
"Din, sudah lah, nanti aku ceritakan sedetil mungkin, sekarang kita jemput kakak kamu dulu, aku ingin cepat istirahat, aku belum tidur sama sekali." Bujuk Damar pada Dina yang membelakanginya.
"aku gak minta kamu buat jemput kakak aku, kalau mau pulang pulang saja, aku gak keberatan." Decak Dina membalikan badanya.
"Atau jangan jangan kamu pengen cepet cepet ketemu sang mantan ya.?" Lanjut nya.
Damar malah menatap Dina dengan tajam, yang di tatap tentu saja tidak tinggal diam.
"Kenapa melotot, kaget ya ketahuan." Dina terus menyindir.
Damar hanya diam tidak menanggapi, toh semua yang Dia ucapakan untuk saat ini akan salah dimata Dina. Jadi biarkan saja Dina mengoceh sampai puas.
Dan benar saja, Dina terus menyindir dan mengoceh sampai di tempat tujuan.
Setelah sampai, Dia langsung turun tanpa menunggu Damar.
Dina melambai pada pria yang mirip sekali dengan tunangan nya, apalagi dari kejauhan seperti ini, postur tubuh Jaka dan Damar benar benar bagai pinang di belah dua.
Dina berlari ke arah sang kakak meninggalkan Damar yang menatap nya agak jauh. Setelah berdekatan Dia menghambur ke pelukan Jaka, yang membuat Jaka keheranan.
"Kenapa.?" Jaka berbisik pada Dina yang masih dalam pelukanya, jelas sekali adik nya pasti telah menangis, mata bengkak nya tak bisa di sembunyikan.
Dina menggeleng, "nana kangen banget sama kakak." Tersenyum dan mengeratkan pelukan.
Mereka berjalan beriringan, Damar menghampiri untuk mendekati kakak beradik yang saling melepas rindu, namun tiba tiba langkahnya menjadi lari secepat mungking, wajah nya panik dan matanya melotot. Damar membuka mulut nya leba lebar.
"DINA, AWAS..."
Teriakan Damar membuat Jaka sadar, Dia memutar kepalanya dan melihat, ternyata ada mobil di belakang mereka yang sangat mengebut, yang sengaja di arahkan padanya, dengan spontan Jaka mendorong kuat adik nya keluar dari jalan yang Dia susuri, dan Dina pun terpental menjauh dari Jaka.
BUUGGHH,,, BRUUKK.. CEKIIITTT....
"KAKAK..... AAAAA....."
Dina melihat sang kakak tergeletak di atas aspal jalan, mobil yang mengebut itu menabrak kakak laki laki semata wayangnya, Dina mencoba berlari menghampiri kakak nya, namun kepala nya merasa pusing dan nafasnya serasa sesak, langkah nya melemah dan Dina pun ambruk di tempatnya berdiri.
"Ayah,, ayah,,, jangan pergi..." Dina bergumam di setengah sadar.
Melihat kakak nya tergeletak di atas aspal, memory masa lalu tentang ayahnya membuat Dina merasa kembali berada dalam situasi tersebut. Rasa sakit akan kehilangan ayah tercinta masih tertanam dalam benaknya, dan tak bisa terbayangkan betapa menderitanya jika sekarang dirinya harus kehilangan ayah keduanya.
"Din,, Dina,, buka mata nya Din.."
Suara Damar samar terdengar di telinga Dina, dia menggoyang goyangkan Dina yang berada di peluk nya, mata Dina menyipit dan akhirnya tertutup. Selain Jaka yang tergeletak melemah disana, kini Dina pun pingsan dalam pangkuan Damar.
Siapa sebenarnya si pengendara mobil yang sepertinya dengan sengaja menabrak kakak beradik itu.
Dina pov.
Aaahhh,, pengap sekali,,
Ini sangat gelap, di mana ini,, ibu,,, kakak,, dimana kalian...
