
"Din,, lama sekali kamu di dalam sana, kamu tidak tidur kan" Damar berteriak pada istrinya karena sudah hampir 15 menit dia didalam kamar mandi.
"Iya sebentar" sahutnya terdengar dari dalam kamar mandi.
" makanan sudah hampir dingin, sedang apa kamu di dalam sana." karena merasa kelamaan Damar menjadi kesal.
Tak lama setelahnya Dina keluar dengan muka cemberut, Dia membalut tubuhnya dengan jubah mandi, karena dia merasa pakaian tidur yang dia kenakankan terlalu terbuka.
"kenapa pakai itu.?" katanya sambil menahan senyum.
"Aku tidak habis fikir, kenapa kamu mengganti pakaian ku mas dengan baju model kurang bahan seperti ini, bolong sana bolong sini,,, hadeeeuuuhh apa benar ini pakaian." Omel Dina pada baju yang Dia kenakan,
Sejak di kamar mandi Dina berfikir, apa benar Damar mengganti pakaian nya, terus kenapa musti pakai baju tidur kurang bahan itu.
"Kamu masih memikirkan tentang pakaian rupa nya.?" Lagi lagi Damar menyunggingkan senyum
"Kamu di gantiin baju sama Fey bukan aku, prihal kenapa baju nya itu, aku gak tahu." Lanjut nya.
"Masa gak tahu sih, ada beberapa pilihan baju di paper bag seserahan, aneh, kenapa malah pilih yang ini sih." Dengus Dina dan langsung duduk di kursi dan hendak menyantap semua hidangan yang berada tepat di depannya.
perutnya langsung Meraung saat berhadapan dengan hidangan Lezat itu, Apalagi sejak tadi pagi Dia belum makan sama sekali, tanpa babibu langsung saja dia melahap satu persatu yang ada di atas meja.
"Emmhh enak sekali" gumamnya.
Damar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, " Sudah berapa lama kamu tidak makan"
namun istrinya tidak merespon, tetap saja melanjutkan makan, beberapa hidangan telah dia habiskan dan Damar hanya tersenyum melihat istrinya makan, ada perasaan bersalah yang menyelimuti Damar, apalagi saat setelah akad nikah wanita yang telah menjadi istrinya itu tidak sadarkan diri, Damar adalah orang yang paling khawatir.
flashback.
Din, bangun Din kamu kenapa,,
"dokter,,,dokter" Teriak Damar yang terduduk di lantai memeluk istrinya.
tidak menunggu lama kepala rumah sakit sekaligus Paman dari Damar memeriksa dengan seksama
"Kenapa dia Om.?" Tanyanya.
kepala Rumah Sakit malah tersenyum,
" kenapa Om,?" Sekali Damar bertanya.
"tenang, dia tidak kenapa-napa dia hanya pingsan karena kelelahan, sepertinya Dia terlalu banyak memikirkan sesuatu terlebih lagi perutnya kosong sehingga dia tidak punya sama sekali tenaga, maka dari itu badannya protes dan akhirnya dia pingsan" jelas kepala rumah sakit,
beberapa perawat membawa bed pasien ke dalam ruang acara, mereka menyuntikkan beberapa obat dan vitamin ke dalam labu infusan yang telah terpasang.
"Om kenapa dia belum bangun" Damar semakin merasa khawatir.
" tenang, istri kamu tidak apa-apa, biarkan Dia istirahat, Dia snagat lelah, mungkin nanti siang atau bahkan sore hari Dia akan bangun, tapi tidak apa-apa." jelasnya lagi.
ada baiknya Dina tidak ada saat operasi jaka berlangsung, jadi wajah khawatirnya tidak terlihat karena dia tertidur.
hari semakin siang dan benar saja Dina belum bangun, entah efek dari lelah atau karena infusan dan multivitamin yang diberikan, atau mungkin juga Dia memang kuat tidur, karena seingat Damar, sejak kemarin jelas Dia selalu tertidur.
