
Alena baru saja selesai membersihkan diri, Ia pun memaksakan untuk memakan sesuatu karena tak mungkin Ia tidur dengan perut kosong.
Ponsel Ia tinggal di dalam kamar karena memang baterainya sudah hampir habis, tanpa Alena tahu berkali-kali ponselnya berbunyi.
Selesai mengisi perutnya, Alena segera masuk ke dalam kamar.
Ia melihat ponselnya yang menyala, dan Alena berjalan untuk mengambil ponselnya.
"Hah banyak banget misscal nya," ujar Alena.
Alena pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dan menelpon balik Topan.
Setelah panggilan tersambung, Alena terkejut mendapati Topan yang melontarkan pertanyaan tanpa memberikannya kesempatan untuk menjawab.
"Halo, Kak..."
"Lena. Kamu kemana aja, sih? Dari tadi Aku telponin, chat Kamu, gak ada balesan sama sekali. Kamu tahu gak Aku tuh dari tadi khawatir, mana udah hampir tengah malam. Kemana aja sih Kamu, terus tadi Kamu pulang sama siapa?" Tanya Topan.
Alena menghela nafasnya, Ia awali menjawab pertanyaan Topan dengan meminta maaf.
"Iya maaf, Kak. Aku baru beres mandi terus barusan makan dulu, hp Aku cas di kamar. Makannya Aku gak tahu kalau Kakak nelpon," jawab Alena.
"Ya apa susahnya sih pas nyampe langsung buka gitu hpnya, terus chat kasih tahu kalau udah di rumah. Gak lama kan ngabarin gitu doang!" Seru Topan.
"Emm, iya maaf." Alena kembali meminta maaf.
"Jangan kayak gitu lagi, Aku kan udah sering bilang kalau apa-apa itu langsung ngabarin." Topan masih meluapkan emosinya.
"Iya maaf, Aku gak biasa makan sambil main hp, lagian Aku tuh tadi udah capek banget, laper juga. Kebetulan hp juga habis batrainya," jawab Alena dengan nada yang mulai kesal.
"Ya kan ngabarin gak sampai lima menit," timpal Topan.
"Hemm, Kakak nelpon cuma buat marah-marah? Aku matiin, ya. Aku capek mau tidur!" Seru Alena.
"Eh jangan di matiin! Kamu ini Aku tuh khawatir, makannya kayak gini!" Dalih Topan.
Alena tak menjawab, Ia enggan untuk berdebat lebih panjang dengan Topan.
"Kamu jadi pulang naik angkot?" Tanya Topan.
"Nggak. Aku di anterin," jawab Alena.
"Di anterin siapa? Katanya mau naik angkot!" Tanya Topan.
"Di anterin Kak Arka, tadi kebetulan ketemu Bu Novi pas lewat kantin terus Bu Novi nanya Aku pulang mau naik apa. Ya Aku jawab mau naik angkot, tapi Bu Novi khawatir. Kebetulan juga ada Kak Arka keluar dari kantin, terus Bu Novi minta Dia buat nganterin Aku!" Seru Alena.
"Arka? Sejak kapan Kamu kenal sama Arka? Tadi juga kenapa Kamu bisa jalan berdua sama Arka ke pabrik? Ada hubungan apa Kamu sama Arka?" Tanya Topan tanpa henti.
"Astaga. Aku kenal Kak Arka ya barusan pas Dia nganterin, soal Kita jalan berdua, itu karena Bu Novi minta Aku buat manggil Kak Arka di mes udah itu aja, Kita gak ada hubungan apa-apa!" Seru Alena.
"Awas ya kalau macem-macem!" Tukas Topan.
__ADS_1
"Apa sih macem-macem gimana, ya gak mungkinlah Aku macem-macem sama suami orang!" Alena merasa kesal dengan dugaan Topan terhadapnya.
"Suami orang? Maksudnya?" Tanya Topan.
"Iya masa Aku mau suka sama laki-laki beristri, udah punya anak dua lagi!" Seru Alena.
"Siapa yang udah beristri terus punya anak dua?" Tanya Topan lagi.
"Ya Kak Arka lah," jawab Alena.
"Hah? Arka? Dia belum nikah Alena," sahut Topan.
"Hah? Belum nikah? Tapi tadi Kak Arka bilangnya Dia udah nikan terus punya anak dua, masa iya Kak Arka bohong. Buat apa coba?" Tanya Alena.
"Ah udahlah. Pokoknya lain kali jangan kayak gitu, apa-apa itu selalu kabarin ke Aku!" Pinta Topan.
"Hemm, iya. Udah ya, Aku mau tidur. Capek," ucap Alena.
"Yah Aku masih mau ngobrol," ucap Topan.
"Ngobrol apa sih, udah malem banget ini. Aku ngantuk, udah dulu ah!" Alena mematikan panggilan teleponnya dan segera menarik selimutnya untuk segera tidur.
Sebelum memejamkan matanya, Alena teringat pada pernyataan Topan barusan.
