
"hey, don't you have any shame.? kamu tidak berniat untuk lari kan.?"
Kembali terucap dari mulut Sam, karena Dina hendak pergi untuk meninggalkan kerumunan.
Semua orang masih melihat Dina dengan sinis.
"come on,, ganti lah, ini kesalahan mu." lanjut Sam.
Dina hanya menatap Sam dengan kesal, entah apa yang terjadi saat ini, dan Dia kembali berbalik untuk pergi.
Aaawwwhhh....
" lu hati hati dong, lihat tuh kamera kita sampe ancur kayak gitu, lu musti ganti"
Tiba tiba seseorang datang mendorong dan memegang lengan Dina dengan kuat. Namun tidak sampai terjatuh.
Kalau di lihat dari seragam yang dia kenakan, sepertinya dia adalah teman satu tim dari wartawan laki laki yang dina tabrak.
"Maaf mbak saya gak sengaja."
"Pokoknya lu musti tanggung jawab, gue gak mau yah di marahin bos gara gara ini." Decak wartawan wanita itu.
"Udah, udah,, malu di lihat orang, kita bisa bicarakan baik baik." Wartawan laki laki itu berusaha menenangkan teman nya.
"Aahh lu banyak ngalah Man." Dengus wartawati itu.
"Semuanya, saya mohon maaf, silahkan kalian lanjutkan, biar kami membicarakannya di belakang." Terang wartawan itu berusaha meredam suasana mencekam di dalam toko.
Dina dan ketiga teman nya, serta kedua wartawan itu pergi ke belakang toko, mereka membicarakan prihal kamera yang terjatuh.
"Pokoknya lu musti tanggung jawab."
Ucap wartawati itu dengan sangat ketus.
"Sudahlah Va, dia gak sengaja." Bujuk wartawan yang di ketahui namanya Irman. Dan mbak wartawatinya adalah Eva.
Nama mereka terbaca di ID card yang menggantung di leher mereka.
"Tuuhh mbak, temen nya baik, dia tau kalau kita gak sengaja." Ucap Fira.
"Bener tuh mbak, siapa juga yang mau jatuh, iya gak.?" Sambung Eva.
Dina hanya diam, dia bingung harus bagaimana.
"Eh lu kalau ngomong se enak jidat lu ya. Ini kamera mahal, lu fikir ini gratis minta dari kakek buyut lu.? " Bentak Eva wartawati.
"Ya ampun mbak, biasa aja dong jangan nyolot, kita udah bilang gak sengaja," Dengus Eva.
Sekarang kedua Eva sedang bersilat lidah, meski mas wartawan dan Dina menengahi tetap saja mereka saling beradu argumen.
apa memang yang namanya Eva selalu keras dan menyolot ya..
"what are you all doing?" Sam datang dengan gaya super modelnya.
Kedua Eva yang sedang bersilat lidah itu, memutar pandangannya ke arah asal suara.
Kedua eva itu tersenyum pada Sam.
Berbeda dengan Dina, yang sepertinya tidak suka jika Sam menghampirinya.
Eva wartawati mendekati Sam. " Ini Miss, anak alay tidak mau mengganti kamera kami."
"ANAK ALAY..." desis Dina dan teman teman nya.
Semua wartawan yang berkerumun tadi sudah tidak adak, selesainya wawancara dengan sang model, membuat mereka bubar dan pulang ke tempatnya masing masing.
"Situ yang Alay, kita kan udah minta maaf, dan lagi itu semua juga punya kantor, bukan punya elu." Eva menyolot, kesal mungkin karena di bilang alay.
"Heh, asal lu tau yah bocah alay, gaji kita berdua bakal di potong untuk ganti kerusakan. Lu pikir perusahaan mau rugi karena kami, pikir dong lu, bisanya cuma ngabisin duit orang tua aja." Sekali lagi menyebut alay.
"Bisa baik baik gak sih ngomong nya." Jawab eva melotot.
