajan batagor juga?" Tanya Topan.


"Jajan nasi padang! Udah tahu, pake basa basi segala!" Sindur Yusuf.


"Dih biarin aja sih," jawab Topan.


"Mang, batagor dua, ya!" Pinta Yusuf.


"Siap, Jang. Tunggu sebentar!" Pinta Mamang pedagang batagor.


"Ih, si Mamang mah jangan panggil Ujang atuh. Panggil Saya gadis!" Pinta Yusuf sambil tertawa.

__ADS_1


Alena pun tak kuat menahan tawanya, Yusuf memang berlagak layaknya seorang perempuan dan cerita hidup cukup menarik sekaligus miris bagi Alena.


Ya, Yusuf dulu berkelakuan layaknya seorang laki-laki. Namun kecintaannya terhadap girl band korea, membuatnya selalu di bully oleh teman-teman bahkan karyawan lainnya.


Yusuf juga sempat berpacaran dengan sesama karyawan di pabrik itu, namum sikap Yusuf terlalu dingin kepada pacaranya bernama Rumaisya.


Rumaisya menuntut kabar dan perhatian Yusuf setiap saat, hal itu membuat Yusuf sedikit risih. Terlebih, di Mes karyawan Yusuf sekamar dengan dua orang teman laki-lakinya yang lebih dulu bertingkah layaknya seorang perempuan.


Entah mitos atau fakta, ada yang menyebutkan bila sikap 'pelangi' itu menular. Aku sempat menampik pernyataan itu, namun ketika melihat Yusuf mungkin memang ada benarnya juga. Dulu, Yusuf bahkan sering jalan bareng dengan seorang pria dewasa. Sikap pria dewasa itu begitu manis dan perhatian pada Yusuf, tak jarang Ia di ajak berkeliling Bandung pada setiap malam minggu dan sampai di belikan barang-barang oleh pria itu. Sikap pria itu, membuat Yusuf nyaman. Seiring berjalannya waktu, tingkah Yusuf semalin belok. Ia bersama dua temannya, sering membicarakan tentang pria yang menurut Mereka memiliki tampang juga tubuh yang menarik di mata ketiganya. Tingkah Mereka bahkan sudah di ketahui oleh banyak orang, termasuk karyawan pabrik. Yusuf seolah tak peduli dengan orang-orang yang sering menjadikannya bahan bercandaan, Yusuf malah semakin menjadi setiap harinya.


Bahkan Yusuf pernah merasakan sakit hati, ketika mengetahui bahwa pria dewasa yang tengah dekat dengannya itu menikah. Ia seakan tak peraya, bahkan Yusuf bertingkah seolah perempuan yang di nikahi pria dewasa itu adalah perusak hubungannya dengan si pria dewasa itu.


Semua orang mengira Yusuf akan trauma dan kembali ke jalan yang benar, nyatanya tidak. Kini malah Yusuf tengah menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Andi.


"Berapa, Mang?" Tanya Yusuf setelah pesanannya selesai di buat.


"Sepuluh ribu, Gadis." Mamang batagor menjawab.


"Udah biar Aku aja yang bayar!" Seru Topan saat Alena hendak membayar.


"Loh gak apa-apa, Kak. Aku ada kok uangnya," tolak Alena.


"Ih udah ari Kamu gak apa-apa kalau Dia mau bayarin, mah. Makasih ya!" Yusuf pun mengajak Alena kembali ke area pabrik, Alena pun menurut namun sebelum itu Ia sempat mengucapkan terima kasih pada Topan.


"Len. Udah terima aja si Topan, enak tahu kalau punya pacar yang dominan gitu," ujar Yusuf.


"Dominan gimana?" Tanya Alena.


"Iya. Jadi pasangan Kita tuh lebih nunjukin kasih sayangnya gitu ke Kita, intinya di cintai itu lebih enak ketimbang mencintai. Ngerti, gak?" Tanya Yusuf.


Alena terdiam, Ia tengah mencerna perkataam Yusuf. Dan menurut Alena, di cintai memang lebih baik dari mencintai. Teringat bagaimana Ia mencintai Ezra, namun Ezra tak dapat mempertahankannya ketika sang ayah menyuruhnya untuk memutuskan hubungan.

__ADS_1


"Apa Aku terima Kak Topan aja, ya? Dengan begit, mungkin Aku bisa lupa sama Ezra. Toh selama ini, Ezra gak ngasih kepastian apapun ke Aku." Alena tengah memikirkan keputusan terbaik untuk semuanya.


__ADS_2