Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
28. Kesakitan Yang Menyenangkan


__ADS_3

Dina masih cemberut, dia dengan keukeuh nya tidak mau di jahit, dengan alasan takut tusukan jarum nya.


Meski damar menggoda nya yang cenderung meledek, tapi tetap saja dina pada pendirian nya,


Dina terdiam cemberut sampai dokter dan perawat nya datang.


"Kenapa koq cemberut gitu.? Tapi itu mas nya malah ketawa ketawa."


Lontar dokter yang datang dengan perawat.


Dina tetap diam, dan damar menahan tawa nya.


Karena ini hanya tindakan kecil, jadi bisa di lakukan di ruang rawat inap biasa, tidak perlu di kamar operasi.


Damar tetap berada di dalam ruangan, saat proses penjahitan, dina di minta untuk berbaring, tapi dina tidak mau,


dia mau duduk dan menyampingkan betis nya saja.


Karena tidak mau di suntik,


Akhir nya dina tidak mau memakai anastesi suntik anti nyeri,


dan kata dokter justru itu lebih bagus,tanpa memakai suntikan  luka jahit akan lebih cepat mengering.


akan tetapi dokter juga memberi tahu, tanpa suntikan anti nyeri, dina akan merasakan tiap tusukan jarum nya.


namun itu lebih baik fikir dina, dari pada harus di suntik empat kali, dia lebih memilih tiga kali saja.


damar benar benar menahan tawa nya,


sebenar nya dina mengerti atau tidak sih apa yang di jelaskan dokter, jika di suntik anti nyeri dina hanya akan meraskan tusukan jarum nya sekali, bukan empat kali,


begitu fikir damar.


mungkin karena dasar nya takut, jadi dina tidak dapat berfikir jernih, yang dina bayangkan hanya sakit nya di suntik, itu saja.


Proses penjahitan di mulai,


Dina menarik lengan damar, dan menutup mata nya dengan rapat,


"Ini belum di mulai loh kak,"


goda perawat pada dina, yang sudah ketakutan duluan.


Dina semakin cemberut, dan tentu saja damar menahan tawa nya,


Tusukan jarum pertama membuat dian menarik lengan damar, yang tandinya hanya menarik lengan,


kini dina memegang nya dengan kuat, karena benang yang di tarik pada betis nya terasa perih.


Dina terus mengaduh setiap tusukan dan tarikan benang di betis nya, lama kelamaan damar khawatir karena jeritan dina.


"Itu tidak apa apa dok?, kenapa dia terus menjerit." Tanya damar mulai khawatir.


"Tidak apa apa mas, itu reaksi nya saja berlebihan, mas nya jangan terlalu khawatir, ini biasa koq."


Ucap perawat tersenyum pada damar, berusaha menenangkan damar tetapi memojokan dina.


Mendengar ucapan perawat itu, dina sengaja menjerit lebih keras, dina melepaskan lengan damar dan beralih memeluk pinggang damar.


"Sus, gimana ini dia makin menjerit, seperti nya dia kesakitan sekali."


Damar semakin khawatir.


"Gak papa mas, sini biar saya saja yang pegangin pasien, kasihan mas nya dari tadi terlihat khawatir."


Perawat itu meminta.


Awal nya dina enggan untuk melepaskan damar, akan tetapi,karena melihat perawat itu tebar pesona pada damar, bahkan sejak mereka masuk,


dina punya ide lain, hati kecil nya ingin sekali mengerjai perawat itu.


Saat perawat itu memegangi dina, dengan sedikit mengencangkan genggaman nya dina meremas lengan sang perawat,


Dina dan perwat itu merintih bersamaan.


Sontak damar kaget dan menangkap perawat yang mundur beberapa langkah karena merasa tercekat oleh cengkraman lengan yang di lakukan dina.


Dina semakin kesal melihat damar yang memegang kedua lengan perawat itu, apalagi melihat wajah perawat itu yang terlihat malu malu.


Iiiiihhh menyebalkan. Batin dina.


"Gak apa apa sus.?"


Tanya damar pada perawat.


Perawat itu menggeleng dengan senyum malu malu.

__ADS_1


"BAPAAAAKKK,,,, iiihh sakit."


Dina berteriak, tusukan terakhir ini semakin sakit, karena kesal melihat si perawat yang selalu mencari perhatian tunangan nya.


Damar melotot karena panggilan dina pada nya, itu kan panggilan dia saat pertama kali mereka saling menyapa, kenapa tiba tiba mengubah panggilan.


"BAPAK,,, sini atuh,,, sakit tau."


Lagi lagi dina berteriak.


dina tau damar tidak suka dengan panggilan dina, makanya dina mengulang nya karena kesal.


Damar mendekat, dan dina langsung memeluk pinggang damar, dia menempelkan wajah nya di perut damar, menahan perih saat dokter menutup luka yang telah di jahit.


Ternyata tidak enak, sesuatu yang sudah di anggap milik nya di ganggu orang lain, dina merasakan nya saat perawat itu berusaha menarik perhatian damar.


Kesal dan marah rasa nya, mungkin ini yang mas damar rasakan saat melihat aku sama kak arya. Fikir dina.


"Mas, bisa ikut saya,"


pinta perawat pada damar,  lalu pergi keluar ruanagan.


Karena setelah selesai menjahit dokter langsung pergi.


"Iya, sus" sahut damar.


"Aku keluar dulu ya,?"


Ijin damar pada dina,


Namun dina tidak mau melepaskan pelukan nya, damar mengusap pucuk rambut nya, dan sekilas mencium kepala nya,


Dina kaget dan melepaskan pelukan nya, dengan cemberut dia mengerutu.