Ku lihat ada cahaya kecil di sana, mungkin ada seseorang di sana, ku susuri saja jalan di depan ku, ku ikuti kemana cahaya itu akan membawa ku.
Siapa itu, pria paruh baya itu menatap ku sambil tersenyum, "Ayaaahh,,, ayaahhh,, jangan tinggalkan kami,," aku tahu jelas itu ayah, meski dari jauh, aku mengenalinya bahwa itu adalah ayah.
"Whhaa,,, kakak,, bangun kak."
Suara siapa itu.? Kenapa terdengar tak asing.
Sebenarnya tempat apa ini.??
"Kakak,,, whhaa,, adek nanti sama siapa.."
Tangisan itu terdengar lagi.
Ada sebuah pintu, aku buka saja, mungkin disana aku bisa meminta tolong.
Eeeuuhh,, lengkingan tangis itu semakin berdengung di telinga ku,,
Aaahhh apa ini,, ibu,, adek,, siapa orang yang berbalut kain putih itu,, siapa dia...
"Nana,,,, whhaa... Nana,," ibu datang memghampiri ku, dia memakai kerudung dan baju hitam, adek juga menangisi orang itu, apa maksud nya ini.
Di mana kakak.??? Siapa dia yang berbalut kain itu, gak mungkinkan dia,,, Gak mungkin..
GAK MUNGKIN.... aaaahhhhh....
"Din,, Dina,, sadar kamu..." mas Damar menepuk nepuk pundak ku.
Alhamdulillah, itu semua cuma mimpi.
Tapi kakak,, bagaimana keadaan kakak.
"Mas, kakak mas.."
Awww, ternyata ada jarum imfus menempel di tangan ku. Terasa ngilu saat aku hendak turun dari tempat tidur.
"Mau kemana kamu.? Kakak kamu baik baik saja, tadi kamu pingsan, katanya kamu tidak makan dari kemarin,, kenapa, kamu diet."
Mas Damar menahan ku dan merapikan sandaran untuk ku.
"Diet,, diet.. diet fikiran dan batin iya.."
Meskipun dalam keadaan di opname, aku masih kuat untuk mendengus.
"Nana,, kamu sudah bangun." Tiba tiba ibu datang dengan wajah khawatir dan terlihat sudah menangis, ibu benar benar memakai baju hitam.
"Ibu,, kakak mana.?? Kenapa ibu pakai baju hitam. Whaa.. kakak mana bu.?"
Aku takut jika itu bukan hanya mimpi.
"Huss, kamu ini kenapa menangis seperti itu, istighfar kamu, kakak kamu baik baik saja."
Meski ibu bilang baik baik saja, namun aku tahu kakak tidak baik baik saja.
"Dimana sekarang kakak bu.?" Ku harap aku mendapat jawaban.
"Dia masih di ruang ICU, dia belum sadarkan diri." Malah mas Damar yang menjawab,
__ADS_1
"Kenapa belum bangun mas, kalau kakak baik baik saja, "
Sebenarnya aku masih marah sama laki laki itu, namun karena ada ibu dan ini penting bagi ku jadi aku kesampingkan saja dulu.
"Mungkin pengaruh obat, banyak pecahan kaca yang menancap di kaki dan punggung nya, dan...."
"Ibu,,, kakak bangun." Eh tenyata Dinda datang ter engah engah.
"Aku mau lihat kakak,, aawwwhh.." selang infusan ini benar benar menghalangi gerak ku.
"Hati hati Din, kamu juga pasien di sini." Mas Damar Masih saja mendengus, padahal aku kan belum memaafkan.
"Apaan sih, Aku mau lihat kakak mas,"
"Nana, kamu ini, nak Damar cuma kasih tahu, kamu malah balik marah sama nak Damar."
Nah kan, ibu malah belain mas Damar, hanya karena aku melototinya.
"Iyaa,, tapi Nana mau lihat kakak bu, Nana mohon." Merengek saja lah, itu jalan pintas.
"Adek, ambilin kursi roda ya di depan."
