Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
55. Usaha Kedua Sam


__ADS_3

Maaf aku belum bisa kembali.


Selama seminggu ini hanya pesan seperti itu yang Dina dapatkan, dan sambungan telepon yang hanya di saat makan siang saja, karena jika Dina yang  balik menelepon tentu tidak ada jawaban dari Damar, mungkin Damar benar benar sibuk.


Sebenarnya ingin sekali Dina membahas tentang foto foto yang Sam tunjukan padanya, namun, Dia urungkan niatnya karena tidak mau menambah fikiran Damar di sana, mungkin lebih baik di bicarakan setelah Damar pulang dan bertemu langsung.


Dina terus memandangi layar Handphone nya, entah apa yang dia fikirkan, setelah kelulusan nya dia merasa bingung mau melakukan apa, karena untuk bekerja tentu Damar melarang nya, namun jika terus begini Dina mungkin akan berusaha membujuk tunangan nya agar bisa bekerja.


Akhirnya Dina bersiap untuk pergi ke luar lagi karena bosan, setelah kemarin kemarin mengajak adiknya, hari ini Dina mengajak ketiga temannya,


Dia akan sengaja menghamburkan uang yang di berikan Damar dalam Debit card nya.


Sebenarnya Dina bukanlah perempuan yang senang membuang buang uang, namun karena moodnya sedang tidak baik, entah karena Damar tak kunjung kembali atau karena pengaruh hasudan Sam, Dia ingin menarik perhatian Damar, dengan membelanjakan uang yang Damar kasih, lebih dari biasanya.


Namun tetap saja, meski sudah berbelanja dengan amat banyak, Damar tak berkomentar banyak . Setelah menanyai Dina berbelanja apa saja dengan uang dalam debit cardnya, Damar hanya berkomentar "baik lah, lakukan sesuka mu, bersenang senang , agar kamu tidak bosan." Sungguh bukan yang Dina harapkan.


Dina sengaja memakai debit card, karena pasti ada notifikasi pada Damar, namun ternyata berbelanja super banyak bukanlah hal yang bisa menarik perhatianya. Dan


kali ini Dina akan mengajak teman teman nya untuk menikmati hari tanpa perlu memikirkan tagihan.


Dia pergi dengan gontai, hari ini Dina dan ketiga teman nya akan pergi menonton dan berbelanja.


"Ada angin apa nih tiba tiba ngajak jalan." Ucap Riska menaiki mobil yang di bawa Dina.


"Bawel lu, cepet masuk." Sahut Dina.


Setelah Riska, Dina menjemput Eva, karena rumah Fira agak jauh, jadi Dina meminta Fira beretemu di lokasi.


Sesampainya di tempat tujuan, mereka membeli tiket untuk menonton Film, membeli pop corn dan soda untuk masing masing.


Meski awalnya mereka berdebat untuk menentukan film apa yang akan mereka tonton, namun pada akhirnya Mereka menonton Film horor, sesuai pilihan Eva dan Riska, karena Dina dan Fira cenderung lebih suka Film bergenre romantis dari pada Film horor.


"Eh, itu bukanya temen tunangan kamu na.?" Tunjuk Fira pada laki laki di kursi depan baris ke dua.


"Yang mana.?" Sahut Dina.


"Itu yang pake kaos item."  Tunjuk Fira.


"Aduuh, kamu pake tunjuk tunjuk segala, mana gak kelihatan, udah lah, mungkin orang lain." Desis Dina karena Fira menunjuk sampai orang lain memperhatikan.


Lampu di matikan, dan film akan di mulai.


Film yang berdurasi satu jam lima puluh menit itu telah di putar, yang di tengah film beberapa kali di iringi oleh teriakan para gadis, yang spontan memeluk dan menyembunyikan wajah nya pada pria di sebelahnya.


"Naa,, takut." Tutur Fira memeluk lengan Dina.


"Sama aku juga takut, lagian kenapa nonton ginian sih," sahut Dina menyikut lengan Eva.


"Seru tahu." Sambung Eva.


Saat melanjutkan menonton, Dina malah teringat pada tunangannya yang sedang bekerja di luar kota, bila di ingat, belum pernah sekalipun Dina dan Damar menonton Film bersama, dulu pernah hampir menonton, namun tidak jadi karena bertemu dengan Samantha.


Kenapa akhir akhir ini aku sangat merindukan kamu mas, kamu bilang cuma satu hari, ternyata sudah satu minggu kamu belum kembali. Apa kamu tidak merindukan ku mas.?


Dina hanyut dalam fikiran nya.


"Na,, ayok, nunggu apa sih.,?" Fira menarik tangan Dina.


Tenyata Film nya sudah selesai.