"Apaan sih, gak boleh tau, kita bukan mahrom."


"Haha,,, Ya udah kalo gitu, mau cepat di halalin.?"


Ucap damar menggoda.


Dih,,,


"Cepat atuh,, biar cepet pulang."


  Dengus dina, karena damar tidak bergegas pergi.


"cepat di halalin.?,, oke ayook.."


iiiiisssshhhh,, dina melotot.


haha haha


damar berlalu pergi..


Damar hanya pergi selama lima belas menit, dia datang lagi bersama perawat yang sama, yang membantu saat proses penjahitan tadi.


"Udah.?"


Tanya dina, karena melihat damar membawa obat dan perban di tangan nya.


"Mas, ini cairan untuk mencuci jahitan nya, perban nya di ganti setiap hari ya, takut nya infeksi, kaki nya tidak apa, tidak ada yang patah ataupun keseleo, mungkin itu hanya memar karena benturan, cuman jahitan nya harus agak di perhatikan ya, karena robekan nya di betis, jadi saya sarankan kakak nya jangan dulu memaki high heels, pakai flat shoes aja dulu." 


Jelas perawat tanpa melihat dina, pandangan nya hanya fokus pada damar.


"Bapak,,,"


lagi lagi dina memanggil.


Kali ini damar benar benar kesal.


"Tadi saya dengar manggil nya mas, koq sekarang jadi bapak. Mas ini kakak nya atau om nya.?"


Tanya perawat ragu.


"Om nya.?"


Damar balik bertanya denga dahi berkerut.


"Kami bertunangan sus."


Sahut dina menjawab.


damar mengulum senyum senang.


"Iya, saya calon suami nya, mungkin karena kami akan segera menikah dia memanggil saya bapak,"


Sambung damar.

__ADS_1


Dina melongo mendengar jawaban damar.


"Oh maaf, saya kira kalian om dan ponakan."


Ucap perawat, dengan wajah lesu berbeda dari yang tadi,


"Haha,, om"


dina terbahak mendengar ucapan sang perawat.


Secepat kilat damar melempar pandangan nya, dan membuat dina bungkam.


Setelah semua urusan dokter dan pasien selesai, damar pamit pergi pada dokter dan perawat nya, tidak ada senyum manis menggoda lagi dari sang perawat.


Karena mengetahui bahwa dina adalah tunangan pria dewasa yang sedari tadi ia tarik perhatian nya.


Dina di bawa dengan kursi roda sampai naik kedalam mobil.


"Besok kamu cuti sakit."


Ucap damar, melajukan mobil nya.


"Enggak mau ah, aku mau masuk aja, lagian cuma dua minggu lagi, aku mau cepat nyelesain semua nya. Mau cepat lulus dan mencari pekerjaan" tutur dina.


"Memang nya kamu sudah tidak sakit.? Tidak ingat seperti apa kamu tadi"


Ucap damar mengulum senyum.


"Enggak,, gimana memang aku gak ingat." Kilah dina


"Mau aku ingatkan.?" Goda damar.


"Gak usah."


"Kamu kenapa bersikap seperti itu tadi.?"


"Bersikap apa.? Aku biasa aja.?"


"Oh iya, tadi perawat ngasih aku no telepon nya, katanya kalo ada apa apa bisa langsung telepon dia, nih nomor nya."


Tutur damar menyodorkan kartu nama perawat rumah sakit tadi,


Dengan sigap dina mengambil nya, dan menyimpan nya di dalam saku blazer nya.


"Koq di ambil, itu kan buat aku."


"Kamu mau.?"


Tanya dina menatap tajam.


"Kan itu ngasih nya ke aku, bukan ke kamu."


"Yang sakit siapa.? Aku tau bapak.?"


Tanya dina kesal.


"Hahaha,, kamu lucu kalo lagi cemburu din, pake ganti panggilan segala, karena kamu sedang cemburu aku maafkan ya."


Lontar damar penuh penekanan


Eh iya,, apa aku cemburu karena perawat itu, ah masa sih, mas damar keliatan nya senang banget kalo aku cemburu. Batin dina.


"Heeehh,, kenapa.?"


Ucap damar mencubit pipi dina, membuyarkan lamunan dina,


"Iiihhh kamu tuh mas, terbiasa banget ya pegang pegang aku, kita belum satu bulan tunangan loh mas, udah main cubit pipi orang."


Dengys dina mengusap pipi yang damar cubit.


"Tadi kamu meluk aku, aku gak marah, kenapa hanya di sentuh kamu marah"


Ucap damar menahan senyum.


Aaaaahhh iyaa,,, aku tadi meluk mas damar, aahhh koq aku bodoh banget sih,, gara gara cemburu aku jadi bersikap konyol seperti itu,


Ehhh bukan cemburu, tapi karena perawat itu, iya karena perwat itu. 


Racau dina dalam fikiran nya.


Damar tersenyum melihat dina seperti memikirkan sesuatu, seperti nya damar mengetahui apa yang di fikirkan dina.


Hari ini begitu banyak kejadian tak terduga, awal nya damar marah karena ada laki laki yang mengaku pacar dina.


Setelah di rumah sakit berbalik dina yang begitu kesal karena seorang perawat.


Dan lagi, jahitan di kaki dina akan menjadi saksi karena kecerobohan nya, dan juga menjadi saksi bahwa damar menikmati proses kesakitan yang dina rasakan.

__ADS_1


Bisa di bilang kesakitan bagi dina,


akan tetapi menyenangkan bagi damar.


__ADS_2