"EVA....." bentak Dina dan Irman bersamaan.
Dan mereka saling berpandangan.
"Oooh ini masalah kamera yang kamu rusakin.?? Okey,, I will replace it." Tutur Sam,
Mereka semua diam karena perkataan Sam, mereka tersenyum sumringah, kecuali Dina, yang merasa kesal dan tidak suka.
"Haaahh benarkah miss.?? Oh thank you miss, thank you..." Eva wartawati tersenyum gembira dan meraih tangan Sam, yang dengan spontan Sam melepasnya secara paksa.
"Ohh tentu, karena Dia teman saya. Iya kan Dona.?"
Eva, Fira dan Riska juga tersenyum bahagia.
"Gak usah repot repot. Saya bisa ganti sendiri." Desah Dina.
"Lagi pula, maaf saya bukan teman anda, yang anda maksudkan, mungkin anda salah orang."
Ketiga teman Dina merasa heran, kenapa Dina berkata seperti itu pada orang yang akan menolongnya.
"oh my gosh Dona, you Dona right.? Saya di sini hanya mau membantu. Tidak ada maksud lain."
Jawab Sam bak malaikat.
__ADS_1
"Maaf anda salah orang. Saya bukan Dona" Dengus Dina.
"Dona, why.? " Sam memegang bahu Dina. Denganspontan Dina menghempaskan kembali tangan Sam dengan kasar.
Entah apa yang di fikirkan Sam saat ini, kenapa Dia berubah menjadi ingin berteman, padahal sebelum nya Dia selalu menghina dan merendahkan Dina.
"Eeehh lu gak sopan ya, udah mau di tolongin malah begitu kelakuan lu, punya akhlak gak sih lu.?" Ucap wartawati itu, dan sedikit mendorong bahu Dina.
Tentu saja Eva dan Riska sebagai teman sangat marah dan akan membela Dina. Dan mereka membalas mendorong bahu sang waryawati tersebut.
Dan akhirnya selain silat lidah, kedua Eva dan Riska itu saling dorong mendorong.
Dina dan Irman bersaha memisahakan.
Sam dan Fira hanya menjerit pelan di pinggir sebagai penonton.
Brruuukkkh,,, pranng......
Karena berusaha memisahkan, Dina terpental dan terjatuh karena Dorongan Dari kedua Eva dan Riska.
Dia tersungkur lumayan jauh, beberapa manekin terjatuh, bahkan salah satunya membentur meja kaca yang ada di dekatnya hingga pecah berantakan.
"NANA,,,,,"
Teriak Eva dan Riska saat tersadar kalau Dina sudah tersungkur di lantai.
Fira menghampiri dan berusaha membantu Dina. Namun ternyata kaki Dina terkilir dan sulit untuk berjalan.
"ASTAGA.... ada apa ini.?" Beberapa orang masuk ke gudang toko di mana tempat saling dorong mendorong.
"Mas Raka." Ucap irman Kaget mengenali seseorang.
Ternyata Raka, supir taxi online itu ada di toko di mana Dina dan teman nya berada.
"Hhmm, bawa mereka keluar." Perintah Raka pada Irman.
Mereka semua keluar termasuk Sam juga mengikuti.
Dina keluar dengan berjalan di papah oleh Raka, dan Fira mengikuti dari belakang memeluk tas slempang milik Dina, awal nya Dina menolak, namun mau bagaimana lagi, kalau berjalan sendiri dia merasa kesakitan.
Ketiga teman Dina merasa khawatir pada keadaan Dina, berbeda dengan
Sam, Dia tersenyum sinis melihat keadaan Dina.
Entah apa yang di fikirkan nya.
Irman menjelaskan duduk permasalahannya pada Raka, ternyata Raka sang supir online itu adalah anak pemilik perusahaan pers yang di mana kedua wartawan itu bekerja.
