
Sore hari setelah bel pulang bekerja berbunyi, Arka mengajak Alena untuk pergi ke suatu tempat.
"Kita mau pergi kemana, sih?" Tanya Alena.
Sembari memegang tangan Alena dengan sebelah tangannya, Arka ingin mengajak Alena ke sebuah wisata kuliner yang terletak di salah satu daerah di bandung barat.
"Aku mau ngajak Kamu makan ke sebuah tempat makan yang menurut Aku suasananya itu enak," ujar Arka.
"Emm, tempat makan? Dimana?" Tanya Alena lagi.
"Ada deh pokoknya, nanti juga tahu." Arka melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Selama di perjalanan, Arka banyak sekali bercerita. Ia menceritakan bagaimana kedekatannya dengan sang adik perempuan, sang adik yang bernama Elin seringkali menjadikan Arka sebagai tempat curhatnya.
Alena juga berniat untuk mendekati Elin juga saudara-saudara Arka yang lain, untuk saat ini hanya Elin dan adik bungsu Arka yang belum terlalu dekat dengan Alena.
"Kalau nanti Aku berkabar sama Elin, boleh?" Tanya Alena.
"Boleh dong, nanti Aku minta Elin buat chat Kamu. Biar Kalian akrab, baik kok anaknya. Tapi emang agak sedikit manja," ujar Arka.
Sesampainya di tempat makan, Alena di buat takjub dengan pemandangan di tempat rumah makan itu.
"Wah, ini rumah makannya di atas air? Kalau air bendungan sagulingnya naik, tempatnya ikutan naik berarti? Terus anginnya kan lumayan tuh, bakal geser-geser gak? Takut Aku," ujar Alena, Ia berbicara tanpa jeda.
"Duh, kamu tuh banyak tanya deh. Udah pokoknya tempat sama makanannya enak. Kamu mau dimana? Mau yang tempat makannya di atas air, atau yang di pinggiran jalan aja?" Tanya Arka.
Alena memperhatikan rumah makan yang di beri nama Rumah Makan Ciminyak, jika Ia memilih makan di tempat yang mengapung di air, maka Mereka harus menaiki perahu terlebih dulu. Sedangkan Alena sendiri takut jika harus menaiki perahu sampan, Ia tak punya cukup nyali untuk menaiki sampan itu.
"Emm, kayaknya di pinggiran sini aja deh. Kalau harus naik perahu, Aku takut. Gimana kalau perahunya bocor? Atau tiba-tiba ada angin kencang, terus perahunya kebalik? Ih, ngeri ah. Di pinggiran aja, ya?" Alena membujuk Arka.
"Hemm dasar, bilang aja Kamu takut. Ya udah, Kita makan di sekitaran sini aja. Yuk!" Arka mengajak Alena untuk masuk dan mencari tempat yang ternyaman.
__ADS_1
"Sebelah sana, yuk! Pemandangannya bagus, langsung ke arah saguling yang luas. Anginnya juga sejuk," ukar Arka.
"Ya udah boleh." Alena tak banyak menuntut, Ia menuruti semua keinginan Arka.
Setelah mendapat meja, Arka segera memilih menu.
"Mau apa? Ikan goreng, Ikan bakar? Karedok? Sambelnya mau sambel apa?" Tanya Arka.
Alena yang merasa kebingungan, menyerahkan semuanya pada Arka.
"Aku gimana Kamu aja," ujar Alena.
"Emm, ya udah. Teh!" Panggil Arka pada salah satu pelayan di tempat makan itu.
"Iya, mau pesan apa, A?" Tanya pelayan itu.
"Emm, Aku mau pesen Ikan bakarnya dua. Nasi liwet, karedok, tambahannya lalapan, tahu tempe, sambal terasi sama sambal kecap. Minumannya teh anget aja," tutur Arka.
"Baik. Di tunggu ya!" Seru pelayan itu.
Arka menatap Alena, Alena terlihat begitu tenang menatap ke arah luasnya bendungan saguling.
"Ini kok bisa ya kepikiran bikin tempat makan kayak gini, enak banget. Tapi agak ngeri juga sih," ujar Alena.
"Ngeri kenapa?" Tanya Arka.
"Ya ngeri aja, ini kan tempatnya terbuat kayu, bambu, emm, takut ambruk gitu. Hehe," ujar Alena, Ia mengutarakan kekhawatirannya.
"Hemm, ya nggaklah. Ini pasti udah di desain seaman mungkin," jawab Arka mencoba untuk membuat Alena tenang.
Alena mengangguk, Ia mempercayai apa yang di katakan oleh kekasihnya itu.
__ADS_1
Arka kembali menatap Alena dengan sendu, Ia masih tak menyangka bahwa hari ini hari terakhir Alena bekerja.
Besok dan kedepannya, Arka tak bisa lagi melihat Alena di tempat kerja. Bahkan mungkin, keduanya akan jarang bertemu.
"Aku masih gak nyangka deh," ujar Arka.
"Gak nyangka apa?" Tanya Alena.
"Ya nggak nyangka aja, Kita harus berjarak. Aku jadi gak bisa lihat Kamu pagi hari, siang hari, sore. Pulang kerja juga gak ada yang nemuin Aku di mes sebelum pulang," ujar Arka.
Alena tersenyum, Ia meraih tangan Arka.
"Tapikan Kita masih bisa ketemu, kalau Kamu mau ke rumah, kapanpun juga boleh. Bedanya kan cuma nanti Aku gak ada di tempat kerja aja, bukan berarti gak akan pernah ketemu lagi, kan?" Alena mencoba memberi pengertian pada Arka.
"Iya, sih. Tapi kalau nanti Kamu kerja di tempat baru. Ketemu teman baru, pasti banyak juga temen cowok baru. Kamu gak akan pindah ke lain hati, kan?" Tanya Arka.
Mendengar pernyataan Arka, Alena tertawa.
"Loh, kenapa ketawa?" Tanya Arka.
"Nggak. Ya Aku kan niatnya cari kerja, fokus kerja, cari uang, nabung buat masa depan, buat bisa ngebantu kebutuhan Nenek, Ibu, Mamah, sama adik-adik Aku. Bukan buat cari pacar baru!" Seru Alena.
"Hemm, ya kan siapa tahu ketemu sama yang lebih-lebih dari Aku." Arka menuturkan.
"Hemm, yang harusnya khawatir itu Aku kayaknya." Alena balik mengutarakan kekhawatirannya.
"Loh, kenapa?" Tanya Arka.
"Ya secara kan banyak yang suka sama Kamu, malah sebelumnya kan yang jadi TTMnya juga banyak. Bisa aja kan gak ada Aku di pabrik jadi bikin Kamu ngerasa bebas," ucap Alena sambil terkekeh.
Arka mengernyitkan keningnya, Ia pun berbalik meraih tangan Alena.
__ADS_1
"Sayang. Aku udah tobat, Aku udah janji gak kayak gitu lagi. Dan Kamu juga tahu Aku, kan? Aku gak suka ngelakuin hal yang setengah-setengah, kalau Aku bilang Aku bakal berubah, ya pasti Aku lakuin. Kamu bisa pegang ucapan Aku!" Seru Arka.
Alena terdiam, Ia mencoba untuk memberi kepercayaan penuh pada Arka. Ia juga enggan berhubungan dengan di liputi rasa curiga, yang malah akan merusak hubungan itu sendiri.