Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
49. Kembali bertemu


__ADS_3

Setelah mengantar Dinda ke sekolah, Dina tidak langsung pulang, Dia mampir ke toko buku dahulu.


Sesampainya di toko buku, mata Dina lansung menyisir rak rak buku di sana, mencari judul buku yang Dia cari.


Berdiam diri di rumah selama tiga hari tanpa handphone, membuatnya merasa mati gaya, maka dari itu Dina mencari bahan bacaan untuk di baca di rumah, karena tiga hari kedepan Dina tidak ada rencana akan pergi ke kampus.


Dina terus mencari buku yang menarik untuk di beli nya, semakin lama Dina mencari semakin banyak buku yang ingin Dia beli.


Setelah beberapa saat, akhirnya Dina memilih empat buku, di bawanya buku buku itu ke kashir, antrian cukup panjang, padahal ini bukan hari libur.


Kurang ajar, siapa sih colek colek. 


Batin Dina karena ada seseorang menepuk pelan bahunya,


Namun Dina fikir mungkin hanya orang iseng, maka dari itu Dina tidak meresponnya.


Namun tidak sampai situ, orang itu malah lebih kencang menpuk bahu Dina.


"Apaan sih," Desis Dina melihat siapa si penepuk bahunya.


Ternyata Rommy melambaikan tangan, Dia sedang mengantri juga, posisinya terhalang oleh satu orang diantara dirinya dan Dina.


"Kak Rommy,," ucap Dina berpindah antrian mendekati Rommy.


"Hehe,, kaget ya, kamu beli buku juga.?" Tanya Rommy.


"Enggak kak, aku lagi beli kopi..haha, ya buku atuh, malah nanya."  Sahut Dina.


"Ehh kamu, bisa aja. " balas Rommy.


"Kak Rommy beli buku apa.?" Tanya Dina, melihat buku yang di bawa Rommy.


"Nihh,,," sahut Rommy, memperlihatkan bukunya.


Ternyata Rommy membeli buku edisi khusus, yang harganya lumayan mahal, buku berbahasa inggris yang yang membahas tentang perkembangan bisnis.


"Ini satu struk kak.?" Tanya kasir saat Dina dan Rommy mendapat giliran membayar.


"Iyaa, satuin aja mbak." Sahut rommy, memberikan Kartu kreditnya.


"Gak usah kak, biar aku saja." Tutur Dina, mengembalikan kredit card milik Rommy, dan menggantinya dengan Debbit card miliknya.


"Lah, kenapa.?" Tanya Rommy heran.


"Masa beli buku aja musti ngutang,, hehe.." jawab Dina.


"Ngutang.??"


"Iyaa, kak Rommy pakai kredit Card kan, sedangkan aku pake Debit Card,, apa bedanya coba.?" Jelas Dina.


"Aduuh kamu ini ada ada saja. " sahut Rommy tersenyum. " ya sudah aku bayar pakai Debit aja deh, niihh." Lanjut Rommy.


Membayar semua buku yang ada di meja kasir.


"Padahal aku bisa bayar sendiri loh kak, gak usah di bayarin." Ucap Dina.


"Gak apa apa, kan gak setiap hari, lagi pula ini bukan aku yang bayar, calon suami kamu yang bayar,, haha.." sambung Rommy.


"Maksudnya.?"


"Iyaa, ini tuh buku Damar, Dia yang beli buku ini, bukan aku." Jelas Rommy.


Dina mengangguk mengerti.


Setelah membayar buku, Dina dan Rommy keluar toko bersama. Awalnya Dina pamit hendak pulang, dan berterima kasih karena bukunya Rommy bayarin.


Namun, Rommy menahan Dina, dan mengajaknya untuk berbincang sebentar. Romyy mengajak Dina duduk dan minum kopi di sebuah coffe shop dekat dengan toko buku yang tadi mereka kunjungi.


"Din, kamu masih marahan sama Damar.?"


Rommy membuka pembicraan setelah mereka duduk dengan kopi dan kue di atas meja mereka.


"Sudah aku kira, pasti kak Rommy mau bicarain ini kan."


"Kenapa memang, mas Damar duluan yang marahin aku, aku kan sudah minta maaf, dianya yang egois. Gak mau dengerin penjelasan aku.".


Keluh Dina.


"Iya, iya, jangan kesal gitu dong, aku kan cuma bertanya," Rommy tidak meneruskan obrolannya karena melihat Dina yang terlihat masih kesal.