Ahh, lama dong kalau nunggu adek bawa kursi roda, mana dia baru pergi lagi.
"Ibu,, aku jalan aja, lama kalau nunggu adek bawa kursi roda."
"Biar aku gendong,, kamu belum kuat, nanti pingsan lagi." mas Damar langsung saja mengambil posisi mengangkat ku, tanpa menunggu persetujuan dari ku.
"Eeh gak mau."
Enak saja, aku belum memaafkan ya, sorry tidak semudah itu alfonso.
Eeeehhh mas Damar benar benar ngeyel ya, main angkut saja, kalau saja tidak ada ibu, sudah aku tendang kamu mas, itu pun kalau aku berani,, haha,,
Setelah sampai di ruangan ICU, mas Damar menurunkan aku di depan ranjang kakak, Dia terbaring sangat lemah, hampir seluruh badanya di balut dengan perban, Dia mirip mumi, kakak ku yang kuat dan tangguh kini terbaring lemah menatap ku.
"Nana...." dia bergumam memanggil ku, aku mendekatkan telinga ku ke wajah nya.
"Maafkan kakak, kakak tidak bisa menjaga mu,"
Ku tahan sebisaku agar air mata ku tidak keluar.
"Kakak, titip ibu sama adek,"
"Jaga mereka baik baik,"
"Kamu anak kuat, adik kakak yang pemberani."
Suara nya sangat pelan, kakak berbicara perlahan dan mengeluarkan air mata, apa maksud dari semua perkataan nya, kenapa Dia meminta maaf, apa kesalahan nya.
"Wwhhaaa... kakak,, jangan bicara seperti itu.
Kakak akan sembuh, kakak harus kuat, kakak harus sembuh." Tetap saja aku tidak bisa menahan tangis ku.
Aku mencoba merengkuh dan ingin menghambur dalam pelukannya, namun mas damar menahan ku, katanya punggung kakak terluka, takut nya akan semakin parah jika aku memeluk nya.
Meski masih marah, aku malah menghambur dan menangis di pelukan mas Damar.
"Na..." eh. Kakak berbicara lagi.
"Maaf,, mungkin kakak gak bisa jadi wali kamu saat menikah."
Menikah, aku jadi teringat, ibu ingin melihat kakak menikah, tapi apa yang kakak ucapkan jika kakak tidak akan bisa menjadi wali ku saat aku menikah.
"Kakak,, jangan bicara seperti itu ya,, kakak pasti sembuh, kakak akan menjadi wali Nana sama adek, dan Nana sama adek juga bakalan jadi pengiring pengantin nya kakak saat kakak menikah, "
Namun kata kata ku malah membuat kakak menjadi semakin bercucuran air mata, kakak hanya bergumam tanpa bergerak, kakak ku yang tangguh kini hanya berbaring menyamping dengan berbalut perban di badanya.
"Ohh iya kak,, sebenarnya Nana sama mas Damar berencana untuk menikah, kami sudah sepakat." Tiba tiba saja kalimat itu keluar dari mulut ku. Aku mencoba menghibur, tapi kenapa kalimat seperti itu yang terucap.
Bodoh,,, bodoh sekali kamu Dina,, apa sih yang ada otak kamu. Tapi kalimat itu ternyata membuat mata kakak berbinar. Dia tersenyum saat aku bilang akan menikah.
Aku senggol saja mas Damar dengan sikut ku, Dia malah bengong mendengar kalimat ku.
"Eh iya kang, kita berencana menikah bulan depan, awalnya kami akan memberi tahu malam ini."
OMG,, bulan depan,,, mas Damar benar benar ya kamu, kamu mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aku masih marah tahu.
Dan kakak, malah semakin tersenyum lebar, Dia malah mengangguk, artinya apa.?? Apa kakak setuju. Melihat kondisi kakak seprti itu, aku tidak ingin membuatnya kecewa, spertinya kakak bahagia mendengar berita itu, berita dadakan yang aku karang.
