
Dina pergi meninggalkan restaurant dengan menahan seluruh emosinya, menguatkan diri untuk tetap berjalan tanpa tersandung, dan tidak membiarkan air mata nya lolos begitu saja.
Dia mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, tidak seperti biasanya, tangannya memegang setir kemudi dengan kencang, fikirannya masih terbayang tentang video yang Dia lihat tadi.
Mulutnya tak henti mengerutu, dan sedikit memaki dalam hatinya.
Laju mobil sedikit melambat, rupanya Dina membuka handphonenya, membaca pesan yang baru di kirimkan tunangan nya.
Besok pagi aku pulang, aku ambil pesawat paling pagi, mungkin sampai ibu kota tidak terlalu siang. Kamu tunggu di rumah jangan ke mana mana.
Dina hanya membaca tanpa membalasnya, kemarahan itu semakin besar jika terus berinteraksi dengan penyebab masalahnya, maka di abaikan saja sampai Dia tiba di rumah dengan menahan amarah nya.
Pagi pun tiba.
Belum ada pergerakan dari bawah selimut yang menggulung seluruh tubuh Dina, ibu terus mengetuk pintu kamar Dina, agar Dina cepat keluar dan memulai aktifitas pagi hari nya.
"Na,, cepat keluar ini sudah pagi, kamu belum sarapan, ada apa sih, tiba tiba kamu kayak gini, sudah solat subuh kok bawaan nya murung." Ibu terus mengetuk pintu kamar.
"Nana gak laper bu,, pengen tidur aja. Nana ngantuk." Masih di dalam selimut.
Ini adalah hari libur, Jaka berencana akan pulang, Dia akan menetap selama seminggu, tentu hal itu di sambut bahagia oleh keluarga, tak terkecuali Dina, namun karena perasaanya sedang tidak enak, Dina malah menjadi tak menentu, rasa bahagia nya bercampur dengan rasa khawatir.
Saat ini Dina sedang merasa bingung, Damar mengiriminya pesan lagi, yang isinya pemberitahuan bahwa Dirinya akan menyiapakan makan malam keluarga yang tertunda.
Yang membuat Dina khawatir adalah, mana mungkin Dia akan makan malam bersama semua anggota keluarga dengan mata sembab dan wajah masam yang terlihat kesal.
Rupanya nya, sejak semalam Dina tidak bisa terus terusan menahan tangisnya, Air mata nya begitu saja lolos dari pelupuk mata, dan pecah lah semua rasa yang tertahan, dengan terus memaki dan memikirkan tunangannya, Dina terus bergumam di bawah selimutnya.
Ting,,,
Aku ke kantor dulu sebentar, kamu jangan kemana mana, jangan sampai aku kesana kamu tidak ada.
Pesan dari Damar yang benada peringatan, dan tetap saja Dina enggan membalasnya. Ada bagusnya Damar hanya mengirim pesan, mungkin kalau dia menelepon, akan pecah membucah semua isi hati Dina, dan mungkin saja dengan emosi Dina akan berkata kasar dan bertindak bodoh.
Ting,,, pesan masuk lagi.
"Sam,, kurang ajar kamu.." Dina mendengus memegang handphone nya dengan keras, mer emas selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, rupanya Sam mengiriminya kembali sebuah Foto.
Meski itu hanya sebuah nomor namun Dina tahu pengirim nya adalah Samantha.
Foto candid yang di ambil dari sisi kirinya, menampakan pose Damar dan Sam berjalan hampir sejajar, tidak ada yang aneh dengan foto itu, hanya saja foto itu baru saja di ambil, terlihat jelas sekali ada jam dan tanggal pengambilannya.
Dina mengerti, Sam ingin menunjukan, bahwa sekarang dirinya sedang bersama dengan Damar, dan memperlihatkan betapa intensnya mereka bertemu.
Dengan tergesa Dina keluar dari balutan selimut, terlihat lah wajah merona dengan mata sembabnya, tanpa senyum di bibirnya membuat terlihat sekali bahwa dirinya sedang dalam suasana hati yang buruk.
