Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
44. Hari Yang Panjang


__ADS_3

Jarum jam terus bergerak, malam telah terganti dengan pagi, ada siang yang akan menghampiri, serta sore yang menunggu giliran untuk menampakan diri.


Hari berganti hari, minggu pun telah terlewati, bahkan sampai hampir satu bulan penuh, Damar dan Dina tidak bertemu setelah kunjungannya ke Rumah sang calon suami.


Karena keberadaan Damar yang sedang melakukan pekerjaan nya di luar tanah air.


Meski sudah tiga puluh hari mereka tidak bertatap muka secara langsung, tapi Damar tidak pernah melewatkan satu haripun untuk bertukar kabar, yang lebih tepatnya meminta kabar.


Seperti, rencana apa untuk hari ini, pergi sama siapa, lagi dimana, dan pengingat untuk pulang tepat waktu.


Seperti itulah pesan Damar yang selalu diterima oleh Dina.


Deerrrrtt.... deeerrrtttt.... deeerrrttt..


Getar Handphone di dalam tas membuat Dina terperanjak untuk segera memeriksa, meski sesungguhnya Dina tahu siapa si pengirim panggilan itu.


Dengan sedikit malas Dina melihat layar handphone nya, namun ternyata bukan panggilan biasa, melainkan panggilan Video.


Dina bingung, mau mengangkatnya atau mengabaikannya, karena dirinya sedang berada di dalam ruang kelas, yang tentu saja banyak teman kampus nya. meskipun bukan sedang dalam mata kuliah.


"Siapa Na, kok gak di jawab." Tanya Fira.


"Pak bos ya.?" Sambung Eva.


Dina mengangguk dan masih menatap layar Handphone nya.


Dengan perlahan Dina menggeser tombol hijau.


"Assalamualaikum, "


"Wa alaikum salam,  lagi dimana.?" Damar Langsung bertanya tanpa berbasa basi.


"Di kampus lah, di mana lagi." Jawab Dina ketus.


"Setelah itu langsung pulang ya, jangan terlalu sore." Ucap Damar.


"Iyaaa paduka Raja, Asshhiiaaap.." sahut Dina menaruh tangan di kening, seperti memberi hormat.


Sedangkan Fira, eva dan Riska cekikikan melihat interaksi antara teman dan tunangan nya itu.


"Sama siapa kamu.?" Tanya Damar mendekatkan wajahnya ke layar Handphone.


"Siapa lagi atuh, ya Fira,eva sama Riska." 


"Itu di belakang kamu, ada laki laki, siapa Dia," sergah Damar di sebrang panggilan video.


Dina memutar kepalanya, melihat ke arah yang di maksud Damar.


ada dua mahasiswa laki laki yang sedang duduk memainkan handphonenya masing masing.


Dan orang di belakang itu seperti keheranan karena merasa di bicarakan.


"Yaa ampun mas, itu temen aku lah, udah ah, nanti aku telepon balik." Tukas Dina. Merasa tidak enak pada teman di belakang yang di maksud Damar.


"Jangan macam macam kamu ya."


"Apaan sih, macem macem gimana, satu macem aja udah pusing." Dengus Dina.


"LANGSUNG PULANG..."


"Iya, tuan... assalamualaikum. "


Tut... tut... tut... panggilan berakhir.


"Uuunnnccchhh so sweet, tiap jam dapet telepon dari ayang. Tiap menit pesan berdatangan, aaahh jadi pengen punya ayang.. haha." Ledek Eva, yang mengetahui seberapa intens nya Damar memeriksa Dina.


"Sialan lu." Dengus Dina.


"Emang Dia protek banget ya sama kamu na.?" Tanya Fira.


"Iya na, Gue lihat Dia kayak yang gak percaya sama lu, si Riska aja pacarnya gak gitu gitu amat," lontar Eva.


"Lahh,, kok cowok gue lu bawa bawa." Tukas Riska.