Sekarang aku tinggal menunggu kakak pulih, Aku percaya, kakak adalah laki laki yang kuat, laki laki yang tangguh, tidak akan meninggalkan ibu dan kedua adik perempuan nya begitu saja.
"Kakak, lihat kami menunggu kakak di sini, kakak harus kuat ya, kakak harus hadir dalam pernikahan Nana, kan kakak yang akan jadi walinya. Iyaa kak.??"
Dan sekali lagi, kakak tersenyum lebar sambil mengangguk, sampai akhirnya perawat menyuruh kami untuk keluar.
***
"Teteh berarti bener ya, waktu kemarin teteh pilih cincin couple, teteh ada rencana nikah sama bang Damar.?" Bisik Dinda pada sang kakak perempuanya.
Damar hanya melirik saja dan terus mendorong Dina yang duduk di kursi roda.
Mungkin jika tidak ada ibu, Dina akan langsung membantah nya. Ibu terlihat gembira sekali tadi di ruang ICU, saat mengetahui anak perempuan nya akan segera menikah.
"Adek,," hanya kata itu yang mampu Dina ucapkan.
"Kenapa gak bilang sama ibu sih Na, kalau kamu sudah berencana untuk menikah." Ibu membuka percakapan saat Dina sudah berbaring di ranjang nya. Dan perawat yang membetulkan infusan sudah keluar.
"Iya bu, kami berencana akan memberi tahu saat makan malam nanti, namun ternyata takdir berkata lain, maaf kan saya bu." Damar menyambar saja seperti petasan. Tidak memperdulikan wajah kesal Dina.
"Namun sepertinya, musti di tunda dulu ya bu, karena kondisinya kakak seperti ini." Akhirnya Dina punya alasan untuk menunda.
"Iya na, tapi ibu sudah merasa senang karena kalian akan menikah." Ibu tersenyum dan menepuk pundak ku.
"Doakan kami ya bu, agar semua di mudahkan, dan semua lancar sesuai harapan." Sosor Damar di saat Dina berusaha berkilah atas rencana pernikahan nya.
Dina dan Damar saling bertatapan.
Damar menahan senyum nya, sedangkan Dina menahan kekesalan nya.
__ADS_1
Jika saja tidak ada ibu, pasti Dina sudah sedari tadi membuka mulutnya untuk meluapkan kekesalannya, karena seperti nya Damar sangat menikmati kesalah pahaman ini.
Dina terus menatap Damar dengan tatapan yang mendalam, yang di tatap tidak merasa terganggu, malahan Damar mengulum senyum memikirkan saat Dina menyatakan akan segera menikah dan Damar menambahkan nya dengan mengatakan rencana nya bulan depan.
Jika itu benar terjadi, maka Damar benar benar akan merasa bahagia, karena kapapun waktunya, Dia tentu sudah siap untuk menikahi gadis pilihan nya.
"Mas, kamu jangan senyum senyum seperti itu, aku belum memaafkan mu." Protes Dina setelah ibu keluar ruangan, Dina mendengus karena Damar terlihat gembira.
Namun Damar hanya menjawab nya dengan senyum yang sangat lebar, lalu duduk di sofa panjang pinggir tempat tidur Dina. Menatap Dina dengan tatapan yang sangat bahagia,
Dan sadar akan respon Damar, Dina membalikan posisi tidurnya membelakangi Damar, dan Damar pun tidak memperotes,karena sejak ibu pergi Dina terus mengomel dan mengeluh, terlebih kekesalan nya memuncak karena Damar tidak menjawab sama sekali, mungkin diam adalah jalan tercepat agar tidak membuat Dina semakin kesal.
karena Damar terus diam, akhirnya Dina merasa cape sendiri dan akhirnya tertidur dengan posisi menyamping membelakangi sofa yang di duduki tunangan nya. Tidak hanya Dina yang tertidur, Damar pun ikut tertidur di atas sofa panjang yang sedari tadi ia duduki.