"Bu,, nana pergi sebentar ya," Dia pamit, menutupi sebagian wajahnya dengan rambut bergegas membawa kunci motornya.
"Na,, mau kemana.?? " ibu hanya menatap anak gadisnya dengan heran. Meski ibu tidak melihat jelas raut muka anaknya, namun ibu merasakan bahwa Dina tidak sedang baik baik saja.
Dina pergi mengendarai sepeda motornya ke arah kantor Damar, meski awalnya Dia menahannya, namun ternyata perasaanya tak sekuat yang di tunjukan kepada Sam, pikiran cerobohnya membuat nya ingin melampiaskan kemarahan atas apa yang di tahanya selama beberapa hari ke belakang.
Ting,,, lagi lagi pesan masuk.
Dina mengabaikan nya karena sebentar lagi akan sampai di tempat dimana Damar dan Sam berada, dengan dada yang bergemuruh Dia ingin sekali menunjukan kemarahannya.
Setelah sampai di tempat yang di tuju, ternyata Dina membuka pesannya terlebih dahulu.
Lagi lagi Sam yang mengirimi nya sebuah foto.
See,, sekarang Dammy memilih bersama ku dari pada sama kamu.
Kalimat yang dikirimkan Sam bersama sebuah foto dirinya dengan Damar yang sedang berada di atas podium secara bersamaan, keduanya memegang mic dan sepertinya sedang tertawa.
Semakin geram Dina pada mantan pacar tunangan nya, tinggal beberapa langkah lagi dia sampai di mana tunangan dan mantan nya berada, namun ternyata akal sehatnya kembali tersadar, Dina mengurungkan niat nya untuk masuk dan meluapkan kemarahanya.
Dia tidak mau menjadi tontonan geratis untuk semua penghuni kantor jika Dia mengamuk di sana, ternyata di sana sedang ada acara, ada banyak sekali wartawan dan kariawan berkumpul di sana, dan jika Dia melakukan kemarahan itu, pastinya Sam akan merasa puas, dan Dina tidak akan membiarkan hal itu.
Di putar baliklah sepeda motor yang Dina kendarai, namun Dina tidak mengarahkan ke arah tempat tinggalnya, melainkan ke sebuah perumahan yang dimana Damar tinggal.
Sampailah di tempat yang Dina tuju.
Dia memencet bel dan menunggu seseorang membukakan pintu.
"Siapa.??" Teriakan dari taman samping.
Ternyata mama Ratna.
"Maa,, ini Dina."
"Eehh sayang,, apa kabar, sini sini." Sambut mama Ratna.
Ternyata mama Ratna sedang menyirami bunga bunga kecil yang ada di pot dengan semprotan.
Dia memakai topi yang besar dan memakai sarung tangan untuk berkebun, dengan memakai pakaian rumahan yang terlihat santai namun nampak sekali itu sangat elegan, tidak seperti daster yang biasa dirinya pakai di rumah.
"Sini sayang duduk." Mama Ratna melambaikan tangannya.
"Sehat sayang.?" Mama Ratna memeluk.
"Alhamdulillah, sehat ma, mama sehat.?" Dina belik bertanya.
"Sehat,,, Naah, gini dong, sering sering kamu kemari, sekarang mama akan sering ada di rumah."
Dina hanya tersenyum.
"Ma,," Dina mencoba membuka obrolan.
"Iyaa,, " Mama Ratna baru menyadari, raut wajah calon menantunya ternyata sangat pucat, lebih tepanya terlihat sekali baru menangis, mata nya merah dan hidungnya pun merah.
"Ma,,, maafin Dina ya, ternyata Dina bukan permpuan yang pas untuk mas Damar, mungkin hanya sampai sini kami berjodoh, mungkin mas Damar akan mendapatkan yang lebih baik dari Dina." Lirih Dina.
