Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
36. Masih Menyelami Perasaan


__ADS_3

Masss....


Mas Damar,,


Massss...


Damar langsung membuka mata nya,


mata nya memerah,


jantung nya berdegup kencang, karena di bangunkan tiba tiba, saat dia sedang nyaman terlelap dalam tidur nya.


Seseorang mengetuk pintu, meskipun tidak terlalu keras, tapi masih terdengar jelas dan berdengung di telinga nya.


Damar mengumpulkan kesadaran nya, dia langsung menyadari, bahawa Dia masih berada Di rumah Dina.


"Iyaaa,,,,"


Sahut Damar, dan menghampiri pintu.


"Kenapa Din, buka aja kan pintu nya gak di kunci."


Desis Damar memijat kepala nya.


"Gak sopan atuh, "


Tutur Dina.


"Kenapa.??"


Tanya Damar.


"Mas aku lupa, mas Damar sudah sholat dzuhur.? Ini sudah mau habis waktu nya,"


Jawab Dina.


Damar menggeleng,


"Ya sudah sholat dulu ya, sebentar lagi habis waktu nya, nanti di lanjut istirahat nya."


Pinta Dina dengan lembut.


Damar hanya mengangguk dan menurut.


Saat Damar hendak ke kamar Mandi, terlihat Dinda adik nya Dina sedang duduk di sofa depan Tv, Dinda baru saja pulang dari sekolah, terlihat dia masih memakai seragam sekolah nya.


"Baru pulang sekolah.?"


Tanya Damar saat melewati Ruang Tv.


"Iya bang, baru aja."


Jawab Dinda.


Hhhhmmm.. damar berlalu ke kamar mandi.


Dina menyiapkan sajadah, untuk Damar melaksanakan  sholat,


Sampai Damar kembali ke kamar dan hendak melakukan sholat, Dina belum keluar Dari kamar tamu, Dia membereskan tempat tidur yang Damar pakai tadi.


"Kenapa,? sampai segitu nya kamu membersihkan bekas tidur aku."


Ucap Damar, berdiri di atas sajadah.


"Eeehh bukan gitu, biar bersih aja mas, kan enak di lihat nya kalau bersih dan rapih. Iya kan.?"


Jawab Dina tersenyum.


"Sholat nya yang khusu ya, setelah sholat minta sama allah, curhat sama allah apa saja yang pengen mas Damar katakan, keluarin aja biar lepas semua,,, allah maha menjaga Rahasia mas, allah sebaik baik tempat mengadu.."


Sambung Dina.


Malah menceramahi.


Damar hanya Diam, mungkin meski Damar tidak memberi tahu siapa wanita asing tadi, tapi Dina pasti mengetahui nya, jelas sekali Sam selalu bilang kalau Dia mencintai Damar.


Damar memulai sholat nya,


Dan dina pergi meninggalkan kamar di mana Damar sedang melaksanakan sholat.


Dina kembali ke pekerjaan sebelum nya, dia sedang membuat schotel macaroni panggang,


Bau nya sudah mulai tercium, dan seperti nya sebentar lagi akan segera matang.


"Bau apa ini..??" 


Dinda telah berganti pakaian, dia keluar kamar karena mencium bau yang sedap.


"Kalo makanan aja, numero uno kamu dek."


Celetuk Dina.


"Iya lah,,, apalagi kalo gratis, haha"


Jawab Dinda, tertawa.


"Udah ada yang mateng belum teh.?"


Lanjut Dinda.


"Iiiihhh enak aja kamu, ini buat mas Damar,"


Tukas Dina.


"Dih,, kopet pisan si teteh, "


Ujar Dinda.


"Siapa yang copet.?"


Tanya Damar, yang muncul tiba tiba dari pintu dapur.


"Hahha,, bukan copet bang, tapi kopet, itu bahasa sunda, artinya pelit."


Jelas dinda.


"Pelit kenapa.?"


Tanya Damar lagi.


"Tuuuhhh,, di mintai schotel tapi gak ngasih, kata nya buat mas Damar, dih,, dasar pelit."


Terang Dinda dengan gaya meledek, dan menunjuk ke arah oven listrik di depan Dina.


Dina terkekeh mendengar ocehan adik nya, dina sengaja membuat adik nya kesal.

__ADS_1


"Din,,, "


Seru Damar menatap Dina.


"Iyaaa mas, cuma bercanda kok, dinda aja kamu percaya, emang pernah teteh gak ngasih, lebay kamu dek."


Desis Dina.


Dina mengajak Damar untuk duduk di sofa di ruang Tv, Dinda mengikuti.


Dina menyodorkan Schotel buatan nya pada Damar, damar mengambil nya sambil tersenyum.


Dina duduk di samping Damar,


"Din, lihat hape aku.?"


Tanya Damar mencari benda tipis milik nya.


Dina menggeleng,


"Pinjam hape kamu."