Keramaian rumah sakit tidak membuat tidur Damar terusik, beberapa kali perawat dan dokter masuk ke dalam ruangan, Damar masih nyaman dalam tidur nya, bahkan saat Ibu dan Dinda masuk pun Damar masih pulas dalam istirahat nya.
"Dok, kakak saya bagaimana.?" Tanya Dina pada dokter yang sedang memeriksanya, Dina bertanya karena waktu di ICU dia adalah dokter yang sama yang menangani kakak nya.
"Masih dalam proses pemeriksaan ya mbak, di bantu doa saja." Jelas dokter tersenyum.
"Itu kakak tertuanya, terlihat lelah sekali, tidurnya sampai pulas seperti itu." Tunjuk Dokter pada orang yang berbaring di sofa pinggi ranjang.
Dina hanya menjawab dengan tersenyum, jika di perhatikan, Damar memang terlihat lelah, apalagi tadi Dia sempat mengatakan bahwa Dia belum tidur sama sekali. Dina terus menatap tunangan nya, kekesalannya sedikit memudar saat melihat Damar ke sana kemari mengurus dirinya dan jaka.
Langit sudah gelap, namun Damar masih menutup matanya, Ibu dan Dinda pulang dahulu ke rumah untuk membawa pakaian ganti untuk Dina.
"Mas, kalau saja kamu tidak di sini, aku gak bisa bayangin, bagaimana Ibu dan Dinda, terlebih aku juga tak sadarkan diri. Kepanikan Ibu pasti berlipat ganda, namun ternyata Allah maha baik, ada kamu di sisi ku, terima kasih ya mas." Dina bergumam sangat pelan, menatap laki laki yang sedang menikmati waktu istirahat nya.
"Sisy,,,"
Tiba tiba seseorang berteriak saat masuk kedalam ruangan.
"Fey,, kamu di sini," sambut Dina. Meraih tangan mama Ratna yang datang beriringan bersama Fey.
"Aduuhh Fey, kamu berisik sekali, ini rumah sakit." Gumam Damar membuka matanya. Mengabil tas kecil yang di bawa Fey dan masuk ke kamar mandi.
"Sayang,, kenapa.? Apa yang terjadi.?" mama Ratna bertanya.
"Tadi di Airport, pria mabuk mengendarai mobil, dia menabrak dengan brutal." Ungkap Damar keluar dari kamar mandi, rupanya Fey membawakan baju ganti untuk abangnya.
Sekarang Damar terlihat lebih segar dan lebih tampan dengan pakaian santai. Dia langsung membuka apa saja yang di bawa oleh mama dan adik nya. Bahkan mereka membawakan beberapa jenis makanan yang di kemas dalam sebuah box bening.
"Mama sangat khawatir waktu abang tadi menelepon, bagaimana keadaan kakak kamu.?" Mama Ratna menepuk nepuk tangan Dina dalam genggaman nya.
"Doain saja ya ma, semoga kakak cepat sembuh." Lirih Dina.
"Ssy,, yang sabar ya, dari kejadian ini pasti ada hikmahnya." Fey menghambur memeluk calon kakak ipar nya. dan Dina pun mengangguk sambil tersenyum.
"Geser,, Dina harus makan." Tukas Damar berusa menggeser posisi adiknya, dan menyodorkan sendok tepat di depan mulut tunangan nya.
Dina menggeleng, "aku gak lapar." dia enggan membuka mulut nya.
"Kamu butuh energi, bagaiman kamu bisa merawat kakak kamu kalau kamu sakit, bukanya dari kemarin kamu tidak makan. Makan lah sedikit demi sedikit." Bujuk Damar. Yang menjurus pada perintah.
Damar memperhatikan bahwa makanan Dina dari rumah sakit tidak tersentuh sama sekali, maka dari itu Damar meminta Fey untuk membawakan makanan dari luar supaya Dina merasa berselera.
Fey membawakan capcay kuah dan beef teriaki sesuai pesanan abang nya.