Sontak mama Ratna menjadi kaget, apa yang sebenarnya terjadi, masalah apa yang mereka alami, mama Ratna tidak tahu, padahal sampai sejauh ini hububgan mereka baik baik saja, itu yang mama Ratna tahu.
"Sayang,, ada apa.?? Kamu ada masalah apa sama abang, biar mama panggil abang ke sini ya, kalian bicara baik baik. Mama tidak mau ikut campur."
"Tidak mah, ini semua salah Dina,, Dina minta maaf ya ma." Dina menyodorkan kotak yang berisi cincin pertunangan nya.
"Sayang,, jangan seperti ini, mamah panggil abang dulu ya." Dengan tergesa mama mengotak atik handphone miliknya.
__ADS_1
"Gak usah mah, sampaikan permohonan maaf Dina untuk mas Damar." Tahan Dina memegang kedua tangan mama Ratna.
"Dina permisi ya ma.." berdiri lalu pergi.
"Sayang,,, tunggu dulu." Mamah Ratna berusaha membujuk. Mencoba menyambungkan panggilan pada anak nya, sambil mengejar Dina yang pergi ke parkiran untuk mengendarai motor nya.
Namun langkah mamah Ratna kalah cepat, Dina segera pergi meninggalakan rumah besar itu dengan sepeda motornya.
"ABANG,, dimana kamu, cepat kamu pulang... SEKARANG." Perintah mama Ratna pada Damar di balik sambungan telepon.
Tidak sampai dua puluh menit Damar sudah sampai di rumah, karena saat mama Ratna menelepon tadi, dirinya sedang berada di dalam mobil yang di kendarai Rommy.
"Ada apa ma.?" Tanya Damar menghampiri ibu nya.
Mama Ratna hanya menatap nya dengan sedikit melotot.
"Kenapa.? Aku punya salah.?" Damar semakin heran lalu mendekat dan memeluk mama Ratna dari belakang.
Namun mama Ratna melepaskan pelukan anak sulungnya lalu berbalik menyodorkan kotak cincin yang di kembalikan Dina tepat menempel pada dada nya.
"Apa ini.?" Tanya Damar heran mengambil kotak kecil berwarna navi itu.
"Apa maksudnya.??" Damar semakin tidak mengerti setelah melihat isi nya. Dia tahu itu adalah cincin pertunangan nya, namun yang membuat dirinya tidak mengerti kenapa cincin itu ada di tangan mamanya.
"Tadi Dina ke sini, dan ngasih itu ke mama, sebenarnya apa sih yang terjadi, kalian ada masalah apa.?" Tutur mama Ratna.
Damar hanya diam, dia mengingat ingat apa kesalah dirinya, masa iya hanya karena makan malam Dina memutuskan pertunangan.
"Abang,,," mama Ratna menggoyangkan lengan anak sulung nya, karena Damar diam dan terlihat melamun.
"Aku juga gak tahu mah." Damar juga sama bingung nya.
"Aku pergi dulu." Pamit Damar membawa kotak cincin pertunangan Dina.
Dengan perasaan bingung dan kesal Damar melajukan mobilnya ke tempat tinggal tunangan nya, dan berusaha menghubunginya.
"Apa yang kamu fikirkan Din,, kenapa kamu tidak mau jawab telepon nya." Dengus Damar melempar handphone ke kursi dipinggir nya.
Setelah memarkirkan mobilnya Damar mengetuk pintu, menununggu seseorang membukakan pintu, dia berusaha tenang dan terlihat biasa saja, meskipun hati nya sedikit tersulut amarah karena tindakan ceroboh tunangan nya.
"Nak Damar," ibu membukakan pintu.
"Bu, apa kabar?" Sapa Damar menyodorkan tangan nya. Yang di sambut oleh ibu.
"Dina ada di rumah bu.?" Lanjut nya.
"Ada,, masuk nak." Ibu mempersilahkan.
"Bu,, jangan kasih tahu kalau saya yang datang."
