
"Mas mau makan gak, aku masakin ya.??" Tawar Dina untuk lari dari perbincangan.
"Gak usah, duduk sini." Tolak Damar.
"Tapi mas, aku lapar, belum sarapan." Keluh Dina.
"Kamu sudah makan cake dan minum kopi kan tadi sama Rommy, itu cukup untuk menopang kaki kamu." Tukas Damar.
"Tapi mas,,,"
"DUDUK.." pinta Damar. Menatap Dina tajam.
Dan dengan spontan Dina pun langsung duduk di sofa kecil yang agak jauh dari Damar.
"Kenapa jauh jauh, sini kamu." Desis Damar menarik tangan Dina agar berpindah.
"Sini lihat aku." Ucap Damar saat mereka duduk berdampingan.
Dan dina pun memutar kepalanya.
"Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, mungkin kamu benar, aku terlalu egois tidak mau mendengarkan penjelasan kamu, aku terlalu menyimpulkan apa yang aku lihat, tanpa tahu kebenarannya. "
Damar menghela nafas..
"Sekarang aku mau dengar cerita kamu, dari awal sampai akhir." Papar Damar, masih memegang tangan Dina.
"Cerita apa.?" Tanya Dina.
"Semuanya,, cerita tentang kenapa kamu bisa bertemu laki laki itu sampai Dua kali." Jawab Damar.
Dina menceritakan semua kejadian antara dirinya dan Raka, mulai dari pertemuan pertamanya, insiden dorong mendorong dengan wartawan, dan terakhir kejadian kemarin antara dirinya dan Samantha,
Di setiap cerita Damar selalu memotong perkataan Dina. Yang membuat Dina hampir tidak menyelesaikan ceritanya.
"Kenapa kamu gak ganti aja sih kameranya, kartu debit yang aku kasih bisa beli lebih dari sepuluh kamera, supaya kamu tidak berhutang budi sama laki laki itu." Dengus Damar.
"Iya waktu itu kan aku buntu fikiran nya, gak sampe ke situ, lagian itu kan bukan uang aku sepenuhnya." Kilah Dina.
"Kamu tuh, ada ada saja, aku kasih credit card kamu gak mau, kata kamu itu sama kayak berhutang, aku kasih Debbit card dengan saldo yang banyak tetap saja gak di gunain. Tapi anehnya kamu mau berhutang budi sama orang yang baru kamu kenal." Gerutu Damar.
"Bukan gitu mas,,"
"Lalu apa.?" Potong Damar.
"Kalau saja kamu tidak melibatkan orang lain mungkin kita tidak akan salah faham seperti kemarin"
"Kita salah faham bukan karena orang lain ya mas, itu karena kita sendiri aja," tukas Dina.
"Eehh tunggu, Mas ngapain ada cafe itu kemarin.? Perasaan, kan gak tahu kalau aku ada di sana." Selidik Dina.
Deg,,, Damar baru menyadari, dirinya kesana memang bukan untuk menemui Dina,
Waktu itu, Sam mengirim pesan pada Damar, dia memintainya tolong, dan mengatakan bahwa dirinya di serang oleh haters,
Awal nya Damar mengabaikannya,
namun, setelah Dia mendapatkan telepon dari Rommy, bahwa Damar harus menemui Sam, karena kalau Sam mendapat masalah atau terluka, itu akan berimbas pada perysahaanya, karena untuk saat ini, Dia adalah Brand produk baru DS Key.
Dan oleh karena itu Damar menjadi ikut serta dalam insiden tiga hari lalu.
"Kenapa Diam mas,?" Lanjut Dina.
"Eh, enggak, waktu itu Rommy menelepon aku, katanya Sam di serang hanters."
"APA,,, Sam.?? Karena sam di serang hatters, mas pergi ke sana." Potong Dina berdiri dari duduknya.
Air muka Dina menjadi kesal.
"Eh kamu ini, aku kan belum selesai, maen potong aja." Tutur Damar meraih tangan Dina agar kembali duduk.
"Aku ke sana memang untuk Sam, tapi bukan karena Sam," ucap Damar lembut.