Saat mengantri menuju pintu keluar, ada laki laki yang sengaja menghimpit pada Dina dan teman teman nya.


Awalnya Dina biasa saja, namun setelah laki laki itu berbisik, Dina heran dan menatapnya dengan aneh.


"Boleh minta kontak nya.?" Bisik laki laki itu di belakang kepala Dina.


Dina menggeleng lalu meninggalkan nya.


Laki laki yang seusia dengan Dina itu terus mengikutinya dan teman teman nya.


Awalnya para gadis itu biasa saja, namun lama kelamaan mereka merasa tidak nyaman, dan sperti biasa Eva lah yang selalu berda di depan.


"Maaf kak, ada perlu apa ya, mengikuti kami.?" Tanya Eva dengan sinis.


Laki laki itu malah tersenyum. Laki laki berkacamata dengan rahang yang tegas, tampan dan terlihat fashionable.


"Oh maaf, saya hanya ingin meminta no kontak gadis itu."tunjuk laki laki itu pada Dina.


"Saya.??" Sahut Dina melongo, dan menggeleng.


"Iya kamu, dari tadi saya memperhatikan kamu, saya tertarik sama kamu." Tiba tiba laki laki itu meraih tangan Dina.


"Maaf kak,, saya punya pacar, eh bertunangan. Maaf" tolak Dina melepaskan tangan laki laki itu.

__ADS_1


"Kamu menolak saya, bohong jika kamu tidak menyukai saya," laki laki malah memegang kedua bahu Dina dan menggoyangkan nya,


Teman teman Dina menjerit kaget, dan berusaha melepaskan cengkraman laki laki itu.


"Lepaskan." Tiba tiba ada sesorang yang datang dan menyuruh laki laki aneh itu melepaskan Dina.


"mau aku patahkan lengan mu.?" Lanjut nya. Karena laki laki itu tetap pada posisinya.


Laki laki itu malah melotot, seperti akan marah, namun tidak jadi karena melihat sorot mata yang di tatapnya lebih menakutkan.


"Ro...rro...mmy..." Ucap laki laki itu terbata.


Tanpa sepatah kata lagi, laki laki itu pergi tanpa jejak.


Para Gadis itu heran, memang apa yang Rommy lakukan hingga membuat laki laki itu lari terbirit.


Rommy adalah laki laki yang kuat dan loyal, meski wajah yang tampan dan Ramah, tapi dia bisa saja menakutkan, dan kalau perlu dia bisa saja merealisasikan ancamannya, bahkan pada seorang perempuan sekalipun. dalam pekerjaanpun dia tidak setengah setengah.


Bahkan di masa lalu, Rommy pula lah yang selalu membereskan semua masalah Damar, termasuk urusan Alex dan Sam pun selalu dalam pengawasan Rommy. Pria seperti apa tepatnya Rommy itu, di balik sikap ramahnya ternyata tersembunyi sikap dingin dan mengerikan.


"Kak Rommy, lagi ngapain di sini.?" Tanya Dina heran, setelah laki laki aneh itu berlalu. "Aku kira ikut sama Mas Damar."


"Hehe, aku menonton film Din, yang ikut Damar cuma Lia, aku jaga perusahan di sini.." Jelas Rommy.


"Tuh kan aku benar, tadi yang aku lihat itu dia na, dia teman tunangan kamu kan.??" Ungkap Fira berbisik pada Dina.


Dina mengangguk. "Kak Rommy sendiri.?" Lanjut bertanya.


"Iya,," rommy mengangguk.


"Kak Rommy sengaja ikutin aku kan.?" Selidik Dina.


"Ikutin kamu.? Ngapain,, emang aku tahu kamu ke sini, gak kan.?" Sanggah Rommy.


"Yaa bisa aja, permintaan Mas Damar, ayo ngaku." Desak Dina.


Rommy tetap menggeleng. "Enggak..."


"Ya sudah.. kami duluan ya kak." Dina pergi bersama ketiga temannya dan meninggalkan Rommy sendiri.


Rommy mengangguk.


Rommy hanya menatap punggung gadis gadis itu sampai terlihat kecil karena semakin menjauh.


Dina dan ketiga temanya mulai berbelanja dengan suka cita, membeli apa yang mereka fikir bagus dan mereka inginkan tanpa memikirkan siapa yang membayar.


"Na, ini benar gak apa apa.?" Celetuk Fira di tengah belanja.


"Gak papa, tenang aja, ini kan perintahnya mas Damar."


"Ngaco lu, pak bos kesambet.?" Eva menimbrung.


"Iyaa kali,,, katanya biar gue gak bosan, jadi lakukan apa yang gue mau, biar gue merasa senang, gitu katanya.. " Dina terus berjalan mengitari toko.