RealitaNews. Adalah nama perusahaan dimana kedua kariawan itu bekerja, dan keluarga Raka adalah pemiliknya.
"Baik mas, kalau begitu kami permisi." Ucap kedua wartawan itu.
Raka mengangguk, mempersilahkan.
"You are...???" Tanya Sam selepas kedua wartawan itu pergi.
"Saya Raka, Saya temannya Dina." Jelas Raka menunjuk Dina yang sedang duduk di kursi yang sedang memegangi kaki nya.
"No,, maksud ku, what is your relationship with the two journalists earlier, kenapa pergi begitu saja.??" Sam masih ingin tahu siapa Raka.
"Ohh saya anak pemilik RealitaNews nona." Jelas Raka.
"Ohh Really.?"
Mata Sam berbinar, saat mengetahui pria tinggi dan Tampan di depannya ini adalah pewaris RealitaNews, dia langsung bergaya menggoda saat mengenalkan dirinya.
Cih,, ternyata baru melihat pria sedikit tampan saja kau sudah seperti cacing kepanasan, wanita macam apa kau ini Samantha Vallery.
Jika kau dengan mudahmendapatkan pria mana saja yang kau hendaki, berhentilah menempel pada calon suamiku.
"Na,, nana ayok.??" Guncangan Riska di bahu Dina membuyarkan lamunannya.
Dari tadi Sam berusaha menjadi pahlawan kesiangan, entah apa yang dia fikirkan, setelah Dia bersikap seolah Dina menyakitinya karena menghempaskan peganggan lengannya tadi, dan Dina juga si penggaduh karena merusak kamera salah satu wartawan.
Dia bersikeras ingin mengganti kamera yang Dina rusakan. Dia memaksa pada Raka untuk meminta no teleponnya, dan Dia berjanji akan mengganti semua kerusakan, karena Dina adalah temannya.
"Apaan sih lu,? Aku bisa ganti sendiri tanpa harus kamu yang ganti." Dengus Dina, masih duduk di kursi.
Ketiga temannya masih bingung dan heran, kenapa Dina begitu sinis dan kasar kepada Samantha sang super model.
"No Dona, mungkin ini kesalahan ku juga, mungkin tadi kamu terburu sekali ingin melihatku, sampai kamu membuat orang lain jatuh." Sam bebrbicara dengan aksen bule nya.
"Jadi biar aku yang menggantinya," lanjutnya.
"Tidak usah nona, saya akan menggantinya, lagi pula kita tidak saling kenal bukan. Saya bukan orang yang anda maksud."
"Dan lagi, saya terburu bukan ingin melihat anda, saya Fikir ada barang Diskon di sana, namun ternyata saya salah, bukan barang Diskon yang saya dapati, tapi memang barangnya inexpensive." Lontar Dina menyunggingkan sebelah bibir nya.
"What did you say.? you *******."
Sam menghampiri Dina dan memegang kuat lengan Dina.
Dina meringis kesakitan.
Raka dan ketiga teman Dina berusaha menenangkan.
__ADS_1
Namun tetap saja Sam semakin memper erat pegangannya, saat Dina terus berbicara, dan terus menyeringai. Dina hanya melawan dengan perkataan yang terus membuat Sam geram.
Sampai akhirnya. PLLAAAKKKK.......
Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Dina, karena Dina tidak berhenti bicara.
Semua orang kaget, bahkan Sam pun sendiri merasa tidak percaya telah menampar seseorang. Sam melihat ke kanan dan kekiri, ternyata ada beberapa orang yang melihatnya.
Di sini semua orang melihat Sam dengan Sinis, persis seperti tadi para wartawan melihat Dina.
Akhirnya Sam pergi begitu saja, dia meninggalkan kerumunan dengan kondisi sedang marah.
bagaimana Rasanya,, itu yang aku rasakan tadi,. batin Dina.
