
Dina PoV.
"Teh,, bangun sayang,, ini sudah mau subuh."
"Emmhh,, sebentar lagi, lima menit aja."
"Sebentar lagi adzan, bangun yuk, kita siap siap.."
"Iyaa ayah,,,"
Aahhh... Aku terlonjak, seperti masuk dalam lubang yang tak bertepi. Lagi lagi aku mimipiin ayah.
Memang kebiasaan ayah adalah membangunkan kita anak anak nya sebelum adzan subuh. Dengan lembut ayah selalu mengusap kepala kami dan membangunkan dengan suara lembut yang cenderung berbisik.
Berbeda dengan ibu, yang membangunkan kami selagi adzan atau setelah selesai adzan, dengan nada mengomel dan menepuk nepuk paha kami. "Ayo bangun,, mau sholat tidak, adzan sudah selasai, malaikatnya sudah naik lagi" seperti itu ibu kalau membangunkan.
Satu jam lagi adzan subuh akan berkumandang,
Tiba tiba aku bangun begitu saja, tapi sepertinya tadi ada yang membangunkan ku, persis seperti ayah, Dia menepuk kepala ku lembut, berbisik membangunkan ku. Meski ayah suka memanggil ku Nana, namun lebih sering lagi ayah memanggil ku Teteh, apalagi saat ada Dinda. Dan ayah pula yang memberi panggilan itu untuk ku. Mungkin karena ayah orang sunda.
"Na,, kamu sudah bangun." Eh ternyata ibu baru selesai sholat malam.
"Iya bu,"
"Semalam Mama Ratna telepon ke ibu, katanya ba'da subuh kamu akan ada yang jemput." Ucap ibu menghampiri ku.
"Jemput kemana bu.?" Tanya ku heran, bukanya hari ini aku akan menikah sama anak nya.
"Ke hotel depan rumah sakit. Katanya nanti kamu di rias di sana."
"Haah, di rias,? Padahal Nana udah bilang gak usah loh bu, Nana make up sendiri aja,"
"Gak apa apa dong Na, kamu harus tampil lebih cantik dari biasanya, kan ini pernikahan kamu."
"Iya bu,," cukup jawab iya saja,
Fikiran ku benar benar tak karuan, dalam hitungan jam aku akan menjadi seorang istri, aku benar benar merasa gugup, dan deg deg an.
Setelah sholat subuh benar saja ada seseorang datang menjeputku, untuk membawa ku ke hotel depan rumah sakit, orang itu tentu saja pak ujang. Padahal jarak antara hotel dan rumah sakit terhitung cukup dekat. Jalan kaki saja tidak sampai setengah jam.
"Hayu neng, sudah siap.?" Dengan senyum seratus watt nya pak ujang menyapa ku, saat aku mendekat ke arah mobil yang di bawa nya.
Aku mengangguk dan membalas senyuman nya.
"Pak, memang nya Mama nginep di hotel.?" Tanya ku,
"Sepertinya tidak neng, sebelum subuh ibu baru ke hotel, pak ujang tadi yang anter." Jelas pak ujang.
Ya ampun mama, seniat itu sama pernikahan anak nya, apa cuma aku yang menganggap santai atas pernikahan ini ya, Kenapa semua orang sibuk, padahal kan ini pernikahan dadakan yang hanya di lakukan di rumah sakit.
Huuuhhpt,,, aku jadi semakin gugup. Apa aku keterlaluan ya. Terlalu menganggap santai pernikahan ini, melihat semua orang begitu antusias menyiapkan segala sesuatu nya, membuat aku merasa terharu, ternyata semua orang begitu peduli nya sama aku.
"Neng,, sudah sampe."
"Neng,,, Neng Dina,,"
"Ehh apa pak.?"
Ternyata pak ujang sudah parkir, dan membuyarkan lamunan ku, karena kita telah sampai pada tujuan.
"Neng langsung naik saja ibu ada di kamar no 153." Ucap pak ujang saat aku turun dari mobil.
"Iya pak terima kasih."
Pak ujang mengangguk dan tersenyum.
