Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
58. Hobi Marah


__ADS_3

"Kakak akan di operasi jika kamu sudah menikah na, bukankah kamu berencana menikah bulan depan, lakukanlah akad nya hari ini, dan lakukan resepsinya sesuai rencana." Jaka masih bersikukuh. Suaranya tak sepelan kemarin.


"Kakak, tapi nana mau kakak yang jadi wali nya," Dina beralasan.


"Pernikahan nya tetap sah na walau kakak mengucap ijab dengan berbaring,  suara kakak cukup jelas untuk mengucapkan kalimat ijab kabul nya, dan kalaupun bukan kakak yang menjadi wali nya, akan tetapi kakak menyaksikan adik perempuan kakak sedang menikah."


"Tolong lah na, kakak mohon,, jika kakak tidak bangun setelah operasi, tidak akan ada penyesalan kalau kamu sudah menikah." Suara parau jaka menahan tangis.


"Bang, saya titip adik perempuan saya yang nakal ini." Jaka berbicara pada Damar dengan senyum yang tulus.


"Percayalah kang, saya akan berusaha membahagiakan Dina, ibu dan juga Dinda, meski akang tidak memintanya." Tutur Damar merangkul Dina yang sedang menangis.


Dan untuk kali kedua nya setelah di ruang ICU Damar menyebut calon kakak iparnya dengan sebutan akang, sedikit canggung memang karena jaka adalah juniornya dulu waktu masih kuliah.


Jaka menganggukan kepala sambil tersenyum "Bagaimana na.?" Jaka bertanya pada adiknya.


"Apa ibu akan mengizinkan kalau nana menikah sekarang.?" Dina mencoba mencari alasan lain.


"Ibu setuju kok, lakukan lah yang kakak mau, untuk perayaan, kan bisa menyusul." Tiba tiba ibu masuk dan mengutarakan pendapatnya, mungkin sudah ada obrolan antara ibu dan putra sulung nya.


Dina hanya Diam, apa ini takdir untuk dirinya, bertungan dengan tiba tiba dan menikah dengan segera, meski sekarang dia sedang merasa kesal pada Damar, namun hati kecil nya percaya bahwa Dia adalah laki laki yang bertanggung jawab, laki laki yang pernah mengaku mencintainya dan mungkin Dina juga telah mencintai nya. Dan yang terpenting Kakak percaya padanya.


Enam bulan bukan lah waktu yang sebentar untuk sebuah hubungan pertunangan, tidak mustahil dalam waktu tersebut bertumbuhlah rasa cinta, namun, itu bukanlah alasan untuk menikah dengan tergesa, menikah segera, tanpa rencana tanpa berfikir dengan matang.


Apa aku bisa menikahi laki laki yang belum pasti mencintai ku, apa aku bisa menjadi sorang istri untuk laki laki yang belum pasti aku cintai, apakah benar pernikahan ini, apakah benar ini takdir ku, apakah benar ini adalah  awal lain dari hubungan antara aku dan mas Damar...


Entah lah,, semua begitu cepat terjadi dalam hidup ku. Pertunangan, pernikahan semua terjadi begitu saja.


Dina hanyut dalam fikiran nya.


Damar tidak berkata apa apa, Dia menyerahkan  keputusan sepenuhnya pada Dina, Dia tidak ingin Dina merasa dipaksa untuk menikah, meski dalam benaknya, Damar sangat akan merasa snagat bersyukur jika benar Dina mau menikah dengan nya.


Semua mata menatap pada Dina, Ibu dan kakak laki laki nya menaruh harapan besar padanya, sedangkan Damar, hanya tersenyum. Dari awal pembicaraan, Dokter dan perawat menunggu di ruangan lain, mereka mempersiapakan ruang operasi jika keputusan sudah di ambil. Karena operasi ini harus segera di laksanakan jika pasien sudah siap.


Namun kembali lagi pada Jaka, yang bersikukuh akan di operasi jika adik perempuan nya sudah menikah.


Dina pun mengangguk dengan perlahan.


Melihat anggukan Dina, mata ibu sangat berbinar, menyambut dan memeluk anak gadis nya, menangis bahagia dan mengucapakan doa terbaik untuk nya.


"Na,, maafkan ibu." Lirih ibu berbisik di telinga anak nya. 


