Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Di Ujung Tanduk


__ADS_3

Alena akhirnya pulang sendiri, mengabaikan Topan yang terus menerus menelponnya.


Alena mengambil ponselnya, dan mematikannya.


Alena merasa semakin lama Topan semakin posesif, Alena yang selama ini bertahan, sudah hampir merasa menyerah.


Setelah kejadian hari itu, Alena bahkan tak mengabari Topan selama berhari-hari.


Di tempat kerjapun, Alena mengabaikan Topan.


"Heh, kenapa ngelamun terus!" Seru Yanto ketika melihat Alena termenung sendiri di tempat makan.


Alena terhentak, lamunannya buyar.


"Nggak, Pak. Lagi mumet aja," jawab Alena.


Seakan mengerti dengan permasalahan yang tengah di pikirkan oleh Alena, Yanto pun mencoba untuk mengajak Alena berbincang ringan.


"Len. Kalau menurut Bapak nih, yah. Terlalu cuek itu gak boleh, terlalu cinta juga gak boleh. Kalau yang Bapak lihat, Topan itu terlalu bucin sama Kamu. Makannya Dia sampai ngekang Kamu kayak gitu," tutur Yanto.


Alena menghela nafasnya, Topan memang tampak terlalu mendalam jatuh hati pada Alena.


"Aku bersyukur Kak Topan begitu memperlakukan Aku dengan baik, berusaha untuk selalu ada. Tapi kalau sampe kayak gini, Aku juga gak nyaman, Pak. Masa setiap hari Aku harus nunggu dianterin pulang sama Dia, gak boleh Aku pulang sendiri apalagi nebeng sama orang lain! Setiap hari harus ngabarin, setiap minggu harus jalan bareng. Aku juga kan punya keluarga, libur kerja Aku pengen istirahat diem di rumah." Alena menuturkan.


"Emm kalau sampai segitunya sih parah, Len. Gak sehat kalau di terusin," ujar Yanto.


"Terus Aku harus gimana, Pak?" Tanya Alena, Ia meminta saran terbaik pada Yanto.


"Kalau Bapak sih gak akan terlalu ikut campur, cuma sarannya sih ambil keputusan yang menurut Kamu terbaik buat semuanya. Bicarain baik-baik, ya walaupun emang gak akan ada yang baik-baik aja setelah perpisahan. Setidaknya jangan membiarkan Dia terlalu berharap lebih jauh dari sekarang!" Seru Yanto.


Alena terdiam, Ia tengah menimbang perkataan Yanto yang memang ada benarnya juga.


"Bel masih lama, ya? Kita santai-santai aja dulu, udah jangan ngelamun terus. Mending Kita dengerin musik aja!" Yanto pun mengeluarkan ponselnya dan memutar musik dari grup band favoritnya, Kerispatih.


🎶Jangan lagi kau sesali keputusanku


Ku tak ingin kau semakin 'kan terluka


Tak ingin kupaksakan cinta ini


Meski tiada sanggup untuk kau terima


Aku memang manusia paling berdosa


Khianati rasa demi keinginan semu


Lebih baik jangan mencintai aku dan semua hatiku


Karena takkan pernah 'kan kau temui cinta sejati


Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi


Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu


Sejuta kata maaf terasa 'kan percuma

__ADS_1


S'bab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya


Tapi bukan aku, uh-oh


Semoga saja 'kan kau dapati


Hati yang tulus mencintaimu


Tapi bukan aku


Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi


Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu


Sejuta kata maaf terasa 'kan percuma


S'bab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya


Berakhirlah sudah semua kisah ini dan jangan kau tangisi lagi


Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu


Sejuta kata maaf terasa 'kan percuma


S'bab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya


S'bab rasaku t'lah mati untuk menyadarinya🎶


***


Sepulang bekerja, Alena berniat untuk mengunjungi Bi Aidah juga Ibu sambungnya.


Sesampainya di rumah Bi Ai, Alena segera menemui Bi Ai yang tengah berada di warung.


"Assalamu'allaikum," ucap Alena.


"Wa'allaikumsalam," jawab Bi Aidah.


"Eh, Kamu, Len. Kemana aja, baru nengok Bibi?" Tanya Bi Aidah sembari merangkul Alena.


"Maaf, Bi Alena baru bisa kesini. Oh iya, ini Alena bawa makanan kesukaan Bibi." Alena menyodorkan setengah lusin donat yang di sukai oleh Bi Aidah.


"Wah, donat madu. Makasih ya," ucap Bi Ai.


"Sama-sama, Bi. Bibi gimana, sehat?" Tanya Alena.


"Hemm ginilah, Len. Dagangan sepi terus, tuh lihat etalase depan banyak yang kosong soalnya gak ada modal buat belanja lagi." Bi Aidah menuturkan.


"Hemm, sabar ya, Bi. Semoga nanti rame lagi kayak dulu," ucap Alena.


"Aamiin. Alhamdulillah nya itu warung sepi pas Kamu udah lulus, Bibi udah lega karena bisa selesain sekolah Kamu. Gak apa-apalah sekarang gak serame dulu asal ada buat makan, sama belanja yang kebutuhan pokoknya." Bi Ai kembali membahas jasanya dulu pada Alena.


"Iya makasih, Bi. Doain Alena semoga bisa membalas jasa Bibi," ujar Alena.


"Ah Bibi mah Kamu bisa nyukupin kebutuhan Kamu sendiri aja udah lega," ujar Bi Aidah.

