
Selepas kejadian kencan yang gagal, Damar dan Dina belum bertemu, karena seminggu ke belakang Damar berada di luar kota, dan weekend ini baru kembali pulang ke ibu kota.
Hari ini Dina menjemput Jaka dari bandara, semenjak bekerja di luar negri sang kakak hanya menyempatkan pulang satu bulan sekali, itu pun hanya dua atau tiga hari, setelah itu kembali meninggalkan ibu kota.
"Na,,,NANA,,"
Teriak jaka berjalan menghampiri Dina, seperti nya pesawat yang di tumpangi Jaka baru saja mendarat.
"Kakak,,, sekarang jarang pulang yah. Harus nunggu sebulan dulu baru bisa ketemu."
Tutur Dina menghambur ke pelukan sang kakak.
"Iiissshhh,, kenapa jadi manja gini, harus nya setelah punya tunangan kamu lebih dewasa."
Seru jaka mengusap kepala Dina tanpa melepaskan pelukan nya.
Kakak beradik itu berjalan keluar menuju bandara, jika tidak mengenal nya, pasti orang lain akan menyangka mereka adalah sepasang kekasih,
Dina menggandeng erat lengan kakak nya, yang dibiarkan saja oleh jaka, tidak seperti biasa nya yang enggan jika adik nya berlaku manja di depan umum, untuk hari ini jaka membiarkan Dina seperti itu.
karena rasa rindu yang jaka rasakan pada adik nya lebih besar dari rasa malu nya jika dilihat orang orang. Rasa nya berat jika suatu saat Dia harus melepas Dina untuk menikah.
Untuk saat ini, jaka ingin menikmati kedekatan nya dengan adik nya tanpa ada rasa tidak enak pada laki laki yang akan menjadi suami adik nya nanti, laki laki yang akan dia panggil sebagai adik ipar.
"Gimana hubungan kalian,"
Tanya jaka saat kedua nya telah berada nyaman di dalam mobil.
"Siapa.?" Tanya Dina.
Melajukan mobil nya.
"Ya,, siapa lagi, memang kamu punya berapa tunangan.?" Seru jaka.
"Oh,, baik." Jawab Dina.
"Kamu sudah jawab lamaran nya.?" Tanya Jaka tiba tiba.
Eeehh lamaran apa.? Siapa.? Masa iya kakak tau kalo mas Damar sering ngajak aku nikah, padahal kan mas Damar hanya iseng mengajak aku menikah, belum pernah melamar resmi,atau jangan jangan, mas Damar......
"Na,,, kok melamun,?" Ucap Jaka menggoyangkan lengan Dina.
"Fokus kamu, lagi nyetir."
"Iyaaaa,," jawab Dina malas.
"Dih,, kakak sok tau, Kata siapa mas Damar melamar.? " lanjut nya.
"Sebelum Dia menanyai kamu, Dia sudah bilang pada kakak terlebih dahulu," jelas jaka.
"Hhhhaaahhh,, terus kakak bilang apa.?"
Desak Dina.
"Yaaa,, kakak bilang di kembalikan lagi sama kamu, jawaban kamu gimana.?" Kembali jaka bertanya.
Eemhhh,,,, Dina hanya diam berfikir.
Kriiing.... kriiing...
"Naaahhh Nih panjang umur, Dia menelepon."
Ucap Dina sambil nyengir.
"Iyaaa .mas, assalamualaikum "
Seru Dina mengangkat panggilan.
Lagi di mana.? Seperti nya di luar.?.
"Eemmhh,,, iya,,Pulang Dari bandara, jemput kakak, maaf tadi lupa ngabarin, soal nya buru buru."
Kamu nyetir.?
"Iya,,,"
Hati hati,, setelah sampai Rumah kasih tau.
"Iyaa,,,"
Tut...tut...tut...
"Tuuuh,, baru aja di omongin orang nya nelepon. Haha"
"Kamu nyaman tidak na sama Dia.? Dia memperlakukan kamu kayak gimana Na.? "
Tiba tiba pertanyaan jaka membuat Dina tercekat, selama ini jaka tidak pernah menanyakan soal hubungan nya dengan Damar, Jaka tidak terlalu ikut campur dalam urusana hubungan adik nya.
Dina menoleh melihat sang kakak, ada raut sedih di wajah nya, entah apa yang di pikirkan Jaka.
"Kakak,, kenapa.? "
__ADS_1
"Kakak takut salah mengambil sikap Na, kakak takut terlalu memaksa, setelah kamu bertunangan dengan Dia sebenarnya kakak sedikit lega, karena kakak tahu, orang seperti apa Dia, tapi kakak sedikit melupakan persaan kamu Na, maafkan kakak." Lirih jaka, menatap lurus ke depan.
"Kakak,, Nana bahagia kok, kakak tidak salah pilih, mas Damar baik sama Nana, dia sangat memperhatikan Nana, bahkan sekarang Dia sering main kerumah kalau ada waktu luang. Dan lagi, mas Damar tidak pernah jahat sama Nana, kakak gak usah khawatir ya.."
