
MAKSUD DARI SEMUA INI APA.???
Pesan susulan dari Damar,
Yang membuat Dina binggung harus menjawab apa.
"Mas, kamu dapat itu dari mana.?"
Dina membalas pesan Damar, untuk memastikan.
Ternyata Damar mengirim pesan sebuah foto, yang dimana dirinya sedang berjalan di papah oleh Raka, karena kejadian tadi sore.
SEPENTING ITU.? . Balas Damar.
"Ya penting lah, jadi aku tahu maksud dari Dia ngirimin foto itu sama kamu mas," . Balas Dina.
APA MAKSUDNYA.?
"Pasti wanita itu kan.? Panjang cerita nya. Nanti saja."
Dina membalas, seolah mengetahui siapa si pengirim Foto.
Berbeda dengan Dina,
Damar baru sampai Rumah nya, masih ada di dalam mobil yang sedang di parkir oleh pak ujang sang supir.
Handphone nya bergetar, ada panggilan masuk dari Dina, namun Damar mengabaikannya, Dia tidak menolak ataupun menerimanya. Damar keluar dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam rumah.
Setelah sampai di dalam kamarnya Damar melempar semua yang ada di tangan nya ke atas ranjang, dengan wajah yang lelah campur kesal, bahkan dia sampai melemparkan tas yang berisi laptop ke atas tempat tidurnya.
tidak seperti biasanya, Damar yang selalu disiplin dan bersih, menyimpan sesuatu pada tempatnya, mungkin karena suasana hatinya sedang tidak baik, hari ini dia sedikit mengabaikan kerapihan dan kebersihannya.
Ting....
Satu pesan masuk dari Dina. Di bawah tumpukan jas yang ia lemparkan, yang bahkan hampir tidak terdengar.
Namun Damar mengetahuinya, ada pesan masuk dari Dina. Tapi Dia tetap saja memgabaikannya.
Damar masuk kedalam kamar mandi, Dia membersihakan dirinya,
Setelah keluar, terlihat Dia lebih segar dari sebelum nya.
Derrrtttt... deerrrtt... deerrtttt...
Kembali Dina berusaha membuat panggilan pada Damar.
Damar melihat nya, dan ada tiga panggilan tak terjawab di handphone nya. dan Damar malah menyeringai.
Ternyata Dia berusaha mebujuk rupanya, kita lihat sampai mana usaha kamu, aku akan mendiamkan kamu sampai kamu sadar kalau kamu takut kehilangan aku.
Batin Damar melihat layar handphone nya.
Tig....
Ting...
Ting....
"Eh, tidak ada lagi panggilan.?? Dia mengirim pesan." Gumam Damar merasa menang.
Namun senyum menyeringai itu telah hilang saat membaca pesan Dina.
Damar mengerutkan dahinya. "Gadis ini benar benar ya." Gumam Damar membaca pesan dari Dina.
Mas, hanya segitu percaya kamu sama aku... oke,,
Baiklah, terserah kamu, itu hak kamu kalau tidak mau mendengar penjelasan aku.
Aku cape, mas juga pasti cape, kita istirahat dulu aja, kita lanjut besok. Good Night.
"Ooohhh jadi dia mau nantangin.. oke. Kita lihat saja nanti." Damar mengetikan sesuatu di handphone nya.
"Jadi sebatas itu usaha meyakinkan aku.?"
Ting,,
tidak menunggu lama, Dina membalas.
Iyaaa,,, aku cape mau tidur, kalau mau Ribut besok aja.
Damar benar benar kaget mendapat jawaban pesan dari Dina.
Di tempat lain, Dina berusaha membuka mata nya, ternyata dia benar benar lelah, kesadaranya hanya tinggal beberapa watt saja.
Derrrtttt.....
Damar menelepon.
"Apa.???" Jawab Dina tanpa mengucap salam.
Kamu benar benar ya.? Tidak ada usaha sama sekali buat menjelaskan.
"Ya ampun, tuan Damar yang terhormat, tidak sadarkah anda, dari tadi saya berusaha menjelaskan, anda sendiri yang tidak mau mendengar, malah marah tanpa alasan."
Cih tanpa alasan,, sekarang Kenapa kamu yang kesal.
"Mas sadar gak sih, Mas lebih percaya sama wanita itu dari pada aku, tunangan kamu, yang kamu bilang calon istri kamu, kalau begitu kenapa mas gak sama Dia saja, malah sama aku.??"