"Kak Arka bohong sama Aku? Tapi kenapa harus bohong?" Alena bertanya-tanya.
***
Seharian itu, Alena bahkan tak sempat untuk berkabar dengan Topan.
Hingga sore hari, Alena masih berada di dalam gudang.
"Capek banget, Cup." Alena mengeluh.
"Iya nih, capek banget. Lagian ya kenapa Kita mesti ikut-ikutan jelasin tentang seisi pabrik sama itu Tamu, itu kan tugasnya para petinggi. Mana makan siang jadi telat," ujar Yusuf.
"Heem, nih. Kita gak harus lembur, kan?" Tanya Alena.
"Nggak kayaknya, kalau pun di suruh lembuh Aku mau nolak aja. Capek banget hari ini beneran gak bohong!" Seru Yusuf.
"Nah udah bel. Pulang yuk!" Ajak Alena.
"Hayulah, cus!" Yusuf dengan semangat segera keluar dan mengunci gudang.
Namun Alena tak bisa seperti Yusuf yang bisa langsung pulang ke mes, dan beristirahat. Alena harus menunggu Topan lebih dulu, pasalnya Topan meminta agar Alena selalu di antar pulang olehnya setiap hari.
"Mana sih, lama deh!" Gerutu Alena.
"Len, belum pulang?" Tanya Yanto.
"Eh, Pak. Belum nih, nunggu Topan." Alena menjawab.
__ADS_1
"Topan? Itu si Topan sama sodaranya katanya mau balik ke Purwakarta sekarang," ujar Yanto.
"Hah, ke Purwakarta? Mau ngapain? Aku kok gak tahu?" Tanya Alena.
"Oh, gak tahu? Gak sempet ngasih tahu mungkin, katanya Bapaknya meninggal." Yanto berucap.
"Innalillahi, beneran?" Alena benar-benar tak tahu soal kabar itu.
Tak lama terlihat Topan keluar dari Mes dan berjalan menghampiri Alena.
"Len. Maaf Aku gak bisa nganterin Kamu pulang soalnya Bapak kandung Aku meninggal," ucap Topan.
"Oh, iya gak apa-apa Kak. Aku bisa pulang sendiri kok, turut berduka cita ya, Kak. Maaf gak bisa kesana," ucap Alena.
"Iya gak apa-apa. Kamu pulang di antar sama Andi, ya!" Seru Topan.
"Hah? Andi? Andi yang mana?" Tanya Alena yang memang tak mengenal Andi.
"Dia sodara Aku, tuh." Topan menunjuk seorang pria yang sudah berdiri menunggu Alena.
"Hah, nggak mau ah. Aku gak kenal sama Kak Andi itu, lagian ngapain nyuruh orang yang Aku gak kenal buat nganterin pulang? Aku kan bisa naik angkot!" Seru Alena.
Melihat perdebatan Alena dan Topan, Yanto memilih untuk melipir dan menjauh.
"Ya biar Aku tenang kalau Kamu di anterin sodara Aku. Lagian Dia udah mau kok," ujar Topan.
"Nggak. Aku pulang sendiri aja, Kakak cepetan aja pergi ke Purwakarta udah sore juga!" Seru Alena.
Alena berjalan cepat, dan terihat Topan berlari ke area parkir.
Alena tengah berjalan, Ia terkejut ketika seseorang menarik tangannya dari belakang.
"Astagfirulloh," ucap Alena yang sontak menghentikan langkahnya.
Alena menatap ke arah Topan, yang tengah berada di atas motor.
"Kamu ngapain barusan kayak gitu? Kalau Aku jatuh gimana?" Tanya Alena dengan kesal.
"Aku susul Kamu, yaudah Aku anter Kamu pulang dulu!" Seru Topan.
"Astaga, Kak. Kamu kenapa sih berlebihan gini, Aku bilang kan Aku bisa pulang sendiri! Kamu pergi aja, ada yang lebih penting dari sekedar nganterin Aku pulang. Aku gak ngerti deh jalan pikiran Kamu itu gimana," cecar Alena.
"Ya maksud Aku tadinya Aku gak mau Kamu pulang sama yang lain atau..."
"Kak, cukup. Aku gak suka ya sama sikap Kakak yang posesif kayak gini, Aku mau pulang cepat aja gak bisa harus selalu nungguin Kakak, iya kalau on time, seringnya Aku pulang cepat tapi masih tetap harus nunggu Kakak yang lembu cuma karena pengen anter Aku pulang. Aku tuh kayak di kekang tahu, gak?" Alena meluapkan unek-unek yang di pendamnya selama ini.
Topan terdiam, "tapi Aku cuma mau ngelakuin yang terbaik buat Kamu."
"Terbaik buat Kakak, bukan buat Aku!" Seru Alena.
"Udah. Kakak berangkat sekarang, Aku mau pulang." Alena melanjutkan kembali langkahnya, dan meninggalkan Topan yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1