"Iyaaa Va, kan beda set pacar nya Riska sama Eva." Tambah Fira.


"Iyaa bisa jadi, mungkin bawaan om om kali ya.?? Faktor U, Haha" lanjut Eva.


"Ckckck... Faktor U nya, yang mana nih Va..??" Tutur Fira.


"Yaaa pastinya U wang dong.. apalagi... hahaha" ucap Eva dan Fira bersamaan.


"Heeeehhh,, gak papa sekarang Cowok gue dompetnya Tipis, tapi liat aja nanti..." gerutu Riska.


"Tebel Ris.?" Tanya Eva.


"Kagak,, kosong,  kan gue yang pegang duit nya... hahaha..." ucap Riska tertawa terbahak yang di ikuti oleh Fira dan Eva.


"Aduuhh berisik baget sih lu semua." Desis Dina, menunduk tidur di atas lengan yang berada di meja di depan dada nya.


"Mas Damar tuh, kayak gini kalo lagi pergi aja, biasanya juga gak gini kalo lagi di sini, apalagi kalo pas ketemu,  di cuekin gue. Kerjaan yang dia perhatiin, kalo jauh kayak gini baru Over perhatiin gue."


"Kadang Gue tuh bingung girls, mas Damar itu suka  ajak gue nikah, katanya Dia pengen jagain Gue seutuhnya,"


"Apa.. nikah. Kita kan masih muda Na." Eva.


"Iyaa,, terus kamu jawab apa.?" Fira.


"Emang lu ada rencana nikah muda na.?" Eva.


"Satu satu dong, bingung kan gue jadi nya, dia emang ngajakin tapi gak maksa. Tiap gue jawab nanti, ya dia juga gak ngotot."


"Terus apa yang buat kamu bingung na.?" Tanya Fira lagi.


"Gue masih bingung sama perasaan gue, juga sama perasaan nya mas Damar."


Hhheeemmmhh, Dina menghela nafas.


"Lah bukannya kalo memutuskan untuk bertunangan itu berarti kalian akan menikah kan.,?" Dengan heran eva bertanya.


"Ya belum tentu," kali ini Riska yang menyahut.


"Iya kan na.?" Tanya nya lagi.


Dina mengangguk.


"Mas Damar juga dulu bilang, pertunangan ini bisa saja batal kapan pun, kalau dalam hubungan kita gak berkembang atau tidak berjalan semesti nya."


"Tapi sekarang gue bingung, gue merasa mas Damar itu suka sama gue, tapi Dia gak pernah bilang, kalau Dia suka atau Cinta sama gue."


Eva menatap Dina lekat, "Terus terang ya na, lu Cinta ya sama Dia,?"

__ADS_1


Dina menggeleng. " Gue gak tau Va, Bingung gue.. pusing ah."


"Apa yang buat kamu masih ragu selain perasaan Na, ?" Tanya Fira.


"Iya, biasanya kan kalau soal Cinta bakal ngikutin Na kalo udah Nikah. Itu sih yang ibu bapak gue bilang, katanya mereka menikah tanpa Cinta, tapi brojol gue kan sama adik adik gue, haha "  Sambung Eva.


"Iya tapi gue gak mau kayak gitu, nanti pas gue lagi cinta cintanya, gue di tinggal gimana.?"


"Gak mau gue jadi janda." Sungut Dina.


"Kamu nyatain cinta duluan aja na, kan nanti bakal ketahuan Dia juga Cinta sama kamu atau enggak." Dengan polos nya Fira memberikan saran.


Dina pun melotot dengan sempurna.


"Eh, enak aja, gengsi dong gue."


"Sudah ah, gak bener nih ngomong sama kalian, bukan dapat solusi malah tambah pusing gue."


Sungut Dina, berdiri dan hendak pergi.


"Mau kemana lu.?" Riska menghadang langkah Dina dengan pertanyaan.


"Mau ikut gak.? Kita makan, nonton, gue bayarin." Dina memgajak pergi.


