
(Flash Back on.)
"Seharusnya kamu bisa menahan emosi kamu Sam. Sampai promosi itu harusnya kamu tidak terkena masalah, kalau sampai kontrak ini di batalkan, kamu tahu akibatnya."
Teriak alex, laki laki blasteran yang tempo hari bersamanya.
Alex pria blasteran itu, adalah kakak sepupu Sam, dia adalah orang yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan dia pula yang selalu berada di belakang Sam selama ini.
Selain Sam, alex juga adalah pelaku utama dalam perundungan Damar di masa lalu.
Ibu Alex tinggal di ibu kota, berbeda dengan sang ayah yang kembali ke negara asalnya Amerika karena pekerjaannya pada saat usia Alex menginjak tujuh belas tahun, maka dari itu, bukan hal yang aneh , jika Alex selalu berada di ibu kota. Dan sangat lancar berbahasa seperti Damar.
namun lumayan sering juga ibu Alex pergi ke amerika untuk sekedar berkunjung atau menengok sang suami di sana. dan begitupun sebalik nya.
Sam dan Alex di besarkan di rumah yang sama, karena ibu Sam adalah adik kandung dari ayah Alex, saat usia Sam sebelas tahun, ibunya dengan sengaja meninggalkan Sam dan pergi tak tau kemana, maka dari itu Sam di besarkan oleh ayah dan ibunya Alex.
Meski tumbuh bersama, tidak menjadikan Alex memperlakukan Sam layaknya adik yang di kasihi, karena Alex merasa, Sam sudah menghancurkan kehidupan nya, Sam menggangu semua kenyamanan dalam hidupnya.
Orang tua Alex menyayangi dan memperlakukan Sam sama seperti memperlakukan Alex, karena sudah lama mereka menginginkan seorang putri di kehidupan mereka, entah cemburu atau apa, sejak awal Sam di tinggakal di rumah nya, Alex selalu ketus dan menjahili Sam.
Semakin sering Alex menganggu Sam, semakin kedua orang tuanya menyanyangi Sam.
Dan semakin bertumbuh besar Alex, semakin besar pula dia membenci Sam.
Alex tumbuh dalam kebencian pada Sam, dan Sam pun tumbuh dengan ketakutan dan ancaman dari Alex.
Plak,,,
"Why,,,?? why do you keep hitting me Alex.?" Dengus Sam, memegangi pipinya.
"Karena kamu bo doh, kamu wanita j a l a ng yang Bo doh.." sungut Alex.
"Cih,, kita sama bodohnya, kamu jangan hanya menghina ku, hina dirimu sendiri." Balas Sam.
"Lu ngomong apa.?" Berang Alex. Hendak memukul Sam lagi.
"hit me, beat me until I die, supaya kamu puas." Tantang Sam.
Dan Alex malah meninju udara.
"you think i don't know,, aku tahu semua rencana kamu, kamu sengaja mencari investor untuk membuatku dekat dengan Dammy, Is not it.?"
Beber Sam.
"Asal kamu tahu Alex, I approached him again not because you ruled, but,, because I wanted him." Ucap Sam sambil menyeringai. Lalu hendak pergi meninggalkan Alex.
"Apa kau tidak ingat Sam, saat aku hampir menjualmu untuk di jadikan budak di negara kita.? Kau tidak ingat,, di sini pun aku akan melakunya jika kau kurang ajar pada ku,, apalagi sekarang ibu ku sudah tiada, tidak ada lagi yang akan menolong mu," ungkap Alex.
"Atau mungkin kamu sudah lupa, aku bisa saja menghabisi mu hanya karena aku kesal, dan membuat orang lain mengira kamu bunuh diri." Lanjut Alex menyeringai.
Sam mulai gemetar, dan mengingat masa lalu.
Namun percakapan mereka terhenti karena asistennya menelepon dan meminta Sam melakukan pemotretan.