" Alhamdulillah operasi pertama berjalan dengan lancar, nanti akan lanjutkan operasi selanjutnya, untuk sekarang pasien tidak akan terbangun karena efek obat bius, jadi pasien bisa istirahatkan semua organ tubuhnya begitupun dengan keluarga, Apabila hendak istirahat silahkan Karena untuk sementara waktu pasien bisa ditinggal, setelah siuman nanti kami akan menghubungi."
itu adalah penjelasan perawat sebelum damar dan Dina pergi meninggalkan rumah sakit, sedangkan ibu Dewi dan Dinda pulang ke rumah, begitupun dengan yang lain.
flashback off.
__ADS_1
Dina menggoyangkan lengan Damar
"Mas..."
"Hhmm.." sahutnya menatap sang istri berusaha terlihat tenang tanpa diketahui sedang melamun.
"pakai baju atuh." berbicara tanpa melihat Damar.
" Kenapa memang.?" menggeser mendekat pada istrinya.
" Ih apaan sih, Aku lapar tahu." Menahan dengan tangan kirinya. Dan menjauh menggeser tubuh nya.
namun Damar semakin menggodanya dengan terus memajukan wajah dan badannya,
Dina melepaskan sendoknya yang Sudah dari tadi ada di tangannya, dan sekarang menahan dengan kedua tangan nya " aku tuh lapar, belum makan dari tadi." Sekarang Dia mulai mendengus.
"Eeuummhh,, kasihan sekali yang tadi pagi belum makan, aku juga mau makan."
"Iya sok, makan aja." Ucap Dina.
"Aku mau makan kamu." Goda Damar lagi.
"Apaan sih." Sekarang Dina benar benar kesal.
"Hahha..." menepuk-ngelepuk kepala istrinya.
Tok.. tok...tok.. terdengar suara ketukan dari pintu.
ada seseorang di balik itu, dan Damar mebukakan setengah pintu saja, kemudian berbicara pada seseorang di balik itu, lalu mengambil satu koper besar darinya,
setelah menutup pintu kamar Damar membuka koper itu, membongkar isi dalam koper itu bahkan dia Hampir mengeluarkan setengah dari isi koper itu, dia ngobrak-abrik seperti sedang mencari sesuatu.
"cari apa Mas.?" dengan mendekati Damar yang terlihat sibuk.
" Kenapa mesti bawa dari rumah, bukannya di sini juga ada, tuh." menunjuk seserahannya dengan mulut.
" Lain kali kalau menunjuk pakai tangan." Damar menempelkan tangannya pada bibir Dina yang sedang manyun karena menunjukkan sesuatu.
"ihhhh.." mengelap mulut nya dengan tangan,
Damar berhenti mencari mukena, kini Dia mengambil pakaian untuk dirinya dan pergi ke dalam kamar mandi, rupanya alasan kenapa sejak tadi dia bertelanjang dada karena tidak adanya baju untuk berganti pakaian.
setelah Damar keluar dari kamar mandi Dina masuk dengan segera dengan membawa pakaian yang yang dia ambil dalam paper bag seserahannya.
Damar menyeringai melihat istrinya masuk dengan membawa beberapa pakaian karena tangannya penuh, Damar memperkirakan bahwa Dina tidak Mengunci pintu kamar mandi karena waktu masuk Dina mendorong pintu dengan kakinya.
Damar duduk di sofa di depan tv. Dia menunggu istrinya keluar, namun beberap menit menunggu Dina tak kunjung keluar. Padahal hanya berganti pakaian saja. Apa mungkin mandi, tapi tidak terdengar gemericik air. Begitu fikirnya.
Sekarang Kekhawatiran menghampiri nya.
Ceklek,,,
Damar semakin menyeringai, benar saja kan Dina tidak mengunci pintu nya, Damar masuk kedalam kamar mandi dengan perlahan.
Semakin masuk kedalam semakin terdengar gerutuan perempuan yang baru ia nikahi tadi pagi.
Rupanya baju dalam seserahan nya tidak cocok dengan selera istrinya, entah fey sengaja, atau ada niat tersembunyi memilihkan Dina pakaian yang terbuka, padahal setahu Damar sebagai kakaknya, Fey juga bukan tipikal perempuan yang senang memakai pakaian yang terlalu terbuka.
