Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
47. Pertengkaran Perdana


__ADS_3

Flash back on.


"Na,, cepetan gue udah nunggu di kafe biasa ya," ucap eva.


"Iyaa,, sabar dong, gue cari parkir yang enak dulu. lu gak bilang sih ketemuanya di kafe mal, kemarin lu bilang di kampus aja, sambil ketemu sama dosen pembimbing, sekarang malah di mal, tau gitu gue gak mobil tau." Gerutu Dina.


Hari ini Eva, Riska dan Fira mengajak Dina bertemu di sebuah kafe yang berada di dalam Mal, Mal yang berbeda dengan kemarin.


Setelah sampai di tempat yang eva maksud dina merasa Heran, kenapa ada Dua laki laki di meja mereka, satu laki laki Dina mengenalinya, Dia adalah Feri pacarnya Riska, satu laki laki lagi Dina mengenalinya setelah dekat melihat nya.


"Loh, ada Raka juga.?" Tanya Dina heran.


"Iya na,, aku yang ajakin, kita kan belum berterimakasih sama Raka, maka dari itu aku teraktir kalian semua ya." Jelas Fira. Terlihat sekali Dia benar benar menyukai Raka.


"Ohh gitu,, oke.. " sahut Dina.


"Ehh gue ke toilet dulu ya." Lanjut Dina.


"Gue ikut." Tukas Riska.


Sementara Riska dan Dina pergi ke toilet,


Eva memesan makan, setelah semua sudah memilih menu masing masing, mereka menunggu sambil mengobrol.


"Oohh my god, kita ketemu lagi."


Entah dari mana datang nya, Sam menyapa Raka.


"Kamu yang kemarinkan.? You are the son of the owner of realitaNews. Benarkan." Lanjut Sam.


Raka mengangguk dan tersenyum.


"Ehh,, kalian temannya Dina kan.?"  Tanya Sam, kali ini dia benar menyebut Dina, bukan Dona.


Fira dan eva mengangguk dan tersenyum juga.


"uhhh you are so cute girl, tapi kok mau sih temenan sama perempuan kampungan. uncouth,,, haha."


Fira heran tidak mengerti maksud dari ucapa Samantha , berbeda dengan Eva, wajah nya menjadi masam.


Tidak sampai di situ, Sam juga menyebut Dina wanita murahan, dan mengatakan pada Raka agar jauh jauh dari Dina, karena Dina wanita matrealistis, dan menghalalkan segala cara agar keinginanya terpenuhi.


Mendengar hinaan untuk temanya, Eva sudah tidak bisa menahan emosinya lagi, Dia mengambil jus yang baru saja pelayan kafe simpan di meja mereka, dan mengguyurkan airnya ke wajah cantik Sam.


Eva benar benar marah, dia hampir menampar wajah Sam. Namun pria blasteran yang di belakang Sam, menahan nya dan mendorong Eva.


Saat Eva tersungkur ke lantai, Dina dan Riska Datang membantu Eva agar berdiri kembali.


Dina tidak tau apa yang terjadi, namun saat melihat Sam, Dina tau akar permasalahan nya pasti dari mbak super model ini.


"Va, ada apa.?" Bisik riska merapikan rambut Eva.


"Tuh,, " sahut eva menunjuk Sam dengan dagu nya.


Terlihat Dina sedang menatap Sam dengan lekat, begitu pun sebaliknya.


"Pantas kamu kampungan, bertemannya juga dengan yang kampungan. Cih,, uncouth," lagi lagi Sam menghina.


Dina hendak meraih tangan Sam, namun tiba tiba pria blasteran itu menghalangi dan malah berbalik dia mencengkram tangan Dina.


Meski Dina meringis kesakitan dia tetap mencengkramnya dengan kuat.


"Hey, kamu menyakitiku." Ringis Dina.


"Kamu fikir, perbuatan kamu dan teman mu itu tidak menyakiti.? Kalau kamu berani menyentuh Sam, saya akan menuntut kamu, dan kamu akan di penjara. " ancam pria blasteran itu. Dan melepaskan cengkraman bahu Dina.


"Kalau kamu menuntut, saya juga bisa menuntut kamu." Sergah Dina.


Kali ini Dia mencengram dagu Dina.


"Ternyata nyalimu besar ya.,Coba saja kalau kamu berani. Kamu pasti akan kalah."


"Lepaskan, hey bung. Jangan kasar, Dia perempuan." Lontar Raka menepiskan tangan pria blasteran itu, dan menyembuyikan Dina dalam dadanya.


