
Setelah perdebatan prihal mengantar nya ke kampus, Damar dan Dina belum bertemu setelah dua minggu ke belakang, karena kesibukan Damar tentu nya.
Hari libur ini Damar mengirimi Dina pesan, dia mengajak Dina untuk pergi Menonton, mungkin ini adalah Kencan pertama mereka berdua setelah hampir empat bulan mereka bertunangan.
Mana ada dia punya waktu, biasa nya juga lembur di hari minggu,
Gumam Dina saat membaca pesan dari Damar.
Belum sempat Dina membalas, Damar sudah mengirimi nya lagi pesan, memberi tahu pukul berapa dia akan menjemput.
Dina semakin heran,
Aneh, harus nya di tanya dulu mau apa enggak, ini maen tembak aja. Memang susah kalau kalau titah paduka raja, susah untuk di bantah.
Dina jadi teringat nomor Damar yang ia save di hape nya, dia menamai nya BOS DARTING, sekarangkan dia bukan atasan nya lagi, Dina berfikir akan mengganti nama nya.
"Apa ya,," gumam Dina.
"Ooohhh iya, aku tau..." ucap Dina menahan senyum.
Dina mengetikan nama di nomor kontak Damar, terlihat di situ dia menulis
( RIRIWA. )
Dina tertawa terbahak dengan nama yang di tulis nya pada nomor tunangan nya.
Sekarang sudah pukul sembilan pagi, dimana Damar telah menjanjikan akan menjemput Dina,
Sengaja Dina dandan lebih awal, untuk menhindari kritik dan saran dari sang tunangan,
Yang lebih tepat nya, titah dan printah.
Terdengar Bunyi klakson di depan pagar rumah,
"Seperti nya itu paduka raja"
Gumam Dina di dalam kamar
Karena di rumah Dina tidak ada nya security yang membukakan gerbang, mau tidak mau Damar melakukan nya sendiri.
Sekarang mobil Damar sudah nyaman terparkir di depan Rumah, dan Damar hendak masuk ke dalam Rumah.
"Ayoookk mas..??"
Belum saja Damar mengucap salam, Dina sudah ke luar rumah dan siap untuk pergi.
Tumben sekali sudah siap, Fikir Damar.
Damar melihat pakaian yang di kenakan dina,
Dari atas sampai bawah, dari bawah ke atas lagi.
Dina terlihat manis dan casual dengan memakai sweater bulu berwarna toska, yang di padukan dengan celana kulot yang senada, dengan rambut di ikat semua yang di naikan di atas kepala.
tidak lupa memakai sepatu sneakers warna putih dan tas slepang yang mengikuti warna sepatu. Supaya lebih nyaman hari ini Dina tidak memakai pantofel ataupun heels.
"Kamu kayak anak SMA"
Ucap Damar, hendak protes.
"Enggak ihhh, aku cantik tau, mas Damar aja yang tidak mau mengakui, kita kan cuma mau nonton."
Potong Dina, saat tau Damar akan protes.
"Udah pergi yuk, keburu siang mas."
Ajak Dina,
Seperti biasa mas Damar selalu memakai kemeja warna biru langit nya, gak punya apa kaos atau pakaian yang lebih casual gitu. Memang terlihat tampan sih, bahkan sangat tampan, apalagi dengan lengan kemeja yang di gulung, yang di padu dengan jeans panjang, korean style nya terlihat pas di badan nya yang tegap. Dan itu terkadang membuat ku merasa tidak pantas menjadi pasangan nya.
Dina hanya mampu protes dalam Fikiran nya.
Padahal Damar sengaja menjemput nya lebih awal, karena mall kan buka nya pukul sepuluh, ini baru baru pukul sembilan tiga puluh, sampai mall pasti semua nya baru di buka.
Cih,, sekarang anak ini pintar sekali, dia berani mendahului ku.
Batin Damar, bergumam.
"Kamu sudah sarapan Din.?"
Tanya Damar,
"Sudah, mas Damar sudah.?,"
Jawab Dina, balik bertanya.
" Belum,, "
Jawab Damar pendek.
"Kenapa.? Ini kan sudah siang."
Tanya Dina.
"Tadinya mau sarapan di rumah kamu, sudah lama aku tidak makan masakan kamu"
Tutur Damar.