Pinta Damar saat ibu hendak memanggil Dina, ibu merasa aneh, sepertinya ada persoalan di antara mereka. Namun ibu tidak mau mencampurinya, dan ibu membiarkan agar mereka menyelasaikan nya sendiri.
Ibu memanggil Dina, namun benar saja Dina tidak mau keluar, dan malah memberi alasan bilang saja kalau dirinya sedang tidur, ibu mengatakan bahwa anak tetangga mereka ada perlu padanya.
"Nana, keluar dulu coba, itu ada tamu, ibu gak enak kalau mesti bohong, mana suara kamu terdengar sampai depan." Bujuk ibu, karena sekarang Damar berada di depan pintu kamar Dina bersama ibu.
"Dina sakit bu.??" Tanya Damar berbisik.
"Engak tahu, dari kemarin dia mengurung diri, ibu juga tidak tahu kenapa.?" Jelas ibu, sama berbisik.
"Din,,, buka pintu nya." Damar mengetuk pintu kamar Dina.
Sekarang hening tanpa suara. Membuat orang yang di luar semakin bingung.
"Ibu ambil kunci cadangan dulu ya.?"
Damar mengangguk.
"DINA..." dengan sedikit mengeraskan suara nya, akhirnya dengan spontan Dina membuka pintu kamar nya, ternyata dari tadi Dia berada di balik pintu, mungkin Dia kaget karena tiba tiba mendengar suara Damar di luar kamar nya.
"Ikut aku."
Setelah pintunya terbuka, Damar menarik tangan Dina dan membawa nya ke luar Rumah.
"Bu,, saya ajak Dina jalan jalan keluar dulu, kami pergi ke taman depan." Pamit Damar pada ibu yang baru keluar dari pintu arah dapur.
Ibu tidak berkata apa apa hanya menganguk.
Benar saja, Damar hanya membawa Dina ke taman depan yang dekat dengan rumah yang di tinggali Dina, Taman yang lumayan cukup luas, taman di komplek perumahan yang biasa di pakai anak anak untuk bermain di sore hari, dan di pakai senam untuk para lansia di pagi hari.
Damar memarkirkan mobilnya di taman itu, dan mereka tetap berada di dalam mobil, Damar tidak berniat mengajak Dina untuk turun, Dia langsung memberikan kotak cincinnya, sebelum dina menerimanya, Damar malah menyimpannya di pangkuan Dina.
"Pakai." Perintah Damar, namun Dina hanya diam, tidak bergerak sama sekali.
"PAKAI." Dengan sedikit mengeraskan suara nya.
Dina menggeleng.
Damar mengerutkan dahi nya.
"Aku gak mau." Tolak Dina.
"Kamu kenapa seperti ini sih, kamu kenapa.?"
Sekarang Dina menjadi Diam.
"DINA, jangan sampai aku benar benar marah ya sama kamu."
"Kalau mau marah marah saja, memangnya apalagi yang kamu bisa selain memarahi ku," sungut Dina.
"Apa yang terjadi." Damar meraih tangan Dina.
Namun Dina enggan untuk di sentuh.
Entah karena capek, mood Damar menjadi tidak stabil, awal nya Dia akan mencoba menanyai Dina dengan baik baik, namun jika Dina bersikap seperti ini dan tidak mau mengatakan alasanya, lama lama Damar juga terpancing emosi.
"Kamu jangan kekanak kanakan seperti ini, aku capek, aku belum tidur sama sekali." Damar mulai tersulut emosi.
"Apa kamu bilang, aku juga cape mas, capek sama hubungan ini, aku capek sama kamu, capek sama semua kelakuan kamu, dan yang pasti aku benci sama kamu, hiks..hiks.."
__ADS_1
Tiba tiba Dina menangis kembali, dan berbalik membelakangi Damar.
"Apa maksud kamu.?" Sergah Damar memegang lengan Dina agar berbalik. "Katakan."
"Whaa,,Kamu jahat mas, kamu jahat,, whaa.."
