
(Flash back on)
Damar poV.
"Boss,, untuk meeting hari ini di cafe XWX, gue udah siapin semua nya, gue ambil dulu mobil, gue tunggu di bawah." tutur Rommy saat hendak ke luar ruangan ku.
Eh iya,, Cafe itu kan di mal deket kampus nya Dina,
Aku jadi bisa jemput Dina untuk pulang kalau begitu.
"Rom, gue bawa mobil sendiri saja, nanti gue mau ke kampus nya Dina."
Jelas ku menghentikan Langkah Rommy.
"Ohhh, oke boss."
Aku pergi bersama Rommy dan novi sekertaris ku, mereka terlebih dahulu sampai di cafe,
Ketika aku sampai di lokasi, aku melihat mereka duduk dengan dua orang pria dan satu wanita.
Dari jauh Aku memperhatikan wanita yang bersama client ku, semakin dekat semakin tidak asing bagi ku, semakin aku berjalan mendekat semakin jelas Aku mengenalnya.
Kenapa ada wanita itu,
Untuk apa Sam ada di sini.
Seketika aku merasa kesal, ada rasa ingin meluapkan kemarahan, setelah beberapa waktu lalu bertemu dengan Sam, Aku berusaha berdamai dengan perasaan Ku,
Tertinggal Rasa benci yang amat mendalam pada wanita itu, tidak ada rasa ataupun merindukan nya, jangangan cinta, untuk menyimpan Nama nya di fikiran Ku saja, sudah membuat Aku merasa sakit dan sesak.
setelah kejadian tempo hari,
Aku bertekad pada diri ku sendiri untuk melupakan masa masa saat bersama wanita itu, termasuk masa masa indah di saat aku sangat mencintainya, Mencintai seorang Samantha Vallery.
Awal nya Aku enggan untuk duduk bersama dengan Sam, namun karena Aku bertekad, ingin menghapus nama Sam sebagai masa lalu dalam ingatan Ku, Aku bersedia berbicara dan duduk bersama.
Aku akan membuktikan pada Sam dan diri ku, bahwa tidak ada lagi tempat di hidup Ku untuk seorang Samantha Vallery, karena kini ada perempuan Baik yang Aku pilih sendiri.
yang nama nya kini telah terukir dalam Hati Ku, perempuan yang setiap waktu membuat Ku merasa Rindu, dan bersamanya selalu menjadi hal yang ku tunggu, perempuan Naif yang tak akan pernah Aku lepaskan, Dina Aryanti Dewi, nama itu lah yang telah merubah hidup Ku.
"Dammy,,,"
Dia bergumam, saat melihat Ku.
"Damar,,,"
tutur ku, saat bersalaman dengan kedua client Ku.
Saat hendak bersalaman dengan Sam, Aku menahan tubuh nya untuk tidak mendekati ku, kerena Sam mendekatkan pipi nya untuk di tempelkan pada ku, namun dengan sigap aku menghindar.
"Silahkan Duduk"
pinta ku pada semuanya.
Sam duduk paling akhir dengan wajah yang kesal, aku tau mendapat penolakan, bukanlah kebiasaan Dirinya.
Rommy menjelaskan untuk meeting hari ini adalah peluncuran produk baru, produk Fashion khusus untuk pasangan, atau sering di bilang couple clothes. Dan untuk model wanita nya adalah Samantha Vallery.
Aku tidak berkata apa apa, namun aku yakin Rommy tau apa yang ada di Fikiran ku, maka dari itu Rommy menjelaskan bahwa ini adalah permintaan langsung dari Investor, yang menunjuk Sam sebagai Brand dari produk baru yang akan di luncurkan.
Dan Aku pun, tidak bisa berbuat apa apa, hanya menerima dan menuruti saja, dan lagi, Aku juga akan menunjukan bahwa seorang Samantha Vallery, untuk sekarang tidak memiliki arti apa apa dalam hidupku.
Setelah pembicaraan mengenai pekerjaan hampir selesai, Aku meminta izin untuk pergi ke toilet, saat sampai di depan pintu toilet Aku menelepon Dina agar menunggu Aku untuk menjemputnya, namun Dina meolak dan Aku tidak bisa memaksa.
Setelah urusan Ku dengan toilet selesai, Aku kembali lagi pada meja yang sebelumnya Aku tempati, ternyata posisi duduk yang tadi berjauhan dengan Sam, menjadi berubah.
Kursi kosong yang di sisakan untuk ku duduk adalah tepat di samping tempat duduknya Sam, seperti nya Sam berpindah posisi saat Novi sedang pergi, dan Sam terus melempar senyum menggodanya saat Aku mendekati meja.
Cih,,, kenapa aku begitu jengkel saat dia seperti itu.
Aku mematung di depan meja, Aku menghamburkan pandangan dan berputar melangkahkan kakiku menuju kursi yang di duduki Rommy.