Dina hanya terdiam, mungkin diam nya bisa di artikan Dia merasa bersalah, setelah keluar dari kantor Damar, belum pernah Dina membuatkan makan siang buat Damar,
padahal sempat beberapa kali Damar meminta nya, namun karena kesibukan nya di kampus menjadi alasan utama, Dina belum menyempatkan nya, dan pagi ini Damar sengaja menahan sarapan untuk memakan masakan Dina.
"Kenapa Diam.?"
Tanya Damar, karena melihat Dina yang Hanya diam.
Dina menggeleng,
"Kenapa.?? Kamu tidak senang kita pergi, ini kencan pertama kita, kamu tau.?"
Lontar Damar,
"Enggak,, seneng koq, cuman harus nya tadi mas Damar bilang kalau mau sarapan di rumah jadi aku bisa siapin, aku malah jadi heboh sendiri kan, mas Damar baru sampe, aku udah buru buru aja pengen pergi."
Lirih Dina,
"Looohhh kenapa, kok kamu jadi sedih, masih ada hari esok kan, kamu masih mau kan masakin buat aku,?"
Tanya Damar sambil tersenyum.
Dina mengangguk,
"Gimana kuliah nya.? Masih lama kamu lulus nya.?"
Tanya Damar mengganti topik.
"Eemmmhhhh,,,, Bulan depan aku wisuda, aku udah jadi sarjana,, hihihi"
Lontar Dina semangat.
"Sesenang itu,, bukan nya mau lanjut S2 kamu.?"
"Mauuu,, tapi nanti setelah uang nya terkumpul."
"Apa nya yang terkumpul.? Kamu Fikir Aku gak mampu biayayain kamu S2,"
Dengus Damar tiba tiba.
__ADS_1
"Haaahh kok mas Damar, kan ini kuliah aku.?"
Lontar Dina bingung.
"Terserah kamu, aku malas berdebat, kita bertunangan sudah empat bulan, tapi kamu masih saja menganggap aku sebagai orang luar, kamu benar benar tidak menghargai aku sebagai calon suami mu."
Gerutu Damar.
"Enak aja, aku menghargai dan menghormati kamu kok mas, jangan salah faham gitu dong."
Jelas Dina.
"Saya kan calon suami kamu, sudah sepantas nya membiayai hidup kamu, karena kedepan nya kamu kan akan menjadi tanggungan Saya."
Desis Damar, sedikit mengencangkan suara nya.
Calon suami, calon suami, kata itu semakin hari semakin menakutkan,
Batin Dina.
"Kalau kamu menghargai saya, juga menghormati saya, kenapa kamu seperti nya enggan memakai uang saya, kamu fikir saya akan meminta nya kembali kalau saya sedang kesal.? Kamu fikir laki laki macam apa saya ini.?"
Damar terus saja mengomel.
Dina hanya diam, mengalah adalah jalan keluar nya.
"Apa perlu kita menikah dulu supaya kamu sepenuh nya percaya sama saya.? Atau jangan jangan kamu tidak serius sama hubungan ini."
Makin lama omelan Damar semakin dalam, semakin memenuhi telinga Dina.
Dina pun makin lama makin kesal kan, dan dia membuka mulut nya lebar lebar.
"Apaan sih mas, nuduuuuhh terus, kamu gak percaya sama aku.? Aku itu serius tau gak sama kamu, aku juga mau menikah sama kamu, tapi tidak sekarang."
Ucap Dina ketus.
"Ciihh, serius tapi masih di rahasiakan."
Jawab Damar tak kalah ketus.
"Apalagi sekarang.?"
Tanya dina pada perkataan Damar.
"Apalagi.???"
Damar menghentikan mobil nya, dan memarkirkan nya di pinggir jalan.
Apa ini, kenapa berhenti.?
"Kamu bersikeras tidak mau di antar ke kampus karena apa.? Karena kamu gak mau kan semua teman kamu tau kalau kamu sudah bertunangan, kamu sudah punya calon suami Dina, ingat kamu."
Lanjut Damar.
"Aku ingat kok mas, kalau aku sudah bertunangan, dan siapa juga yang menyembunyikan pertunangan kita. Masa aku harus bilang sama semua orang kalo kita bertunangan, mereka kan gak nanya, kalo mereka nanya aku pasti jawab kok."
Ucap Dina beralasan.
"Dari dulu itu aja alasan kamu, cih.."
Damar semakin mendengus.