Aku masuk ke lobi hotel dan ternyata mbak resepsionis sudah di beri tahu kalau aku adalah tamu mama Ratna yang di tunggu nya. Salah satu staff hotel mengantarkan aku ke kamar di mana mama Ratna berada.
Tepat di depan kamar no 153, staff hotel itu mempersilahkan aku untuk masuk, dengan ragu aku hendak mengetuk pintu kamar,
Namun saat aku sudah menempelkan kepalan tangan ku di depan pintu, pintu itu terbuka.
Dan nampak mas Damar keluar, dengan memakai kemeja putih dengan lengan yang di gulung ke atas, casual tapi masih terlihat rapih, tinggal pakaikan jas, maka akan terlihat lebih tampan dan formal. dan Dia memegang sebuah berkas.
"Apa itu," tanya ku menunjuk berkas di tangan nya.
Dengan datar Dia menjawab, " copyan berkas pernikahan." Dingin sekali,, padahal harusnya aku kan yang ketus.
Ohh iya, aku lupa, pernikahan ini bukan pernikahan di bawah tangan, jadi pasti harus ada berkas untuk proses pencatatan negara, eh,, tapi siapa kira kira yang menyiapakannya ya, gak mungkin kan kalo mas Damar mengobrak abrik rumah ku. Dan bukanya seharusnya itu di serahkan lebih awal kan.
"Dinda kirim lewat email, sekarang mau di kasih ke pak penghulu untuk di periksa."
Mas Damar menjawab semua pertanyaan yang ada dalam fikiran ku,, ajaib sekali.
"Sayaaangg.. kemari."
Mama Ratna memanggil ku, saat sadar akan keberdaan ku.
"Jangan terlalu tebal, biasa saja."
Ucap Mas Damar sebelum melangkah pergi, kalimat nya seperti ultimatum yang tidak boleh di langgar.
__ADS_1
Bener benar manusia Es Dia,
Aku hanya diam dan tidak menjawab.
"Sayang,, sini, sini," mama Ratna memanggilku menepuk bepuk tempat duduk di sebelah nya, nampak di atas sofa ada beberapa barang seserahan seperti tas dan sepatu yang di masukan kedalam paper bag sesuai permintaan ku. Aku melarang untuk menghiasnya karena terlalu merepotkan menurutku.
"Din, untuk seserahan nya di simpan di sini saja ya, nantikan kamu akan menginap di sini."
Akhirnya mama mengerti kalau aku tidak mau nanti acara ijab qabul di rumah sakit terlalu meriah.
Aku menyisir ruangan, ku dapati Fey dan Frans sedang nyenyak dalam mimpinya, sebenarnya dari jam berapa sih, mereka keluar rumah.
Aku sampe terharu seperti ini.
Mereka menyiapkan nya dengan sepenuh hati, mama dan Fey yang begitu antusias melakukan nya dengan gerak cepat, dan ternyata mas Damar juga sama, dibalik sikap dingin nya Dia juga ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan agar berjalan dengan semestinya.
Tok... tok... ketukan pintu terdengar.
"Nah, mungkin dia." Mama Ratna seolah tahu siapa yang ada di balik pintu.
"Silahkan masuk," ucap mama Ratna pada seseorang yang ada di balik pintu, Dia mempersilahkan untuk masuk.
Ternyata aku mengenal nya, Dia adalah MUA yang meriasku saat dulu aku bertunangan.
"Apa kabar kak.?" Mbak perias itu menyapa ku, sambil tersenyum, rupanya Dia masih mengenaliku. Atau mungkin hanya bersopan santun.
Aku mengangguk dan tersenyum, sebelum aku menjawab nya Dia sudah bicara lagi. "Selamat ya atas pernikahan nya, dan saya juga mendoakan yang terbaik untuk ayah kakak,"
Ayah,, apa maksud nya,, lagi lagi memngingatkan pada ayah, maksud nya apa.
"Ehh maaf, yang sakit itu siapa.?" Dia bertanya karena melihatku terkejut dan mengerutkan kening, Dia tahu bahwa aku tidak mengerti apa yang Dia ocehkan.