"Bekerjalah dengan baik kalau kamu mau selamat." Bisik Alex, memegang dagu Sam, lalu pergi.
Sesampainya di lokasi pemotretan, wajah Sam sangat muram, sang fotografer meminta untuk Sam lebih serius dan Fokus, karena beberapa kali sang fotografer mengarahakan, dia hanya berdiri kaku dan lambat merespon.
"Maaf miss, apa kita cari hari lagi saja, mungkin sekarang miss belum siap, saya juga cape, belum tidur dari kemarin kare banyak pekerjaan." Ucap sang fotografer ketus.
"Cih, kenapa memang, ada masalah dengan saya, terserah saya, di sini saya model nya, kamu hanya perlu memotret, tidak usah sekalian memgatur hidup saya." Sahut Sam tak kalah ketus.
"Maaf miss, maksud nya apa.? Di sini kita sama, sama sama di bayar, jadi mohon hargai saya." Decak fotografer.
Sam merasa tersinggung dengan ucapan fotografer, dia spontan berdiri dan memaki sang fotografer, dan fotografer itupun membalas, yang pada akhirnya saling bersilat lidah.
Meski di sana banyak orang, namun tetap saja tidak ada yang dapat mengehntikan pertengkaran.
"Baik kalau begitu saya berhenti dari projek ini, anda bisa cari oorang lain.." Lontar fotografer pergi dengan wajah yang terlihat lesu dan lelah.
"Pergi sana, orang rendahan sepertikamu tidak pantas di sini." Hardik Sam.
Karena sudah tidak ada fotografer, pemotretan tidak dapat dteruskan,
Sam terdiam, sadar semua crew menatapnya dengan sinis. Karena merasa terintimidasi Sam mengamuk tanpa alasan.
(Flash back off)
"Lia, masih adakah Fotografer untuk hari ini.?" Tanya Damar pada sekertaris nya lewat telepon.
Setelah mendengar cerita sang sekertaris tadi di dalam ruangan nya.
__ADS_1
"Oke, panggilkan Rommy sekarang." Lanjut nya menjawab sahutan dari Lia.
Lima belas menit berlalu.
Tok.. tok..
"Gue masuk ya," Rommy membuka pintu lalu masuk tanpa menunggu jawaban.
Damar hanya menatap Rommy cukup lama, seolah meminta penjelasan atas apa yang terjadi.
"Mar, untuk hari ini, pemotretan kita tunda saja, bagaimana.?" Rommy membuka percakapan dengan ragu.
Damar hanya diam.
"Atau begini saja, kita reschedul.?" Lanjut Rommy.
Damar masih diam.
Menatap kembali dengan tajam kepada Rommy.
"Oke,, oke,, mau lu gimana.? Apa kita ganti saja untuk brand produk baru kita.?" Tanya Rommy.
"Huuufft,,, ternyata ini gak semudah yang di fikirkan, ini bukan hanya sekedar masa lalu, sekarang nasi sudah menjadi bubur, gue bingung musti ngapain." Ujar Damar.
"Buntu otak gue. Akhir akhir ini banyak sekali masalah." Lanjutnya.
Memijat mijat dahinya.
"Maaf miss, Pak Damar tidak bisa di ganggu."
Terdengar suara Lia dari balik pintu.
"Miss maaf,, miss..."
Gubraaakk....
Tiba tiba Sam menerobos masuk kedalam ruangan Damar, dengan kondisi menangis Dia mendekat pada Damar.
"Dammy," Sam bergumam.
"Maaf pak, tadi saya..." ucapan Lia terpotong saat melihat Damar berisyarat menyuruhnya keluar.
"Aku mau bicara." Ucap Sam bergelayut di lengan Damar.
"Aku mau kita bicara berdua."
Sam mengisyarat meminta Damar untuk menyuruh Rommy keluar.