" Sam itu kan brand produk kami, jadi kami menjaga Sam agar tidak dalam berita buruk, apalagi perkelahian, aku tahu, Sam itu punya emosi yang meledak kalau marah, "
"Cih,, sampai hafal ya." Sindir Dina menyela pembicaraan Damar.
Damar menarik nafas dan melanjutkan kalimatnya.
"Iyaa, maka dari itu aku ke sana untuk menenangkan Dia, lagi pula aku tidak sendiri, ada Rommy yang menyusul." Urai Damar.
Dina masih cemberut.
"Tapi, kenyataanya bukan Sam kan yang aku urus di sana, melainkan kamu, gadis nakal yang banyak akalnya, yang bilangnya ke kampus tapi malah ke mall." Ucap Damar mengusap kepala Dina dengan lembut.
"Enak aja gadis nakal, aku gadis cantik dan baik." Protes Dina membiarkan usap Damar di kepalanya.
"Tapi mas kan lebih percaya wanita itu dari pada aku." Keluhnya Ragu.
"Siapa.?? Jangan bawa bawa orang lain, katanya ini masalah kita berdua aja." Timpal Damar.
"Naaahh curang kan, giliran sang mantan di sebut sebut, gak terima,, dih,, kayaknya ada yang belum move on." Decit Dina.
"Hhhmm,, kayaknya ada yang cemburu." Goda Damar.
"Iiiih gak jelas." Dina melengos kesal.
"Mau kemana.?" Tanya Damar yang melihat Dina hendak pergi.
__ADS_1
"Aku mau ke dalam, mas Damar lapar gak. Mau aku buatin sesuatu.?" Tawar Dina.
"Gak usah, aku balik ke kantor saja, nanti siang aku jemput kamu ya, kita nonton." Ucap Damar tersenyum.
"Gak bisa,, minggu ini aku sibuk, seminggu lagikan hari kelulusan aku mas, maaf ya. " ucap Dina menyesal.
"Gak papa, kamu fikir aku penganguran, sama aku juga sibuk.. cuman karena kita baru berbaikan jadi aku mau ajak kamu kencan, jaga jaga supaya gak di ambil orang.," goda Damar.
"tapi karena kamu lebih sibuk dari aku, lain kali saja lah." Lanjut nya.
"Ya sudah, aku jalan dulu ya,, nih hape kamu." Pamit Damar menyodorkan handphone nya Dina.
"Aaahhh, hape ku.. muach,, muachh,, muach,, kangen sekali." Dina senang dan menciumi handphone nya.
Damar mengulum senyum melihat kelakuan tunangannya.
"Yaahh,, padahal kemarin tenaaaang banget, gak ada yang telepon tiap waktu.. hehe,, sekarang berisik lagi deh." canda Dina.
"Iya, persiapkan Diri kamu, jangan sampai mengabaikan pesan dan panggilan dari aku. Dan ingat jangan berhubungan dengan laki laki itu, dia baru kenal sama kamu," printah Damar.
"Iyaa,,, siap paduka Raja.," sahut Dina menaruh tangannya di kening sebelah kanan.
"Kamu ini, menggemaskan sekali.." tutur Damar memencet hidung Dina.
"Aaawwhh,, sakit.." tukas Dina cemberut.
Dina mengantar Damar sampai depan rumah, ada rasa bahagia dalam benak Dina dengan sikap Damar hari ini, meskipun di awal saling sindir menyindir, tapi pada akhirnya mereka berbaikan.
Dina terus mengulum senyum selepas Damar pergi,
"Ya ampun, kenapa hapenya jadi begini." Gumam Dina menatap layar handphonenya.
Derrrtt... derrrt...
"Eh, siapa yang menelepon.?"
( IMAM KU ) nama yang nampak pada layar handphone Dina.
"Imam, imam siapa.? ," Dina bergumam, heran ada nama orang lain di handphone nya.
"Halo,," sahut Dina pada orang yang membuat panggilan.
Assalamualaikum,, biasanya kamu begitu kalau mengangkat telepon.
