
Ternyata benar apa yang di perkirakan Dina, Damar tidak hanya sehari di luar kota, sampai jaka kembali untuk menggeluti pekerjaan nya, Damar belum kembali, dan tentu saja makan malam yang Damar janjikan belum terlaksana.
Maaf aku belum bisa pulang, ternyata pekerjaannya sangat menumpuk.
Dina menghela nafas,, Hanya pesan seperti itu yang damar kirimkan.
Sekarang dirinya telah lulus sebagai sarjana, Dina berniat tetap pada rencana awal nya, Dia ingin bekerja dan mengumpulkan sejumlah tabungan untuk melanjutkan S2 nya.
Dia sibuk mencari lowongan perkerjaan sesuai bidang yang di pelajarinya, terus mencari dan mematangkan niat nya. Ada beberapa kandidat perusahaan yang ia pilih untuk di masukan lamaran Dirinya.
Tak terasa sudah masuk siang hari, pantas saja cuaca begitu panas, Dina sudah menyelesaikan lembar lamaran kerja nya, tinggal menyusun dan merapihkannya sedikit saja. Memasukan beberapa persyaratan sebagai pelengkap dalam lembar lamaranya.
"Aaahhh,, ternyata lumayan menguras tenaga juga, padahal cuma bikin beginian." Gumam Dina meregangkan otot pinggang nya.
Berdiri dan beranjak untuk pergi ke dapur, mungkin dirinya merasa lapar karena sedari tadi pagi berkutat dengan laptop dan kertas kertas lamarannya.
Derrrrttt.... Deerrrtt...
Getar handphone miliknya membuat nya mengurungkan niat untuk pergi ke dapur.
Dia melilat layar handphone nya dengan senang, dan bergegas mengjawabnya.
"Mas,, assalamualaikum. " sapa Dina pada seseorang di sebrang sambungan telepon.
Hhhmmm,, wa alaikumsalam.. sedang apa kamu, sepertinya sedang gembira.
Sahut Damar.
"Hhmm,, iya aku lagi bikin CV buat lamar kerja." Dina menjelaskan.
Lamar kerja.. buat apa.? Lagian kerja dimana.?
Tanya Damar heran.
Dina menyebutkan beberapa nama perushaan yang akan ia masuki lamaran nya, dan menjelaskan alasan apa sehingga dia ingin bekerja.
AKU BILANG TIDAK USAH,, kalau kamu mau lanjut S2, lanjut saja, aku masih mampu kuliahin kamu, tidak perlu bekerja. Selama ini kamu anggap aku apa.
Sergah Damar, selama Damar mengomel Dina hanya diam, meskipun Damar tidak pernah berlaku kasar padanya, namun Dina merasa takut kalau Damar sedang dalam mode memgomel atau marah.
Apalagi setelah Dina melihat sendiri marahnya Damar sangat menakutkan, Dina ingat betul saat Damar benar benar marah saat dirinya berseteru dengan Sam dan seorang laki laki blasteran di mall waktu itu. Rahangnya mengeras dan sorot mata yang sangat mendalam.
"Bukan seperti itu mas, aku kan bosan, tidak ada kegiatan. Sekalian cari pengalaman, nanti kalau setelah bekerja urusan lain keteter aku bakalan berhenti kok." Dina mencoba membujuk.
Aku sudah bilang tidak usah Dina,, untuk apa kamu bekerja, kalau bosan kamu bisa pergi sama adik kamu, atau teman teman kamu, kalau perlu kamu bisa habiskan semua uang yang ada di debit card kamu, tidak usah beralasan bosan.
Damar masih mengomel, tetap tidak membolehkan.
Damar memanggil manggil Dina, namun Dina menjadi Diam,
Din,,, Din,,,
Dinnn....
Beberapa kali Damar memanggil Dina, namun tidak ada sahutan dari yang di panggil.
Dina Aryanti Dewi...
"Hhhmm,, iya." Akhirnya Dina menyahut saat Damar memanggil nama lengkapnya,
Karena jika Damar memanggil nama lengkap Dina, itu berarti Dia benar benar kesal atau marah.
Kamu ini, susah sekali menurut... kalau kamu bersikukuh mau bekerja, bekerjalah....
"Hhaaahh,, yang benar...." potong Dina pada kalimat Damar.
Hhmm iya, bekerjalah di DSkeys, nanti Rommy yang akan urus.
Terang Damar.
"Iiiihh,, gak mau di perushaan kamu mas." Tukas Dina.
Kenapa.? Perusahaan aku perusahaan yang bonafit, banyak orang mengantri untuk bekrja di sana, kenapa kamu gak mau.