"Haaha,, anggap aku tidak ada saja miss, anggap saja aku lalat.," ujar Rommy yang mengerti akan sindiran Sam. Namun malah duduk di atas kursi.
Namun Rommy lebih memahami apa yang Damar inginkan. Maka dari itu sepertinya Rommy tidak akan pergi dari ruangan itu.
"Katakan, apa yang mau kamu katakan" sambung Damar.
"but, I don't like flies," sergah Sam.
"Haha,, kalau begitu anggap saja saya tembok, bagaimana.?" Teguh Rommy.
"Dammy please." Pinta Sam.
"Katakanlah Sam, saya banyak pekerjaan." Tukas Damar, tanpa berbasa basi.
Sam berfikir, dan akhirnya mengatakan apa yang ingin dia katakan.
"Dammy, apa kamu yakin sudah tidak mencintai ku.? Apa benar kamu sudah melupakan ku.?" Ucap Sam.
"Cih,, melupakan mu, tentu saya belum lupa atas semua yang kamu lakukan kepada saya, Sam." Decih Damar.
"Dammy,, kamu benar benar belum memaafkan aku.?? Tapi aku yakin, kamu masih mencintaiku. Iya kan.?" Ulang Sam.
"Apa yang membuatmu sepercaya diri itu Sam,? Sampai kamu berfikir aku masih mencintai mu."
Ucap Damar.
"Kamu tidak berubah Dammy, kamu masih my same boy." Tutur Sam.
"Hentikan Sam, empat tahun telah berlalu, aku bukan laki laki bodoh yang sama seperti dulu, sekarang aku sudah bertunangan, dan sebentar lagi kami akan menikah, dan seisi kantor disini mengetahuinya, jadi saya mohon untuk kamu tidak membuat kekacauan dengan pernyataan kamu bahwa saya masih mencintai kamu." Jelas Damar.
"Dammy,, aku harus bagaiman untuk mendapat maaf mu." Lirih Sam.
"Meminta maaf lah yang tulus, berlutut dengan benar." Ucap Damar datar.
__ADS_1
"are you kidding..??" Sahut Sam.
Kalau saja tidak ada assisten sialan itu, pasti aku akan melakukanya. Batin Sam.
"Kalau begitu, pergilah." Sergah Damar.
Bukannya menyerah dan pergi Samantha malah mendekati Damar, saat berhadapan dengan sengaja Sam menempelkan bibirnya dengan bibir milik Damar.
Rommy yang sedari tadi memainkan handphonenya dan duduk di kursi depan meja kerja Damar kaget dan membulatkan matanya.
saat melihat adengan temanya sedang saling beradu bibir dengan Sam. Dia hanya menonton saja apa yang Damar dan Sam lakukan.
Tidak ada penolakan ataupun perlawanan dari Damar. Bahkan respon pun tidak ada, Damar hanya berdiri mematung, membiarkan Sam melalukan apa yang Dia inginkan.
Sempat Sam berfikir bahwa Damar masih menginginkannya. Maka Sam terus melanjutkannya.
Dengan rakus Sam me lu mat bibi Damar, Dia menjulurkan lidah agar Damar membuka mulutnya, namun tetap saja Damar diam tidak bergeming. Dan bibir tertutup rapat.
"Sekarang kamu puas." Tutur Damar saat Sam sudah melepas ciuman nya. Mengambil tisyu yang ada di atas meja dan mengelap bibirnya.
"Cih, apa seperti itu cara setiap kamu meminta maaf.?" Ejek Damar. Menggulung tisyu bekas bibirnya, dan dilemparnya tisyu itu melewati wajah Sam.
"Dammy," gumam suara Sam bergetar.
"Tong sampah nya ada di belakang kamu." Ucap Damar menunjuk tong sampah yang ada di belakang Sam.
"Seharusnya kamu berlutut dan meminta maaf yang benar jika kamu menyesali perbutan mu Sam, bukan malah seperti ini."
