Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Kabar Tak Pasti


__ADS_3

Arka baru saja tiba di mes, Yusif yang tengah berjalan langsung berlari ketima melihat Arka yang sudah kembali.


"Ka!" Panggil Yusuf.


Arka menoleh, keningnya mengkerut ketika melihat Yusuf yanv tergesa berlari ke arahnya.


"Kenapa?" Tanya Arka sembari memarkirkan motornya.


"Ada kabar tentang masalah Alena!" Seru Yusuf.


"Kabar apa?" Tanya Arka, wajahnya berubah serius.


"Benar dugaan Kita, Alena tuh gak salah!" Seru Yusuf.


"Hah? Buktinya udah dapet?" Tanya Arka dengan antusias.


Yusuf mengangguk, "ternyata uang di brankas itu di ambil si Yoman, waktu itu si Emet lagi mau belanja tapi Bu Novi belum sempat ngasih uang karena udah di tunggu buat meeting. Alhasil si Emet minta ke si Yoman, ya karena si Yoman udah di percaya sama Bu Novi jadi Dia ngambil uang di brankas!" Seru Yusuf.


Arka terhentak, Alena menjadi korban kesalahpahaman itu.


"Terus gimana dong? Bu Novi bilang apa gak soal Alena?" Tanya Arka.


"Gak tahu sih, Aku keburu keluar soalnya kesel banget! Tapi Dia juga kayaknya malu udah nuduh Alena, tapi kan Kita juga tahu gimana Bu Novi, gengsi buat Dia mengakui kesalahan apalagi hari minta maaf terus mohon-mohon buat Alena balik kerja lagi." Yusuf menuturkan.


Arka mengepalkan tangannya, Ia begitu kesal dengan sikap atasannya itu. Pasalnya, apa yang di perbuat olehnya telah merugikan Alena sampai harus kehilangan pekerjaannya.


"Selesai makan siang, Kamu masuk lagi aja. Kalau ada kesempatan, coba tanyain aja ke Bu Novi soal Alena!" Saran Yusuf.


Arka mengangguk, Ia memang berniat untuk menuntut keadilan bagi sang kekasih.


***


Sementara itu di rumah Alena, Ia tengah merebahkan tubuhnya. Ia memainkan ponselnya, dan mulai mencari-cari info lowongan kerja.


"Hemm, ngelamar kerja kemana, ya?" Alena masih mencari lowongan yang menurutnya cocok baginya.


"Eh, ini pabrik tekstil. Lagi buka lowongan, tapi harus lewat pos. Emm, apa Aku coba masukin lamaran kesini, ya?" Alena menemukan satu lowongan pekerjaan yang berbeda dari pekerjaan sebelumnya.


"Ah Aku coba ngelamar kesini juga deh," ujar Alena. Ia pun segera menyiapkan berkas perlengkapan untuk melamar pekerjaan.

__ADS_1


Saat tengah menulis, terdengar ponsel Alena berbunyi.


Alena meraih ponselnya, Ia melihat satu pesan masuk.


"Bu Novi?" Alena segera membuka pesan itu, dan membacanya.


"Ngapain ya Bu Novi nyuruh Aku ke pabrik besok? Mau marah-marahin Aku depan orang banyak lagi?" Alena membalas pesan dari Bu Novi, dan mengiyakan untuk datang ke pabrik esok hari.


"Ya udahlah dateng aja, sekalian pamitan sama temen-temen juga!" Seru Alena.


Sedangkan di pabrik, menjelang bel pulang Arka menyempatkan untuk menemui Bu Novi.


Ia sudah bertekad apapun yang akan terjadi, Ia tetap akan meminta keadilan untuk Alena.


Arka mengetuk pintu ruangan, dan meminta izin untuk masuk.


"Ya, masuk, Ka!" Pinta Bu Novi.


"Duduk!" Pinta Bu Novi.


Arka duduk, dan menyiapkan diri untuk memulai pembicaraan.


"Emm, Saya mau nanyain soal Alena. Kata Yusuf, semua udah jelas. Intinya Alena gak bersalah," ujar Arka.


Bu Novi menyimpan bolpoin yang tengah di gunakannya, Ia membenarkan posisi duduknya untuk menghadap Arka.


"Iya, terjadi kesalahan. Saya udah hubungi Alena juga kok, besok Dia akan ke pabrik." Bu Novi menuturkan.


Arka terhentak, Alena belum memberitahukan hal itu kepadanya.


"Oh, baik kalau begitu. Saya izin keluar," ujar Arka.


"Iya."


Arkapun keluar dari ruangan, dan bermaksud untuk menghubungi Alena.


Arka segera menuju mes, setelah itu Ia lekas mencarge ponselnya yang kehabisan baterai.


Setelah di rasa baterai cukup, Arka segera menghubungi Alena.

__ADS_1


"Halo, Len." Arka menyapa.


"Iya, halo. Kenapa, Ka?" Tanya Alena.


"Lagi apa?" Tanya Arka.


"Ini baru beres bikin lamaran kerja, kenapa? Kamu udah bubaran kerjanya?" Tanya Alena.


"Iya, udah. Lamaran buat kemana?" Tanya Arka.


"Ada loker di jalan industri, ya siapa tahu rezeki, kan? Oh, gak lembur?" Tanya Alena.


"Nggak, capek! Oh, Kamu udah nyari kerjaan lagi aja!" Seru Arka.


"Iya, nih. Biar gak lama nganggur," sahut Alena.


"Emm, gitu. Oh iya, katanya Bu Novi hubungi Kamu?" Tanya Arka.


"Iya, kok tahu. Iya Aku gak sempet kasih tahu, soalnya Aku takut ganggu Kamu kerja." Alena menjelaskan.


"Iya, gak apa-apa. Kamu mau dateng ke pabrik besok?" Tanya Arka.


"Iya, mau. Ya sekalian pamitan juga sama temen-temen yang lain," ujar Alena.


Arka terkejut, "loh, kok pamitan. Kan semuanya udah jelas kalau Kamu gak salah," ujar Arka.


Alena ikut berbalik terkejut, "maksudnya gimana?" Tanya Alena.


"Loh, emang Kamu belum tahu?" Tanya Arka.


"Tahu apa?" Tanya Alena yang memang belum mengetahui kabar tentang kebenaran masalahnya.


"Uang yang Bu Novi tuduhkan di ambil sama Kamu itu ternyata di ambil Yoman buat kebutuhan belanja si Emet, dan si Yoman itu lupa ngasih tahu Bu Novi." Arka menuturkan.


Alena menghela nafasnya, "ya Allah, Yoman! Jadi gimana?" Tanya Alena.


"Ya terus Bu Novi hubungi Kamu, Aku kira Dia minta Kamu balik kerja lagi." Arka menuturkan.


Alena terdiam, pasalnya dari pesan Bu Novi tak ada satupun kata-kata yang seolah meminta Alena untuk kembali bekerja. Beliau hanya meminta Alena untuk datang ke pabrik, tanpa memberi tahu kepentingannya apa.

__ADS_1


__ADS_2