Dina menepis tangan Damar, dan kembali membelakangi, sekarang Dia menangis lebih keras.
Damar semakin bingung, sebelum tadi pagi, semua nya baik baik saja.
Apa yang telah terjadi selama Dia pergi sebenarnya. Mungkin itu yang ada dalam benak Damar saat ini.
"Aku minta maaf, kalau aku ada salah." Damar melunak, dan Mengalah saja, biar semua cepat selesai.
"Kamu jangan nangis dulu, nanti semua orang datang ke sini gimana.?" Masih berusaha menenangkan.
"Wwhhhaaa....... jamu jahat mas.. " namun Dina malah menangis lebih keras lagi.
"Kamu ini, maunya apa sih.." Damar bingung dan menyalakan mobil nya.
"Nih, kamu lihat, apa saja yang kamu lakukan di belakang aku sama masa lalu kamu.?" Dina memperlihatkan foto foto yang selama ini di kirim oleh Sam dan beberapa nomor baru yang entah siapa.
Damar semakin tak mengerti. Mematikan kembali mobil nya.
"Kamu dapat itu dari mana.?" Damar memgambil handphone Dina dan melihat foto foto yang dia tunjukan.
"Memang benar ya, ternyata pekerjaan adalah nomer satu buat kamu, mungkin aku no dua,, eehh tidak, Sam no dua, aku nomer berapa untuk kamu.?" Bukanya menjawab pertanyaan Dina malah melantur ke sana kemari.
"Atau mungkin,, aku tidak berarti untuk kamu mas.?"
"Kamu bicara apa,.?? Jangan melantur kamu, aku sama Sam itu hanya rekan kerja dan kamu juga tahu akan hal itu." Damar masih berusaha tenang.
"Iyaa aku tahu, itu alasan nya kenapa kamu menjadi sibuk sekali dengan pekerjaan kamu."
Dengan menahan tangis nya Dina masih bisa menyindir.
"Apa maksud kamu.? Jangan hanya karena cemburu kamu menjadi bertindak bodoh, kamu melepaskan cincin kamu, dan memutuskan untuk mengakhirinya, pakai lagi cincin kamu." Damar memerintah kembali.
"Bodoh kamu bilang,, yaa aku memang bodoh, aku percaya dengan janji yang kamu buat, aku mempercayainya, aku memang bodoh. Kamu mempermainkan aku, kamu mengikat aku dengan pertunangan, namun kamu sendiri, apa yang kamu lakukan di belakang ku, cih,, sungguh menggelikan." Sungut Dina dengan mata sedikit melotot.
Damar hanya menatap Dina dengan mendalam, masih memikirkan apa maksud dari perkataan nya.
"Din, aku minta maaf atas semua kesalahan ku, sekarang kamu adalah yang paling penting untuk aku, Sam bukanlah apa apa bagi ku,dia hanya masa lalu, itu saja tidak lebih." Damar mencoba merengkuh Dina dan memeluk nya.
Namun dengan cepat Dina mendorongnya dengan keras.
"BOHONG,,, kalau hanya sebatas masa lalu kenapa bisa kalian berciuman, whaa... apa itu kamu sebut tidak apa apa.?? Kamu mempermainkan aku,, kamu jahat, aku benci kamu,, whaa.. hiks hiks..." Kembali Dina menangis dan menutup wajah nya dengan kedua tanganya, mungkin teringat saat melihat video yang di tunjukan Sam, betapa sakit nya melihat tunangan nya berciuman dengan orang lain.
"Berciuman, apa maksud kamu, jangan mengarang berlebihan."
Damar mencoba mencerna perkataan Dina.
"Hiks,, hiks,, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, kamu yang memilihku, kenapa kamu juga menyakiti aku mas,, kalau kamu mencintai orang lain, kamu bisa katakan, bukanya kamu mempermainkan aku seperti ini,, sakit rasa nya,, aku seperti tak berharga di mata kamu, kamu tak pernah memikirkan perasaan aku,, aku benci kamu mas ,, aku benci kamu. Hiks,, hiks,," suara Dina begitu nyaring memenuhi ruang dalam mobil.