Dina dan teman temanya di antar pulang oleh Raka, karena kaki Dina yang keseleo Dina berjalan menuju parkiran dengan cara Di papah kembali oleh Raka dan Eva.
Awalnya Dina menolak jika Raka membantunya, namun mau bagaimana lagi, sulit bagi Fira dan Riska untuk membantu, karena hanya Eva yang tinggi badan nya melebihi Dina, Fira dan Riska cenderung lebih pendek dari Dina.
***
Setelah mengantar Eva, Fira dan Riska ke rumah masing masing. kini
Dina Sampai Rumah hampir jam sembilan malam, bukan kebiasaan nya pulang lewat dari jam delapan malam.
"Raka, terimakasih ya, maaf aku harus cepat masuk, takut ibu marah kalau terlalu malam."
Raka mengangguk.
Dina tidak menawarkan Raka untuk mampir, dan Raka pun mengerti, dan langsung melajukan mobilnya untuk pulang.
"Baiklah, cepat masuk, nanti aku hubungi kamu ya.?" Raka tersenyum, melihat Dina yang masuk dengan kaki yang terpincang pincang dan mengendap endap kerumahnya sendiri membuat Raka semakin penasaran. dan terlihat sangat lucu.
"Terlihat sekali dia anak rumahan." Gumam Raka.
Namun, saat di perjalanan menuju pulang, Dina tidak mau membahas soal Samantha Vallery, dan ketiga temannya maupun Raka tidak bertanya kembali karena Dina begitu terlihat kesal.
Dan sepanjang perjalan pulang Raka menceritakan tentang dirinya, dan ternyata Dia adalah seorang model juga, yang iseng menjadi supir taxi online.
Pantas saja, paras nya begitu tampan dengan badan yang atletis dan tegap, mana mungkin kalau dia hanya mahasiswa dan supir taxi online.
Dia senang berteman dengan siapa saja, alasannya menjadi supir taxi online, bisa bertemu dengan banyak macam orang, itulah jawaban Raka jika di tanya kenapa menjadi supir taxi online.
Ting.....
ting....
ting.....
ting.....
ting.....
ting.....
Tanda pesan masuk berdatangan saat handphone Dina baru di nyalakan, ternyata tadi handphone nya mati saat Dina terjatuh.
"Pantas tadi siang selama insiden Mas Damar tenang sekali tidak menelepon atau mengirim pesan, ternyata mati.. haha" gumam Dina melihat layar Handphone nya.
Ada empat pesan dari Damar, satu pesan dari jaka dan satu pesan dari Raka.
Dina terlebih dahulu membuka pesab dari Raka, karena pesan nya paling atas.
Selamat istirahat ya.... 😉
"Dih, alay dia." Gumam Dina.
Iyaa,, pulang nya jangan terlalu malam.
Pesan dari jaka, adalah jawaban dari pesan yang Dina kirimkan tadi siang.
Saat hendak membuka pesan dari Damar,
Dia malah membuat panggilan Video.
Saat Dina menjawabnya, terlihat jelas wajah kesal Damar di layar handphone.
"Apa.?" Tanya Dina pada Damar.
Damar hanya Diam, wajahnya benar benar terlihat mengeras.
"Kenapa atuh,,, aku baru selesai dari kamar mandi, tadi hape nya gak sengaja ke matiin," Dina berusaha menjelaskan.
Namun Damar tetap diam.
"Ya sudah, aku mau tidur." Cicit Dina.
Damar masih Diam, sampai Dina memutuskan panggilan nya, tetap Damar tidak berbicara.
"Aneh,, kenapa Dia begitu.?? Dia marah karena aku mematikan hape ku.? Itu kan tidak sengaja." Gumam Dina.
Ting,,, pesan masuk.
"Dari mas Damar,, haaahhhh apa apaan ini,,,"
Dina melotot kaget pada pesan yang di kirimkan Damar untuk nya.
__ADS_1
"apa maksudnya ini,, ???"