Dina berusaha menjauh, tidak nyaman menempel dengan laki laki yang baru ia kenal.namun tangan nya masih di genggam oleh Raka.


Sementara itu, Sam hanya menyeringai dan membersihkan sisa jus di wajahnya, dan terus memainkan Handphone nya.


Sedangkan Eva, berdiri dengan cemas bersama riska Fira dan Feri.


Falsh Back off.


"Dammy,,,"


"Mmmmaasss,," suara Dina bergetar. Berusaha melepaskan genggaman tangan Raka. Dia tau kalau Damar sedang marah, Dina tau dari sorot mata yang tidak biasanya.


"Dia kakak kamu.?" Tanya Raka lagi, agak berbisik.


Dina menggeleng perlahan.


Namun, Damar lebih dulu melangkahkan kakinya mendekat pada Dina, melepaskan genggaman tangan Dina dari Raka dengan keras, dan menyeret Dina dengan kasar.


Dina sentengah berlari mengikuti langkah Damar, Dia mengaduh karena pergelangan tangannya di pegang sangan kencang oleh Damar.


"Mas, sakit.." ringis Dina.


Namun Damar tidak melepaskan nya, hanya mengendorkan saja.


"Maaf om, Dina nya jangan Di seret seperti itu, memangnya Dia kambing, kasihan Dia kesakitan."


Belum sampai keluar dari kerumunan,


Langkah Damar terhenti oleh kata kata Raka. Damar hanya melirik Raka sebentar dan hendak pergi.


Namun tiba tiba.


"Mau kemana lu, urusan kita belum selesai." Pria blasteran itu menghadang.


"Semua urusan, kita akan selesaikan nanti." Ucap Damar dingin.


"Dammy, wanita itu jahat pada ku."adu Sam pada Damar.


Namun karena rasa marah Damar, Dia mengabaikan apa yang Sam katakan. Malah menatap Sam dengan kesal.


Greephh.... srreeekkk...


Pria blasteran itu memegang lengan baju Dina, karena Damar terus melanjutkan langkahnya bersama Dina, jadinya Dina ditarik sana sini, sampai lengan baju nya robek.


"BANG SADTH LU..." 


Tanpa basa basi, Damar meninju pria blasteran itu sampai jatuh.


Aaaaahhhh,,,


Semua perempuan di sana berteriak, karena sudah ricuh, sampai ada baku hantam, kariawan kafe berusaha melerai. Dan memanggil keamanan.


Dina masih duduk di pinggir sambil memegang lengan baju nya yang robek. Saat pria blasteran itu sedang bersitegang dengan Damar, Raka malah berusaha menenangkan Dina, dan memberikan jaket miliknya untuk menutupi robekan baju Dina.


Keamanan datang berbarengan dengan Romy, kedua nya di pisakhan.


Rommy memegangi Damar. Dan Pria itu dipegang security  kafe itu.


Karena pria itu terus mengoceh dan menyebut Dina perempuan sia lan, akhirnya Damar naik pitam, Dia mendorong Rommy yang sedang memeganginya untuk melepaskan nya.

__ADS_1


Damar hendak mendekat dan memukul lagi pria itu, namun belum sampai pada pria itu Dina berlari dan menghadang nya, Dia memeluk Damar dari belakang dengan erat, dan berbisik minta maaf.


"Mass,, sudah,, maafkan aku.. aku mohon sudah." Lirih Dina di punggung Damar.


Tanpa terasa Dia meneteskan Air mata, melihat Damar seperti itu membuat Dina takut. Ternyata tunangan yang dingin dan tenang itu bisa meledak dan murka seperti ini, dan itu semua karena dirinya.


Damar melepas pelukan Dina, dan memindahkan ke depan dadanya, Dia mengusap air mata di pipi Dina, dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Maafkan aku,," lirih Dina pelan dengan bibir bergetar.


Damar mulai tenang, Dia memeluk Dina yang sedang menangis, dan membawanya pergi. Tidak ada yang bicara seorangpun, mereka hanya melihat Damar dan Dina pergi.


Sebelum mereka pergi, Damar melepaskan jaket yang di pakai Dina, dia tau bahwa itu milik raka. dia melemparkan nya pada Rommy. Dan memeluk Dina untuk menutupi robekan di lengan Dina.


Rommy menyelasaikan masalah yang ada di kafe itu. Sam berusaha mengadukan bahwa Dina lah yang memulai, namun Rommy meminta untuk menghentikan nya cukup sampai disini.


Rommy, tidak mau tahu, siapa yang memulai dan memicu perkelahian, yang Rommy mau adalah, cukup sampai sini perkelahianya. Dan silahkan bereskan di luar masing masing.