Dina faham kenapa ibu meminta maaf, meski merasa di desak, tapi Dina tidak merasa di korbankan, karena Dina tahu, harapan ibu itu tidaklah berlebihan, menginginkan anak lelakinya bahagia, adalah hal wajar bagi seorang ibu.


Karena Dina sudah menyetujui persyaratan dari jaka, semua orang menjadi sangat sibuk, Dokter dan perawat menyiapkan ruang operasi dan segala yang dibutuhkan untuk proses pembedahan. Termasuk ibu, Dinda dan juga Damar.


Ibu menyiapakan pakaian dan makeup untuk anak gadisnya, meskipun hanya akad saja tapi ibu ingin anak gadisnya terlihat cantik dan mengenakan pakaian yang pantas untuk menjalani akad pernikahan nya.


Namun ternyata Mama Ratna lebih cekatan, setelah Damar memberi tahu lewat telepon, secepat kilat Dia telah memesan kebaya warna putih yang simple dan sedernahana namun terlihat sangat menawan, dan juga menyewa jasa MUA yang akan siap tiba di rumah sakit.


Mama Ratna meminta ijin pada ibu untuk menyiapakan semuanya, karena kondisi ibu Dewi yang sedang di rumah sakit, dan lebih baik ibu Dewi hanya menemani anak gadisnya yang sebentar lagi akan menikah. Dan ibu menyetujui niat baik sang calon besannya.


Begitupun dengan sang adik Felisha atau Fey, yang tentu saja menjadi heboh dan kegirangan, dengan segera Fey membeli cincin pernikahan, Fey juga membeli beberapa hadiah untuk di bawa ke acara akad kakak lelakinya.


Selain cincin, Fey dan mama Ratna juga membeli beberapa pakaian, tas, sepatu bahkan perhiasan untuk di jadikan seserahan. Tidak hanya itu Fey juga membawa beberapa aneka kue dan satu keranjang besar buah buahan yang segar.


Semua bersuka cita atas kabar pernikahan ini, tak terkecuali papa Gunawan, meski tidak dapat menghadiri acara pernikahan putra sulung nya, karena berada di negara yang berbeda, papa Gunawan tetap memberikan Doa restu untuk calon kedua mempelai, papa Gunawan memohon maaf karena tidak bisa hadir lewat panggilan Video pada ibu Dewi dan Dina.


Dari pihak laki laki, hanya mama Ratna, Fey dan Jason yang akan menghadiri. Dan tentu Frans juga akan ada. Dan dari pihak permpuan Ibu Dewi hanya mengubungi kakak laki laki nya yang tinggal di ibu kota, dan memintanya untuk menjadi saksi pernikahan putrinya. Dan Dia menyetujuinya.


Berbeda dengan tante Ani, adik ipar ibu ini akan di beri tahu belakangan, karena acaranya mendadak dan semua serba cepat, tidak ada waktu untuk menjelaskan.


Akad nikah akan di laksanakan besok pagi, tepatnya pukul tujuh pagi, karena proses operasi akan di lakukan pada pukul sepuluh pagi,  dan ternyata saksi dari pihak laki laki adalah kepala rumah sakit dari rumah sakit yang merawat Jaka, ternyata kepala Rumah sakit itu masih kerabat jauh mama Ratna. Maka dengan khusus mama Ratna meminta beliau untuk menjadi saksi pernikahan putra sulung nya.


"Fey, apa ini tidak berlebihan.?"


Fey membawa Dina pulang ke rumah, mama meminta Dina untuk mencoba kebaya dan melihat barang yang akan di bawa sebagai seserahan, dan untuk mendiskusikan mahar apa yang Dina inginkan.


"Tidak Ssy,, meskipun kamu menikah di rumah sakit, tetap dong acaranya pasti sakral, jadi kamu mesti terlihat cantik." Tutur Fey.


"Kamu mau mas kawin apa sayang.?" Mama Ratna datang dengan membawa nampan berisi minuman dan cemilan.


"Terima kasih ma" mengambil gelas yang di sodorkan mama Ratna. " apa saja ma, apapun yang di berikan, Dina menerima dengan penuh rasa syukur."


"Baiklah kalau begitu, nanti mama kasih tahu sama abang."


Mama Ratna pergi keluar meninggalkan kamar yang di isi oleh Dina dan Fey.