Jelas Dina. Berusaha menenangkan kakak nya.
"Kamu mencintai nya Na.?" Tanya Jaka tanpa mengubah pandangan.
"Iissshhh kakak,, kok nanya nya gitu, ini kan masalah persaan," ucap Dina melotot.
"Kamu masih Ragu sama Dia na. Kenapa.? Katanya orang nya baik.?" Tanya Jaka lagi.
"Nana takut kak, Nana takut tidak pantas bersanding sama mas Damar." Ucap Dina pelan.
"Kenapa.?" Tanya jaka heran.
Dina menggelengkan kepala.
"Apa yang buat kamu berfikir seperti itu.?"
Dina tetap Diam.
"Dia selalu protes sama penampilan atau sikap kamu.?"
"Atau Dia mau merubah kamu seperti apa yang Dia mau.?? Hhmm.?" Desak Jaka.
"Eeehh tidak,, bukan begitu." Sanggah Dina.
"Mas Damar gak pernah mempermasalahkan penampilan atau sikap aku, bahkan kata nya nana lebih cantik pakai kerudung, dia tidak suka sama perempuan yang mengumbar aurat nya,,
Diiihh,, kata nya tidak suka, mantan nya aja seksiiiii bener, geli aku lihat nya."
Dina melotot menutup mulut nya dengan satu tangan nya sendiri. Dia kaget apa yang Dia ucapkan barusan.
"Kenapa kamu.? Cemburu.?" Ucap Jaka mengulum senyum, mendengar ucapan adik nya.
"Kakak,, iihhh." Dengus Dina mengarahkan pandangan pada kakak nya.
"Eehh lihat ke depan kamu, nanti celaka. Fokus."
Semergah Jaka, menunjuk ke kaca mobil depan ke arah jalan.
Dina pun melajukan mobil nya dengan wajah yang cemberut, sampai depan pagar Rumah, Jaka turun dari mobil. Dia membawa koper kecil milik nya.
"Na,,, kaka duluan ya, cape, belum tidur."
Lontar Jaka masuk ke rumah tanpa membukakan gerbang pagar.
Jaka sengaja membuat Dina kesal.
"Eeehhh kakak,, di bukain dulu pagar nya, ini malah kabur aja." Dengus Dina turun dari mobil.
Dari dalam Rumah jaka terkekeh.
"Iihh Dasar pikaseubeleun (ngeselin),, udah di jemput malah di tinggal, awas kamu kak,"
Masih saja ngedumel saat memarkirkan mobil nya.
Saat masuk ke dalam rumah terlihat Jaka sedang duduk santai di sofa ruang tengah, dengan Tv yang menyala dan memegang secangkir teh hangat.
"Sini na.." ucap Jaka menpuk sofa di pinggir tempat duduk nya.
Dina hanya melengos kesal, tidak di gubris panggilan kakak nya.
Tapi saat hendak pergi, Dina melihat ada dua cangkir teh hangat di atas Meja.
Untuk siapa. Fikir Dina.
"Sini,, mau cerita gak.?" Ucap Jaka menggoda.
Cerita apa.? Memang nya aku bilang mau curhat apa.? Perasaan gak tuh.
Batin Dina tetap berjalan menuju kamar nya.
"Yaaa,, kalau cemburu memang gitu Na, suka implusif." Goda Jaka.
Dina berbalik cepat, melotot kesal dan hendak mengomel.
"Niihh,, teh kamu." Sodor Jaka, yang membuat Dina tidak jadi mengomel.
"Buat aku kak.?"
Jaka mengangguk. "Duduk"
"Aaahhh makasih.." Dina duduk dan mengambil cangkir teh hangat dari Jaka.
"Kak,,," seru Dina.
"Hhhmm..." sahut Jaka.
"Menurut kakak, Nana pantes gak sama mas Damar.?" Tanya Dina.
__ADS_1
Mungkin dengan bercerita pada orang yang tepat akan membuat perasaan nya lebih baik.
"Kenapa memang.?" Tanya Jaka, meminum teh nya.
"Kakak tau Samantha.?"
"Siapa Dia, gak tau.?"
"Itu loh, Samantha Vallery, model yang dari Luar negri itu, model yang beberapa tahun ke belakang tinggal di sini, dan jadi Brand Ambasador di sini, itu loh kak, model seksi yang katanya akan menerima tawaran main film. Masa gak tau sih."
Jelas dina panjang lebar, tapi tetap saja Jaka hanya menggeleng.
"Niiiihh yang ini orang nya,, suka baca berita gak sih." Tukas Dina menunjukan Foto di layar handphone nya.
"Terus, inti nya dia siapa.? Maksa banget kamu, memang kakak gak tau siapa Dia, kenalin atuh sama kakak, sugan we jodoh na (siapa tahu jodoh nya) " goda Jaka lagi.