Tanya Damar heran.
"Gak mau ah,, aku mau coba di perusahaan lain mas." Jelas Dina.
Ya sudah kalau begitu tidak usah bekerja. Lakukan apa yang kamu suka, asalkan bukan bekerja,, pembicaraan soal pekerjaan cukup sampai disini, aku tidak mau kamu membahas lagi soal pekerjaan. Paham kamu..
Ucap Damar tegas, sepertinya Dia tidak menerima lagi pembantahan.
"Hhhmm,, iya.. " mengalah saja, dari pada berujung panjang.
Percakapan terputus.
"Tau gini, gak bakalan bikin ginian,, aku bikinya dari tadi subuh,, aaahhh mas Damar rese... nyebelin." Omel Dina mengacak ngacak kertas yang ada di atas lantai pinggir tempat tidur nya.
"Eehh apa apaan kamu na, ngomel ngomel di siang bolong." Lontar ibu yang baru masuk kamar Dina.
"Ini bu, nana udah bikin ini dari subuh, tapu gak kepake, kan sayang.. " keluh Dina.
"Memang apa itu.?" Tanya ibu.
"Ini tuh CV, buat lamar kerja, cuman gak jadi, Mas Damar gak ngebolehin kerja, padahal ini tinggal kirim bu.." jelas Dina, mengeluh lagi.
"Ya bagus lah nak Damar larang kamu kerja, nanti kamu keasyikan berkarir lagi, lupa semuanya lupa keluarga, lupa kewajiban, lagian buat apa kamu kerja.." Tukas Ibu.
"Ibu,, kok ngomongnya gitu, nana kan mau cari pengalaman, terus nana kan mau lanjut S2, biar bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik, yang cerah gitu bu." Tutur Dina.
__ADS_1
"Kurang baik bagaimana hidup kamu Dina, kakak udah berjuang buat kamu dan adik kamu untuk hidup nyaman, mestinya di usia sekarang yang kamu fikirin itu adalah menikah, calon yang baik sudah ada, tunggu apa lagi, malah mikirin soal pekerjaan." Timpal ibu mengeraskan suara nya.
"Ibu,,, bukan begitu maksud nana." Lirih Dina. Karena melihat ibu memalingkan wajah dan menghela nafas.
"Kamu tahu Na,, meski orang lain bilang bahwa ibu belum terlalu tua, tapi kalau soal usia, siapa yang tahu, ibu pengen,,, sekali, melihat kakak menikah, mempunyai istri dan anak, dan menimang cucu dari anak kakak, namun semua itu tidak akan kakak lakukan sebelum kamu menikah."
Jedeerrr,,, Dina seperti tersambar petir, mendengar pengakuan sang ibu mengenai harapan untuk anak sulung nya.
"Maaf na, bukanya ibu mau mengorbankan kamu untuk melihat kakak menikah, tapi ibu lihat nak Damar adalah laki laki yang baik, dia sayang sama kamu, dan pastinya dia juga bertanggung jawab, dan yang terpenting, kakak menyukainya, ibu juga merakasan bahwa kakak sangat percaya sama nak Damar, terlebih mereka dulu adalah teman, dan mungkin sedikit banyak nya kakak tau persis seperti apa nak Damar itu."
Ungkap ibu dengan suara bergetar.
Dina hanya diam. Menunduk dan mere mas tangannya.
"Naa,, maafkan ibu,, mungkin ibu egois, tapi coba kamu fikir kembali, kita berdua adalah saksi betapa kerasnya kakak menjamin hidup kita, menjaga kebahgiaan dan kehangatan keluarga kita, selepas ayah pergi. Tapi apa ibu salah jika ibu ingin melihat kakak bahagia, ibu ingin kakak menikahi gadis yang bisa menemaninya di kala kakak merasa sepi, menghiburnya di kala kakak sedih, dan mengusap peluhnya di kala kakak merasa lelah."
Pecah lah tangis ibu lolos dari bibirnya.
"Ibu,," hanya itu yang mampu Dina ucapakan.
Dina memegang kedua tangan ibunya. Dan menangis bersama.
"Satu hal yang selalu ibu fikirkan,,, jika ibu telah tiada, ibu bisa tenang untuk kamu dan Dinda, masih ada kakak di samping kalian, namun.....hikss hikss." Kalimat ibu terpotong oleh tangis nya.
"Namun,, jika ibu sudah tiada, siapa yang akan menjaga kakak,, siapa yang akan menghibur kakak, ibu tidak mau kakak menahan semuanya, ibu mau sebelum ibu pergi kakak sudah ada yang menemani." Lanjut ibu.