Sekarang malah kamu yang marah, di sini yang harusnya marah itu aku, bukan kamu. Lagian, wanita itu siapa.?
"Siapa lagi, mbak super model yang pakaian nya kekurangan bahan. Samantha Valerry, mantan kamu, bule kesasar."
Jangan mencela kamu.
"Tuh kan, mas mulai belain Dia."
Eeehhh bukan itu maksud nya. Ya sudah kamu tidur, besok kamu jelasin. Dan disini yang marah itu aku bukan kamu, jadi kamu jangan bahas ini itu. Pintar sekali kamu membalikan keadaan.
"Iyaaaa,,, terserah... "
Tut... tut... tut....
Dina benar benar lelah, dia langsung terlelap tertidur.
Damar PoV.
Aahh,, hari ini aku benar benar lelah, setelah project ku selesai aku memburu pesawat tercepat yang akan ke sini, tanpa makan dan tanpa ganti pakaian.
Aku begitu merindukan gadis itu, awalnya aku ingin membuat kejutan untuknya, karena aku kembali ke sini tanpa mengabarinya, namun setelah sampai di bandara, malah aku yang terkejut.
Sam mengirimkan ku foto, awal nya aku enggan untuk membaca nya, namun aku penasaran, dan akhirnya aku membuka foto yang dikirimkan oleh Sam.
Aku sempat kaget, di dalam foto itu, Dina sedang di papah oleh seorang pria, pria tampan yang kalau di lihat dari wajahnya, sepertinya Dia se usia dengan Dina. Namun apa yang terjadi, kenapa Dina di papah oleh laki laki itu.
Lengan Dina merangkul laki laki itu, dan tangan laki laki itu berada di punggung Dina.
__ADS_1
Apa maksudnya Sam mengirimkan aku foto macam ini. Dan benar apa yang Dina katakan, seharusnya aku lebih percaya dirinya dari pada Sam.
Dammy,, are you ok.?
Panjang umur Dia, baru saja aku memikirkan nya, Dia langsung mengirimi aku pesan.
Abaikan saja, aku malas berurusan sama Dia.
Derrtt... derrrttt... derrttt....
Untuk apa kamu menelepon Sam, aku biarkan saja lah, tapi....
"Halo,, " akhirnya aku jawab saja panggilan nya, aku penasaran apa yang ada dalam fikiran nya.
Dammy, are you ok.??
Apa maksudnya dia bertanya seperti itu.
"Tentu, memangnya kenapa dengan saya.?" Jawab ku datar.
Dammy,, apa kamu tidak melihat, dia wanita macam apa.?
"Maksud kamu.? Macam apa memang." Pancing ku.
Dammy, come on. Dia gak baik untuk kamu, dia sudah punya kamu tapi masih saja kan bersama dengan pria lain. You think shes good.?
Aku hanya diam, aku bingung mau menjawab apa, aku cape, di pancing sedikit saja aku seperti ingin meledak.
"Oke Sam, I'm tired, can I rest first?" Lebih baik aku akhiri saja lah.
Dammy, do you not believe me?
"Cih,, tentu aku lebih percaya Dina dari pada kamu." Potong ku langsung.
Apa kamu serius Dammy,,
Terdengar suaranya bergetar seperti menahan tangis, namun apa peduliku, aku sudah tidak mau berurusan dengan nya.
"Ok Sam, selamat malam."
Tut... tut... tut....
Langsung saja ku putus sambungan nya, tanpa mendengar jawaban nya.
Aaaahhhh sudahlah, aku benar benar lelah hari ini, besok aku akan benar benar menanyai Dina, apa yang sebenarnya terjadi.
Aku sudah bilangkan, kalau aku tidak akan melepaskan mu, sampai kapanpun..
***
Dan Damar pun terlelap dalam mimpinya.
Pagi ini Dina bangun lebih siang, kalau biasanya ia bangun sebelum adzan subuh, kali ini jam enam pagi ia baru keluar dari hangatnya selimut.
"Tumben siang na, lagi gak sholat kamu.?"
Ibu menanyai anak perempuannya yang hendak ke kamar mandi.
"Iyaa bu," sahut Dina sambil menguap.
"Teteh,, cepet ih.. adek mau sekolah. Nanti telat lagi gara gara teteh mandinya lama."
Dinda menggedor gedor pintu kamar mandi, karena Dina sudah hampir setengah jam berada di kamar mandi.
"Iyaaa,, " sahut Dina dari dalam kamar mandi.