"Empat tahun sudah berlalu, banyak yang terjadi pada ku yang kamu tidak tahu, jangan sepercaya diri itu karena sekarang kamu tidak berarti apapun bagi ku," ungkap Damar membelakangi Sam.
"Dammy, kamu tega mempermalukan aku." Getar suara Sam.
"Kenapa Sam, aku hanya meladeni mu, bahkan aku tidak meresponnya, dan aku benar benar tidak merasakan apapun." Tukas Damar.
Sam terduduk lemas di atas sofa, air mata yang tadi membendung sudah tidak bisa di tahan, pipinya basah dengan air mata, dia tidak menyangka Damar akan mempermalukanya seperti itu,
Rommy memberikan beberapa lembar tisyu ke pangkuan Sam, karena Damar sudah keluar ruangan terlebih dahulu.
"Miss, keluarlah jika sudah tenang, jangan biarkan orang lain tahu apa yang barusan terjadi, karena kalau sampai kejadian hari ini di ketahui orang lain anda lah yang akan paling dirugikan." Jelas Rommy sebelum meninggalkan Sam.
Sam menjerit tanpa suara, Dia tidak mengira bahwa Damar mampu melakukan hal itu di depan orang lain. Padahal Sam sempat berfikir Damar masih menyimpan rasa untuknya, karena tidak adanya penolakan saat Sam menciumnya.
Namun ternyata, Damar membiarkan Sam menciumnya hanya untuk membuktikan bahwa sekarang Damar tidak mempunyai perasaan apapun pada Sam, bahkan saat mereka berciuman.
Tok.. tok.. tok...
"Miss,,"
Sam mengusap air matanya saat mengetahui assisten dan managernya datang menghampiri.
Seolah tidak terjadi apa apa, Sam keluar mendahului Tim nya, Dia berjalan dengan angkuh, padahal hatinya berkecamuk ingin mengeluarkan seluruh amarah nya.
"Miss,,miss,," ucap sang assisten mengejar Sam dengan membawa banyak barang.
"Kalian duluan saja, aku ada urusan." Pinta Sam pada assisten dan managernya.
Sam memutar langkahnya meninggalkan assisten dan managernya. Dia berjalan dengan cepat ke arah belakang kantor.
"Mau kemana Dia, apa ada barang yang hilang sehingga dia pergi menemui keamanan.?" Gumam sang manager yang melihat Sam pergi dengan tergesa.
"Terserah lah, ayok kita tunggu di bawah." Ajak sang manager pada sang assisten.
Di ruang keamanan.
Sam menyeringai di depan layar layar yang sedang memutarkan video.
Dia bergumam dan terus tersenyum licik, melihat semua video yang sedang di putarkan di layar di depan wajahnya.
"jika aku tidak bisa membuat mu jatuh kepelukanku lagi, maka tidak boleh siapa pun memiliki mu, aku hancur, maka kamu juga harus hancur Dammy."
Setelah selesai urusanya Sam pergi meninggalkan kantor DS key, yang dimana perusahaan itu yang akan menjadikanya Brand Ambasador dari product terbarunya, selama satu tahun kedepan.
Lain Sam lain Alex.
Sementara Sam mencari cara untuk mengambil kembali hati Damar, Alex malah mencari celah supaya Damar bisa kembali berada dalam kungkungan dan ancaman nya.
Meski berbeda Damar yang dulu dan sekarang, tetap saja Alex penasaran akan kehidupan Damar yang sekarang.
"Urusan kita belum selesai bung, kenapa kamu pergi begitu saja,"
"Padahal selama ini aku mencari kamu, entah kenapa semua tertutup rapat, padahal perusahaan mu begitu besar dan terkenal."
__ADS_1
"Namun, apa daya, ternyata kita memang berjodoh. Haha"
Gumam Alex menatap laptopnya yang sedang menampilkan blog tentang DS key.