Setelah empat gadis itu puas berbelanja, mereka memutuskan untuk makan di tempat lain, keluar dari mall dan pergi ke kedai mie yang lumayan agak jauh dari tempat sebelum nya.


Mereka pergi menggunakan dua mobil, yang masing masing di kemudikan oleh Dina dan Fira.


Setalah sampai pada tujuan para gadis itu langsung duduk di tempat yang biasa mereka duduki, kedai mie ala jepang itu biasa mereka kunjungi semasa SMA, jarak nya memang agak jauh dari rumah mereka, namun mereka tetap menemukanya karena tempat yang lumayan populer.


Mereka makan dengan tawa dan canda, sesekali membahas hal receh yang membuat ke empatnya tertawa terpingkal, mereka memesan berbagai macam menu, banyak nya makanan membuat mereka duduk lebih lama, sampai mereka tak menyadari bahwa hari mulai malam.


Dan Dina baru menyadari sedari tadi pagi belum mengecek handphone nya, tidak ada pesan atau pun panggilan telepon untuk nya, entah dari jaka, ibu ataupun Damar tunangan nya. Dan itu membuat Dina merasa kecewa terlebih Damar melupakan untuk menghubunginya di waktu makan siang.


Setelah semua makanan habis Dina hendak pergi ke meja kasir. Berjalan beriringan bersama ketiga temannya, tertawa tak pernah luput dari mulut mereka.


"Maaf, boleh kita bicara sebentar.? I have something to say," tiba tiba Sam menghadang.


Ke tiga gadis teman Dina itu heran, kenapa ada Samantha datang tiba tiba dan ingin membicarakan sesuatu dengan teman mereka.


Tentu mereka heran, karena sampai saat ini, Dina hanya memberi tahu bahwa Sam adalah brand dari perusahaan Damar, itu saja. Dan Dina tidak berniat memberi tahu teman nya siap Sam bagi Damar di masa lalu.


"Please.. ini penting,, its important. " pinta Sam.


Dan akhirnya Dina meminta ketiga temanya untuk pulang terlebih dahulu. Meski awalnya eva tidak mau, karena takut Sam akan menyakiti Dina, namun Dina meyakinkan teman teman nya, bahwa Dia akan baik baik saja. dan berharap nenghormati permintaan Dina itu.


Maka pulang lah terlebih dahulu ketiga teman Dina, setelah membayar semua tagihan, Dina duduk berhadapan di meja yang dekat dengan pintu keluar.


"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan Sam, jangan berputar putar, aku pusing jadinya."


Dengus Dina karena Sam memulai percakapan nya dengan menceritakan kisah kasih di masa lalu nya dengan Damar.


"calm sweety, jangan terburu buru, aku belum selesai bercerita." Semakin Sam sengaja membuat Dina meresa kesal.

__ADS_1


Sam terus menceritakan betapa Damar dulu sangat mencintai nya dan memperlakukannya seperti apa, meski bibir nya tersenyum sinis, namun mimik muka kesal Dina terlihat jelas oleh Sam, semakin menjadi Sam terus memanasi Dina.


Karena semua yang di katakan Sam, membuat Dina secara tidak sadar merasa iri, hati perempuan mana yang tidak akan merasa marah kalau laki laki yang di sebut tunangan nya mengatakan mencintai wanita lain, meskipun hanya dalam bayangan saja.


"Kamu benar Sam, tapi itu Dulu,,, sekarang aku lah segalanya buat Mas Damar, bukan kamu." Dina memotong cerita Sam, dengan berusaha tenang Dina melontarkan kalimat nya.


Namun Sam tahu Dina termakan ucapannya.


"No,,, now it's still the same,, masih sama,"


"don't dream you Sam,, sebagai perempuan seharusnya kamu malu karena terus mengejar laki laki yang sudah tidak menginginkan kamu." Dina berusaha berbicara dengan santai.


Sam semakin menyeringai.


"look, this is the documentation when we were dating first,," Sam menunjukan beberapa lembar Foto.


Foto dahulu saat Damar dan dirinya berpacaran, Foto sepasang kekasih yang bahagia pada umum nya, foto yang lebih dominan memotret wajah keduanya, dengan Pose Sam mencium pipi Damar, pose Sam di peluk Damar, pose menjulurkan lidah, memencet hidung, dan banyak pose pose lain yang biasa di lakukan oleh pasangan.


Meski Dina tidak menyentuh lembaran Foto itu, namun Dina bisa melihat jelas isi dalam foto itu.


Semakin terlihat jelas raut wajah marah nya. Semakin Sam merasa senang.


"ayolah Sam, berhenti hidup di masa lalu, lihat lah sekarang, semua itu tidak berarti.." Dina terus berusaha tenang.