"Yang sakit itu Kakak tertuanya mbak," jelas mama Ratna.
Pasti mama yang memberi tahu, karena mungkin mbak MUA bertanya kenapa di rumah sakit bisa terjadi pernikahan.
"Mbak, untuk riasanya jangan terlalu tebal ya, biasa saja, sama seperti tunangan saja." Aku membuka pembicaraan soal Make up. Selain karena mas Damar yang meminta, sebenarnya aku juga tidak akan nyaman kalau make up nya berlebihan.
"Oke,, siap,,," sahut mbak MUA.
Dalam proses saat aku di rias, Fey dan mama juga ikut bersiap siap, dan Frans dibawa oleh ayah nya, jason.
Tidak ada perdebatan tentang riasan, semua berjalan dengan lancar, proses make up sudah selesai, dan waktu sudah menunjukan pukul enam pagi, satu jam lagi akad nikah akan di laksanakan.
"Waaahh,, cantik sekali,," Puji mama Ratna, saat aku selesai di rias.
Aku merasa malu, aku bersyukur mendapatkan calon mertua yang begitu menerima ku seperti anak nya sendiri, sangat terasa bahkan di pertemuan pertama.
Ternyata mama Ratna membelikan ku dua pakaian, keduanya warna putih dan modelnya lebih sederhana dari kebaya pernikahan biasanya.
Aku coba satu persatu, keduanya pas sekali di badan ku, namun setelah di fikir kembali, apa ini tidak terlalu megah, untuk ukuran menikah di rumah sakit.
Lagi lagi fikiran itu bergelayut di benak ku, bukan maksud aku tidak menghargai semua usaha mereka, namun aku masih merasa sedih akan menikah melangkahi kakak yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
Saat aku mencoba kedua kebaya itu, aku berfikiran untuk merubahnya sedikit, aku tidak akan memakai kain batik untuk bawahan nya, melainkan dress tanpa lengan, dan kebaya menjadi outer dari dress tersebut.
Aku lega, meski seperti itu mama Ratna tidak merasa kecewa atau merasa tidak di hargai karena aku merubah pemberian dan pilihan nya.
Dengan berbesar hati mama Ratna membolehkan aku untuk memakai apa saja yang aku putuskan. "Boleh sayang,, pakailah kalau kamu merasa nyaman," itu ucapan mama Ratna yang membuatku lega atas pilihan ku.
"Ma,, aku kembali dulu ke rumah sakit ya, nanti aku pakai baju di sana saja, kalau aku pakai baju dari sini, takutnya orang lain menganggapku salah kostum."
"Iyaa sayang,, di antar pak ujang ya, Fey antar ke bawah."
Akhirnya aku memutuskan untuk memakai kebaya di rumah sakit saja.
***
Damar PoV.
Kemana Dia, lama sekali.
Tok.. tok..
"Masuk."
"Bagaimana.?"
"Lu dapat rekaman nya.?"
Aku langsung mencecar Rommy dengan pertanyaan, padahal Dia baru melangkah hanya sampai pintu.
"Sabar bro,, Ini masih jam enam pagi. Kepala musti dingin." Si alan, bisa bisanya Dia bersikap santai seperti itu.
Aku tidak sampai terfikirkan tentang rekaman cctv itu, Sam bergerak sangat cepat, memang otak licik nya selalu berjalan lebih depan dari perkiraan ku.
Wanita macam apa yang dulu pernah mengisi hati ku, dan kenapa aku selalu terkelabui oleh niat licik nya, sekali lagi aku tertipu oleh nya, mungkin Sam sengaja menciumku untuk memperoleh rekaman itu.
"Mar,,,"
" Mar, hurry up, it's too late, "
__ADS_1
Rommy memecah lamunan ku, dia berdecak tepat di depan ku, dengan wajah kesal dia menunjuk jam tangan nya dan bergegas mengajak ku pergi ke luarg gedung dan menyuruhku duduk manis di dalam mobil.