Dengan cepat Dina merogoh saku baju nya dan mengambil hape milik nya, lalu menyodorkan pada Damar.


Di ambil nya hape itu dari tangan Dina.


Yaa ampun kenapa aku berikan sih,,, aahh nomor nya aku kasih nama yang aneh,, aduuh gimana ini.


Dina tersadar saat Damar mencari nama nya di hape Dina.


"Kamu simpan apa nomor ku Din.?"


Tanya Damar masih mengetikan nama nya di hape Dina.


"Eeemmhhh,, itu mas,, sini biar aku saja."


Dina bergegas mengambil hape dari tangan Damar, namun sayang, Damar lebih cepat menjauhkan nya.


"Sebutkan saja, kamu save dengan nama apa.?"


Desak Damar mulai curiga.


"Aduuhh apa ya,,, iya sini biar aku saja."


Dina masih berusaha mengambil Hape nya.


Tapi Damar mengangkat hape di na sampai ke atas, sehingga Dina tidak bisa meraih nya, melihat tingkah laku Dina, Damar semakin penasaran, nama seperti apa yang Dina tuliskan untuk nomor dirinya.


Tapi Dina masih berusaha mengambil hape nya, namun Damar lebih kuat tentu nya, Damar memeluk Dina dari belakang, dan memegang kedua tangan Dina dengan satu tangan nya.


Dengan posisi seprti itu Dina akhir nya diam dan mengalah.


Damar mengetikan nomor nya di hape Dina, dan keluar nama kontak (RIRIWA).


Damar mengeryit kan Dahi nya,


Nama macam itu, aneh sekali.


Damar melepaskan kedua tangan Dina, dan Dina pergi mencari di mana asal Dering hape Damar, yang sedang menerima panggilan dari hape Dina.


Tenyata hape Damar ada di kolong nakas pinggir tempat tidur , seperti nya terjatuh saat Damar sedang tertidur tadi.


"DINA,,,"


Panggil Damar mengeraskan suara nya.


"DIN..."


Lagi lagi Damar memanggil.


Dina belum mau untuk melangkah.


"Eehhh hape nya berdering lagi."


Gumam Dina melihat benda kecil di tangan nya.


Tertulis di layar hape itu


CALON ISTRI memanggil.


"Hhaaahhh,, no siapa ini, ini kan nomor ku,"


Dina melangkahkan kaki nya dengan ragu,


Terlihat Damar yang melipat kedua tangan nya di dada menatap Dina dengan tatapan sangat tajam, seolah Dia harimau yang ingin menerkam mangsa nya.


"Kenapa kok kamu seperti itu.?"


Tanya Damar Dingin.


Padahal ada Dinda yang sedang menonton Tv di karpet yang di gelar bawah sofa di atas lantai.


Dina bingung harus jawab apa, mungkin Damar tidak tau apa arti dari nama kontak nya, tapi karena sikap Dina yang mencurigakan, tentu Damar tidak akan melepaskan Dina begitu saja.


"Duduk sini Din"


Pinta Damar semakin dingin, menepuk bagian kosong sofa yang di duduki nya.


"Mana hape nya."


Tanya Damar mengulurkan tangan nya,


Dina memberikan nya dengan cepat.


"Hape ku mana mas.?"


Tanya Dina pelan.


"Ini,??? Ini punya kamu.?"


Tanya Damar balik.


Dina mengangguk.


" ini nomor kontak siapa.?"


Damar menunjukan nomor di layar hape Dina.


"Apaan sih mas, siniin,"


Akhirnya Dina tidak lagi Diam, mungkin dengan berbalik kesal, Damar tidak akan menanyai nya. Fikir Dina.


"Kenapa.? Kok kayak kesal gitu.?"


Sindir Damar.

__ADS_1


"Enggak,, sini hape nya mas.."


Masih berusaha mengambil hape.


Dan Damar masih mempertahankan nya.


Dinda hanya menonton acara berebut hape antara Dina dan Damar, mereka tidak menyadari kalau Dinda memperhatikan.


"Itu apa artinya,"


Tanya Damar, masih memegang hape Dina.


"Itu apaan sih.,"


Dina Masih berusaha mengambil hape nya,


Damar semakin menaikan tangan yang memegang hape Dina, karena tinggi Dina hanya sebahu Damar, tentu saja sangat sulit bagi Dina untuk mencapai nya.


"Jawab dulu apa arti nya nama kontak aku di hape kamu."


Desak Damar.


"kalian ini lagi ngapain sih, berebut apa coba.?"


Tiba tiba Dinda membuka suara.


Sontak yang sedang berebut hape melihat ke arah Dinda secara bersamaan, di saat Damar lengah Dina mengambil hape nya, dan secepat kilat berlari ke kamar nya.


"Tuuhh lihat kakak kamu, kayak kucing ketauan ngambil ikan. Haha"


Ucap Damar pada Dinda dengan tertawa karena melihat tingkah Dina.