__ADS_1


Alena tak menimpal, Ia hanya tersenyum tipis.


"Emm, Bi. Aku mau ke rumah Ibu dulu, ya!" Seru Alena.


"Oh, iya. Sering-sering Kamu tengokin Ibu, Dia kan berjasa juga buat Kamu. Selama Kamu sekolah dari SD sampai SMA sebelum Bapak Kamu meninggal, yang biayain sekolah Kamu kan Ibu tiri sama Bapak Kamu. Ibu kandung Kamu mana ada bantuin," ujar Bi Ai dengan sinis.


Alena hanya diam, Ia hendak berpamitan pada Bi Ai.


Bi Ai pun mengantar Alena hingga teras rumah, ketika hendak pergi tak sengaja terlihat seorang gadis seumuran Alena yang rumahnya tepat di depan rumah Bi Ai.


"Len, tuh lihat si Hilda! Dia sekarang kuliah, sambil kerja juga. Hebat sih, bisa kuliah hasil kerja keras sendiri. Sekarang Dia juga udah bisa ngasih uang bulanan ke ibunya," ujar Bi Ai.


Alena menatap ke arah Hilda yang juga Ia kenal namun hanya sekedar kenal, tanpa berhubungan akrab.


"Bi, Lena ke rumah Ibu ya, keburu maghrib." Alena pun mencium tangan Bi Ai dan segera pergi menuju rumah ibunya.


Alena berjalan di pinggiran jalan, Ia pun melewati rumah yang Ia tinggali bersama bapak, juga ibunya sewaktu kecil hingga sang ayah meninggal.


Alena menghela nafasnya, Ia memilih untuk memalingkan wajah menghindair menatap rumah yang begitu banyak kenangan.


"Pak. Lena rindu," ucap Alena dalam hatinya.


Sesampainya di rumah Ibu sambungnya, Alena segera masuk dan melepas rindu pada ibu sambungnya itu.


"Bu, gimana kabarnya?" Tanya Lena.


"Baik. Ibu kangen banget sama Kamu," ucap Ibu sambung Alena.


"Sama. Maaf ya, Lena baru nemuin Ibu." Alena tak bisa menahan air matanya, Ia pun menangis memeluk ibu sambungnya.


"Gak apa-apa. Ibu ngerti Kamu sibuk, Kamu capek setiap hari kerja. Gak apa-apa yang penting Kamu sehat!" Seru Ibu Alena.


"Oh, iya. Kamu nemuin Bi Ai dulu gak sebelum kesini?" Tanya Ibu sambung Alena.


"Iya, Bu. Kenapa?" Tanya Alena.


Ibu sambung Alena tampak merubah raut wajahny, hal itu membuat Alena bertanya.


"Bu, kenapa? Kok kayak sedih?" Tanya Alena.


"Len, kalau ada waktu Kamu sering-sering main ke rumah Bi Ai. Kalau ada uang, bawa sedikit bingkisan. Ibu sakit hati sering banget dapat omongan yang gak enak tentang Kamu," ucap Ibu sambung Alena.


"Omongan gak enak gimana, Bu?" Tanya Alena.


"Adik Ibu kan sering belanja ke warung Bi Ai, terus Dia sering denger kalau Bi Ai ngomongin Kamu ke setiap orang yang belanja. Katanya Kamu gak tahu di untung, udah kerja udah bisa cari uang sendiri baru balik ke rumah ibu kandungnya. Pas lagi jadi beban, Bi Ai yang selalu bantu Kamu. Malah Dia sering ungkit biaya yang Dia keluarkan buat tamatin sekolah Kamu," tutur Ibu sambung Alena.


Alena terdiam, Ia tak kaget dengan sikap Bi Ai yang seakan bermuka dua.


"Padahal kan Ibu tahu, setiap bulan Kamu sama adik Kamu itu dapat jatah sumbangan anak yatim. Dan Bi Ai sendiri yang bilang kalau jatah buat Kamu itu di pakai untuk biaya sekolah Kamu. Tapi kenapa seakan-akan itu Dia yang jor-joran ngabisin uangnya buat biaya sekolah Kamu, kalau aja Ibu punya penghasilan Ibu bakal ambil Kamu dari Bi Ai waktu itu." Ibu sambung Alena bercerita sembari sesekali mengusap air matanya.


"Udah gak usah di pikirin omongan Bi Ai, Bu. InsyaAllah nanti kalah Alena gajian, Alena akan usahakan buat nemuin Bi Ai." Alena menuturkan.


Ibu sambung Alena menatap Alena dengan dalam, raut wajahnya seakan menyiratkan sebuah kesedihan.


"Kamu tumbuh dewasa tanpa dampingan Bapak Kamu, seandainya Bapak masih ada mungkin Kita gak akan kepisah kayak gini. Kamu tahu gak, banyak banget rencana yang udah Ibu sama Bapak bikin buat masa depan Kamu! Bapak malah sudah niat mau kuliahkan Kamu ke kampus yang udah Bapak pilihkan, tapi takdir mengalahkan semuanya." Ibu sambung Alena kembali menangis, mengenang masa-masa indah bersama suaminya.

__ADS_1


Alena ikut menangis, dan memeluk Ibu sambungnya dengan erat.


"Aku dan Bapak, adalah dua orang yang gagal. Aku gagal membahagiakan Bapak, dan Bapak gagal menemaniku meraih kesuksesan. Karena kematianlah pemenangnya."


__ADS_2