"Kamu tuh, kebiasaan sudah tau masuk pagi, kenapa gak mandi dari tadi sih." Omel Dina pada adiknya.
"Aaahh teteh awas,, jangan ngalangin pintu, jadi tambah telat kan."
"Nana, hape kamu dari tadi bunyi terus tuh." Seru ibu dari ruang tengah.
Mulut mangap yang siap mengomel akhirnya menutup kembali karena seruan ibu.
Dina lekas pergi ke kamarnya, dan kesadaranya mulai penuh selepas mendapat kucuran air dingin di pagi hari.
Handphone yang ibu katakan berbunyi, sudah diam. Di lihatnya ada tiga panggilan tak terjawab, namun kali ini bukan dari Damar.
"Hhmm,, Raka" gumam Dina, melihat siapa yang berusaha menghunginya dari tadi.
Iya Raka, teman baru yang kemarin menjadi pahlawan dalam insiden dorong mendorong.
Dina bersiap untuk pergi, dia berdandan sangat rapi dan cantik seperti biasanya, kemeja pich lengan panjang dan celana kulot yang panjang nya di bawah lutut, gaya casual namun terlihat rapih dan anggun, itu menjadi ciri khas Dina, tidak terlalu girly namun masih terlihat manis.
Deerrrrtttt.....
Kembali handphone Dina bergetar.
"Raka,,, mau ngapain.?? "
"Halo... " sapa Dina pada Raka di sebrang sambungan telepon.
Selamat pagi Dina,, gimana kabar kamu.?
Terdengar suara Raka menyapa dengan ragu dan kaku.
"Baik, ada apa nih, pagi pagi sudah menghubungi, aku gak punya janji kan sama kamu.?" Tutur Dina.
Hehehe,, enggak kok, aku cuma mau tau aja keadaan kamu setelah kejadian kemarin.
"Oh iya, terimakasih untuk yang kemarin, maaf sudah merepotkan. Aku baik baik saja, ini sekarang aku mau pergi. " jelas Dina.
Oh iya, kamu mau pergi kemana.?? Mau aku anter gak.? Aku jemput ya.?? .
Raka menawarkan.
"Eemhh gak usah, hari ini aku bawa mobil sendiri kok, sekalian nganter adek sekolah, terimakasih ya.. " tolak Dina beralasan, padahal Dinda sudah pergi dari tadi.
Oohh gitu,,, Dina,,aku mau mentraktir kamu makan. Hehe, sebagai tanda pertemanan kita.
Mau ya..??
Dengan ragu Raka mengajak Dina bertemu.
"Boleh,,"
Benarkah.?.
"Iyaa,, kita pergi Sama temen yang lain ya.? "
Yang lain, maksudnya.?
"Hihi,, iya Fira, Riska, Eva.nanti aku aja yang teraktir makan , sebagai ucapan terimakasih aku ke kamu." Jawab Dina.
Eeeehhh,, gak usah, kita berdua aja.
__ADS_1
Tukas Raka.
"Llaahh kenapa.?" . Tanya Dina heran.
Yaaa,, jangan aja,, aku lebih su.....
"Raka, maaf ya aku putus dulu, ini ada panggilan lain masuk. Maaf ya. " potong Dina, menghentikan percakapanya dengan Raka.
Sementara itu Damar masih menunggu Dina menjawab telepon nya.
Mass,,,, ada apa.?
"Panggilan video."
Haaah,, apa.?? Ohh iya..
Dina langsung memgalihkan menjadi panggilan Video.
"Mau kemana kamu, sudah rapih begitu.?"
Tanya Damar yang melihat Dina sudah Rapih siap untuk pergi.
Oohh,, aku mau ke kampus mas.
Jawab Dina, merapihkan riasan nya.
Meletakan Handphone di tumpukan buku di atas meja belajarnya.
"Kampus.. hari ini bukanya tidak ada jadwal pergi ke kampus.?"
Tanya Damar mengingat semua jadwal kegiatan Dina.
Ada kok, aku mau ketemu dosen pembingbing, sebentar lagi kan sidang sekripsi Mas.
Jelas Dina, tanpa melihat layar Handphone nya.
"Nampaknya akhir akhir ini kamu sering pergi ya, dan lagi sekarang susah banget ngehubungin kamu,"
Tiba tiba Damar menyindir.
Apa,,??? .
Tanya Dina tidak mengerti.