"Whaa,, Ibu,, jangan bicara sperti itu, ibu akan berumur panjang,, jangan kan cucu dari Nana sama Kakak, dari adek pun ibu pasti masih ada, masih sehat, dan masih cantik sperti sekarang."
Lirih Dina, menangis.
"Maafkan ibu,, na,, maafkan ibu,,"
Sekarang keduanya menangis berpelukan.
Ibu terus bergumam tentang semua yang Jaka lakukan untuk keluarga nya, yang di iringi dengan tangisan.
"Iyaa bu,, nana juga bisa merasakan, sekeras apa kakak berjuang selama ini." Sahut Dina dalam pelukan sang ibu.
"Maafkan ibu ya na.."
"Enggak bu,, ibu benar, mungkin sekarang giliran kita berjuang untuk kebahgiaan kakak." Tutur Dina.
"Ibu,,, teteh,,, ada apa.??" Tiba tiba Dinda datang dari pintu kamar Dina.
"Kenapa pada nangis." Lanjutnya, seperti ingin menangis juga.
"Sini dek.." ibu melambaikan tangan agar anak bungsunya mendekat dan masuk dalam pelukanya.
Sekarang seorang ibu sedang memeluk kedua anak gadisnya dalam pelukannya, isak tangis masih tersisa, mulut ibu tak henti mendoakan kedua anak permapuan nya, baik Dina atau Dinda, ibu mendoakan kebahagiaan untuk keduanya.
Langit sudah tak secerah siang tadi, suhu udara tidak sepanas sebelumnya, matahari perlahan turun, putihnya awan berhias warna oranye sangat menyejukan bagi yang melihat, terlebih ada angin yang lembut menghembus di sekeliling penikmat sore.
Selepas mandi tidak biasanya Dina mencari adiknya.
"Aayuuukkk teh,, aku siap siap dulu." Sambut Dinda meloncat dari tempat tidur nya.
"Cepetan, teteh tunggu di depan." Perintah Dina.
"WOOKEHH..." teriak Dinda dalam kamarnya.
setelah beberapa saat, keduanya telah siap untuk pergi, Dina mengajak adik nya untuk berjalan jalan di mal yang biasa Dia kunjungi.
Menyusuri toko toko fashion, seperti pakaian, tas dan sepatu. Di sana ada sebuah toko perhiasan dan asesoris yang menarik perhatian keduanya, para gadis itu masuk kedalam toko dan melihat lihat semua yang terpajang di sana.
Banyak sekali perhiasan dengan design yang unik dan berkilau, membuat yang melihat merasa tergiur dan menginginkanya. Dina menunjuk sebuah cincin yang sangat unik.
Cincin satu pasang yang berwarna silver itu sangat menarik perhatian Dina, jika di satukan terlihat designnya membentuk hati dengan satu titik belian di tengahnya, dan jika di pisahkan menjadi model design yang unik pula, tidak telihat seperti setengah hati, tapi design sederhana bentuk hati bagian bawah untuk satu cincin laki laki, dan design menarik untuk si perempuan di bagian atas hati yang bermata berlian.
"Itu model terbaru kami kak, itu bisa di pakai untuk cincin kawin, kira kira tepatnya tanggal berapa ya kak, acara pernikahannya." Cerocos mbak spg.
"Eehh,, iya maaf, kenapa.?" Tanya Dina tersadar dari terpesonanya akan cincin yang di lihat nya.
"Pilihan kakak sangat bagus, itu limited edition di toko kami kak. Kalau boleh tahu, acaranya kapan.?" Mbak spg bertanya lagi.
"Hah,, acara apa.?" Dina balik bertanya.
"Kakak mau menikah kan.? Saya lihat kakak sudah pakai cincin tunangan, kalau kakak melihat cincin pasangan lagi, berarti kakak mau menikah bukan." Mbak spg menjelaskan perkiraanya.
"Teteh udah mau nikah,, kok adek gak di kasih tahu." Protes Dinda.
"Eehhh bukan begitu, belum ada obrolan ke sana, aduuh kamu ini anak kecil maen nyamber aja, kayak petir." Tukas Dina hendak membawa adik nya keluar toko.
"Kak,, ini mau sekalian saya buatkan pesanannya," tiba tiba mbak spg itu mengeraskan suaranya.
"Aduuh mbak, maaf nanti saja, saya belum berniat membeli, hanya melihat lihat saja." Jelas Dina.
"Kita lagi ada promo loh kak, jika mau kakak bisa bayar uang muka nya saja, nanti pelunasan nya ketika cincin siap di ambil kak, bagaimana.??" Tetap saja spg itu berusaha.
