
"Raka..." ucap Damar menatap Dina dengan tajam.
Iya, memang Raka, terus apa salah ku. Batin Dina membalas tatapan Damar.
"Kamu masih berhubungan sama bocah itu.?" Damar berucap Ketus menyimpan handphone di pangkuan Dina.
"Enggak, Dia baru menghubungi lagi, setelah waktu itu mas marahi Dia." Jawab Dina tak kalah ketus.
jangan sampai acara cemburu di mulai.
"Terus, apa maksudnya Dia menanyai kabar kakak kamu, kamu cari perhatian sama Dia soal kakak kamu.?" Damar mulai bicara dengan nada sedikit di keraskan. Dia berusaha menahan emosi.
"Apaan sih, jangan emosi dulu,, mungkin Dia tahu dari Fira, sekarang kan Raka sama Fira pacaran. Aku tuh cuma ngasih tahu temen temen aku doang, besok kita akan menikah, dan kasih tahu pula alasan nya apa., aku takut mereka merasa gak di anggap kalo nanti tahunya bukan dari aku." Jelas Dina.
"Terus kenapa bocah itu....."
"Bocah,, bocah,, dia punya nama,
Mas juga masih berhubungan kan sama mantan nya , pake berciuman lagi,, dih... " Dina menyela kesal.
"Dina, aku kan sudah bilang, kamu salah faham, kamu bisa tanya Rommy, Dia ada disana waktu kejadian itu."
"Ooohh bagus ya,, Kak Rommy juga bersekongkol ternyata." Dina mendengus.
"Dina,,, bukan seperti itu."
"aku mau ke rumah sakit sekarang, kalau kita terus berdebat aku takut nanti kita bertengkar." kilah Dina supaya Damar diam, meski dirinya masih ingin marah. Namun sudah lah.
"Kamu tuh,," desis mas Damar, karena Dina pergi meninggalkan nya.
Damar mengikuti Dina dan menarik tangan tunangannya untuk menghentikan langkahnya.
"Kamu tuh, aku sedang bicara, kamu malah pergi se enak nya." Ucap Damar kesal.
"Abang, ada apa ini.??" Tiba tiba mama Ratna datang, namun Damar tetap tidak melepaskan tangan Dina, dan wajah kesal nya masih Dia pasang.
"Aku tidur di rumah sakit saja mah, kasihan ibu sendirian." Jawab Dina, Karena Damar tidak menjawab dan masih memasang wajah tidak bersahabatnya itu.
"Abang kenapa.? Kalian besok akan menikah, seharus nya tidak saling bertemu sekarang. soalnya suka banyak salah faham, kalau kata orang tua jaman dulu di pingit namanya." Tutur mama karena melihat kekesalan Damar.
"Justru kalau tidak bertemu, aku yang khawatir mah,, Dia suka macam macam." Damar menyindir.
Dina hanya tersenyum menanggapi sindiran Damar.
Ya ampun mas,, kalau mau bertengkar nanti dong kalau tidak ada orang lain. Batin Dina.
"Gak apa apa mah, mau di pingit atau tidak, kalau dasarnya curigaan, pasti banyak salah faham terus, yang untama itu harus saling percaya. Iya kan mah.?"
__ADS_1
Damar melotot mendengar kata kata Dina,,
gak enak kan kena sindiran, makanya jangan suka menyindir. Dina melengos.
"Kami pergi dulu mah. " pamit Damar meninggalkan Dina dan mama Ratna.
"Sayang,, mohon bersabar ya, abang memang seperi itu, tapi sebenarnya Dia sangat hangat dan perhatian kok, nanti kamu juga merasakan nya."
Mama Ratna memeluk dan menepuk nepuk pundak Dina,,
eemhh nyaman sekali, memang kalau kalau ketulusan itu gampang sekali di rasakan. Berbeda sekali dengan anak sulung nya, yang dalam hitungan jam akan menjadi suami ku, laki laki yang kata ibu nya hangat dan perhatian. Namun yang tampak hanya muka galak dan emosian.
"Dina,, cepat, nanti terlalu malam." Dengus Damar kembali masuk dalam rumah.
Eehh buset,, laki laki hangat ini tidak sabaran sekali, kalau ini bukan hangat nama nya, tapi panas dan pedas.
"Dina." Kembali Damar memanggil karena Dina hanya berdiri tanpa melangkah.
"Iyaaa,,, " sahut Dina "aku pergi dulu ya mah." Pamit Dina salim pada calon mertua nya.
Selama perjalan menuju rumah sakit, Damar hanya diam, tidak mau membuka mulut nya untuk memulai percakapan, entah menghindari pertengkaran atau Dia masih kesal pada calon istri nya.
Begitupun dengan Dina, dia memilih menyampingkan duduknya dan membelakangi yang sedang mengendarai mobil, dan melihat keluar jendela kaca.
Mobil terus melaju, sampai akhirnya.
Mobil berhenti di parkiran rumah sakit, Dina turun tanpa menunggu Damar, berjalan meninggalkan nya yang masih mematikan mesin di dalam mobil.