Dina mengerutkan kening nya, dan menyadari siapa di sebrang panggilan telepon nya.
"Astaga,,, Mas, kamu ganti nama kontak kamu di hape aku.?? Haha, aku fikir kamu siapa. Haha"
Kenapa kamu ketawa.?
Kenapa memang,?? Itu karena kamu menamai kontak aku dengan nama yang aneh, kamu nyamain aku sama setan.
Deg,, memangnya mas Damar tahu apa artinya RiRiWa.
Jangan coba coba kamu ganti foto wallpaper kamu,
"Kenapa memang.?"
biar semua orang tahu kalau kamu punya aku.
"Enak aja, punya aku.. punya aku.. iyaa gak bakalan di ganti IMAM KU.. hihihi,," ledek Dina.
Panggilan berakhir.
Selain Dina yang terus mengulum senyum di bibirnya, Damar juga merasakan hal yang sama, ternyata gencatan senjata selama tiga hari kebelakang itu, secara tidak sadar membuat mereka saling merindukan.
Sesampainya di kantor.
Damar di tunggu oleh Lia sekertarisnya di pintu utama kantor.
Damar turun dari mobilnya dengan tergesa tanpa menutup kembali pintu mobilnya, membiarkan mobilnya di ambil alih security, Damar berjalan dengan sangat cepat.
Lia mengikutinya dengan setengah berlari.
"Kenapa bisa sampai terjadi seperti ini.?" Desis Damar tanpa mengurangi kecepatan berjalannya.
"Tidak ada yang tahu pak, sejak tadi pagi dia datang dia langsung mengamuk saat tahu bapak tidak ada di kantor." Jelas Lia dengan ter engah.
"Cih,, kenapa dengan saya. ?,, tidak adakah salah satu timnya dapat menenangkannya, kenapa harus saya." Lagi lagi Damar mendengus.
"Iya maaf pak." Jawab Lia.
Setelah sampai di studio pemotretan Damar tercengang melihat kondisi ruangan itu, alat makeup berceceran, makanan minuman semua ada di lantai, bahkan beberapa lampu flash pun tergeletak dan pecah. untung saja, product fashion yang hendak di luncurkan sempat di selamatkan.
Terlihat Sam sedang menangis di lantai di pojok ruangan dengan di temani asisten perempuannya yang tampak kelihatan bingung.
"Sam apa yang kamu lakukan.?" Decak Damar di tengah kekacauan.
"Dammy,, you come for me.?" Sahut Sam berdiri menghampiri Damar.
"Lihat semuanya menyalahkan ku, semua marah marah pada ku, they are all bad, they attacked me." Adu Sam, memeluk pinggang Damar.
"Maaf Sam, jaga sikap mu, semua orang memperhatikan." Tegas Damar melepaskan belitan tangan Sam di pinggangnya.
"Dammy, aku tahu you still love me, kalau tidak kenapa kamu berlari ke sini karena aku." Teriak Sam, membuat semua orang yang ada di ruangan itu menatapnya.
Mereka semua menatap dengan heran, mungkin semua berfikir, apa sebenarnya hubungan antara Samantha dan Damar.
__ADS_1
Karena tidak ada yang tahu hubungan seperti apa yang terjalin diantara mereka berdua.
Terdengar bisik bisik orang orang di studio,
Pada dasarnya, semua isi kantor mengetahui bahawa Damar telah bertunangan dengan Dina, yang sebelumnya pernah magang di kantor Damar.
Namun, kenapa kini ada wanita lain di sisi Damar, dan lagi, Sam terus mengoceh bahwa Damar masih mencintainya, selain ocehan, Sam juga enggan untuk berhenti memeluk Damar, meski pelukannya sempat terlepas, lagi dan lagi, Sam memeluknya kembali.
"Sam lepaskan," pinta Damar.
Namun tetap saja Sam memeluk dengan erat.
"SAM SAYA MOHON,, HARGAI SAYA." Bentak Damar.
