
Setelah berhasil menenangkan Yusuf, Alena kembali ke gudang. Jam kerja trlah di mulai, Ia pun berusaha untuk fokus dalam bekerja dan mengesampingkan masalahnya.
Beberapa kali ponsel Alena berbunyi, pesan dari Arka masuk berkali-kali.
Alena membaca pesan dari Arka, permintaan maaf pun Arka lontarkan pada Alena.
"Gak apa-apa, Kak. Sekarang kan udah jelas juga semuanya, lagian Aku juga bukan siapa-siapanya Kakak juga." Alena membalas pesan Arka.
Di mesin jahitnya, Arka tampak tak bersemangat. Terlebih ketika Alena memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi, Arka memang tidak ada hubungan dengan perempuan berinisial 'Cha' itu, namun memang Arka bersikap seolah memberi harapan kepada para perempuan yang mendekatinya namun enggan berkomitmen.
"Aku minta maaf, Aku akui Aku salah. Aku bakal ngomong sama Dia kalau Aku sama Dia udah gak bisa berkomunikasi lagi." Arka kembali mengirim pesan pada Alena.
Arka pun tampak menghubungi perempuan itu, Arka bahkan mengakui jika Alena adalah pacarny.
"Sorry, Cha. Kayaknya Kita gak bisa berkabar kayak biasanya, maaf juga udah ngasih harapan palsu sama Kamu. Aku harap Kamu ngerti," ucap Arka pada perempuan itu.
"Kok Kamu gitu. Emang kenapa? Kamu udah ada cewek lain yang lebih perhatian sama Kamu?" Tanya perempuan yang sering berkomunikasi intens dengan Arka itu.
"Lebih tepatnya, Aku udah punya perempuan yang Aku mau selama ini." Arka menjawab.
"Oh jadi itu alasan Kamu gak pernah ngasih status yang jelas sama Aku?" Tanya perempuan itu.
"Iya." Arka menjawab seadanya.
Perempuan itu mematikan panggilan telepon yang di lakukan Arka.
Arka menghela nafasnya, Ia memblokir semua nomor kontak perempuan yang sebelumnya sering menghubunginya.
"Pulang kerja, Aku tunggu di mes. Aku harus ngomong malam ini juga!" Pinta Arka pada Alena.
Alena hanya membaca pesan Arka, tampa berniat menanyakan perihal apa yang akan di bicarakan oleh Arka padanya.
__ADS_1
Sementara itu, Yusuf tiba-tiba datang ke gudang dan duduk di kursi milik Alena.
"Ada apa?" Tanya Alena.
"Katanya Kamu mau bantuin Aku!" Seru Yusuf.
"Hah? Emang Kamu udah ngomong sama si Andi?" Tanya Alena.
"Udah. Dia marah besar, terus bilang mau nyusulin Aku kesini buat nemuin Kamu!" Seru Yusuf.
"Hah? Terus gimana dong? Dia bakalan kesini?" Tanya Alena dengan panik.
"Ya sekarang Aku bakal telepon Dia lagi, terus Kamu juga harus ngomong sama Dia!" Pinta Yusuf.
Alena terdiam, Ia tengah mempersiapkan dirinya untuk berbicara dengan pria asing itu.
"Halo?" Sapa Yusuf setelah panggilan teleponnya tersambung.
"Halo. Pokoknya Aku gak mau putus!" Seru Andi di balik telepon.
Dengan gemetar, Alena pun mulai memberanikan diri untuk menyapa.
"Ha-halo," sapa Alena.
"Iya, siapa nih? Oh ini pacarnya si Yusuf, heh berani ya Lo rebut pacar Gua!" Bentak Andi.
"Emm, maaf Kak. Tapi kan emang seharusnya Yusuf pacaran sama perempuan," ujar Alena asal.
"Ya terus sama Gua gimana? Gua gak terima di giniin, bilang sama Yusuf Gua bakal bunuh diri kalau Dia sama Lo!" Bentak Andi lagi.
"Hah? Bunuh diri? Emang Kakak berani mati dalam keadaan Kakak belum tobat? Neraka itu panas, Kak. Bahan bakarnya itu manusia sama batu!" Seru Alena.
__ADS_1
Andi tak bersuara untuk beberapa saat, namun setelah itu Andi meminta untuk Alena menyampaikan pesannya pada Yusuf.
"Bilang sama si Yusuf, balikin sepatu, jaket, handsfree yang pernah Gua beliin. Pokoknya balikin apa yang pernah Gua kasih ke Dia!" Seru Andi.
"Gak usah di minta juga bakal Gua balikin!" Sela Yusuf.
Ia pun mengambil ponselnya dari Alena, dan mengakhiri percakapannya dengan Andi.
"Hah. Udah beres sekarang!" Seru Yusuf.
Alena tersenyum lega, "akhirnya, ya. Semoga Kamu bener-bener sembuh, Cup!" Seru Alena.
"Iya. Semoga, ya! Tapi Aku galau sekarang," ujar Yusuf.
"Galau kenapa lagi?" Tanya Alena.
"Ya Kamu pikir aja, emang bakal ada yang mau sama Aku dengan masa lalu Aku yang kelam itu?" Tanya Yusuf.
"Astagfirulloh, Kamu khawatir sama masa depan sama jodoh Kamu? Cup, jodoh itu di tangan Allah, suatu hari Kamu pasti dapet cewek yang bener-bener tulus dan pastinya Dia bakal jadi jodoh Kamu!" Seru Alena.
"Ya siapa ceweknya, Kamu? Emang Kamu mau berjodoh sama Aku?" Tanya Yusuf.
Alena tampak mengangkat alisnya, Ia terseyum miris menanggapi pertanyaan Yusuf.
"Emm, ya gak gitu juga. Maksudnya udah lah jangan mikirin soal jodoh dulu, fokus sama tobat Kamu aja dulu! Shalat taubat!" Pinta Alena.
Yusuf terdiam, "tuhkan, Kamu juga gak mau sama Aku. Hemm, ya udahlah bantuin Aku tobat, ya!" Pinta Yusuf.
Alena menghela nafasnya, "iya, Cup. Aku bakal nemenin perjalanan tobat Kamu!" Sahut Alena.
"Bener, ya? Awas bohong!" Seru Yusuf.
__ADS_1
"Iya."
Alena merasa lega, satu masalah dapat Ia selesaikan. Tinggal satu masalah lagi, kelanjutan tentang Ia dan Arka.