Dina menutup pintu kamar, dan mengunci nya, padahal Dia tau mana mungkin Damar mengikuti nya sampai kamar nya, namun tetap saja Dina mengunci nya.


Di pegang nya hape milik nya di depan Dada nya, degup jantung nya semakin kencang, entah kenapa Dia mesti lari, padahal tinggal mengarang saja Damar pasti percaya.


Namun, di kala dalam situasi mendesak otak Dina susah di ajak berfikir, bahkan gerak tubuh nya pun suka susah di ajak kompromi.


"Teteh kenapa.?"


Tanya Dinda heran.


Damar hanya menjawab dengan menaikan kedua tangan nya, mengisyarakan bahwa diri nya tidak mengetahui.


"Dinda, kau tau gak maksud dari RAWARAWA.?"


Tanya Damar pada Dinda, jika Dina tidak mau memberi jawaban, mungkin adik nya tau.


"Rawarawa apa bang.?"


Tanya Dinda tidak mengerti.


"Rawa.?" Sambung nya.


"Ehh apa ya, kayak nya bukan deh, Riwariwa kayak nya,"


Ucap Damar mengingat.


"Apa sih, gak jelas."


Dinda semakin bingung.


"Ah,, ya sudah lah. Tolong panggil kakak kamu, bilang saya mau pulang."


Pinta Damar pada calon adik ipar nya.


Iyaa... Dinda mengangguk dan pergi.


"Mas, mau pulang sekarang.? Memang sudah baikan.?"


Tanya Dina berjalan menghampiri Damar,


"Iya,, ini sudah sore."


Jawab Damar, memasukan hape dan dompet pada saku celana nya.


"Ya sudah."


Dina mengantar Damar sampai pintu gerbang depan Rumah , ada rasa tidak rela jika pergi,  Dina khawatir , jika Damar sendiri ditakutkan Dia akan menjadi terpuruk dan sedih lagi, apalagi di rumah nya hanya Dia seorang. Yaaa meskipun ada asisten ruamah tangga, tapi tetap saja kan.


"Kenapa.? Kok lesu gitu.?"


Tanya Damar melihat Dina yang melemas,


"Ehhh apa.?" Tanya nya balik.


"Mas, benar sudah baikan. Sudah tidak pusing lagi?."


Lanjut Dina.


"Kenapa.? Sekhawatir itu kamu sama aku.?"


Tutur Damar mengulum senyum.


Dina hanya Diam, perasaan nya campur aduk, teringat kembali wanita asing itu, kekhawatiran pada Damar, memang memenuhi perasaan nya, akan tetapi mungkin ketakutan Dina lebih besar dari pada kekhawatiran nya.


Melihat wanita asing itu lebih berani menempel pada Damar, mungkin itu bisa menjadi salah satu yang mengancam hubungan nya, apalagi dia dengan tak ragu nya selalu mengatakan masih mencintai Damar.


"Terima kasih ya, sudah peduli dan mengkhawatirkan aku, mungkin kamu bingung untuk saat ini, tapi aku janji, aku akan menceritakan semua nya sama kamu, semua tentang aku, semua tentang hidup aku. Yaa..??"


Lanjut Damar, tersenyum mengusap kepala Dina.


"Iiiiihhh apaan sih."


Dina merona malu dan menangkis tangan Damar di kepala nya.


"Kenapa malu, ya sudah aku pergi ya. Kencan hari ini sangat menyenangkan, dan juga irit di kantong,, haha"


Pamit Damar, yang selipkan godaan untuk Dina.


"Hhhmmm,, hati hati, kalo ada apa apa, mas telepon aku ya.? "


Hhhmmmm... Damar mengangguk.


Damar masuk kedalam mobil nya, terlihat Dina melambaikan tangan pada nya, setelah mobil terlihat mengecil dan jauh, Dina menutup pintu gerbang Rumah nya,


Dina masuk kedalam rumah, masih memikirkan keadaan Damar, Dina semakin khawatir, jika di sini Damar bisa menjadi lebih tenang dan sejenak melupakan masalah nya, karena Dina menemani nya.


Berbeda dengan Di rumah nya, mungkin Damar akan merasa lebih sepi dan berlarut dalam keterpurukan nya,


Untuk saat sekarang, Dina tidak peduli tentang masa lalu yang membuat Damar terpuruk, Dina lebih peduli pada keadaan Damar yang baru pertama kali Dia lihat, di balik Damar yang kuat, keras kepala dan tidak suka di bantah, ternyata ada sosok Damar yang rapuh dan lemah.


Itu membuat Dina merasa sedih, dan tidak mungkin Dina meninggalkan Damar sendirian dalam kondisi seperti itu, dan alasan apa yang membuat Dina tidak akan meninggalkan Damar,


Yaa tentu saja karena Dina sudah mencintai Damar. Tunangan, dan calon suami nya.

__ADS_1


Entah Dina menyadari nya, atau tidak..


maka Dina berusaha untuk menyelami persaan nya...


__ADS_2