Dan jangan ada acara tuntut menuntut, karena pria blasteran itu terus saja mengoceh akan menuntut. Dan Rommy juga tidak kalah, dia mengancam akan membatalakan  kerja sama nya dengan Sam, kalau Sam berurusan dengan hukum.


Dan Sam pun mengalah. Begitupun Eva, meski eva memiliki luka di sikutnya karena doronga pria blasteran itu, namun eva tidak mempermasalahkanya.


Setelah semuanya clear, mereka semua kembali pada aktifitasnya masing masing. Sam pergi dengan pria blasteran itu, dan eva dab Riska pulang di antar oleh Rommy. Sedangkan Fira dan Raka membawa mobil masing masing.


Sementara itu.


"Mas,, aku bawa mobil." Ucap Dina saat Damar membukakan pintu mobilnya.


Damar menghela nafas. "Biar nanti Rommy yang urus."


Dina menggeleng, "gak usah, aku bawa aja."


Lagi lagi Damar menghela nafas, kali ini lebih panjang. Dan mempersilahkan dengan tangannya.


Dina dan Damar memgendarai mobilnya masing masing, Damar melajukan mobil dahulu tanpa menunggu Dina.


"Iiihh mas Damar kok duluan, kita mau kemana.? Aku kan mau pulang." Dina bergumam bingung di depan setir mobilnya.


Damar terus melajukan mobilnya, meski Dia tau kalau Dina mengikutinya Dia tetap dengan kecepatan yang lumayan kencang.


Derrrttt..... Dina menelepon.


"Mas, ini mau kemana.?" Ucap Dina saat tersambung dengan Damar.


Damar hanya Diam.


"Mas,, kalau gak ngomong aku mau pulang aja." Dina berusaha merajuk.


Damar masih Diam.


"Mas... " Desah Dina, karena Damar hanya Diam.


"Ya sudah, aku pulang saja." Rajuk Dina.


Pulang lah.., Ujar Damar.


Dina kaget karena Damar menutup teleponnya dan hanya kata "Pulang lah" yang dia katakan dengan nada dingin.


"Emmhh,, mas kenapa kamu semarah itu." Gumam Dina.


Meski Damar menyuruhnya pulang, akan tetapi Dina tetap mengikuti mobil Damar, karena Dina tahu suasana Hati Damar sedang tidak baik, jadi Dina sedikit cemas untuk meninggalkan nya.


Damar melirik kaca spion, bibirnya menyeringai, dia tersenyum sinis saat mengetahui Dina mengikutinya.


"Cih,,Katanya mau pulang,, kenapa mengikuti ku, pulang saja sana."


Damar mengendarai mobilnya ke jalan menuju Rumah nya.


Dia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam Rumah. Tanpa menunggu Dina turun dari mobil.


"Mas,," Dina berusha mengejar Damar sampai kedalam Rumah nya.


Namun Damar pergi ke atas.


"Mass,, kamu kenapa sih.?" Teriak Dina tidak berani melangkahkan kaki mengikuti Damar.


Damar hanya melirik dan terus melangkah.


"Eeehhh ada siapa ini.." tiba tiba Mama Ratna datang dan menyapa.


"Ehh, mah,, " sahut Dina meraih tangan mama Ratna untuk salim.


Namun mama Ranta menarik Dina dan memeluknya. "Sehat kamu sayang.??"


"Iya mah alhamdulillah,  mamah sehat.?" Dina mengangguk dan balik bertanya.


"Sehat, sayang.." sahut mama Ratna mengusap lengan Dina. "Eehh,, ini kenapa.?" Tanya nya saat mengetahui lengan baju Dina yang Robek.


"Ini tadi kecelakaan, gak sengaja ketarik." Jelas Dina.


"Sama abang.??" Tanya mama


"Bukan mah," dina menggeleng.


"Oohh,, ya sudah, kamu ganti baju aja ya, pakai bajunya Fey, ayuukk mama antar ke atas."


Awalnya Dina menolak, namun mama Ratna memaksa. Dan akhirnya Dina mengikuti mama Ratna ke kamarnya Fey.


Setelah keluar dari kamar Fey, Dina bertemu dengan Damar, dan ada Rommy juga bersamanya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, dan Diam saat Dina menghampiri.


"Din, kamu gak apa apa.?" Tanya Rommy khawatir.


"Enggak kak, aku baik baik saja." Ucap Dina.


"Cih,,Jelas baik lah, kampusnya pindah ke mal." Sindir Damar.


