
Alena membantu membawa makanan ke ruang tamu, Ia melihat kedua Ibunya juga Uwanya tengah berdiskusi dengan Ayah Arka.
Selesai menghidangkan makanan, Alena dan Ibu Arka juga Neneknya ikut berdiskusi.
"Jadi rencananya gimana?" Tanya Bapak Arka pada Suami dari Uwanya.
"Ya Kita mah gimana baiknya untuk semua, syukur-syukur kalau nanti nikahnya cuma akad terus syukuran keluarga aja. Bukan mau merendahkan, hanya kan Alena ini udah gak punya Ayah, Dia berjuang sendiri. Kalau ada uang, mending di pakai untuk kebutuhan setelah menikah." Uwa Alena menuturkan.
"Ah, Pak. Mamah mah gak setuju kalau cuma akad aja," sela Ibu Arka yang membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Maksud Saya kan Saya nikahkan anak itu bukan kali ini aja, kedua kakaknya pas nikah di hajatin. Resepsi," lanjut Ibunya Arka.
Bapak Arka berusaha untuk menjelaskan agar tak terjadi salah paham, "begini, Pak. Maksud istri Saya itu, Dia pengen Arka juga di perlakukan sama seperti kedua kakaknya. Belum lagi, kebetulan Saya ini mantan ketua RW, banyak kenalannya. Mereka sudah wanti-wanti kalau Saya menikahkan anak lagi, harus undang-undang. Tapi disini Saya juga menegaskan, bukan bermaksud untuk memberatkan pihak manapun karena sejujurnya Kami sekeluarga juga belum siap sepenuhnya terkait biaya. Jadi mungkin Kita bisa atur dulu waktunya, atau mungkin jika berkenan Kita adakan aja dulu pertunangan!" Seru Bapak Arka.
"Tunangan? Bukannya jadi biayanya double, ya?" Tanya Nenek Alena.
__ADS_1
"Emm, iya sedikitlah. Toh gak usah repot-repot juga cukup Kami sekeluarga datang ke rumah Alena dengan maksud melamar," ujar Bapak Arka.
"Gimana, Ka?" Tanya Bapak Arka pada putranya.
"Emm, kalau Aku gimana Bapak sama Mamah aja." Arka menyerahkan sepenuhnya kepada kedua orang tuanya.
"Kalau Alena, gimana?" Bapak Arka kini menanyakan tanggapan Alena.
"Kalau Alena, gimana orang tua Alena aja." Alena pun sama, menyerahkan segala yang terbaik pada orang tuanya.
"Oh gak apa-apa, silahkan Bu kalau ada saran!" Seru Bapak Arka.
"Emm, sebelumnya Saya cuma mau kasih tahu soal keinginan almarhum Bapaknya Alena. Dulu Kita pernah membahas terkait jika Alena menikah, dan Bapak Alena pengennya kalau putrinya menikah itu di bulan jumadil akhir. Kalau keluarga Bapak berkenan di bulan itu, mungkin waktunya sekitar tujuh bulan lagi. Kalau keputusannya bulan ini Alena dan Arka bertunangan, Saya ingin tahun depan tepatnya di bulan februari Alena menikah. Kalau tidak sanggup, mungkin di undur tahun depannya lagi. Segitu saja yang ingin Saya sampaikan," ucap Ibu sambung Alena.
"Nah, begitu kira-kira. Gimana, Pak?" Tanya Wa Haji pada Bapak Arka.
__ADS_1
Tampak orang tua Arka berdiskusi, Mereka pun harus memutuskan hari itu juga.
"Kalau begitu mungkin dalam waktu dekat ini, Kami akan datang ke rumah untuk melamar. Dan untuk acara nikahannya, Kami setuju untuk di bulan jumadil akhir." Bapak Arka memutuskan.
Terdengar semua mengucap hamdallah, "alhamdulillah, kalau begitu Kami tunggu kabar kedatangannya agar Kami juga bersiap." Wa Haji menuturkan.
"Iya, nanti Saya diskusikan dengan anggota keluarga yang lain." Bapak Arka menanggapi.
"Ya udah kalau gitu, makan dulu, Pak, Bu. Udah jam makan siang juga!" Pinta Ibu Arka.
"Duh, jadi merepotkan gini." Wa Haji berbasa basi.
"Ah, nggak. Ya udah yuk!" Ajak Ibu Arka lagi. Semua pun tampak menyanyap hidangan, disitu Arka baru teringat bahwa Ia harus memberi tahu Bi Imas yang memang sangat ingin bertemu dengan keluarga Alena.
"Mah, Arka ke rumah Bi Imas dulu." Arka berpamitan, sementara itu Alena dan keluarganya tengah menikmati hidangan yang di buat oleh Ibu Arka.
__ADS_1