"Hahaha,,, kakak aneh, udah lama Nana gak denger kakak ngomong sunda, sekarang denger kakak ngomong sunda jadi kaya si kabayan... hahaha" ledek Dina pada kakak nya.
"Terus siapa wanita itu.?" Decak Jaka.
"Hehe,, iya,, itu mantan nya Mas Damar." Tukas Dina.
"Tau dari mana kamu.?" Slidik Jaka.
"Kita pernah ketemu di mal, waktu itu kita mau nonton, dan tiba tiba saja Dia datang, dan......"
"Dan apa.? " potong Damar.
"Dan iya,, Dia cantik banget dan sexy... haha" Dina tertawa getir.
Jaka hanya melihat Dina tanpa ekspresi.
"Apa yang membuat kamu insecure.?"
"Apa... gak ada." Sanggah Dina.
"Kamu gak perlu peduli dengan orang lain, apalagi itu masa lalu nya, yang sekarang itu adalah Kamu tunangan nya, Dia memilih kamu, berarti kamu lebih baik dari sisi manapun di banding dengan Dia." Beber Jaka.
"Tapi kak, Dia bilang, dia adalah wanita yang paling di cintai mas Damar sebelum aku,, kan aku jadi nya kesal." Lirih Dina.
"Peeeffft,,,Bang Damar belum pernah bilang Cinta sama kamu na.?" Cibir jaka menahan tawa.
"Kakak iiihhh,, bukan itu.. maksud Nana, wanita itu kelihatan nya deket banget dulu Sama mas Damar, dia terus terusan memeluk mas Damar, di depan aku lagi.. tak tau malu." Dengus Dina.
"Naa,, kakak kasih tau ya,, tipe laki laki seperti bang Damar itu gak akan semudah itu mengumbar kata cinta," timpal Jaka.
"Iiihh kakak maksud Nana bukan itu..." sela Dina cemberut.
"Sudah laahh, kakak yakin Dia memperlakukan dengan baik, sebatas kata tidak penting, yang penting sikap dia pada kamu, kakak yakin kamu yang bisa memahami perasaan kamu sendiri."
Urai Jaka.
"Kakak... bukan itu..." killah Dina.
jelas kakak tau seperti apa mas Damar, mas Damar sama kakak kan sebelas dua bela**s.
"Masa lalu memang bagian dari kehidupan seseorang yang tidak bisa di hilangkan, entah itu baik ataupun buruk,"
"yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi masa lalu orang yang akan berhubungan dengan kita untuk masa Depan, "
"dan yang terpenting adalah masa sekarang, masa yang sedang kita jalani, kakak percaya, kamu bisa menerima semua masa lalu Dia, asalkan itu bukan sesuatu yang melanggar norma agama dan hukum." Terang Jaka lagi.
Dina terdiam cukup lama,,
Mungkin Dina menyadari bahwa Diri nya memang telah mencintai Damar, sedikit cemburu membuktikan bahwa Dia takut kehilangan Damar.
"Na.. setalah sholat dzuhur kakak mau istirahat dulu sebentar, bangunkan menjelang ashar ya..?"
Tutur Jaka pergi ke kamar nya.
"Iyaaa..."
"Setelah berbicara sama kakak, aku merasa sedikit lega, kecemasan ku akan masa lalu mas Damar membuatku merasa lebih tenang, benar kata kakak, sekarang Mas Damar memilih aku, berarti aku seribu kali lebih baik dari wanita itu,
meski mas Damar belum mau membuka kisah masa lalu nya dengan ku, tak apa, aku bisa melihat dan merakan, kisah kasih masa lalu Dia seperti nya meninggalkan kesan buruk,
Terlihat sekali saat pertemuan waktu itu, seperti nya pertemuan itu adalah pertemuan mereka setelah sekian lama, mas Damar seperti tercekat kaget, dan di tambah lagi dengan wanita itu terus memeluk seperti melepas Rindu.
Tadinya aku ingin memberi tahu kejadian waktu itu pada kakak, namun aku urungkan kembali, aku takut itu adalah hal privacy buat mas Damar, makanya sampai saat ini Dia belum bercerita apa apa pada Ku,
dan aku tidak masalah akan hal itu, aku akan menunggu sampai mas Damar siap. Sampai mas Damar mempercayai bahwa aku pantas untuk tau kisah masa lalu nya.
Aku bahagia mempunyai kakak seperti kak Jaka, aku tau Dia lelah, tapi Kakak masih sempat nya mendengarkan cerita ku, memberikan aku rasa tenang, mungkin kakak tau kalau aku sedang memikirkan sesuatu, maka dari itu dia menyempatkan untuk Duduk dan mengobrol dengan ku.
Kriiingg... kriiingg....
Lamunam Dina terhenti saat dering di Handphone nya berbunyi, tertulis nama si pemanggil dengan jelas..
(RIRIWA)
"Yaaa ampun mas Damar, aku lupa."
__ADS_1