"No,,, sekarang juga masih sama,, " sanggah Sam menyeringai. Karena melihat ekspresi Dina yang mengerutkan dahinya.


Meskipun Dina terlihat tenang, namun Sam tahu bahwa Dina tidak baik baik saja.


"Look, this is real, and this is now... bukan dulu seperti yang kamu ucapkan." Sam menyodorkan handphone nya, memutar sebuah video.


Namun karena Dina enggan mengambilnya makan di simpan lah di atas meja, di hadapan Dina. dan Dia tahu bahwa Dina melihatnya.


Dalam video berdurasi dua menit itu terlihat jelas bahwa Sam mendekati Damar dan bergelayut di leher nya, melahap dengan rakus bibir Damar yang berada di hadapan nya.


Itu adalah sebuah video cctv di ruangan Damar, yang dimana kejadian tersebut tidak seperti yang Sam utarakan, Sam mengambil video itu secara diam diam.


"Kamu lihat, itu belum lama, kita bekerja dalam satu gedung, apa sesulit itu aku memikatnya kembali." Hasud Sam masih memutar video nya.


Walau Dina sudah memalingkan wajahnya, tetap saja Sam berulang memutar kembali video ciuman antara dirinya dan Damar.


"Uuuhhh,, so sweet,, Dammy selalu membuatku melayang,, he always bites when kissing" Sam terus mengoceh saat melihat layar handphone nya.


"Hentikan Sam,," terkepalnya tangan Dina dengan erat.


"Hentikan sampai di sini,"


"jangan permalukan lagi dirimu, hargai dirimu sebagai wanita Sam, jangan kau tunjukan betapa murah nya kamu pada ku,"


"Kamu....." Sam mengacungkan jarinya tepat di muka Dina.


"Tidak perlu Sam,  jika benar Mas Damar menginkan kamu, ajak dia dengan cara yang baik,," tepis Dina pada tangan Sam.


"jangan kamu pakai cara murahan seperti itu. Jangan kamu merebutnya dari ku, tapi ajak dia dengan kemauan nya sendiri, kami memulainya dengan cara baik, maka jika kamu menginginkan nya, tunggu kami berhenti dengan cara baik pula.."


Dina  berhenti sejenak, mengambil nafas dan beberapa kali menelan salivanya.


Sam hanya Diam.


Meski dengan suara gemetar, Sam tidak menyangka bahwa Dina akan setenang seperti itu, kata kata nya membuatnya merasa tercekat, Sam berharap Dina akan marah dan mengamuk, memaki nya dan juga tunangan nya, dan tanpa berfikir panjang memutuskan hubungan nya dengan Damar.


Namun Dina berusaha kuat, mencoba menahan semua amarahnya, Dia tidak mau Sam merasa menang atas apa yang dia tunjukan, meski sebenarnya Dina sangat ingin marah, memaki dan membanting semua yang ada di hadapannya, namun semua itu ia tahan untuk memperlihatkan pada Sam, bahwa Dina tidak selemah itu.


"Oke,, kalau itu mau kamu, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliku,"


"Aku juga yakin, bahwa Dammy masih mencintaiku, terlihat sekali Dia menikmati sentuhan ku, Do you often kiss Dina?" Masih saja Sam memprovokasi.


Semakin terlihat jelas kalau Dina terpengaruh, Dia berdiri dengan kasar sampai menggeser meja di hadapannya, mungkin karena hanya ada lembaran foto lama Sam dan Damar di atas nya, menjadikan meja ringan dan dengan mudah tergeser karena sebuah hentakan.


"SAMANTHA,, "


Dina sedikit menggebrak meja di depanya.


"maaf,, jangan samakan aku dengan kamu, Dia tidak menyentuhku bukan karena Dia tidak mau, tapi karena Dia menghormati ku, dan juga tahu aku bukan wanita murahan yang mampu di sentuh semua orang."


"BIT CH...." Sam pun berdiri dan mengangkat tangan kanannya, dan hendak menampar Dina.


Dina pun dengan sigap menahan tangan Sam agar tidak mengenai wajah nya.


"Jangan kamu ucapkan kata yang seharusnya untuk dirimu sendiri pada orang lain."  Dina melempar tangan Sam dan berlalu pergi meninggalkan Sam.


Meski Dina pergi dengan wajah yang marah dan kesal, namun Sam juga tak kalah marah dan kesal, ternyata Dina bukanlah wanita yang mudah terpengaruh, dia tangguh dan mampu berdiri dalam tumpuan yang sudah hampir hancur.


"Si alan kamu Dina,, wanita macam apa kamu, seharus nya kamu menangis akan semua ini, bukan malah berbalik memaki dan memghina ku... kamu benar benar wanita ja lang... jangan harap aku berhenti sampai di sini."

__ADS_1


__ADS_2