"Itu bukan alasan ya, memang seperti itu, kalau mas Damar mau, nanti aku kenalin sama semua teman kuliah aku, biar mas Damar puas. Se enak nya aja bilang aku gak serius, bilang aku menyembunyikan,"
Ucap Dina dengan ber api api.
"Oke,, mulai besok aku antar kamu ke kampus, kenalin aku sama teman teman kamu."
Tutur Damar, melanjutkan perjalanan.
Astaga,, aku ngomong apa.?? Aku kan belum bilang sama eva,fira, Riska kalau aku bertunangan, gimana aku bisa ngenalin mas Damar sebagai tunangan aku,, aduuuhhh bodoh kamu na... bodoh....
Dina melamun mencari jalan keluar, ini memang kesalahan nya, harus nya pas dulu mereka bertunangan Dina tidak lupa memberi tahu pada teman dekat nya.
Bukan karena mau merahasiakan nya, tapi Dina berniat memberi tahu teman teman nya secara langsung dan perlahan menjelaskan kenapa dina bisa bertunangan.
Kembali lagi karena kesibukan nya, Dina tidak sempat memberi tahu pada teman teman nya, dan sekarang sudah terlanjur, Damar pun menagih untuk minta di kenalkan.
"Aaaahhhh,,,"
Rintih Damar memegang perut nya, dan membuka sittbelt nya.
"Eehhh mas kenapa.?, berhenti mas."
Dina menengok panik, dan meminta Damar menghentikan mobil nya.
"Kenapa.? Sakit.?"
Tanya Dina mengusap perut Damar.
Damar mengangguk, dan tetap mende sah.
Damar mengulum senyum, Dina hanya akan menyentuh nya saat dalam keadaan panik atau Darurat.
"Yang mana sakit nya.?"
Tanya Dina semakin khawatir.
"Kita ke rumah sakit aja deh, gak usah nonton, mas nya juga lagi sakit."
Sambung Dina.
"Ehh, gak apa apa, mungkin ini karena saya melewatkan sarapan."
Jelas Damar. Mengusap tangan Dina yang ada di perut nya, Dina belum menyadari, kalau Damar menikmati sakit nya ini.
Masa iya harus batal pergi, untuk bisa pergi hari ini damar menunda semua janji nya dengan Client.
"Maaf ya mas,, "
Ucap Dina menunduk. Masih merasa bersalah prihal sarapan.
"Apaan sih, aneh kamu, kita cari makan dulu, setelah baikan, kita jalan lagi."
Ucap Damar, menghidupkan lagi mobil nya.
"Eeehhh mas, pindah, biar aku aja yang bawa."
Tukas Dina. Turun dari mobil dan hendak berpindah tempat.
"Enggak, saya tidak mau di setirin perempuan."
Tolak Damar. Tidak mau pindah dari tempat nya.
"Iiihh ngeyel kamu ya,, aku bisa kok, pindah."
Pinta Dina,
Tapi Damar tetap tidak mau berpindah meski Diri nya mengeluh sakit.
"Ya sudah kalau kamu tidak pindah, aku gak mau naik, aku gak mau di setirin orang sakit."
Ucap Dina berdiri di samping kursi Damar.
"Kamu tuh,, "
Damar mengalah,
__ADS_1
Menggeser duduk nya ke kursi sebelah pengemudi, dengan mulut yang terus menggerutu.
"Awas hati hati kamu, yang benar mengemudi nya, jangan asal jalan aja."
Tukas Damar, memberi nasihat.
"Iyaaaa..."
Jawab Dina.
Sebenar nya sejak di ajak naik mobil nya Damar, dina ingin sekali mengendarai nya, cuman karena tidak ada kesempatan, Dina tidak pernah mengutarakan keinginan nya,
ini adalah kali pertama Dina mengendarai mobil sport, tentu saja berbeda dengan mobil yang ada di rumah Dina, meski Dina bisa mengendarai mobil, bahkan Untuk surat ijin mengemudi pun telah ia dapatkan. Dina lebih suka memakai angkutan umum, karena Dina senang bergaul dan bersosialisasi.
Saat Dina menginjakan kaki nya di pedal gas, Dina merasa tercekat, ternyata mobil Damar sangat bertenaga, pantas saja Damar tidak rela mobil nya di bawa Dina untuk menyetir, mobil nya sebagus itu rupa nya.
Dina perlahan menjalankan mobil nya, sangat perlahan dan hati hati, lama kelamaan Dina mulai terbiasa dan bisa menguasai nya.