"Nanti aja ya mbak, saya gak bawa uang nya. Hehe. Maaf." Ucap Dina terburu pergi sebelum kariawan toko itu berceloteh kembali.
"Gak ada uang,, Bohong banget,, itu cincin yang di pakainya lebih mahal dari ini, masa beli yang ini gak mampu, bilang aja punya langganan toko yang lain, cih beralasan gak ada uang." Dengus kariawan toko.
Selepas dari toko perhiasan, kakak beradik itu memasuki toko baju dan sepatu, mereka masing masing memilih satu set pakaian dan satu pasang sepatu, juga tidak lupa membawakan untuk ibu yang ada di rumah.
Setelah merasa lelah karena mondar mandir berbelanja, Dina mengajak adiknya untuk makan di restoran jepang Faforit nya, Dina memesan tiga menu makanan dan satu minuman, sedangkan adik nya hanya memilih satu makanan dan satu minuman.
" laper buu,,, sampai pesan tiga menu gitu." Ledek Dinda pada kakak perempuannya.
Dina mengangguk. "Iyaa,, teteh butuh nutrisi buat menghadapi kenyataan." balas Dina.
__ADS_1
"Haallaah,, lebay." Sungut Dinda.
di sela menunggu makanan siap Dina dan Dinda bergiliran melaksanakan sholat maghrib.
Chankonabe, tendon dan yakitori adalah menu pilihan Dina untuk makan malam nya, sedangkang Dinda hanya memesan satu mangkuk udon dan soda. dan makanan telah tersaji.
Mereka berdua menikmati hidangan dengan lahap, Dina benar benar menghabiskan semua yang dia pesan, dan setelah semua selesai, Dina berniat ke toilet dan setelah nya pergi ke kasir untuk membayar. Sedangkan Dinda di minta untuk menunggu di dalam mobil, membawa semua barang belanjaan.
Setelah keluar dari toilet, Dina mencuci tangan nya di wastafel, menggosok setiap kukunya dengan sabun, saat Dina asyik membersihkan tangan nya dengan busa yang membalut ditelapak tangan nya.
Ternyata seseorang di sebelah nya memperhatikan, dia menyapa Dina.
"Heeyy,, how are you.??" Sapa orang itu.
"Samantha.??" Sahut Dina. Kaget.
"Yes,, ist Me..." ucap Sam mendekat pada Dina.
"Apa kamu masih berhubungan baik dengan Dammy.??" Tanya Sam.
"Maaf,, siapa.?? Maksud anda Damar kah.??"
"Ohh tentu, kami selalu baik, how about you?"
Ucap Dina ketus.
"No,, jangan seperti itu, aku cuma mau kasih lihat ini, keseharian aku sama Dammy, kamu bisa melihat betapa dekatnya aku dengan nya,, iya kan.. because right now, we're in the same office." Jelas Sam memanas manasi. Dengan menunjukan foto foto kebersamaanya bersama Damar di kantor.
"Dan lagi, kami sudah berbaikan." Lanjut Sam.
Ada yang sedang duduk bersama, berjalan beriringan, dan bahkan foto Sam memeluk Damar saat Sam mengamuk tempo hari, semua itu dia tunjukan pada Dina.
Deg,,,
Dada Dina seketika bergemuruh, nafasnya menjadi sedikit sesak, Dina mengeratkan giginya menahan emosi, namun kali ini Dina berusaha tidak meledak, meski foto foto itu terlihat nyata, namun Dina yakin Foto itu di ambil hanya untuk memprovokasi dirinya. Terlihat jelas semua dalam semua foto itu hanya Sam yang tersemyum.
Dan untuk foto Sam memeluk Damar, Dina juga mendapatkan sebelumnya, dan belum sempat di tanyakan pada Damar, namun Dina juga yakin Foto itu tidak seperti yang di sampaikan Sam, karena terlihat jelas di sana hanya Sam yang memeluk damar sambil menangis dan Damar hanya diam saja.
"Uuhhh,,, are you serius,, sebegitu menginginkan tunangan orang lain kah kamu Sam, sampai berusaha keras seperti itu.." ucap Dina berusaha terlihat santai, untuk menutupi kemarahanya.
Sam heran, menatap Dina tidak mengerti
"Dengan kamu menunjukan foto foto itu, kamu sendiri sudah memberi tahu bahwa kamu tidak baik baik saja, jangan berusaha memprovokasi, carilah kebahagiaan mu sendiri, jangan mengganggu kebahagiaan orang lain, nanti kamu akan menderita. " tutur Dina dengan sangat dingin.
