
Hacih,,
Haacih,,
"Emmh kenapa jadi flu kayak gini sih," Dina begumam menggosok gosok hidung nya yang merah.
Berjalan ke kamar mandi dan mengganti jubah handuk yang ia pakai tidur semalam,
Mungkin itu penyebab dirinya terkena flu. Tidur menggunakan jubah mandi yang setengah basah.
Selepas itu, dia melaksanakan kewajibannya dan bersiap untuk pergi ke rumah sakit, karena pakaian yang ada di seserahan kebanyakan nya adalah baju formal dan baju rumahan, akhirnya Dina memilih untuk memakai kemeja hitam milik suaminya yang kemarin di di bongkar oleh pemiliknya.
meskipun kebesaran namun tetap terihat modis dan casual, menjadikannya sebagai outer yang di padu dengan jins kulot tiga perempat dan membiarkan kancing depan kemejanya terbuka, sehingga menampakan bagian depan kaos hitam polos tanpa lengan yang masih milik suaminya.
Setelah berpakaian dia meminta pada layanan kamar untuk membawakannya obat, karena merasa akan menjadi benar benar sakit kalau di biarkan saja. Melihat hidung nya yang merah dan tenggorokan nya sakit Dina tidak baik baik saja hari ini.
"Mas,, bangun. Ini sudah jam enam, udah sholat belum.?" Dia menggoyangkan tubuh suaminya yang meringkuk di sofa tanpa selimut.
Semalam adalah malam pertama mereka setelah menikah, jika pada umum nya malam pertama setelah menikah adalah hal yang menegangkan bagi si wanita, lain hal dengan dirinya, Dina tidur di ranjang hotel yang nyaman, sedangkan Damar tidur di sofa bahkan tanpa bantal atau selimut.
Emmh,, Damar bergumam.
"Mas, bangun ih aku mau ke rumah sakit, aku mau lihat kakak." Masih berusaha membangunkan.
"Hhhmm iya." sahutnya masih memejamkan mata.
"Iiihh,, terserah, aku mau pergi." Dina berdiri dan hendak meninggalkan suami nya,
Namun dengan cepat Damar menarik tangan istrinya, membuat nya terjatuh keatas tubuhnya, memeluknya dengan erat yang membuat Dina menggeliat ingin melepaskan diri.
"Mas,, lepasin." Masih berusaha melepaskan pelukan.
eemmhh. Damar hanya bergumam.
Pelukan nya malah semakin mejadi lebih erat.
''lima menit saja.'' ucapnya.
Dina diam dan mencoba merasakan kehangatan pelukan laki laki yang kini telah menjadi suaminya itu. Sebenarnya ada rasa bersalah yang ia rasakan, entah pukul berapa tepatnya mereka terlelap.
''sudah lima menit, ayo bangun.''
lagi lagi Dina menggeliat berusaha melepaskan diri.
''hhhmm,,''
Semakin Dina berusaha semakin Damar tidak mau melepaskan nya.
"Mass,, aku gak bercanda ya, LEPASIN."
Decaknya menyikut perut sang suami.
"Oouugghh,,,"
"Kamu ini, kasar sekali." Ucapnya duduk di sofa mengusap perut nya.
"Dih lebay, sakit juga enggak." Beranjak meninggalkan suaminya.
"Kamu mau kemana, pagi pagi sudah rapih.?" Tanya nya saat nyawanya sudah terkumpul semua.
"Mau lihat kakak, dari kemarin aku belum lihat kakak." Sahut Dina membereskan isi koper yang kemarin suaminya acak acak.
"Aku mandi dulu." Ucap Damar berlalu ke kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya, Dina merapikan tempat tidur dan membereskan kamar supaya terlihat sedikit rapi, entah karena kebiasaan atau untuk mengisi waktu, padahal dirinya bisa saja memanggil layanan kamar untuk membersihkan kamar yang dirinya tempati.
Damar keluar kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang nya. rambut yang basah dan wajah yang terlihat sangat segar, aroma sabun masih melekat di tubuh nya. Dia berjalan menghampiri istrinya yang duduk di sofa depan Tv.
"Ini punya ku ya.?" Tanya Damar memegang kerah baju yang Dina pakai.
"Iiihhh,, aku pinjam, gak ada baju lagi." Menepis tangan Damar yang menempel di kerah baju yang dirinya pakai.
"Lepas.." ucap Damar, Ada fikiran nakal terbesit dalam kepala nya.
__ADS_1
"Apa,,, gak mau, aku pinjam ih." Dengus nya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Damar menyeringai "Rencananya hari ini aku mau pakai kemeja itu, kamu malah lebih dulu memakainya."