Rupanya karena itu Damar marah, mungkin merasa di bohongi saat Dina bilang mau ke kampus, namun bertemu dengan nya di mal dengan kondisi seperti tadi.


"Oke mar, gue tunggu di ruang kerja lu aja yah. Kalian ngomong baik baik."


Rommy sangat peka pada situasi ini, dan dia lebih memilih menyingkir daripada harus menjadi wasit antara sepasang kekasih yang sedang tidak bersahabat.


"Mas,, kamu marah sama aku. Kenapa?" Tanya Dina.


"Kenapa.?? " tanya Damar balik.


Damar hendak pergi meninggalkan Dina.


Namun Dina menahan nya dan menarik kemejannya.


"Kamu ini kenapa sih, kalau ada yang gak enak itu di omongin,  ini malah kabur terus, aku juga kan bingung mau gimana, kamu malah terus pergi."  Decak Dina.


"Kenapa kamu yang marah, di sini harusnya aku yang marah sama kamu," tukas Damar.


"Terus kenapa diam, kalau masalah itu di omongin bukanya di diemin, aku kan gak tau musti gimana."


"Kamu tahu letak kesalahan kamu di mana.?"


Dina mengangguk.


"Makanya aku minta maaf." Ucap Dina berdecak.


"Minta maaf tapi nyolot."

__ADS_1


Saat Dina sudah membuka mulutnya untuk bicara, Hanphone dalam tas kecilnya berdering.


Dina kaget saat melihat siapa yang menelepon.


Melihat ekspresi Dina, Damar merasa penasaran siapa yang menelepon. Di ambilnya handphone dari tangan Dina.


"Raka,,,  siapa Dia.? Laki laki tadi.?" Tanya Damar sinis.


Halo,, Dina... kamu gak apa apa kan.? Sekarang aku ada di depan rumah kamu, kamu di mana.?


Damar membulatkan matanya, mendengar bahwa Raka menelepon dan tau di mana rumah Dina. Dia menggelengkan kepalanya seolah tak percaya, tunangannya yang polos ini ternyata sudah pandai bergaul dengan lawan jenis.


Damar menutup sambungan telepon Raka, dan


Raka kembali menelepon Dina. Dan kali ini Damar mengarahkanya pada Dina dengan menyalakan speaker agar mereka berdua sama sama mendengarnya.


"Halo, Raka,, aku gak apa apa, kamu jangan khawatir ya."


Dina, sekarang kamu dimana.?


"Aku gak lagi di rumah"


Syukurlah kamu baik baik saja, ngomong ngomong laki laki tadi siapa.?


Dina hanya Diam, karena Damar terus menatapnya.


"Ayo katakan," ucap Damar tanpa suara.


Haloo Dina, kamu masih disana.?


"Iyaa,, laki laki itu,,, tunangan aku,"


Uhuukk,, uhuukk.. tu,,tunangan.? Katanya kamu jomblo. Gimana sih. 


Tut,, tut,, tut,,


Damar menutup sambungan telepon nya. Dan mengembalikn Hanphone pada Dina, dan hendak pergi meninggalkan Dina.


"Teruss aja pergi,, kabur lagi.. aku benar benar bingung tau, kalau kamu lagi cemburu kayak gini mas, abi bingung musti ngapain,"


Damar berbalik melihat Dina, dan mengurungkan niat untuk pergi.


"Kamu tau mas.? Kamu fikir dengan kamu seperti ini bisa menyelesaikan masah.?? Enggak tau."


"Terus aku musti marah sama kamu, atau aku bentak kamu.? Itu mau kamu.?" Sergah Damar.


" setidaknya kita omongin baik baik, bukanya malah diam kayak gini. Aku tahu aku salah, tapi aku juga bingung kalau kamu gak ngomong." Lirih Dina.


"Oke sekarang aku tanya, siapa laki laki itu, laki laki yang merangkul kamu dalam Foto kemarin, dan tadi juga Dia ada bersama kamu, menarik tangan kamu, siapa Dia. Dia pacar kamu.?" Ucap Damar sedikit mengeraskan suara nya.


"Dia itu Raka."


"Aku gak tanya nama nya," potong Damar.


"Iya, ini jugakan mau di jelasin, kamu malah emosi duluan."


"Kenapa. Mau cari alasan atau alibi lain.?" Cibir Damar.


"Kamu ini apa sih mas, kamu gak percaya sama aku, kamu lebih percaya sama mantan kamu itu, aku itu gak ada hubungan apa apa sama Dia. Kamu jangan berlebihan deh mas." Kali ini Dina yang memgeraskan suaranya.