Karena mama tak hentinya menelepon Rommy agar aku tidak datang terlambat seperti acara tunangan tempo hari, mama mewanti wanti Rommy agar membawaku cepat ke rumah sakit, maka dari itu Rommy dengan segera menyeretku ke rumah sakit, mungkin dia menghindari omelan mama.
"Gue ikut bahagia atas pernikahan lu bro."
Ucap Rommy tanpa melihat aku di samping nya.
"Berbahagia lah, gue yakin Dia perempuan yang baik," Rommy masih menatap lurus kedepan.
Aku menajamkan pandangan pada nya, kenapa seperti ada rasa haru yang aku rasakan, Rommy adalah kawan terbaik ku, Dia mengerti aku lebih dari yang lain, Dia memahamiku walau mungkin aku menjengkelkan, dan Dia tetap sabar berada di sampingku sampai hari ini.
"Kenapa lu.?, gak usah melow melow seperti itu, gak pantes."
Candaku padanya, meski sesungguhnya aku pun merasa terharu, sebenarnya orang yang paling sibuk mempersiapkan pernikahan ini adalah Dia, saat aku memberi tahunya lewat telepon, dengan sigap Dia mempersiapkan semua apa yang perlu di siapkan, bahkan saat tadi malam pun Dia pula yang mengingatkan ku untuk menyiapkan berkas pernikahan dan di serahkan pada KUA.
"Mar, gue berdoa semoga lu terus bahagia, dan gue janji gak ada orang yang bisa merusak kebahagiaan lu sama Dina, gue janji." Wajah Rommy mulai serius, ada penekanan dalam setiap kata nya.
"Thanks ya Romm, terima kasih lu selalu berada di samping gue, jaga gue, dan yang pasti lu gak pernah ninggalin gue, gue juga berharap lu bahagia." Balasku,
"Masalah Sam, lu gak usah fikirin, gue akan bereskan tanpa orang lain tahu." Rommy pun tahu apa yang aku fikirkan.
"Lakukanlah,, yang mesti kamu lakukan, I trust you. "
Karena masih pagi, hanya tiga puluh menit perjalanan menuju rumah sakit.
Semua orang telah bersiap di ruang VVIP yang ku sewa khusus untuk acara akad nikah ini.
Kamar pasien ini sudah Rommy sulap menjadi ruang akad nikah yang sederhana, entah kapan Dia melakukan nya, semua sudah siap seperti magic, ruangan yang cukup besar Dia ubah dengan sangat rapih, ada meja kecil di tengah ruangan dengan enam kursi yang mengelilingi nya, dan sebelahnya di kosongkan, mungkin buat ranjang pasien kakak Dina, jaka.
Dan di sebuah sudut ada beberapa sofa rumah sakit yang Dia tata agar ruangan tidak terasa penuh, dan sudut lain juga ada meja yang di atas nya beberapa jenis cake dan cookies yang tidak terlalu banyak namun cukup untuk orang yang hadir pada acara ini. Benar benar hebat kamu Romm, bisa bisa nya kamu begitu cermat mempersiapkan semua ini, bahkan kamu menikah saja belum, namun kamu sudah tahu apa yang seharusnya kamu persiapkan.
Ternyata aku bukanlah orang pertama yang datang untuk menghadiri acara akad nikah ini,
Mama dan Fey telah siap dan duduk manis di kursi nya, selain mama dan Fey, ada juga ketiga teman Dina, entah siapa nama nya namun aku tahu mereka teman akrab calon istri ku, Paman dari Dina telah hadir, kakak sepupu mama yang kepala rumah sakit ini juga telah siap di tempat. Om Wisnu namanya.
"Abang, kalau saja kamu telat sedikit lagi, mama akan tutup kantor kamu, hari penting gini masih saja sibuk di kantor."
Tiba tiba mamah berdecak namun berbisik di telingaku, mata nya melotot dan di arahkan pada ku, iihh menakutkan sekali kalau ibu ibu sudah marah.
"Iyaa maaf, tapi sekarang kan sudah di sini mah," balasku.
"Assalamu'alaikum... permisi."