"Lepas.." lagi lagi Damar menyuruh Dina melepasnya, kali ini tidak hanya bicara Dia mendekatkan wajah nya pada Dina sampai Dia meringkuk di atas sofa karena berusaha untuk menjauh.
"Aaahhh... pelit sekali ,, aku kan cuma pinjam." melotot karena terus menghimpit dirinya di atas sofa.
Damar tersenyum, "baiklah, ada harga untuk kemeja itu, itu kemeja favorit aku." Masih di posisi yang sama.
Dina memalingkan wajahnya, karena Damar begitu dekat sehingga aroma mint dari pasta gigi tercium olehnya.
"Dih, dasar pelit,," gumam nya.
"Kamu sanggup bayar gak.?" Lagi lagi Damar menyeringai.
"Apa sih,, iya, nanti di bayar. Sekarang mas siap siap ya, nanti keburu siang lagi."
"Aku pegang janji kamu." Semakin menyeringai.
"Iya,, iya..." Dina mendorong agar suaminya bangun dan memakai baju yang lain.
"Hhmm,, ambilkan baju." Pinta nya.
Dengan cepat Dina berdiri menjauh pada Damar, mencari kemeja lain di koper milik suaminya , dengan wajah yang merona dan degup jantung yang kencang, Dia mengulum senyum mengingat akan sikap Damar pada dirinya.
Astaga,, kenapa aku jadi deg degan begini si, kenapa juga aku berani memakai pakaian nya tanpa ijinnya. Aaahh bodoh nya aku.
Haciih.. haciih..
"Sudah Din.?"
"Eh iya, ini mas" Dina menyodorkan kemeja casual berlengan pendek berwarna abu metalik.
"Yang formal saja, jas nya ada di lemari gantung di sana." Tunjuk nya pada lemari dekat Televisi.
Dina mengerutkan dahinya, dan mengambil apa yang Damar minta.
"Setelah dari rumah sakit aku mau ke kantor." Jelas Damar.
"Cuti..? Cuti apa.?" Malah balik bertanya.
Dina menggeleng sambil tersenyum "tidak..."
Aku lupa, cuti pernikahan hanya untuk yang menikah dengan normal, bukan pernikahan dadakan seperti kami, pernikahan darurat yang di selenggarakan hanya di rumah sakit. Hhhuuuffft... sudah lah.
Tick tick,, petikan jari Damar tepat di depan wajahnya. " heeh,,, kamu melamun.?"
"Haahh,, tidak." Sahut nya. Menyodorkan pakaian milik Damar.
Damar membuka handuk yang terlilit di pinggangnya tepat saat Dina masih berada di depan nya.
"Aaaahhh, Mas kamu ini apa apaan si, gak malu apa di sini ada aku." Berteriak dengan tangan yang menutupi wajahnya.
"Kenapa,, kita sudah menikah,"
"Yaa tetap saja, mestinya kamu malu." Masih mendengus dengan mata tertutup.
"Cih,, malu, kemarin kamu bertelanjang di depan ku, apa kamu malu.." berusaha menggoda.
"Aaaaggghhh...." mendekati suaminya dan membekap mulutnya agar tidak berbicara yang macam macam.
Melotot dengan kesal. " itu karena mas masuk seenaknya ya, bukan aku yang sengaja."
"Sama saja." Tukas Damar. Memakai celana nya.
Sekarang dirinya hanya bertelanjang dada.
"Pakaikan." Menyodorkan lengan nya agar Dina memakaikanya baju.
Apa.,, maksudnya apa, kenapa minta aku yang pakaikan, pakai sendiri tidak bisa kah,,, aaaahhh kenapa aku jadi berdebar seperti ini,
"Cepat Din,, kita sudah terlamabat." Damar berbisik di telingan Dina, karenanya hanya melongo saat Damar minta memakaikan nya baju.
__ADS_1
Dina terperanjak kaget karena Damar berbisik di telinga nya. Dia memutar kepalanya saat kepala Damar masih berada di dekat wajahnya.
Dia mend esah kaget dan,
Aahh,,, Cup.... Dia mencium pipi Damar, ciuman yang mendarat karena tidak sengaja.
"Mas,, aahhh.." menutup mulutnya, "pakai sendiri." Menyodorkan baju milik suami nya, dan dia pergi ke kamar mandi.
aahhh,, kenapa aku terus berdebar seperti ini si,, ada apa dengan ku, kalau terus begini aku bisa tidak waras.
sementara Dina berada di dalam kamar mandi, Damar memakai baju nya, menyisir rambut dengan rapi, dan memakai minyak wangi.
''masih lama Din,?'' teriaknya, setelah siap untuk pergi.