Ternyata enak juga bawa mobil mahal,, hahhaa...
Pantes yang punya mobil tadi kayak nya gak rela mobil nya aku bawa.
Fikir Dina.
"Fokus kamu, jangan mikirin apa apa,"
Telak Damar, mengingatkan Dina.
Dina hanya tersenyum,.
Senyum saja lah, toh aku sedang menikmati perjalanan. Fikir Dina.
Dan akhir nya Dina menyetir sampai ke tempat tujuan, dan memarkirkan mobil nya dengan nyaman dan aman.
Dina turun terlebih dahulu, dan di susul oleh Damar yang masih memegangi perut nya. Dan Dina mendekat pada Damar, dan hendak membantu Damar berjalan.
Damar pun menyambut nya dengan senang, padahal Damar bisa berjalan dengan baik, tidak perlu bantuan, tapi karena Dina hanya akan melakukan ini karena Damar merasa sakit, maka Damar pun tidak menyia nyiakan kesempatan.
Dina memegang pinggang Damar, karena tinggi Dina hanya sebahu Damar, tidak sulit bagi Damar untuk menaruh tangan nya di pundak Dina.
"Jangan cari kesempatan kamu mas."
Ucap Dina, yang menyadari Damar sengaja memeluk nya.
"Kamu tidak sadar, kamu yang duluan mencari kesempatan, bukan saya."
Tukas Damar.
Dina langsung melepaskan tangan nya dari pinggang Damar, namun Damar menarik nya yang membuat Dina kembali memeluk dirinya.
" iiihhh mas Damar, apaan sih."
Hahaha..
Damar merasa senang, melihat wajah Dina yang memerah karena malu, dia berjalan cepat dan pergi meninggalkan Damar.
Sesampai nya di atas, Dina memutuskan untuk mencari makan untuk Damar, Dina memesan sup sayur, beef teriyaki dan nasi putih hangat tentu nya. Dan untuk diri nya Dina memesan mie aceh super pedas.
Setelah makanan siap, Dina menambahkan lagi cabe dan merasai makanan nya, setelah dirasa pas, Dina mulai melahap nya.
berbeda dengan Damar, dia hanya melihat makan nya tanpa menyentuh nya.
"Kenapa.?"
Tanya Dina karena Damar terus menatap nya.
Damar hanya menggeleng kesal.
Apa maksud nya.
Gumam Dina.
"Di makan atuh mas,,, nanti keburu dingin gak enak lagi."
Ucap Dina, menyodorkan makanan untuk Damar.
Dan Dina menambahkan lagi cabe di makanan nya.
"Sudah,, nanti kamu sakit perut."
Tangan Damar menahan tangan Dina yang terus menambah cabe di mie nya.
"Tapi ini gak pedas kok mas."
Sanggah Dina.
"Saya bilang sudah, ngeri saya lihat mie kamu, cabe semua, sudah jangan Di makan."
Ucap Damar mengambil piring milik Dina.
"Eeehhh gak mau,, aku mau makan ih.."
Tukas Dina menarik kembali piring nya.
" saya bilang, SUDAH. "
Damar menekankan suara nya, Dia menatap Dina dengan tajam, seolah tidak suka jika Di bantah.
Dan Dina pun hanya diam mematung, dia sadar Damar benar benar marah,
"Makan ini."
Ucap Damar menyodorkan makanan nya.
Dina mengambil nya dan mengambil satu suap penuh, dan menyodorkan pada Damar.
"Aaaaa...."
Pinta Dina pada Damar agar membuka mulut nya, dan tentu saja Damar tidak menolak nya.
"Kamu tidak makan.? "
Tanya Damar, karena Dina hanya menyuapi nya.
"Enggak masih kenyang."
Jawab Dina pendek.
Damar memgambil sendoj yang ada di tangan Dina, dan mengambil nasi lalu menyodorkan nya pada Dina.
"Aaaaaa......."
Pinta Damar pada dina agar membuka mulut nya.
"Aaaa..."
Damar mengulang nya lagi karena Dina tidak mau mebuka mulut nya.
"Mass,, apaan sih.."
Dina merona malu.
Karena Damar memaksa akhir nya Dina mebuka mulut nya dan hendak melahap yang ada di sendok.
DAMMY,,,,,
how are you dear,
__ADS_1
i miss you so much