Aku berdehem dengan keras, Rommy yang sibuk membahas Dokumen dengan Client menengadah kan kepalanya, melihat ke belakang dan langsung berpindah saat tau kalau Sam duduk di kursi yang tadi di tempati Novi.
Dan meeting di lanjutkan dengan posisi Aku duduk berjauhan dengan Sam. Dan beberapa saat di sela Rapat Aku mendapati sesuatu yang menarik perhatian ku, dengan duduk di kursi yang baru Aku duduki.
Aku Duduk di kursi yang awalnya di tempati Rommy, Aku menyipitkan mata dan menajamkan pandangan ku pada meja di depan ku, yang hanya terhalang oleh dua meja lainya.
Terlihat ada tiga pria dan empat perempuan sedang bersenda gurau, dengan beberapa buku dan laptop di meja mereka, dapat di pastikan mereka adalah mahasiswa yang sedang mengerjakan tugasnya.
Namun Aku mengenali siapa salah satu perempuam itu, perempuan yang memakai kemeja marun bercorak bunga dengan bawahan rok yang panjang nya sampai mata kaki, terlihat begitu manis dan menawan dengan rambut yang di biarakan terurai.
Sedang apa anak itu di sini.?
Apa karena ini dia tidak langsung pulang, pantas saja, dia bersenang senang dengan teman teman nya....
Gumam ku melihat ke arah meja Dina, dan teman temannya.
Kurang ajar, itu bocah yang tadi menabrak ku di toilet, kenapa bocah laki laki itu mendekatkan kepala nya pada Dina, terlihat sekali dia mendekati Dina, dan itu lagi,, anak yang di belakangnya dengan sengaja mendorong kepala teman nya agar mengenai Dina, waah benar benar bocah itu, berani berani nya Dia.
Pemandangan di depan ku menganggu fikiran ku,
dan terhenti saat Rommy berdehem dan mengatakan meeting telah selesai.
Namun saat Aku hendak pergi, Sam menahan langkah Ku, Dia bilang ingin menyampaikan sesuatu padaku,
Huuuuhhhfft,, sebenarnya betapa jengkelnya aku saat Dia meminta ku untuk tidak pergi dengan gaya Manja yang di buatnya menggoda, yang lebih menjengkel kan lagi Dia melakukan itu di depan Client ku, yang membuat aku tidak bisa menolak nya.
"Baiklah,, kamu tunggu,
Saya mau menyampaikan sesuatu pada novi sekertaris saya."
__ADS_1
Ucap ku dingin pada nya, namun tetap saja Dia tersenyum menggoda.
Cih,, kamu wanita macam apa sekarang Sam. Dengan paras mu yang cantik, kau fikir bisa membuatku melupakan semua.
Setelah aku kembali, lagi lagi Sam tersenyum pada ku, ada rasa sesak di benak ku saat dia melempar senyumya pada ku,
Senyum nya mengingatkan ku akan masa lalu,
Senyum itu yang menguatkan ku, dan senyum itu pula yang menghancurkan kepercayaan ku.
Dasar wanita licik.
Namun tidak lagi, sekarang ada gadis polos di dalam hidup ku, perempuan yang akan selalu ku jaga, perempuan yang aku yakin akan membuatku bahagia, dan perempuan itu....
"Mass, sudah meeting nya."
Tiba tiba perempuan itu datang menghampiri ku, tadinya aku berniat yang akan menghampirinya, tapi mungkin karena dia melihat ku, jadi Dia menghampiri ku terlebih dahulu.
Dengan melingkarkan tangan nya di bahu ku, dan kemudian dia menyenderkan kepala nya, ku rasa aku tahu dia sedang merasa Cemburu, karena aku duduk berdua dengan wanita lain.
Sepertinya kelakuan Dina membuat Sam merasa kesal, begitupun sebaliknya, saat sam menyebutnya gadis Norak, Dina semakin jadi berlaku manja pada ku, dan dengan lantang mengakui aku sebagai calon suami nya.
Sontak aku merasa heran, dan tentu nya aku sangat menikmati nya. Sampai akhir nya Dina mengajak ku pergi meninggalkan Sam, tanpa aku tau yang sebenarnya maksud Sam menahan ku untuk duduk bicara berdua dengan nya.
Sudah lah, aku memutuskan meninggalkan masa lalu ku, maka kini aku hanya akan melihat Dina sebagai masa depan ku.
(Flash back off)
"Mas, aku gak pernah mempermasalahkan tentang masa lalu kamu, mantan mantan kamu, dan semua yang berhubungan dengan kamu sebelum aku bertemu dengan kamu, aku gak perna mengeluh. Selama itu tidak adak sangkut paut nya dengan aku....." Decak Dina dengan nafas yang ter engah engah.