"Aaggghhh,,, Dammy, kamu juga membenci aku.?" Tanya Sam pelan melepasakan pelukannya.
"Karena wanita itu.?" Lanjutnya.
"Atau kamu belum memaafakan aku.?"
Whaaa..... whaaa.....
Kini selain mengamuk, Sam juga menangis dengan kencang,
Semua yang ada di ruangan itu semakin bingung.
"Maaf, saya terlambat pak." Sesal Rommy yang baru tiba dengan dua security.
"Kemana saja kamu,?" Dengus Damar pada Rommy. "Mau tunggu sampai hancur semua,, haahh.???" Lanjut nya.
"Maaf pak," sahut Rommy.
Meski semua orang tahu bahwa Rommy dan Damar bersahabat, tetap saja dalam pekerjaan, Rommy selalu menjaga batasanya kalau Damar adalah atasan nya. Dan dalam situasi seperti ini Rommy lebih memahami Damar.
"Urus semua nya,"printah Damar. Berlalu pergi.
"Baik pak."sahut Rommy.
Sementara Rommy membereskan semua kekacawan di studio, Damar menunggu di ruangan nya dengan dada yang bergemuruh. Nafas yang naik turun, dan beberapa kali kepalan tangannya di pukulkan pelan pada meja di depan nya.
Damar terus bergumam.
"Apa aku salah mengambil keputusan untuk menjadikan Sam brand.??"
"Semakin lama aku bertemu dengannya, semakin aku merasa sakit."
"Aku berusaha tidak membencinya,, namun apa hasilnya, aku semakin marah jika dia terus mengoceh kalau aku masih mencintainya."
"Apa kamu tidak sadar Sam,, seberapa besar kesalahan mu.???"
Di tempat lain.
"teteh,,, kebiasaan ih. hapenya di tinggal tinggal mulu, nih dari tadi ada pesan masuk. di baca dulu siapa tahu dari kakak." teriak Dinda memanggil kakaknya yang ada di dapur.
"iyaaa,, sebentar." sahut Dina dari dalam dapur.
layar handphone Dina terus menyala, tanda pesan masuk kembali berbunyi.
Dinda dengan iseng mengintip handphone milik kakanya. penasaran siapa yang mengirim pesan sampai berkali kali sebelum mendapat jawaban.
"ehhh, no baru." gumam Dinda.
"sebuah foto." lanjut Dinda, tanpa sadar menekan ikon pesan di handphone kakanya.
"haaaah,, TETEH......."
"kamu apaan sih teriak teriak." desis Dina mengambil handphone miliknya.
"adek, kamu baca pesan teteh.?" dengus Dina melihat semua pesan telah terbaca.
"gak sengaja teh,, siapa suruh hape nya gak di kunci." kilah Dinda.
"alesan."
Dina melihat pesan untuk nya, dia mengerutkan dahinya, dan menyeringai.
"teh, itu benar Samantha Vallery.?" tanya Dinda antusias.
"kamu ini kepo aja." dengus Dina menyentil dahu adiknya. lalu pergi ke kamarnya.
"aaawwwhhh.. sakit." Keluh Dinda.
di dalam kamarnya Dina melihat foto yang di kirimkan ke handphonenya.
Foto Damar dengan Sam yang sedang berpelukan. lebih tepatnya di peluk Sam.
sesorang memotret Damar yang tengah di peluk Sam saat Sam mengamuk di studio tadi.
ternyata yang membuat Dinda kaget pada pesan di handphone kakaknya bukan karena Damar di peluk wanita lain, melainkan ada foto super model di handphone kakaknya.
"apa lagi sekarang,,?" gumam Dina memijat dahinya.
"aku kesal dengan pose di foto ini, namun aku yakin, mas Damar tidak mungkin menghianatiku, tapi yang membuatku kesal adalah dimana mas Damar harus terus berurusan dengan wanita itu."
"huuufft... aku bingung musti bagaimana, baru saja berbaikan, sekarang muncul lagi masalah lain, ini sih namanya one die, one replaced,,,"
mati satu, di ganti satu.. gak ada habisnya..
__ADS_1