"HAAAH SERIUS...???" jawab ketiga nya.


"Iyaaa come on." 


Mereka pergi menggunakan Taxi online karena Fira hari ini tidak membawa mobil,


Di antata mereka berempat hanya keluarga Fira dan Dina saja yang mempunyai mobil,


Meski Dina bisa mengendarai mobil, dan kebetulan mobil di Rumah nya menganggur karena jaka bekerja di luar negri,  Dina lebih suka naik angkutan Umum, lebih Hemat Fikir nya, dan hanya sesekali Dina menggunakan mobil ke kampusnya.


Saat mereka naik Taxi online, Fira duduk di depan, di kursi samping pengemudi.


"Maaf mbak sesuai titik ya.?" Supir taxi itu bertanya sopan.


"Iya mas," Fira yang menjawab.


"Ini mbak nya semua semester berapa.?" Supir taxi itu membuka obrolan.


"Ohh kita smester akhir mas." Lagi lagi Fira yang menjawab.


"Oh,, iya,, " sahut mas Supir dengan tersenyum.


Sesekali Fira melirik mas Supir dengan tersenyum, mas supir yang tampan dengan lesung pipi di pipi kirinya membuat Fira menjadi curi pandang cari perhatian.


Kalau di lihat dari wajah sang supir, sepertinya tidak jauh berbeda dari usia Dina, badan yang tegap dan wajah yang tampan, mungkin pak supir lebih cocok menjadi model iklan atau jadi model di catwalk.


"Mas, sudah lama jadi pengemudi taksi online.?" Tanya Fira berbasa basi.


"Hahaha,, pengemudi,  Supir kaliiii.." celetuk Eva.


"Evaaa iiihhh..." dengus Fira.


Eva hanya tertawa di kursi belakang, dan menjulurkan lidah nya, eva memang selalu bicara ceplas ceplos.


"Saya juga masih kuliah, smester akhir juga." Terang mas supir.


"Oh ya, kuliah ngambil apa mas.?" Masih Fira yang menjawab.


"Jangan panggil mbak dong, kayak nya kita seumuran deh, kenalin nama aku Fira, hehe"


Sepertinya Fira benar benar terpesona dengan mas Supir.


"Saya Raka." Sahut nya.


Dina duduk ditengah, di antara Eva dan Riska, sambil memegang handphone nya, dina terus mengetikan sesuatu dengannya. Sesekali wajahnya berubah menjadi cemberut dan Dina menggumamkan sesuatu dengan pelan.


"Lagi apa lu.?" Senggol Riska.


"Biasa..."


"Mbak yang di belakang kenapa cemberut terus.? Lagi bete ya.??hehe"  mas supir rupanya memperhatikan air muka Dina di dalam kaca spion.


"Cieee,, mas pengemudi malah merhatiin yang di belakang, yang di samping tuh yang caper  mas" lagi lagi eva berbicara se enaknya.


Fira menjadi canggung dan malu, sedangkan Dina tetap pada benda kecil milik nya.


Derrrttt... Derrrttt.. Derrrt...


Benda kecil milik Dina bergetar, namun Dina enggan menjawab panggilan nya, karena itu sebuah panggilan Video.


Panggilan Video dari sang tunangan.


Akhirnya Dina menolak panggilan nya.


Dan beralih dengan Cepat memanggil dengan panggilan suara.


"Haloo,," ucap Dina pelan.


"Masih belum pulang.?"


"Tadikan sudah bilang mau pergi dulu sama teman teman." Ucap dina lagi agak berbisik.


Rupanya sedari tadi Dina berkirim pesan dengan Damar.


"Ini sudah sore Dina, kamu mau pulang jam berapa.?"


"Mas,, maaf menepi dulu ya...." pinta Dina pada supir taxi nya.


Saat sudah di luar mobil Dina berbicara normal bahkan sedikit mengeraskan suaranya.


"Mas, kamu kenapa sih, masa mau pergi saja gak boleh."