Setelah Fey bercerita tentang ini dan itu, dia mengungkapkan betapa bahagianya saat mendengar kakak sulungnya akan segera menikah, meski pernikahan yang di segerakan dan terkesan darurat, namun tetap saja ini adalah pernikahan yang sakral dan suci.


"Fey, keluar yuk, biarkan nak Dina istirahat dulu, besok kan Dia akan menikah." Mama Ratna datang lagi dan mengajak Fey keluar dari kamar yang Dina tempati.


"Eeeh, gak apa apa mah, nanti sore aku mau kerumah sakit lagi, kasihan ibu sendiri di sana."


"Eemhh,, tadi mama udah telepon ibu Dewi, karena mungkin abang akan menginap di kantor malam ini, jadi mama meminta ijin agar kamu menginap di sini saja." Terang mama Ratna.


"Aaahh,, gak usah mah, Aku mau tidur di rumah sakit aja, aku mau menemani ibu sama kakak." Jelas Dina, berusaha menolak dengan sopan.


"Ohh iya," mama Ratna mengangguk anguk, " tapi kamu kerumah sakit nya nanti sore saja ya, sekarang kamu istrirahat dulu." Usul mama Ratna. Dan Dina pun setuju.


Meski dari kemarin Dina tidur dengan cukup, entah mengapa setelah infusan di cabut pun Dia terus merasa ngantuk, Dia terus menguap dan lama kelamaan kelopak mata nya menjadi semakin berat, semakin di kedipkan semakin susah untuk di angkat kembali, dan tanpa sadar Dina sudah terlelap dalam tidur nya.

__ADS_1


Dina poV.


Takdir memang sebuah rahasia, entah dengan siapa dan kapan, itu adalah urusan sang maha kuasa, dengan jalan seperti apa, situasi dan kondisi bagaimana, itu juga bukan hak kita untuk bernegosiasi.


Besok adalah hari dimana aku akan mengikuti takdir ku, laki laki yang baru kenal mengajakku bertunangan, dan sekarang laki laki yang aku kenal beberapa bulan itu akan menikahi ku, meski aku tidak sepenuhnya yakin pada nya, tapi aku percaya, sang maha pencipta tidak akan pernah salah memasangkan hambanya, begitupun dengan kami.


Sebelumnya, ibu memintaku agar cepat menikah, dengan alasan agar kakak bisa cepat menikah pula, dan sekarang kakak memintaku menikah karena ketakutan kakak tidak akan bangun lagi jika operasi nya tidak berhasil.


Padahal keinginan terbesarku jika aku menikah adalah melihat kakak saat menjadi walinya, karena menggantikan ayah.


"Berbahagialah, dan bahagiakan semua orang"


Tiba tiba sorang pria paruh baya menepuk kepalaku lembut, tapi Dia pergi saat aku membalikan badan ku, aku hanya bisa melihat punggung nya yang semakin jauh.


Apa ini mimpi, tapi ini terasa nyata.


"Ayaahhh,,, ayaah.."


Aku tahu itu ayah. Aku mengenali cara berjalannya, dan postur tubuhnya yang seperti kakak, yang tinggi dan tegap namun ayah lebih besar dan gagah pada saat itu.


"Ayaahh.... ayaahh.. ini nana ayah, jangan tinggalin nana.."


Tapi ayah malah pergi dan melambai. Aku berusha mengejarnya namun semakin aku kejar semakin ayah menjauh. Padahal jika benar itu ayah aku ingin memeluknya, mencurahkan seluruh perasaanku.


"Ayaahh,, kakak sakit ayah,, jangan pergi.. whaaa... ayah.. whaaa..."


"Din,, Dina,, bangun kamu,"


Ada suara laki laki menahan langkah ku.


Aku seperti tertahan dan terbelenggu.


Tapi ayah.


"Whaaa,,, ayah..."


"Heehh,, kamu bermimpi,, Ini sudah mau maghrib, katanya mau ke rumah sakit, malah tidur."


Aduh,, ternyata mas Damar, Dia menepuk nepuk pipi ku, mana keras lagi. Muka kesal nya sudah di depan muka ku.


"Pelan pelan atuh, sakit."  Langsung saja aku duduk dan menyadarkan diri. Aku menggeliat, badan ku terasa tegang semua.