"Iya, contohnya barusan, kamu sibuk terus, kamu lagi menelepon siapa sih.? Gak mungkin kan kakak kamu, dia sibuk mana mungkin menghubungi kamu dengan durasi waktu yang lama." Tutur Damar kesal.
Eeehh iya mas, sekarang kamu gak lagi sibuk, di sini sekarang jam delapan pagi, di sana jam berapa.?
Tanya Dina, berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Pintar sekali kamu mengalihkan pembicaraan, kamu masih punya hutang sama aku.?" Delik Damar.
Hutang,,,??? ooohh iya,, nanti aku jelasin pulang dari kampus ya. Sekarang aku mau pergi, takut macet kalau agak siangan. Aku ke kampus gak lama kok.
Dina berusaha menbujuk Damar.
"Jam berapa kamu pulang.?"
Eeehhhmmm,, gak sampe sore kok, paling setelah sholat dzuhur aja.
"Oke aku tunggu."
Tut... tut... tut... panggilan video terputus.
"Gadis itu, banyak sekali akal nya, dan konyolnya lagi, aku mau dia akali." Damar tersenyum menatap layar handphone nya.
Damar bersiap untuk pergi ke kantor, Dia mandi lalu memilih pakaian untuk di kenakannya hari ini, saat sedang menikmati sarapannya tiba tiba,
Ting.. ada pesan masuk.
"Sam, apalagi Dia." Gumam Damar melihat pesan yang dikirimkan Samantha.
Dammy, help me,, aku di keroyok.
Mereka semua marah, I'm scared...
"Apa maksud nya,? Aahh lupakanlah,"
Dina belum mengetahui bahwa Damar sudah pulang dari perjalanan bisnisnya,
Siang ini, Damar berencana pergi ke rumah Dina untuk membuat Dina terkejut akan kedatangannya.
Namun, apa daya pekerjaan dari kantor mengharuskannya untuk di selesaikan Damar terlebih dahulu.
Damar menyetirkan mobilnya menuju kantor, saat di dalam mobil dia menelepon Rommy,
Dalam Percakapanya dengan Rommy, wajah Damar berubah menjadi sedikit kesal, rahangnya mengeras seperti menahan amarah.
"Apa..?? Lu gak salah kan Rom.?" Dengan sedikit emosi Damar bertanya.
"Oke gue ke sana.." lanjut Damar, memutar balik rute perjalanannya.
Damar memarkirkan mobilnya di basement sebuah mal, agar lebih cepat dia meminta layanan valet parking.
Dengan tergesa Dia masuk kedalam mal, sedikit berlari Damar menuju tempat tujuannya.
Dari jauh melihat pemandangan yang membuatnya merasa marah.
Awalnya seorang laki laki blasteran mencengkram bahu Dina dengan tangan kirinya dan menunjuk nunjuk mukanya dengan tangan kanannya.
Karena Dina terus mengoceh, laki laki itu memindahkan cengkramanya, sekarang Dia mencengkram dagu Dina,
Dina berusaha menepisnya, namun cemgkraman laki laki cukup kuat.
Yang membuat Damar lebih marah adalah ada sosok laki laki yang menepiskan cengkraman di dagu Dina saat Dina meringis kesakitan.
Laki laki yang ada di foto yang kemarin Sam kirimkan, laki laki itu memeluk bahu Dina dan memaki laki laki blasteran itu.
Kurang ajar, berani beraninya mereka menyentuh Dina.
Gumam Damar setelah masuk area cafe dimana Dina berada.
"DINA ARYANTI." Teriak Damar. dengan wajah yang sabgat marah.
Dina melotot kaget. kenapa tiba tiba ada tunangan nya di sini, Dina sadar situasi ini bukanlah hal yang baik.
"Mmmaa,, Mas, sudah pulang.?" ucap Dina terbata hendak menghampiri Damar.
namun langkah Dina terhenti saat Raka menggenggam tangan Dina.
"mau kemana.? Siapa Dia.? kakak kamu.?" tanya Raka heran. tanpa melepas pengangan tangan nya.
Dina melihat tanganya yang di genggam Raka, dan terkejut kembali dengan teriakan sang calon suami.
"DINA ARYANTI DEWI,"
__ADS_1
wajah Dina sudah mulai pucat, Raka tidak jua melepaskan tangan Dina, hari ini semua nya berjalan dengan cepat, dan kejutan yang damar rencanakan berjalan dengan sendirinya.
Dina dan Damar sama sama merasa terkejut, dengan kejutan alami yang merencanakan dirinya sendiri.