Damar menyadari bahwa Dina masih merasa marah pada dirinya, jika Damar terlalu banyak bicara, di takutkan Dina akan semakin kesal dan marah pada dirinya, jadi lebih baik diam untuk tidak memperkeruh suasana.
Selagi ada Fey dan mama Ratna, Damar memanfaatkan untuk terus berbicara pada tunangan nya. Dia mengusap kepala tunangan nya, dan membujuk untuk makan, karena setelah infusan habis, Dina sudah tidak menjadi pasien lagi.
Dina hanya diam dan menerima semua perlakuan Damar, mungkin kalau tidak ada mama dan Fey, Dina akan melotot dan meradang saat Damar menyentuhnya, dan Damar pun mengetahui akan hal itu, maka dari itu Damar sengaja terus menyuapi Dina meski Dia berusaha menolak dan berdalih bisa sendiri.
Mama Ratna dan Fey sangat menikmati interaksi antara anak sulung dan tunangan nya, jika sekarang Damar dan Dina bersama, berarti hubungan mereka baik baik saja, dan mama Ratna tidak ingin membahas ataupun bertanya lebih lanjut tentang pengembalian cincin tadi siang.
Malam semakin larut, mama Ratna dan Fey pulang pada pukul sebelas malam, dan ternyata Ibu dan Dinda juga tida kembali ke rumah sakit karena Dinda besok akan ada ujian, jadi ibu menemani Dinda di rumah. Jadi hanya Damar yang menemani Dinda di rumah sakit.
"Ayo tidur lagi, nanti setelah infusan habis kamu bisa ganti baju."
Dina melirik tunangan nya yang berbicara pada dirinya namun wajahnya terfokus pada laptop yang menyala di depannya.
Tok... tok... tok... tersengar seseorang mengetuk pintu.
Tok.. tok.. ketukan itu terulang lagi.
Rupanya pintu di kunci saat tadi Damar melaksanakan sholat.
"Mas,,"
Damar masih saja fokus pada laptop nya.
"Mas,,, ih.. " akhirnya Dina mengeraskan suara nya.
"Hhhmmm" masih tak berpaling.
"Mas Damar, itu ada yang ketuk pintu." Dina mendesis.
"Oh iya." Dengan santainya Damar beranjak membuka pintu, tidak memperhatikan muka kesal yang Dina tampak kan.
Ternyata, perawat dari ICU yang mengetuk pintu.
Damar pergi mengikuti perawat itu setelah berbicara pada Dina, ternyata dokter menyampaikan, bahwasanya jaka harus menjalani operasi kraniotomi. Karena selain ada kerusakan saraf di bagian tulang belakang, Jaka juga mengalami penggumpalan darah pada bagian otaknya.
Itu adalah operasi besar yang dimana pasien akan di bius total saat menjalani operasi,
Prosedur bedah saraf traumatik ini digunakan untuk mengobati penyakit saraf pada otak dan tulang belakang akibat cedera, seperti perdarahan otak, hematoma subdural, hematoma epidural, dan patah tulang belakang.
Pagi pun tiba.
Jaka telah mengetahui rencana operasi besar yang akan di lakukan terhadap dirinya,
ia bersedia dan menyerahkan seluruh keputusan pada keluarga, namun dengan mengajukan syarat pada adik perempuan nya.
"Kak,, iya setelah kakak sembuh kita akan menikah kok, iya kan mas.?"
Ternyata persyaratan jaka adalah, ia bersedia di operasi setelah adik perempuannya menikah, ia berketakutan tidak akan bisa bangun kembali setelah operasi, namun hal itu tidak akan menjadi ganjalan jika Dina telah menikah dan ada yang menjaga.
Menikah,? kenapa harus menikah, di mana.? di sini, di rumah sakit, aku hanya mengarang saja, apalagi, sekarang aku sama mas Damar sedang dalam mode kesal, mana mungkin melaksanakan proses pernikahan.
__ADS_1
aaaahhhhh,, ini salah ku,, kenapa berbicara tanpa berfikir terlebih dahulu,,