"Tapi kalau masalah ini, aku mau protes, apa tidak bisa jika kamu menolak mas,," lanjut Dina ragu.
"Boleh aku teruskan, kamu silahkan duduk." Tutur Damar, meraih tangan Dina yang sedang berdiri.
Dina melunak dan duduk dengan tenang, meski nafas nya masih naik turun, tapi Dina bisa menjaga emosinya.
"Tapi aku gak suka mas Damar pergi berdua sama Dia, apalagi pergi nya diem diem."
"Diam diam gimana.?" Sanggah Damar.
"Tadi mas kan bilang lagi meeting, ternyata...."
"Ternyata apa.?" Potong Damar
"Aku memang lagi meeting, tadi gak hanya aku dan Sam saja, ada Client lain, Rommy sama Novi juga ada sana" lanjut Damar.
Dina hanya mendengarkan dengan cemberut.
"Kami akan meluncurkan produk baru, dan investor meminta kami untuk menjadikan Sam sebagai Brand nya, awal nya aku berat untuk menerima, banyak sekali pertimbangan yang harus aku fikirkan, terutama kamu,"
"Meski aku tidak pernah menceritakan tentang kisah aku dan Sam, tapi aku yakin kamu bisa menebak siapa Sam itu dalam cerita masa lalu ku."
"Namun mau bagaimana lagi, ini adalah pekerjaan, aku tidak mau mencampur adukan masalah pribadi ku dalam pekerjaan ku, yaaa aku tau, aku bisa menolak nya, tapi aku memutuskan untuk menerima nya."
"Karena apa, karena aku ingin membuktikan pada diri ku sendiri bahwa Sam hanya masa lalu, dan tidak berarti apa apa, dan kamu adalah alasan yakinnya aku, untuk berhenti bersembunyi dan menghadapi semua ini, menghadapi masa laluku."
"Kenapa jadi aku.?" Sergah Dina.
"Cih,,,Pertanyaan konyol,, "
"Yaa, karena kamu masa depan aku Dina, aku tidak mau kisah masa lalu aku menjadi ganjalan untuk hubungan kita,." Tukas Damar.
Dina hanya Diam.
"Cukup satu kali kamu melihat aku terpuruk seperti kemarin, aku memang belum menceritakan semua nya sama kamu, semua tentang kisah masa lalu antara aku dan Sam. Dan awal nya aku pun tidak mau kamu mengetahui nya, sampai kamu bertemu Sam, terpaksa aku harus membuka luka lama yang begitu menyakiti ku."
" Intinya, dulu aku sangat mencintai Sam, aku percaya Sama Dia, namun pada akhir nya Dia menghianati aku, Dia yang paling menyakiti aku, dan Sekarang aku benar benar ingin melupakan nya, melupakan semua nya, dan itu semua karena kamu, karena sekarang aku punya kamu, karena kamu berarti buat aku Din,"
Dina menghela nafas,,
mendengar pengakuan Damar tentang betapa cinta nya Dia pada Samantha dulu memang sedikit menyakitkan, pasal nya Dina bertunangan dengan Damar bahkan tanpa Cinta, dan sampai sekarang pun diantara mereka berdua tidak pernah terucap kata Cinta.
Namun ternyata Cinta tidak menjadi jaminan,
Dia mengingat ketika Damar terlihat menyedihkan saat bertemu dengan Sam, terlihat sekali itu adalah pertemuan pertama setelah sekian lama mereka tidak bertemu. dengan Ekspresi Damar yang merasa tercekat dan kaget.
Penjelasan Damar tentang mengambil perkerjaan bersama mantan kekasih nya membuat Dina berfikir dengan keras dan hati hati, dia tidak mau salah mengambil sikap karena dengan emosi.
"Bagaimana, .???" Tanya Damar. Meraih tangan Dina di atas meja.
Dina bukan wanita egois yang tidak mendengarkan orang lain, di satu sisi Dina kesal melihat tunangan nya dengan wanita lain, di satu sisi lagi Dina juga harus memberi kesempatan untuk Damar bisa melupakan semua masa lalu nya, bukan dengan lari atau bersembunyi, tapi dengan menghadapi nya.
"Hhhmmm,, iya." Dina mengangguk perlahan.
Meskipun Dina yakin Damar adalah laki laki yang bertanggung jawab yang akan menjaga sikap dan janji nya, tetap saja ada kekhawatiran karena Samantha dulu adalah wanita yang di cintai tunangan nya.
"Nah, sekarang Dina yang pengertian sudah kembali, welcome back,," goda Damar, mengusap usap tangan dina.
"Apaan sih." Dengus Dina.
"Din," lontar Damar, berpindah tempat duduk,
Sekarang mereka duduk berdampingan, dan Damar merangkul Dina, memegang bahu Dina, dan menikmati taman yang asri di luar jendela kaca.