"Bukan tidak boleh Dina Aryanti. Kalian Kenapa tidak pergi di hari libur saja sih."


"Tapi aku sudah bilang mau traktir mereka mas, kalau aku batalin gak enak dong, kan aku yang ngajakin." Jelas Dina.


"Ya kalau gitu tetap saja kamu bayarin, tapi kamu pulang." Damar Tetap dengan perintah awal nya.


"Mass,,, iiihhh.. AKU MAU PERGI, titik."


"Iiisshhh kamu kenapa susah di atur gini sih, dulu kamu penurut banget sama kakak kamu, ini kenapa sama calon suami, kamu selalu membantah." Damar mendesah.


"Enggak, enak aja, aku suka nurut sama kamu," sanggah Dina


"Kamu.. kamu..." dengus Damar.


"Pokoknya aku mau pergi, bodo amat  kamu mau marah juga, orang lagi jauh juga... dadah,,, assalamualaikum. " 

__ADS_1


Dina menutup panggilan tanpa menunggu jawaban salam dari Damar.


Ting,,, tanda pesan masuk.


Mulai belajar membangkang ya...


Jangan pulang terlalu malam,


Dan jangan lupa minta ijin sama kakak kamu.


Jaga Diri baik baik, pulang dengan selamat.


Tiga pesan langsung masuk ke handphone Dina. Akhirnya Damar mengalah saja kali ini. Yang membuat si pemilik Handphone nya tersenyum lebar.


Ternyata Damar mengalah juga.


Ting.... satu pesan lagi masuk.


Jangan pakai tabungan kamu,


Pakai Debbit card yang aku berikan saja.


Dina semakin tersenyum gembira.


Iyaaa,, terimakasih mas.


Jawaban pesan dari Dina.


Dina kembali masuk kedalam mobil dengan sumringah,  berbeda saat dia turun tadi, ketiga teman nya heran apa yang terjadi saat di luar tadi.


"Mbak nya sudah mulai baik ya mood nya, sekarang lebih gembira. Hehe" lagi lagi Raka si supir taxi online menyapa Dina.


"Hehe,, lama ya mas, maaf ya."


"Siapa Na.? Pak bos lagi.?" Eva bertanya.


Dina mengangguk. "saha deui atuh." (siapa lagi.)


Mobil kembali melaju.


"Kalian pergi ber empat saja, pacar kalian pada kemana.? " Raka berbasa basi.


"Di sini yang punya pacar cuman Dia doang nih.." tunjuk Eva pada Riska.


"Oohh jadi sisa nya jomlo nih.. hehe" goda Raka.


"Hehe iya, kak Raka punya pacar.?" Tanya Fira malu malu.


"Aduuh panggil Raka saja, kita kan se umuran,"


Ternyata selama Dina turun tadi dari mobil, mereka ber empat mengobrol banyak hal. Bahkan Fira sampai bilang akan menyimpan nomor nya Raka di handphone nya.


Iisshh,, benar benar terpikat pada mas pengemudi taxi online nih Fira.


"Kalau boleh tau, mbak siapa namanya.?" Tanya Raka ragu menatapa ke arah Dina lewat Spion tengah.


"Jangan panggil mbak atuh, aku mah orang sunda. Pangil Dina saja."Sahut Dina tersenyum.


Setelah sampai tujuan, mereka ber empat turun dari mobil, Fira memasang wajah yang di buat begitu manis dan melambaikan tangan saat mobil nya berlalu.


"Waahh ada yang Falling in love kayak nya." Sindir Riska.


"Iiihh Riska apaan sih." Sanggah Fira malu malu.


Sepanjang perjalanan masuk mal eva Dan Riska tidak hentinya menggoda Fira.


Mereka berempat menghabiskan waktu dengan menonton film dan makan, saat hendak pulang, Riska meminta agar Ditemani mencari sesuatu.


Mereka berkeliling mal untuk mencari barang yang Riska maksudkan.