"Kamu ini kebiasaan, menggeliat setelah bangun tidur, jangan kamu lakukan di depan laki laki lain."


Ucapnya melempari aku bantal kecil yang tergeletak di lantai dekat tempat tidur.


"Memang nya kenapa, ini itu bentuk peregangan otot kalau sudah bangun tidur, Stretching tau gak.?


Lagi lagi mas Damar mendesis.


"Iya, lagian kayak yang tahu aja itu kebiasaan aku, dan lagi ngapain Mas ke sini." Ku peluk saja bantal kecil yang Dia lempar tadi.


"Tahu lah, waktu itu kamu tidur di mobil aku, kamu bangun dan menggeliat seperti itu, kamu tahu tidak apa yang aku fikirkan.?"


Mas Damar malah menyeringai, kapan aku menggeliat di mobil nya,


Astaga,, iya aku ingat, saat pertama kali mas Damar nganter kerumah dan saat itu pula Dia bertemu sama Kakak.


Memang apa yang dia fikirkan.


"Kapan,? ngarang kamu Mas." Mengelak saja lah.


"Ngapain Mas disini, bukanya mau tidur di kantor.?" Ku ulangi pertanyaanku.


"Tadi kamu teriak teriak, mimpi apa kamu, sampai sperti itu."


Mimpi,, eh iya aku mimpi ketemu ayah, kenapa akhir akhir ini aku selalu mimpi tentang ayah, dan lagi dalam mimpi itu seolah olah ayah memberi restu pada aku dan mas Damar. Entah lah mimpi yang aneh.


Aahh aku masih mengantuk, jam berapa ini,, aduuuhh aku belum sholat ashar.


"Mas, aku mau sholat ashar,"


Aku dorong saja Dia keluar kamar, padahal aku bisa minta baik baik, haha, tapi tiba tiba aku ingin mendorong nya. Jadi kesalkan Dia.


Akhirnya Dia keluar dengan muka yang di tekuk karena aku usir keluar.


Setelah melaksanakan sholat ashar, menyambung aku melaksanakan sholat maghrib, karena setelah dzikir, adzan maghrib berkumandang.


Setelah selesai aku berdoa untuk kelancaran operasi dan kesembuhan kakak, dan mendoakan pula untuk ayah supaya tenang disana, entah apa arti dari mimpi tadi, namun aku percaya ayah berada di tempat terbaik di sisi yang maha kuasa, karena ayah adalah orang yang baik.


"Kamu tidak lupa mendoakan aku juga kan.?"


Sepertinya Mas Damar memperhatikan sedari tadi, Dia tahu kalau aku berdoa. Dan masuk saat aku melipat mukena ku.


"Iya lah, aku berdoa mudah mudahan setelah menikah Mas gak main main lagi sama sang mantan."


Jadi ke inget lagi kan.


"aku kan udah jelasin itu gak seperti yang kamu fikirin."


Dengan santainya Dia bilang seperti itu.

__ADS_1


"Aku mau makan,"


Lah, kalau mau makan mah ya makan aja atuh.


"Aku mau di masakin kamu." Langsung deh paduka raja mengekuarkan titah nya.


"Kan mau ke rumah sakit," aku beralasan.


"Setelah makan kita pergi, ada yang mau aku omongin."


Ngomongin apa, jadi penasaran.


Akhirnya aku masak untuk yang ke dua kalinya di dapur rumah mas Damar, setelah ku buka lemari ajaib yang serba ada alias kulkas, aku ambil wortel, buncis, daun bawang, dan 4 butir telur, ku buka pintu freezer satunya lagi, banyak srkali frozrn food di sana, namun aku memilih mengambil tiga buah sosis besar.


Sudah dipastikan, aku akan membuat omelet dan sosis panggang saja, itu yang mudah dan simple. Aku pecahkan empat telur kedalam mangkuk, dan mengiris sayuran lalu aku tumis sayuran hingga layu, lalu aku mengocok telur bersama daun bawang, tidak lupa garam dan penyedap, ada tomat dan keju, aku masukan saja sekalian.


setelah siap aku masukan kedalam tumisan sayur tadi. Kasih margarin dan tunggu sampai kering.


Hhhhmmmm,,, mulai tercium nih wanginya.