"Wa 'alaikum salam,, masuk pak, silahkan duduk." Mama menyambut dua orang laki laki di pintu, aku perkirakan mereka datang dari KUA, terlihat dari berkas yang mereka bawa. Bapak itu pak penghulu nya.
Pak penghulu sudah datang, di susul dengan ibu dan Dinda, yang mengikuti dokter dan beberapa suster yang datang membawa jaka. Namun aku tidak melihat Dina, dimana Dia, semua orang sudah berkumpul tapi dia belum terlihat.
Aku menghampiri calon kakak ipar ku, wajah nya terlihat sangat pucat.
"Bang,, terimakasih." Ucap nya berkaca kaca.
"Kang, jangan terlalu banyak berfikir, semua akan lancar, dan akang akan kembali seperti sedia kala, percayalah." Aku sengaja tidak memberi jaka untuk banyak bicara, karena kalau Dia terus emosional, aku takut kondisinya akan semakin menurun.
Dan Dia mengangguk dan tersenyum, dengan menggerakan bibir nya seperti mengucap, Aamiin..
"Cari siapa nih..?" Om wisnu menggodaku karena aku ketahuan celingak celinguk mencari seseorang.
"Aahh tidak om." Aku mengelak saja, terlalu memalukan kalau aku terlihat tidak sabar. Yang sebenarnya bukan tidak sabar, namun perasaan ku tidak karuan, aku baru pertama kali seperti ini.
"Selamat ya, jadilah suami yang baik, om turut bahagia mendengar kabar ini dari mama kamu, apalagi om yang di pinta untuk mengganti Mas Gun, karena beliaw tidak dapat hadir, om merasa terhormat."
Om Wisnu memang kakak sepupu mama, namun usia papa lebih tua dari om wisnu, maka dari itu om Wisnu tetap memanggil papa dengan sebuta Mas Gun, dan lagi di keluarga mama, papa sangatlah di segani.
"Iya om, terimakasih karena Om berkenan menghadiri akad nikah Damar."
"Jelas om hadir, wong ini kan Rumah sakit punya om, kalau kamu tidak mengundang om, kamu nanti ta usir. Haha.." Aku hanya tersenyum menanggapi gurauan om Wisnu.
"Alhamdulillah semua telah hadir, kedua saksi, wali dan dan mempelai telah siap, bisa kita mulai acaranya." Pak penghulu memecah keheningan.
"Tunggu pak, mempelai wanita nya belum siap."
Kenapa Semua orang tersenyum saat aku mengucapkan kalimat itu., malahan si Rommy tertawa, meskipun pelan aku tahu dia ingin terbahak. Si alan kamu Rom.
Pak penghulu menepuk punggung ku agar aku duduk di kursi ku,
Aku duduk di kusri yang telah di siapkan, terdengan pintu kamar mandi terbuka, ketukan lantai karena hentakan dari sepatu terdengar.
Tok.. tok.. tok.. suara langkah itu semakin mendekati ku, deg.. deg.. deg.. degupan jantungku juga tak kalah kencang terdengar oleh telinga ku. Aakkhh,, apa seprti ini perasaan orang yang akan menikah. Bukan seharusnya perempuan yang merasa nervous, ini kenapa aku yang Nervous.
Dina dintuntun oleh kedua teman nya, Dia duduk diantara mama dan Fey, Dia menunduk karena malu, Cantik sekali Dia, semua yang Dia pakai sangat cocok dengan nya, dengan make up yang agak berbeda hari ini, Dina terlihat dewasa dan lebih cantik tentunya.
Aku seperti terhipnotis akan kecantikannya,,
Apalagi saat Dia mengangkat wajahnya dan metanap aku yang di depan nya, jantungku semakin berdegup dan aku semakin siap untuk menjadi suami nya.
"Mas.."
Lagi lagi aku spontan mengucapkan kalimat yang membuat orang orang tertawa.
Pak penghulu membuyarkan lamunan ku dan aku menjadi orang yang terlihat konyol,, dan dengan lantang aku berkata...
__ADS_1
"Saya siap pak.."