Dalam pantulan cermin Damar melihat punggung mulus istrinya tanpa busana,
__ADS_1
Ada desiran dalam batinya, matanya tak berkedip melihat tubuh mungil istri nya yang hanya memakai ****** *****.
Nampak jelas sekali Dina memgomel mencoba satu persatu pakaian yang dia bawa ke kamar mandi, tanpa menyadari ada yang memperhatikan.
"Dih,, ini baju siapa yang pilih si, kok model nya aneh aneh semua, ada yang normal tapi itu buat ke pesta. Hadeeuuhh gimana ini."
Beberapa kali Damar menelan salivanya dan senyum di bibirnya tak pernah hilang, melihat Dina yang beberapa kali melempar pakaian dan terus bergerak tak beraturan, kini Dia sudah memakai kembali jubah mandi yang tadi dipakainya.
Untung saja Dia memakai kembali jubah itu, kalau saja sedikit lebih lama, mungkin itu akan menjadi awal pemanasan malam pertama mereka.
"Ataghfirullah,,"
"Aaaaaaahh..."
Dina berteriak kaget.
"Aduh kamu tuh, nanti orang orang pada datang ke sini." Panik mendekat dan membekap mulut istri nya.
"Mas ngapain di sini.?" Sekarang Dina berdecak.
"Mau ngapain lagi, kamu terlalu lama di sini, aku khawatir kamu kenapa napa napa." Kilah nya.
"Dih, alesan." Dengus Dina.
" Sudah berapa lama Mas ada di sini.?" Ucap Dina ketus membawa keluar semua pakaian yang dia bawa tadi dan meninggalkan suaminya di kamar mandi.
"Cukup lama.." sahut nya.
"Apa.?? Cukup lama.. berarti mas,,." Dina berfikir lalu panik menatap suami nya.
Damar tersenyum, "sangat jelas." Mendekatkan wajah nya sejajar dengan wajah istrinya.
"Aaaaaaaaa...." teriak Dina menutup wajahya, masuk kedalam selimut yang menggulung di atas tempat tidur. Dan rasa malu kini telah menyelimutinya.
Damar menahan tawa nya. Ternyata menikahi gadis seperti istri nya sangatlah menyenangkan.
Entah karena usia istrinya yang masih terbilang muda, sehingga memberikan sesuatu yang berbeda pada hidupnya.
Padahal jika di ingat, dulu Dia tidak mungkin tertarik dengan gadis dengan usia yang jauh di bawah nya, akan merepotkan fikirnya, namun ternyata kehidupan benar benar bukan milik nya, mereka hanya pelaku dari kisah yang telah tuhan gariskan.
Melihat istrinya cukup lama berada dalam gulungan selimut, Damar membiarkannya saja, karena meski dalam selimut, gadis itu tetap saja menggerutu namun tak berani menampakan wajah nya. suara mengomel yang tertahan yang terdengar sampai keluar selimut.
"Iiih... mas harusnya ketuk pintu dulu,"
"Gak sopan kalau langsung masuk."
"Kan tahu, aku ada di dalam."
Terdengar omelan yang di lontarkan dari dalam selimut.
Damar tidak menanggapinya, takut nya akan semakin kesal jika Damar menjawab nya.
Dia hanya menuggu istrinya keluar dari dalam selimut, duduk di sofa dan menyalakan televisi,
Entah apa yang di tontonya, namun matanya terasa berat dan semakin lama semakin sulit di buka kembali, Damar terlelap dalam nyamannya sofa hotel.
Tanpa sadar tubuhnya pun meminta untuk beristirahat, karena beberapa hari ini semua orang sangat sibuk dengan urusan masing masing, tak terkecuali pengantin baru ini.
Damar dan Dina, Kedua nya terlelap di satu ruangan yang sama, setelah melihat suaminya telah nyaman dalam mimpinya, Dinapun ikut memejamkan mata nya dengan masih berbalut selimut.
__ADS_1
Selamat tidur, selamat istirahat...
Pemanasan Malam pertama sang pengantin baru cukup sampai di sini saja, butuh banyak energi untuk memulai hari esok, hari baru bagi sepasang insan yang telah dipersatukan oleh sebuah ikatan pernikahan.