Mulai menguning, aku tunggu sebentar lagi, sambil menunggu aku siapkan pan satu lagi, aku kasih margarin di pan dan ku masukan sosis yang telah di rendam dengan air panas. Sekalian aku panggang saja buncis.


Omelet nya sudah siap, sudah aku garnis di piring besar yang cantik, tinggal menunggu sosis nya sebentar lagi,


Aku terus membolak balik sosisnya agar tidak gosong,


dan taraaaaa.... sudah siap. Aku simpan sosis di piring yang sama  dengan omelet tadi. Tidak lupa buncis panggang dan rebusan wortel serta potongan ketimun, suapaya ada sayuran nya.


Waaahhh tidak sampai dua puluh menit, dan makanan nya terlihat enak. Aku bawa masakan ku ke meja makan, ternyata mas Damar menunggu sedari tadi.


"Wangi sekali, masak apa kamu.?" Bertanya tanpa melihat orang nya, kebiasaan yang jelek.


"Ini itu dinner, bukan breakfast, kamu kok masak menu sarapan." Mas Damar protes saat melihat menu yang aku sajikan di meja.


Aku tahu itu menu breakfast, tapi itu yang mudah dan tidak memakan waktu lama. Apa salahnya di makan di waktu malam, gak dosa kan.


"Itu yang cepat mas,, kita kan mau pergi, aku mau cepat cepat ke rumah sakit, kasihan ibu sendiri di sana," jelas ku pada mas Damar. Dan dia tidak menjawab.


"Aku menginap di rumah sakit aja ya mas.?"


Aku bertanya saat Dia mulai makan.


"Hhhhm,," hanya itu jawaban nya,


Lahap sekali Dia memakan menu sarapan di waktu malam. "Kamu gak makan.?"


Ehh Dia masih ingat ada aku. " aku masih kenyang." Ucap ku menggeleng.


"Jangan sampe besok kita akan menikah kamu kembali sakit."


Astaga,, mas Damar benar benar ya, sama sekali tidak ada niatan untuk membujuk apa, jangankan membujuk, bisanya hanya memerintah, bicara dengan nada dingin, menatap dengan tatapan yang menusuk.


Oh tuhan,,, apa aku bisa menghadapi laki laki dingin dan pemarah seperti Dia.


"Mau makan tidak.? Nanti keburu malam ke rumah sakit nya."


Naahh kan,, sekarang aku tahu, marah marah adalah hobi nya.


"Eehhh kamu kenapa mengambil garpu aku.?"


Mendengus kan Dia, saat ku ambil garpu yang ada di tangan nya, saat Dia hendak memasukan potongan omelet ke dalam mulut nya. Tidak sopan memang, tapi namanya juga emosi. Maaf.


"Kamu ini, tidak boleh seperti itu." Tegur nya pada ku, dan aku menyadarinya. Makanya aku diam tidak menjawab, dan hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Aaa..." sebagai permohonan maaf ku suapi saja Dia, mana mungkin dia menolak, memang keinginannya di perlakukan seperti bayi, namun tidak mau sebalik nya pada ku. Dasar curang.


Benar kan, Dia membuka mulut nya sambil tersenyum. "Kamu mau mahar apa.?"


Oohh mungkin ini yang mau Dia omongin, aku kira apaan.


"Apa saja, aku akan menerima dengan iklas," jawab ku asal, untuk saat ini aku bingung memikirkan sesuatu selain kesembuhan kakak.


Ting...


Eh ini pesan masuk dari tadi gak berhenti berhenti , siapa kira kira.


"Siapa.?" Mas Damar langsung saja bertanya.


"Teman," jawab ku.


"Siapa.?" Masih dengan pertanyaan nya. Sekarang wajahnya mulai di tekuk. Apa maksudnya.


"Teman aku mas." Mau jawab apa, ini memang pesan dari teman.


"Sini, aku lihat."


Apa yang mau di lihat, maksudnya apa coba, mas Damar malah mengambil tanpa permisi, sama ya mas itu juga tidak sopan. Tapi aku takut untuk menegur, wajahnya mulai mengeras kesal seperti itu.


kenapa,?? kenapa seperti itu.


apa lagi.. aku malas berdebat dengan laki laki ini. apa aku bisa menikah dengan Dia. laki laki emosian yang sama sekali tidak hangat.

__ADS_1


dan Dia punya hobi marah marah.. haha


__ADS_2