Setelah sampai di sebuah toko tiba tiba Riska masuk dengan tergesa. Yang di ikuti ketiga teman nya.


Dia melihat ada orang yang berkerumun, dan berfikir ada diskon yang besar di sana, namun setelah sampai pada kerumunan itu ternyata bukan Diskon melainkan ada sang supermodel yang sedang berbelanja dan mempromosikan produk di toko itu.


Karena sebagian besar produk di toko itu adalah produk yang menjadikan Dia sebagai brand Ambasador  nya. Siapa lagi kalau bukan Sam, Samantha Valerry.


Selain menjadi Brand pakaian di sana, sebentar lagi Sam juga akan menjadi B A pakaian dari perusahaan nya Damar, Brand yang lumayan besar di negri ini.


"Ds KeY" adalah Nama brand dari product Fashion Damar. Brand itu lumayan besar dan ternama di negri ini, dan di tambah lagi akan mengeluarkan couple clothes dengan B,A Model yang sedang naik daun pula.


Tetlihat Sam duduk di kursi yang di kelilingi wartawan infotaiment, dengan gaya super model nya, tampilan yang cantik begitu terlihat seksi dengan hanya memakai dress yang menutupi bagian tengah badan nya saja, drees tanpa lengan yang menampakan sebagian pahanya.


Dengan bahasa tubuh yang menggoda, Sam menceritakan betapa sulitnya bertahan dan berkarya di negri orang. Dengan tekad yang kuat dan bakat yang Dia miliki akhirnya dia mampu berada di tempanya dia sekarang.


Meski semua orang tahu, di setiap karirnya Dia selalu mendekati dan mengencani para produser yang akan mendukung segala yang dia lakukan, namun tetap saja Dia berbicara seolah olah Dia melaluinya dengan tidak mudah.


Entahlah,,, mungkin Sam lebih cocok menjadi Actris karena Dia pandai berAkting.


"Eh buset,, ngapain lari sih Ris..?" Dengus Eva dengan ter engah engah.


"Gue kira ada diskon gede. Ternyata  bukan.. hehe"


"Ada apaan tuh, rame banget." Dina menjinjitkan kaki nya melihat ke arah kerumunan.


Tanpa sengaja Fira mendorong Dina sampai masuk pada kerumunan wartawan. Karena rasa penasaran yang sama dengan Dina.


Brruuukkhhh,,,  " aaawwwwhhhh"


dan dorongan Fira membuat Dina terjatuh dan tersungkur mengenai salah satu wartawan, wartawan yang sedang memegang Kamera itu pun tidak sengaja melempar dan melepaskan kameranya, karena dia juga ikut terjatuh bersama Dina.


sehingga kamera yang di pegangnya pecah berantakan. Wartawan itu berdiri dan melihat kondisi kamera nya. Sementara Dina masih berada di lantai di dekat kursi yang di duduki Sam, Dia merintih kesakitan.


Ketiga teman Dina langsung menghampiri nya dan membantu untuk berdiri.


Mereka meminta maaf atas kejadian itu, namun saat mereka hendak pergi, Sam berdiri dan menahan Dina untuk pergi.


"Where are you goin.?"


Dina menatap lengan yang di pegang Sam,


Dia menghempaskan nya dengan keras sampai sam mau terjatuh.


"Apaan sih pegang pegang"


"ooouugghh,,,you are so rude." Pekik Sam memegangi tangan nya, seolah Dina telah menyakiti nya.


Dina hendak melangkahkan kakinya untuk pergi, namun Dia tersadar semua orang sedang melihat ke arahnya, mereka berbisik satu sama lain dan menatapnya dengan sinis, terlebih wartawan yang kameranya pecah berantakan.


Kenapa ini,, kenapa semua melihatku seperti itu, aku tidak sengaja  mendorongnya, ini bukan sepenuhnya kesalanku...


Aaahh sepertinya ini akan menjadi hari yang panjang untuk ku.....

__ADS_1


__ADS_2