"Hhhmm,," sahut Dina,
"Kamu tau,, saat kamu memperlakukan ku dengan hangat, semua beban ku merasa hilang. Aku nyaman berada di sisi mu, aku merasa beruntung mendapatkan kamu."
"Dan waktu tadi kamu marah, karena kamu cemburu melihat aku dengan wanita lain,,, "
"Aku gak cemburu mas,,," potong Dina..
__ADS_1
"Iyaaa kamu kesal.." lanjut Damar.
"Saat kamu seperti tadi, aku merasa kamu takut kehilangan aku,, dan aku merasa berharga di mata kamu." Tutur Damar.
Semakin mengeratkan tangan nya di bahu Dina.
"Maaf jika aku tadi keterlaluan, aku kurang mengontrol emosi ku." Lirih Dina.
"Enggak, aku menyukai nya, kamu menggemaskan tadi. " tukas Damar.
"Dih, apaan sih, aneh." Gumam Dina, merasa malu akan ucapan dari Damar.
"Kamu mencintaiku Din.?" Tanya Damar.
Dina terdiam, dia kaget dengan ucapan Damar, semua fikiran tentang Cinta kembali memenuhi Fikiran nya, entah Dina mencintai Damar atau tidak, namun untuk sekarang Dina merasa nyaman di sisi Damar, dan tidak mau jika kehilangan Damar.
"Din...." ucap damar menepuk pundak Dina.
"Eh iya,," sahut Dina.
"Kamu melamun.?" Tanya Damar.
Dina menggeleng.
Damar tersenyum, " Dimakan cake nya."
Sodor Damar menyendokan cheesecake milik Dina.
Dina membalas senyum nya, dan mengambil sendok dari tangan Damar, namun Damar menghindar dan membiarkan sendok berada tetap di tangan nya.
"Aaaa.."pinta Damar.
Dina merona malu, dan menggeleng.
"Mass,,,"
"Aaaa.." ulang Damar. Tetap menyodorkan sendok di depan wajah Dina.
Dan Dina membuka mulut nya, dan melahap cheesecake yang ada di atas sendok.
"Enak.?"
Hhhmm, Dina mengangguk.
Damar menyendokan kembali cheesecake dan memasukan kedalam mulut nya.
"Mas,, itu sendok aku." Din melotot kaget.
"Memang kenapa.?" Tanya Damar heran.
"Itukan bekas aku,," ucap Dina mengambil sendok dari tangan Damar.
"Kenapa kamu mengelap nya.?" Tanya Damar semakin heran,
karena melihat Dina yang membersihkan Sendok dengan tisyu.
"Iyaaa,, ini kan sendok aku, terus di pake mas Damar, kita itu secara tidak langsung sudah..... eh maaf."
"Sudah apa.?? " Sahut Damar.
"Hehe,, enggak,, lupakan." Ujar Dina.
"Secara tidak langsung sudah berciuman bukan.??" Papar Damar, membuat Dina kaget.
Dina melotot dan dengan spontan membekap mulut Damar, dia tidak mau jika orang lain mendengar nya. " mass,, apaan sih."
Damar dengan iseng membuka mulut nya dan menggigit pelan telapak tangan Dina.
"Aaawww,,," pekik Dina melepas bekapan nya.
"Kenapa.?" Tanya Damar, menahan senyum.
"Kenapa,, kenapa.," jawab Dina kesal, mengelap tangan nya.
"Lah, kok marah. Sakit memang.?" Goda Damar.
"Lagian ngapain kamu membekap mulut ku, aku kan sedang makan, jadi salah makan kan.?" Lanjut Damar.
"Dih, salah makan, ini cake, yang ini tangan, bisa bedain gak.? Alasan saja." Dengus Dina menunjuk kue dan tangan nya.
"Iisshh,, Kamu lagi, ada ada saja, teori dari mana itu, makan satu sendok bersamaan, sama dengan ciuman tak langsung," desis Damar.
"Iiihh kamu mas, bisa gak ngomong nya pelan pelan, kita lagi di luar, malah bahas ciuman."
Decak Dina, membisikan suara nya. Mendelik kesal.
"Memang nya kamu pernah berciuman, sok sokan membuka pembahasan tentang berciuman.?" Goda Damar, karena melihat muka Dina semakin memerah karena malu.
"Iiihhh,, nyebelin kamu mas." Desis Dina melotot dengan kesal.
"Lah, malah marah, pernah gak.?"
Damar terus menggoda.
Dina semakin merengut kesal.
"Mas,," Dina melotot.
"Hahhaa,,, iya,, sudah sudah." Ucap Damar mendekatkan dina di pelukannya dan menepuk kepalanya lembut.
SISSY,,,,,
__ADS_1
Tiba tiba teriakan seseorang membuat Dina menyisir ruangan, mencari dimana suara itu berasal.
SISSY,,,,,