"Kamu,,,,"
"Tidak usah Sam, berhentilah,, berhenti sampai sini." Potong Dina tidak memberi kesempatan Sam menimpal.
Dina keluar toilet meninggalkan Sam yang sepertinya kesal, tanpa menengok lagi Dina terus berjalan dan pergi ke kasir.
Memesan makanan take away yang lumayan banyak.
Setelah makanan di tangan nya, Dina pergi ke toko pakaian, tas dan sepatu, membeli beberapa pakaian, tas dan sepatu. Tidak lupa dengan asesorisnya.
Setelah selesai Dina masuk ke dalam mobilnya, menyimpan semua belanjaan nya di bagasi kecuali nakanan yang ia pesan. Ia menyimpan makanan di bangku belakang pengemudi.
"Teteh,, ini apa, banyak banget,, bukanya tadi kita udah belanja.??" Tanya Dinda heran.
Dengan wajah kesal Dina datang dan membawa semua barang bawaan itu. Dan tidak berniat menjawab pertanyaan adiknya.
"Kenapa.??" Guman Dinda bingung karena sikap kakak nya.
Dina melajukan mobil tanpa menjawab pertanyaan adiknya, sedari tadi Dia menahan emosi, jika berbicara takutnya akan memarahi adiknya, jadi lebih baik diam saja.
Malam semakin gelap,
Tidak terasa sudah pukul sepuluh malam, ibu dari tadi sudah mewanti wanti untuk tidak pulang terlalu malam, namun tetap saja karena macet dan hal lainnya Dina pasti akan sampai rumah sekitar jam sebelas malam.
Saat sedang berkendara, Dina berhenti sejenak, dia menyisir jalan untuk melihat anak anak jalanan yang biasa berada di sana.
"Jo.." teriak Dina pada satu anak.
Anak itu berlari seperti mengenali si pemanggil.
"Kak,, apa kabar." Sapa anak jalanan itu.
"Jo,, kamu sehat, kakak baik." Dina menjawab.
Ternyata anak itu adalah anak yang sama yang pernah di beri uang oleh Damar, waktu kecelakaan tempo hari.
"Maaf ya, kakak jarang ke sini, ini ada makanan buat kalian semua, mudah mudahan suka ya.."
Sodor Dina dari jendela kaca mobilnya.
"Iya, terimakasih kak, semoga kakak bahagia selalu, tuhan menjaga kakak di mana kakak berada." Ucap anak jalanan itu.
"Hihihi,, iya sama sama,, kamu baik baik ya, kakak pergi dulu." Tutur Dina mengusap kepala jo yang menunduk.
Dina melajukan kembali mobilnya, hati dan fikiranya mulai tenang, Dia tersenyum melihat adiknya yang tidur di bagku pinggir pengemudi, mengelus tangan adiknya yang terlelap, dan bergumam memanjatkan doa dan harapan yang terbaik untuk adik semata wayang nya.
Fikiran Dina kembali melambung, mengingat apa yang ibu ungkapkan. Memang tidak salah jika seorang ibu menginginkan kebahagian anak anak nya, apalagi anak sulungnya yang berjuang sendiri untuk keluarganya.
Mungkin ibu benar, sudah saat nya aku membahagiakan kakak,, sudah saatnya kakak menjalani kebahagiaanya sendiri. Mungkin, jika aku menikah kakak juga akan menikah. Tapi saat aku berniat ingin di nikahinya, kenapa situasinya malah menjadi rumit seperti ini.
Bohong jika aku tidak memikirkan foto toto itu, persaanku sakit melihat kedekatannya dengan dia, masalahnya Dia pernah mengisi hati mas Damar, aku takut perasaan itu akan kembali dengan sering nya mereka bertemu.
Apa aku berlebihan, jika berfikir seperti itu. Meski aku beruhasa percaya sepenuhnya sama mas Damar, tetap saja hati kecil ku ketakutan, aku takut kehilangan Dia, bahkan sekarang pun aku merindukanya.
Eehhh,,, apa aku sudah mencintainya,, kenapa aku seperti ini,, aku bahkan sedang marah karena foto foto itu,, tapi aku malah seperti ini.
__ADS_1
Mungkin, beberapa hari tanpa kamu membuat aku sadar, bahwa aku merindukan kamu. *dan kenapa saat aku memikirkan untuk menikah dengan mu, kamu membuat aku ragu, terlebih foto yang di tunjukan Sam padaku membuatku sangat jengkel.
mas,, cepatlah pulang, selain aku ingin marah pada mu, aku juga ingin bertemu*.