"Eh, kak. Mas Damar nitipin hape aku gak.?" Tanya Dina.


"Apa,?? Hape kamu masih ada di Damar.?  Aku kira udah Dia balikin."papar Rommy.


"Eehh bentar ada panggilan masuk."  Lanjut Rommy.


"Halloo bro.. " sapa Rommy pada seseorang di telepon.


"Gue lagi di luar, habis beli buku, sekarang gue lagi ngopi, di tempat deket toko nya"


jelas Rommy pada orang yang sama.


"Oohh lu lagi deket sini juga," tanya nya pada orang di telepon.


"Mau ke sini.?," lanjut Rommy., melirik Dina.


" boleh,, gue tunggu. "  kata terakhir Rommy pada si penelepon.


"Temen gue,," ucap Rommy.


Dina tersenyum.


"Kak kalau gitu aku duluan ya, eh tapi aku boleh minta tolong gak.?" Dina tersenyum penuh harap.


"Apa,?" Sahut Rommy.


"Ambilin hape aku." Pinta Dina.


"Enggak ah, aku gak mau terlibat sama kalian berdua, ambil aja sendiri." Tolak Rommy.


"Aahhh,,, kok gitu sih,, ayo lah,, kak Rommy baik deh,, please.. please.. please,, yah..??"  Bujuk Dina.


"Enggak." Rommy menggeleng.


Dina mendekatkan kursinya dan memegang lengan kemeja Rommy, dan masih berusaha membujuk.


"Kak,, ya,, please... please... please."  Dina mengangguk anggukan kepalanya dan masih memegang lengan kemeja Rommy.


Rommy tetap saja menggeleng.

__ADS_1


"Ya udah, aku pulang duluan kalau gitu," ucap Dina kesal.


"Jangan marah dong din." Seru Rommy.


Menarik tangan Dina yang berdiri.


"Apa apaan ini." Sergah Damar tiba tiba.


"Mas,," Dina tampaknya kaget.


Berbeda dengan Rommy, yang sepertinya mengetahui kalau Damar akan Datang.


"Kenapa kamu tarik tarik bajunya Rommy.?" Decak Damar.


Ternyata Damar sudah memperhatikan dari jauh.


"Santai bro,, duduk duduk." Ucap Rommy menepuk kursi kosong di pinggirnya.


Sementara itu Damar melihat Dina dengan sangat tajam, yang di tatap pun menyadarinya. Namun dina memalingkan wajahnya.


"Apaan sih." Dina mendelik kesal.


"Kenapa gak langsung pulang, aku dari tadi nunggu kamu di rumah, heran, kenapa sekarang kamu sering kelayaban." Papar Damar dingin.


"Kelayaban apa, aku habis nganter Dinda sekolah, terus mampir dulu beli buku, itu aja." Jelas Dina.


"Terus kenapa di sini.?"


"Mas Damar juga ngapain di sini.?" Dina balik bertanya.


"Aku nunggu lama banget di rumah kamu, pantas saja kamu gak pulang, ternyata kamu disini sama Dia." Ucap damar melirik pada Rommy.


"Eeiitss.. jangan bawa bawa gue, gue gak ikutan ya," tukas Rommy.


"Kalian itu mestinya kangen kangenan, udah tiga hari gak saling bicara, bukan malah brantem lagi." Lanjut nya.


"Aku duluan kak" pamit Dina, berdiri dan hendak pergi.


"Mau kemana.?" Tahan Damar menarik tangan Dina.


Dina menatap tangan Damar dengan sinis.


Namun Damar tetap tidak melepaskanya, dan masih menahan Dina.


"Aku antar kamu pulang,"


"Gak usah, aku bawa motor." Tolak Dina, berusaha melepaskan tangan Damar yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Motor kamu biar Rommy yang bawa,"lontar Damar.


saat namanya di sebut, Rommy mengangguk.


"Gak ah, lagian kan kak Rommy juga bawa mobil." Protes Dina.


"Setelah kejadian kemarin, Kamu masih mau membantah Dina Aryanti.?" Desah Damar menatap Dina tajam.


Dina merasa tercekat kala Damar menyebut nama lengkapnya, itu menandakan bahwa mode pak Bos yang tidak suka di bantah telah hadir bersamanya,


Dina diam sekejap, bingung mau menjawab apa, akhirnya Dia menurut dan melemparkan Helm yang di bawanya ke perut Damar dengan sedikit di kencangkan.


