
Seperti biasa, pagi hari Alena sudah bersiap untuk berangkat kerja. Kali ini, Ia pergi lebih dari jam biasanya karena pergi menggunakan sepeda motor.
Di jalan menuju tempat kerja, Alena melihat beberapa pedagang makanan yang cocok untuk sarapan, Alena terpikirkan untuk membeli sarapan yang akan Ia berikan pada Arka.
"Aku beli nasi kuning aja, deh." Alena menepikan motornya, dan memesan satu bungkus nasi kuning.
Setelah itu, Alena kembali melajukan kendaraannya menuju pabrik.
Sesampainya di pabrik, beberapa karyawan yang tengah bersantai di teras mesjid depan mes, menatap Alena yang datang dengan mengendarai motor milik Arka.
Terlihat Arka yang sudah berdiri di pintu mes, Ia menyambut kedatangan Alena dengan senyuman manis seperti biasanya.
Alena memarkirkan motor, dan berjalan menghampiri Arka.
"Kak. Ini kunci motornya, dan ini buat Kakak." Alena menyodorkan sebuah kantung kresek pada Arka.
"Ini apa?" Tanya Arka.
"Nasi kuning," jawan Alena.
"Buat Aku?" Tanya Arka.
"Ya iyalah, buat Kakak. Masa buat Aku," sahut Alena.
"Wah, makasih banyak. Kenapa repot-repot, sih." Arka merasa senang mendapat sarapan dari Alena.
"Nggak repot. Emm Aku ke pabrik duluan ya, Kak." Alena berpamitan.
"Oh, iya. Emm Aku mau sarapan dulu," ujar Arka.
Alena mengangguk, Ia pun keluar dari area mes dan berjalan menuju gedung produksi.
Saat hendak memasuki gedung, Alena melihat Topan yang tengah berjemur di area taman gedung. Alena mengalihkan pandangannya, Ia bersikap seperti saat Ia belum mengenal Topan.
Topan melihat Alena yang berjalan di seberangnya, sejujurnya Topan masih tak bisa melupakan Alena begitu saja.
Sementara itu, di mes karyawan.
Arka tampak menikmati sarapan yang di bawakan oleh Alena, baginya apa yang di lakukan Alena adalah suatu hal nyata dari bentuk perhatian.
Selama ini Ia hanya mendapat perhatian melalui pesan atau panggilan telepon, berbeda dengan Alena yang malah langsung melakukan perhatian itu dalam bentuk nyata.
"Enak bener sarapannya," ledek salah satu teman dekat Arka, Arman.
"Eh, Man. Hayu makan bareng!" Ajak Arka.
"Nggak, ah. Beli nasi kuning dimana?" Tanya Arman.
__ADS_1
"Gak beli, tapi di beliin!" Sahut Arka.
"Oh, titip ke siapa?" Tanya Arman lagi.
"Gak titip juga, ada yang ngasih maksudnya." Arka menjawab sembari mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Gaya. Siapa yang ngasih?" Tanya Arman.
"Emm, Alena." Arka menjawab dengan rasa bangga.
Arman terkejut," Alena yang anak gudang itu? Yang kalem itu, kan?" Tanya Arman dengan antusias.
"Heem, emang ada berapa Alena disini?" Tanya Arka.
"Ya Dia doang, sih. Kok bisa Dia ngasih sarapan? Kalian... Jadian?" Tanya Arman.
"Emm belum jadian sih, baru deket aja. Justru itu yang bikin Dia beda dari kebanyakan perempuan yang deket sana Gua," ujar Arka.
"Bedanya?" Arman kembali bertanya, Ia juga sangat mengenal bagaimana Arka. Arman tak merasa yakin dengan setiap perempuan yang dekat dengan Arka, pasalnya selama ini Arka memang dekat dengan beberapa perempuan, namun tak ada satupun yang memiliki status pasti.
"Kalau yang lain, perhatiannya cuma lewat hp. Salah satu contohnya ya ini, sarapan. Kalau yang lain cuma bilang, jangan lupa sarapan, itupun lewat hp. Kalau Alena, Dia gak banyak basa basi gitu, langsung aja ujug-ujug ngasih sarapan. Take action banyaknya!" Seru Arka.
Arman mengangguk, "kalau gitu, yang ini jangan di samain kayak yang lain!" Saran Arman.
Arka tak menimpal, Ia paham apa maksud perkataan Arman. Namun nyatanya, sampai detik ini Arka belum berniat untuk berkomitmen dengan perempuan manapun.
***
Sampai suatu hari, Alena sudah berani untuk duduk di teras mes karyawan.
Ketika itu, Alena duduk di ambang pintu.