"Dina,, dengarkan aku, siapa yang mengatakan semua lelucon itu sama kamu.??" Kembali Damar berusaha menenangkan.
"LELUCON APA MAS,, aku melihat dengan jelas betapa kamu menikmati saat berciuman, aku melihat dalam video yang Sam tunjukan pada ku,, whaa,, hiks,, hiks,, sakit sekali mas,, sakit.... hiks,, hiks.." air mata Dina tidak berhenti mengalir.
Si alan,, mungkin Sam mengambil rekaman cctv dalam ruangan ku saat tempo hari aku mencoba mempermalukan Dia, licik sekali kamu, dasar wanita ular kamu Sam.
"Jangan berfikiran sempit kamu, itu semua gak seperti yang kamu fikir."
"Lalu apa yang sebenarnya mas.?? APA.??,, kalau kamu mencintainya, kenapa kamu memilihku,, dimana hati nurani kamu mas.?? Salah apa aku sama kamu.." sekarang Dina malah memukulkan genggaman tangan nya pada lengan Damar.
"Dina, jangan kamu menyimpulkan se enak nya begitu, aku tidak mencintainya." Sanggah Damar. "Kamu terus melantur kesana kemari, hentikan semua nya, seharusnya kamu bisa merasakan, sejak awal aku menyukaimu, mustahil bagi laki laki yang mempertahankan perempuan jika tidak mencintai nya."
Dina menjadi Diam, menajamkan pendemgarannya pada kalimat Damar barusan.
"Kamu mencintaiku mas.??" Dina bertanya dengan ragu.
"Pertanyaan bodoh," Damar meraih tangan Dina dan mencoba memasangkan cincinnya kembali.
"GAK MAU,, aku gak mau.." Dina masih menolak. Menarik kembali tangan nya.
"Astaga, kamu kenapa keras kepala sekali Din."
"Tetap saja, kamu berciuman sama wanita itu." Sungut Dina.
"Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, kita tidak berciuman, Dia yang menciumku,, lagian ada Rommy di sana, kamu bisa tanya pada Rommy apa yang sebenarnya terjadi." Terang Damar memakaikan cincinnya.
"GAK,, pokoknya aku gak percaya, aku gak mau maafin kamu, kamu bermain gila di belakang ku." Meski sudah tidak menangis Dina masih mendengus.
"Din, harus berapa kali aku katakan, semua itu..."
Krining,, krining,,, kalimat Damar terpotong oleh panggilan telepon dari Handphone Dina yang sedang berada di tangan nya.
"Kakak kamu." Ucap Damar.
Tanpa permisi Dia mengangkatnya.
"Eeehh,, mas, kamu.." isyarat tangan Damar menyuruh Dina untuk tetap diam.
"Wa alaikum salam, baik sekarang saya sama Dina ke sana,"
Damar mengangguk ngangguk.
"Hhhmm,, baiklah."
Damar menyodorkan handphonen nya pada Dina.
Tentu Dina mengambilnya dengan cemberut.
"Kita jemput kakak kamu di airport. " Damar langsung melajukan mobilnya tanpa bertanya dahulu.
Dina masih cemberut dan memasang wajah kesal. meski dirinya berkata ingin memutuskan pertunangan nya, namun dari hati yang paling dalam Dia juga tidak rela kalau harus berpisah dengan cara seperti ini, apalagi tadi sempat Damar mengatakan bahwa dirinya mencintai Dina.
sungguh kata itu lah yang selama ini Dina nantikan.
jangan fikir aku akan memaafkan kamu dengan mudah ya mas, kamu seenaknya aja berciuman dengan wanita lain di belakang aku, meskipun kamu bilang itu tidak seperti yang aku fikirkan, tetap saja kamu salah mas,, kamu salah.
__ADS_1