"Nih,, bawa bukunya juga." Ujar Dina pergi meninggalkan Damar.


Saat Dina sudah mendekati mobil, Damar membuka kunci mobilnya.


"Kenapa kamu duduk di sana.?" Tanya Damar heran, karena


Dina memilih duduk di kursi belakang.


Dina hanya Diam.


Dan Damar mengalah, melajukan mobilnya.


Beberapa kali Damar membuka pembicaraan,


"Teman kamu yang namanya Raka menelepon terus., dan banyak lagi pesan dari teman teman kamu, ternyata hape kamu ramai juga ya, aku sampai pusing mendengar hape kamu terus berbunyi."


Papar Damar.


Dina hanya Diam. Tidak merespon apa yang Damar ucapkan.


Kalau pusing balikin atuh, malah terus disimpen, itu kan punya aku... hikss,, aku kangen banget sama sama hape aku..


Batin Dina menggerutu.


"Kamu masih punya hutang ya sama aku." Lanjut Damar melihat spion tengah.


"Hutang apa.?" Gumam Dina.


Akhirnya bicara juga, meskipun bergumam, namun masih terdengar oleh Damar.


"Jangan lupa kamu, di sini yang harusnya marah itu aku, bukan kamu, kenapa kamu yang gak ngomong, harusnya jelasin masalah kemarin." 


"Gak enak kan mas, kalo di diemin,  bingung juga kan mau gimana," sindir Dina.


"Iyaa, aku salah,, aku minta maaf sama kejadian kemarin, aku terlalu emosi, kita baikan ya," Damar tersenyum membujuk Dina.


Dina lagi lagi Diam.


Dia bingung Damar yang sekarang berbeda dengan yang kemarin, namun anehnya Dia malah lebih waspada dengan Damar yang lebih tenang.


"Kenapa diam lagi.??" Ucap Damar.


Dina menggeleng,


"Din, sudah enam bulan kita bertunangan, apa kamu masih ragu sama aku.?"


Ucapan Damar membuat Dina tercekat,


"Usia ku sudah matang, aku cukup untuk menikah, apa yang membuat kamu belum sepenuhnya percaya sama aku, din.?" Lanjut Damar.


Dina benar benar Diam, kali ini dia bukan karena merajuk, melainkan bingung mesti jawab apa, di sisi lain Dia gak mau kehilangan Damar, dan di sisi lainnya Dia juga belum siap untuk menikah.


"Din,," ucap Damar memecah lamunan Dina.


"Eh iya."sahut Dina.


"Kenapa.?" Tanya Damar.


"Aku belum siap mas," papar Dina.

__ADS_1


"Apa yang membuat kamu belum siap.? Di luaran sana banyak kok yang menikah di usia dibawah kamu." Ucap Damar.


"Iya, itu kan orang lain, kalau aku kan beda." Sahut Dina.


"Beda.. apa bedanya.?" Tanya Damar.


"Ya beda pokoknya, lagi pula kan aku mau lanjut kuliah mas, sekarang aja aku kan belum lulus, kalau menikah nanti keteter gimana.?" Papar Dina.


"Seminggu lagi kan kamu wisuda, berarti sudah lulus S1, setelah menikah kamu juga bisa lanjut S2, bukan alasan itu,,menikah itu ibadah, urusan kuliah jangan jadi penghalang."  Jelas Damar.


"Mas Damar kenapa sih, ngomongnya menikah terus,,, aku bilangkan belum siap, kalau mas Damar mau cari yang siap, bbboo boleh silahkan." Tiba tiba Dina berbicara agak terbata di akhir namun berteriak.


Damar menghentikan mobil nya, setelah menepikan mobil nya nyaman, Dia turun dan masuk dab duduk di kursi belakang dimana Dina duduk.


Eeehh,, kok mobilnya menepi,, apa mas Damar marah.


Sontak Dina kaget karena Damar tiba tiba pindah, Dina menggeser duduknya hingga badanya menyentuh pintu bagian dalam mobil.


Kenapa mas pindah ke sini. Aahh, dia marah.


Melihat Dina yang berusha menjauh, Damar jadi berfikir untuk menjahilinya, Dia terus memepetkan duduknya hingga badanyan menempel dengan Dina.


Aduuh,, apa apaan sih dia, sepertinya Dia sangat marah.


Dina menunduk dan mere mas roknya, lebih dekat lagi Damar malah mendekatkan wajahnya dengan wajah Dina.


Astaga,, mas Damar ngapain.?? Apa dia mau pukul aku...