Namun ibu tetap menunggu di luar ruangan, dan terlihat sedang menatap sang anak di balik kaca penghalang ruangan, Perlahan Dina mendekat tanpa mengeluarkan suara, bersandar pada sang ibu dan bersamaan memandangi orang yang mereka kasihi.
"Ibu, sudah makan.?" Tanya Dina pada sang ibu.
"Sudah na, tadi adek yang bawain." Jawab ibu. "Kamu kesini sama siapa.?"ibu balik bertanya.
"Mas Damar, mungkin Dia masih parkir." Jelas Dina.
"Na,, apa ibu terlalu memaksa.?" Tiba tiba ibu bertanya dengan nada sedih.
"Kenapa bu.? Soal pernikahan.?" Dina membalas mengenggam tangan ibu. "Mungkin nana dan mas Damar memang sudah di takdirkan untuk menikah, dan meski jalan nya memang harus seperti ini, tapi Nana ikhlas kok bu, Nana menerima nya dengan lapang dada, menerima mas Damar, menerima pernikahan ini."
"Maafkan ibu karena mengorbankan kamu, untuk kebahagiaan ibu yang ingin melihat kakak kembali sehat, dan menikah."lirih ibu menahan air mata,. "Tapi sungguh Na, jika bukan nak Damar ibu juga tidak akan melepas kamu semudah itu, perasaan ibu sangat tenang kalau melihat kamu bersama nak Damar. Entah kenapa, namun perasaan ibu seperti itu"
Dina hanya diam dan menunduk, masih memikirkan akan seperti apa kisah rumah tangganya nanti, menikah dengan laki laki yang masih di bayangi masa lalu nya, meski Damar pernah berucap mencintai nya, namun tetap saja Dina merasa khawatir, rasa cinta bukanlah satu satu nya yang akan menjadi pondasi dalam sebuah rumah tangga.
"Na,, Nana, kenapa.?" Ibu menggoyangkan lengan anak gadis nya kerena terlihat memikirkan sesuatu.
"Eh,, apa.?" Sahut Dina.
__ADS_1
"Kenapa.?? Apa yang kamu fikirkan.?" Tanya ibu.
Dina menggeleng. Namun ibu masih menatap nya, seolah gelengan itu bukan jawaban, ibu minta jawaban dari gelengan anak nya.
"Ibu,, beneran Nana gak apa apa."
Ibu masih menatap.
"Bu,,," tiba tiba suara berat seorang pria menghampiri. Ibu dan Dina berbalik bersamaan.
"Bu, maaf saya baru mengatakan ini sekarang, saya belum meminta izin ibu untuk menikahi putri ibu," lanjut nya.
"Saya tidak mau berjanji macam macam pada ibu, namun saya akan berusha membahagiakan Dina, saya menikahi Dina, berarti saya juga akan menerima semua yang ada padanya, entah baiknya, cantik nya, bahkan bawel dan nakalnya pun saya terima."
Ibu tersenyum, dan Dina cemberut.
"Begitu pula dengan keluarga nya, setelah menikah, ibu adalah ibu saya, dinda adalah adik saya, dan Jaka,, maaf,, kang Jaka,, adalah kakak saya, dan semua akan menjadi tanggung jawab saya."
"Saya akan bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarga saya," dengan serius Damar mengungkapakan.
"Saya akan berusaha, maka dari itu, saya harap ibu memberikan kepercayaan untuk saya." Ucap Damar meraih tangan ibu Dewi.
Ibu tak kuat menahan tangis haru nya, tidak ada kata kata yang keluar dari mulut ibu selain senyum dan balas menggenggam tangan sang calon menantu. Ibu merasa bahagia, raut wajah itu lah yang ibu tampakan.
Damar meraih tangan ibu dan menciumnya dengan sangat hangat, semakin ibu mengangis dan meneteskan air mata bahagia.
"Nak Damar, ibu juga mau berterima kasih, karena nak Damar bersedia menjaga Nana, dan ibu juga mendoakan seluruh kebaikan untuk kalian berdua, ibu titip anak perempuan ibu ya."
Damar tersenyum dan mengangguk.
Begitupun dengan Dina, tidak ada kebahagiaan baginya selain kebahagiaan keluarga nya. Meski sebenar nya ia ragu jika harus menikah dengan kondisi seperti ini, kondisi hati dan fikiran yang bekecamuk kesal karena ulah Damar dan Sam, kondisi yang serba darurat yang di haruskan menikah di rumah sakit, kondisi antara dirinya dan Damar tidak dalam komunikasi dan situasi yang stabil.
Biarlah, biar semua terjadi seperti kehendak takdir, semua hanya mampu menerima apa yang telah takdir siapkan, dan semoga itu baik adanya.
Menerima dan mempercayai janji nya, mencoba memahami akan kepedulia dan semua perhatian nya.
arti pernikahan bukanlah pesta megah yang sulit orang lain lupakan,.
Atau gaun mewah berkilau, yang mampu mempesonakan setiap mata yang memandang.
Karena Pernikahan adalah perjalanan panjang dua insan yang telah di gariskan bersama.
Yang Berusaha saling menjaga,,
Yang Berusaha saling percaya,,
Dan berusaha saling membahagiaakan,,
__ADS_1
Itulah pernikahan.
Dan itu pula yang Mas Damar janjikan.