
Mau ganti baju lagi.?" Tanya Dina
Setelah insiden tabrak menabrak berlalu.
"Tidak usah, nanti terlalu siang ke rumah sakit, aku menyimpan pakaian di kantor, nanti aku ganti di sana." Jelas nya mengelap sisa cream dengan tisyu.
Dina mengangguk, mengikuti langkah lebar suaminya, sehingga dirinya agak tertinggal beberapa langkah.
Belum sampai di depan pintu keluar.
"Mbak,, maaf." Tiba tiba seorang staff hotel mengentikan langkah mereka berdua,
Damar yang berjalan agak jauh dari Dina berbalik melihat istrinya berbicara dengan staff hotel itu.
Pria muda dengan senyum menawan, ada lesung pipi di pipi kanan nya, dia mengangguk dan memberikan sesuatu pada perempuan yang kemarin dinikahi nya. kedua nya tersenyum bersamaan, lalu berpisah.
Dina tersenyum manis pada pria itu, Damar memperhatikan dari jauh, setelah nya mendekat pada Damar yang berdiri menunggu dirinya.
"Siapa.?" Tanya nya sudah tidak membersihkan pakaian lagi.
"Siapa,,? Yang tadi.? Itu staff hotel." Jawab nya singkat.
Damar diam masih menunggu jawaban lain, mana mungkin dirinya tidak tahu kalau pria itu staff hotel, nampak jelas bukan dengan baju yang berlogo hotel di dada kiri nya. Namun dia enggan menanyakan lebih detil maka dia hanya Menatap istrinya dengan seksama.
"Apa.??" Ketus Dina yang sadar akan tatapan suami nya.
Damar agak kesal, mungkin Dia memang tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. Damar pergi tanpa bicara, wajah kesal nya masih nampak terlihat jelas.
Apa sih,, kenapa jadi marah seperti itu.? Salah ku apa coba... hadeuuuhh punya suami kok cepet marah kayak gini,, jangan cepet marah pak,, nanti cepet tua.
Dina mengerti Suaminya kesal terlihat sekali dari wajahnya yang mengeras dengan tatapan yang tajam.
"Tadi tuh dia ngasih ini."
tunjuk nya pada Damar, obat yang di berikan staff hotel tadi.
Damar hanya melirik sekilas, tanpa menjawab.
Dina menceritakan, Dia meminta obat pada layanan kamar, dan saat layanan kamar mengantarnya mereka sudah pergi, maka dari itu dia titipkan di resepsionis, agar memberikan obat nya pada Dina. Namun karena kejadian tadi staff hotel sampai lupa dan mengejar saat mengingat karena tersadar melihat Dina.
__ADS_1
"Kamu sakit.?" Tanya Damar khawatir menempelkan punggung tangan nya pada kening istrinya.
Dina menggeleng. " hanya tenggorokan yang agak sakit, di tambah hidung ku terasa panas, sepertinya mau flu."
"Sampai di rumah sakit kamu langsung periksa." Ucapnya langsung memerintah.
seperti itulah cara Damar menunjukan prhatian nya.
"Gak usah, minum obat ini saja pasti sembuh kok." Tolak nya.
"Jangan membantah." Keluar lagi kan mode bos galak nya.
Dina diam mengalah.
Sesampainya di rumah sakit Dina langsung ke ruang ICU, kakaknya masih tertidur dengan berbagai alat medis yang menempel pada tubuhnya, melihat nya seperti itu sangatlah menyakitkan.
"Mas, siapa orang yang telah menabrak kakak.?" Suara nya bergetar menahan tangis.
"Rommy sudah mengurus nya, dia berkendara di bawah kendali alkohol, dan Dia warga negara asing." Ungkapnya.
"Kakak,, bangun kak.. nana mau sama kakak, nana mau menjadi pengiring pengantin saat kakak menikah, nana mau melihat kakak menikahkan adek."
Semakin bergetar menahan tangis, tangan nya menyentuh kaca yang menghalangi antara kedua nya.
"Kamu ini ngomong apa si, kakak kamu akan baik baik saja."
"Lagipula, sekarang ada aku, aku akan menjaga kamu dan keluarga kamu." Damar berusaha menghibur.
Dina menatap sang suami,
Damar menarik Dina dan merangkulnya "Sini, gak usah sedih ada aku di sini."
"whaaa.... aku mau kakak,, aku gak mau yang lain."
Damar panik, kenapa semakin keras menangis.
"Adduuhh kamu ini kenapa si, nanti orang lain terganggu." Desis Damar memeluk istrinya.
Awalnya Dina menolak, namun karena tidak di lepaskan jadi akhirnya Dina diam, dan menempelkan wajah pada dada suaminya.
__ADS_1
"Sssttt... kamu ini berisik sekali si.. sekarang ada aku." Masih berusaha menenangkan istri nya
Hiks.. hiks.. emang dasar manusia salju, bukan begitu caranya menghibur.
Batinnya, menatap sang suami.
Huuufftt.... Damar menarik nafas. "Kenapa lagi.?"
benar benar es balok kamu mas,, fikirnya.
dina menggeleng, mengusap sisa ingus dan air mata yang ada di wajah nya dengan lengan kemeja nya.
"Pakai ini, jorok sekali kamu jadi perempuan." Dengus Damar mengeluarkan saputangan dan mengelap wajah isteri nya.
Mereka saling berhadapan, Damar membungkuk kan kepalanya mensesejajarkan menatap wajah isterinya, dengan seksama mengelap perlahan wajah sendu isterinya, mulai dari mata hidung sampai ke bibir, dengan lembut Damar terus mengusapkan lembut saputangan itu di wajah nya, saking dekatnya mereka saling merasai hembusan nafas mereka.
Deg,, Deg,,
Tiba tiba degupan jantung terasa berdengung di telinga, Beberapa kali Dina menelan saliva nya, berusaha membuang pandangan. Meski bukan pertama kali, namun saat Damar menyentuhnya selalu terjadi hal yang sama, tiupan angin terasa berhembus pada dirinya, detakan jantung yang tiba tiba mengencang, dan hembusan nafas yang sangat sulit di atur. Seolah ada sesuatu yang berdesir dalam diri nya.
Damar tahu jika isterinya tersipu,
Dia mengerutkan dahinya lalu menyeringai, lebih mendekatkan wajahnya, lebih dekat dan semakin dekat.
Tersadar akan hal itu, Dina mundur satu langkah, punggungnya kini telah menempel pada tembok pembatas ruangan, Dia memalingkan wajahnya karena Damar terus mendekat, kini hembusan nafas nya terasa di pipi.
Apa ini,,
mas,, hentikan,
jantungku, aahh jangan berdegup terlalu kencang,,, aaahhh...
Entah apa yang akan Damar lakukan, namun fikiran Dina mulai kemana kemana, seharusnya situasi seperti ini terjadi bukan di tempat dan waktu sekarang, karena mungkin jika orang lain lewat bukan kesan romantis yang ada, malah lebih ke perilaku mesum yang akan menempel.
Kini Dina menutup matanya.
Aahhh aku susah untuk bernafas.
Masa iya kamu akan melakukan nya di sini.
__ADS_1
memalukan, jangan ambil ciuman pertama ku seperti ini,,
Aaaahhh ciuman pertama ku....