Dina keluar dengan perlahan sedikit merapikan pakaian dan riasanya, mengambil tas lalu keluar terlebih dahulu, '' mas, aku tunggu di luar.''
Damar hanya menatap punggung isterinya yang terburu keluar kamar tanpa menoleh padanya. "Aneh sekali" batinnya.
Setelah siap, Damar bergegas menyusul istrinya, Dia berjalan menyusuri lorong pintu kamar hotel yang berjejer, dengan postur yang tegap dan wajah tampan, serta pakaian yang dikenakan sangat rapi, menjadikan dirinya sosok yang gagah dan rupawan.
Sepatu yang berkilau membawa langkahnya menuju perempuan yang ternyata menunggu di lobi hotel, sambil memainkan handphone nya perempuan yang dia nikahi itu melambaikan tangan nya, memberitahukan keberadaannya.
"Mas,, sebelah sini."
Damar tersenyum mengangguk, menghampiri perempuan cantik yang tengah memakai kemeja hitam miliknya. Dia tersenyum memanggil sang suami, senyum nya sangat manis.
Namun, senyum manis itu lenyap saat langkah sang suami terhenti, tiba tiba dari arah berlawan seorang wanita yang memakai dress merah menyala dengan belahan sampai paha itu menabrak suami nya, perempuan itu tersungkur di lantai dengan cake yang berhamburan di tubuhnya, bahkan cream cake itu mengotori kemeja dan jas yang Damar kenakan.
"Maaf, anda tidak apa apa.?" Ucap Damar membantu wanita itu berdiri.
Staff hotel dan beberapa orang menghampiri mereka berdua. Entah apa maksud wanita itu membawa sepiring cake tanpa membungkusnya.
"Hey,, kemana mata mu.? Masa orang segede gini kamu gak lihat, main tabrak saja." Omel wanita itu, namun tidak menolak pada bantuan Damar.
"Are you ok.?" Dua orang yang menghampiri wanita itu membantu membersihkan cream cake yang berceceran pada bajunya. Spertinya mereka adalah teman nya.
Dina hanya mengamati dari jauh. melangkah menghampiri suaminya.
"Maaf, bukanya Anda yang menabrak saya." Ucap Damar.
"Enak aja ya, kamu mau menyalahkan saya, kamu tidak lihat gaun saya jadi berantakan seperti ini, kamu tahu ini harga nya berapa.?" Omelnya mengibaskan bajunya.
"Kamu jangan macam macam ya, kamu tahu tidak siapa Dia.?" Sambung orang di samping nya.
"Maaf saya tidak bermaksud seperti itu, saya...."
"Kamu mau bertanggung jawab gak.?" Sungut temanya satu lagi.
"Bertanggung jawab.?" Tanya Damar tak mengerti.
Dina berdiri di samping suami nya. Menarik lengan jas Damar dan bertanya tanpa suara.
"Kenapa.?"
Damar menggeleng. Mencoba bersikap tenang.
"Mana Nomor kamu, nanti saya kasih tahu berapa kamu harus ganti." Wanita itu menyodorkan tangan nya.
Sedangkan kedua teman nya cekikikan di belakang nya.
"Ganti,.?? " Damar mengerti akan maksud wanita itu.
"Kamu sudah merusak baju mahal saya, kamu harus ganti, mana nomor kamu.." masih berusaha meminta nomor kontak Damar.
"Baiklah, saya minta kontak kamu saja nanti saya hubungi kamu." Damar balik meminta.
"Gak,, aku gak percaya sama kamu. Mana nomor kamu,"
Damar hanya menatapnya tajam, menghela nafas dan mengeluarkan handphone nya. "Sebutkan nomor kamu."
Dengan cepat wanita itu menyebutkan dua belas angka nomor handphone nya, setelah handphone milik nya berdering dan nampak lah nomor handphone nya Damar, wanita itu pergi dengan senyum yang lebar, mengelus lengan jas Damar dan berbisik " aku tunggu tanggung jawab kamu."
Bisikan wanita itu terdengar oleh Dina, dia mengerti wanita itu memaksa meminta no handphone suaminya bukan karena masalah baju, tapi ada maksud lain, karena saat wanita itu pergi dengan kedua teman nya, dia melihat wanita itu tertawa lebar menarik kepalan tangan nya dan berkata "yes,, berhasil."
__ADS_1
Entah apa maksudnya, namun dari kejadian ini aku menyadari telah dinikahi oleh pria yang mampu menarik perhatian lawan jenis. Pria dewasa ber kharismatik, pria tampan berwajah dingin, mamun terkadang sedikit egois dan arogan. Pria itu kini telah menjadi suami ku.