Ia di sapa oleh salah satu teman dekat Arka yang lain, bernama Ade.
"Len. Nunggu si Arka?" Tanya Ade.
Alena mengangguk, "iya, Kak. Masih mandi, ya Arkanya?" Tanya Alena.
"Iya. Eh dari pada nunggu disini mending masuk. Ada si Alin sama Nur juga kok di dalem," ujar Ade.
"Nggak usah, deh. Disini aja," jawab Alena.
Ya, mes itu memang untuk laki-laki. Namun banyak juga karyawan perempuan yang hanya sekadar numpang makan di mes, atau mungkin sekadar ikut mengcas ponsel Mereka.
"Hp si Arka lagi di cas, tuh. Kali aja mau lihat isinya apa!" Seru Ade.
Alena terdiam, raut wajah Ade seakan menyimpan sebuah rahasia tentang Arka. Selama ini Alena memang tahu bahwa Arka tengah belum ingin untuk berkomitmen dengan perempuan, namun Arka tak pernah berbicara tentang perempuan lain yang juga dekat dengannya. Selama ini, Arka selalu intens mengabarinya. Namun entah mengapa, Alena seakan penasaran dengan apa yang di lakukan Arka di belakangnya.
__ADS_1
Terlebih, Alena ingin tahu apa ada perempuan lain yang juga tengah dekat dengan Arka atau tidak.
Alena akhirnya masuk ke mes, Ia melihat ponsel Arka yang tergeletak di lantai.
Awalnya Alena ragu, karena Ia tahu apa yang dilakukannya adalah sebuah tindakan yang tidak sopan. Namun, Alena sangat penasaran terlebih ketika ponsel Arka berbunyi dimana ada sebuah pesan masuk saat itu.
Alena mulai menyentuh ponsel Arka, Ia bahkan memberanikan diri untuk membuka pesan di ponsel Arka.
"Cha? Siapa ini?" Alena melihat satu pesan yang di kirim oleh perempuan yang di beri nama kontak 'cha' oleh Arka.
Alena membuka isi pesan itu, Alena begitu terkejut karena isi percakapan antara Cha dan Arka begitu mesra. Panggilan 'sayang' pun di lontarkan oleh keduanya, Alena begitu tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Alena kembali menaruh ponsel Arka, dan berusaha bersikap biasa ketika Arka keluar dari kamar mandi.
"Eh, Nong." Arka menyapa.
Jenong, adalah panggilan Arka pada Alena.
"Udah lama disini?" Tanya Arka.
Alena mengangguk, Ia bahkan seakan tak sanggup untuk menatap Arka.
"Kak. Aku mau ke gudang sekarang, ya. Oh iya, ini kunci motor Kakak." Alena memberikan kunci motor Arka, sudah lama ini Alena memang selalu pulang pergi bekerja menggunakan motor Arka.
"Kok di balikin? Kan nanti pulangnya Kamu pake lagi motornya?" Tanya Arka.
"Nggak, Kak. Nanti Aku pulang naik angkot aja," ujar Alena.
Arka terdiam, Ia merasakan sesuatu hal berbeda pada Alena.
"Kamu kenapa?" Tanya Arka.
Alena terdiam, Ia menghela nafasnya.
"Gak apa-apa. Aku ke gudang dulu ya," ucap Alena, Ia hendak keluar dari mes namun di cegah oleh Arka.
"Nong, tunggu! Kamu kenapa? Kok Aku ngerasa Kamu berubah?" Tanya Arka dengan hati-hati.
Alena yang tengah menahan tangisnya, masih memilih untuk tak menatap Arka.
"Cha itu, siapa?" Tanyq Alena yang membuat Arka tak berkutik sama sekali.
"Ka-kamu, tahu dari mana?" Tanya Arka dengan gugup.
Alena tersenyum miris, "Aku pikir, Kamu cuma belum mau berkomitmen sama Aku. Sampai kedekatan Kita selama ini, gak pernah ada status yang jelas. Aku gak tahu alasan pastinya apa, tapi sekarang Aku tahu. Ternyata ada hati yang Kamu jaga? Aku pikir, cuma Aku yang mengisi hari-hari Kamu beberapa waktu terakhir ini. Nyatanya Aku salah..." Alena menahan kalimatnya, Ia seakan tak sanggup untuk berhadapan dengan Arka.
Tanpa berucap apapun lagi, Alena keluar dari mes dan berjalan cepat menuju gudang.
__ADS_1
Sementara Arka, Ia masih mematung di tempatnya.
Arka mengusap kasar wajahnya, Ia mengakui bahwa selama ini bukan hanya Alena yang selalu memberi perhatian padanya.