"Kenapa bawa bawa orang lain, ini itu masalah antara kamu dan aku." Ucap Damar.


"Kamu juga bawa bawa orang lain mas, aku kan udah bilang aku gak punya hubungan apa apa sama Raka, kalau kamu lebih percaya sama wanita itu, sana pergi sama Dia, aku gak peduli."  Ucap Dina bergetar seperti menahan tangis.


Saat Dia bilang gak peduli, ada rasa sakit yang Dia rasakan.


"APA MAKSUDNYA KAMU BICARA SEPERTI ITU.?"  Suara Damar menggema sampai terdengar ke lantai bawah.


"Kenapa kamu marah, itu benarkan.? Kamu masih mencintainya kan.? Sekarang kamu lebih percaya sama wanita itu, apalagi sekarang kalian kerja bareng, pasti kamu senang kan mas.?? Kalau kamu mau kembali pada dia, lepaskan dulu aku mas, sebelum ini terlalu dalam,, jadi aku todak terlalu sakit.. " air mata Dina sudah tak bisa tertahan lagi, mengalir di pipinya.


"Dina, kamu sadar apa yang kamu ucapkan."


"Aku sadar mas,, sangat sadar. Kamu pasti memilih Dia dari pada aku. Aku tahu itu."


"Pintar sekali kamu membalikan keadaan, padahal kita sedang membicarakan kamu dan laki laki itu, bukan tentang aku dan Sam."


"AKU ITU GAK ADA HUBUNGAN APA APA SAMA DIA, KAMU NGERTI GAK SIH." Saking kesalnya Dina berteriak.


Dina pergi dengan tergesa meninggalakan Damar,


"MAU KEMANA KAMU.?" sengaja Teriakan Damar di keraskan sampai terdengar keruangan di mana Rommy berada.


Dan Rommy keluar menahan Dina agar tidak pergi.


"Din, kamu mau kemana.?"


"Aku mau pulang, aku kesel sama mas Damar, aku gak mau ngomong lagi sama Dia.."  papar Dina dengan isak tangis.


"Aku antar ya.?"


"Enggak,"


"Ayolah, aku khawatir nanti kamu kenapa napa, kalau menyetir dengan kondisi kamu seperti ini."


Dina berjalan cepat menuju mobilnya.


"Sini mana kuncinya, aku antar ya.?"


Dina hanya Diam menurut.


Dan setelah mengantar Dina pulang Rommy pun pulang bersama Damar.


Ternyata Damar mengikutinya dari tadi, dan Rommy pun mengetahuinya.


"Kenapa mar.? Dari tadi Dina terus menangis, gak tega gue, di tanya malah tambah kenceng, jadi gue diemin aja. Takut salah." Tutur Rommy saat sudah duduk nyaman di dalam mobil.


Damar menghela nafas panjang, dan seketika terdiam. "Rom, apa gue egois yah."


"Kenapa memang" Rommy berusaha membuka obrolan.


"Ini adalah pertengkaran pertama gue sama Dina, maksudnya pertengkaran yang lumayan gede, setelah enam bulan gue menjalin hubungan sama Dia gue semakin takut kehilangan Dia, semua hal memgenai Dina menjadi sensitive bagi gue."


"Bahkan gue takut kalau tiba tiba Dia pergi dari gue gara gara sikap gue ini. Karena kalau kalau Dia pergi karena laki laki lain, kecil kemungkinan, karena gue tahu dia itu bukan tipe yang gampang jatuh Cinta."


"Lah terus kenapa lu tadi marah sama Dia kalau lu tahu dina kayak gimana.?" Tanya Rommy heran.


"Ya itu yang gue maksudkan, gue kesel karena Dia bohong sama gue, bilang pergi ke kampus malah tiba tiba ada mal, bareng laki laki itu dan Sam," desis Damar.


"Lu kesel karena dia bohong, atau karena lu cemburu mar.?" Slidik Rommy.


"Gue juga gak tau Rom," jawab Damar.


"Lu udah tanya Dina kenapa Dia bohong.?"


Damar menggeleng, "keburu emosi duluan gue , saat laki laki itu tadi nelepon Dina."


"Nah, berarti salahnya di elu, lu gak mau denger."


"Iya gue tahu." Damar mengakui.


Dalam pertengkaran ini beruntung Damar mempunyai teman bicara, berbeda dengan Dina. Setelah sampai rumah, Dina pergi ke kamarnya dua tak bisa menahan tangisnya, setelah cape menangis dia tertidur pulas, dan bangun kembali setelah adzan ashar.


"Astaghfirullah,,, AAAHHH IBU......."

__ADS_1


__ADS_2