Dina memejamkan matanya dengan erat, menggigit bibir bawahnya dengan gemetar.


Kurang ajar kamu mas, awas saja kamu macam macam.


"Kenapa kamu.??"ucap Damar mengambil botol minum di saku pintu mobil belakang, dekat punggung Dina.


"Iiihh apaan sih." Dina mendorong Damar menjauh.


"Jadi kamu mau aku cari orang lain, gitu.??"


Dina melengos kesal.


"Cariin dong." Goda Damar.


Dina melotot kesal.


Damar meminum air mineral yang tadi ia ambil.


"Kamu tau kan, tipe aku kayak gimana.??"


Berhenti bicara untuk meneguk air.


"Aku suka perempuan yang manis, tinggi standar lah, berisi jangan kurus kering, gak suka aku, gak usah terlalu cantik, membosankan kalau terlalu cantik. Biasa biasa saja. Dan yang paling penting Dia itu mesti penurut, gampang di atur." Damar menyeringai melihat air muka Dina yang kesal.


"Gimana.?? Teman kamu ada yang kayak gitu.?"


Tanya Damar menahan tawa, karena Dina melotot kesal saat Damar bicara.


"Apaan sih mas, cari aja sendiri, kalau mau yang penurut nikahin aja kucing, pasti nurut." Dengus Dina.


"Haha kok kucing teman kamu gak ada memang.?" Goda Damar mencubit pipi Dina.


"Cariin,, cariin,, cari sendiri di online shop,"


Dina mendorong Damar dan keluar dari mobil.


"Eehh mau ngapain kamu.?" Tanya Damar.


Dina duduk di kursi kemudi, dan hendak melajukan mobil nya, dengan cepat Damar masuk kembali kedalam mobil setelah tadi keluar mengejar Dina.


"Jangan cemberut gitu dong, jadi pipinya keliatan tambah bulet."


"Sekarang mata kamu juga tambah gede, karena dari tadi kamu melotot terus."


Damar yang duduk di kursi samping Dina terus saja menggoda, entah itu mencubit pipi ataupun memencet hidungnya.


"Mas, lama lama kamu ngeselin ya." Dengus Dina melihat ke arah Danar.


"Eehh jangan lihat kesini, nanti nabrak." Tukas Damar cekikikan, meutar kepala Dina agar tetap melihat kedepan.


Eeehh kurang ajar. Batin Dina.


Dina menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumahnya, dia melepas safety belt, dan mematikan mobilnya. Lalu menyerang Damar dengat sangat bersemangat.


Dina mencubit pipinya Damar dengan keras, memencet hidungnya seperti yang dia lakukan pada nya, dan saat Damar menahan dengan tanganya, dina malah mengigit lengan Damar.


"Aaaww... iya,, iya ampun.. ampun.." pekik Damar..


Namun Dina tidak berhenti, malah terus mencubit pipinya Damar kembali.


"Gak enak kan di cubit,, se enak nya aja cubit pipi orang.." dengus Dina namun tidak melepaskan tangan nya.


"Kalo kamu gak berhenti, aku cium kamu." Tekan Damar.


Ehh..


Dina langsung melepaskan cubitan nya.


"Enak aja,, belum halal tau..." ucap Dina bergegas keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah dengan berlari.


Damar menggeleng sambil tersenyum, dan memegangi kedua pipinya.


"Ternyata panas juga lama kelamaan setelah di cubit pipinya, persaan cubitan ku gak sekeras itu, dia membalas nya sepuluh kali lipat."


Gumam Damar membuka pagar rumah Dina dan memarkirkan mobilnya.


Damar memasuki rumah setelah mobilnya terparkir rapih, ada ibu sedang menonton tv.


"Nak Damar, sini masuk." Ibu mengajak Damar duduk di sofa depan Tv.


"Ibu ambilkan minum ya," ucap ibu pergi ke dapur.


Dina keluar dari kamarnya,


"Mas, mau minum.??" Tanya Dina.


"Ibu tadi lagi ngambil." Jawab Damar.


"Sini kamu, aku mau ngomong." Lanjut Damar dengan wajah yang serius.


Haaahh, kok jadi serius gini sih,, apa yang mau di omongin, apa masalah pernikahan.. atau Masalah Raka, atau Sam mungkin,,

__ADS_1


Aaaaaaahhh.. kok aku jadi deg degan ya kalau mas Damar udah kayak gitu...... padahalkan kita baru bertemu.


__ADS_2