
Dina berjalan tergesa menyeret kaki nya, Dia
ter engah engah datang menyusul ke ruangan Damar.
Dia mengetuk pintu dengan tergesa,
Tok.... Tok... Tok...
"Pak,, boleh saya masuk.?"
Damar tidak menjawab, ia kesal dengan panggjlan yang di keluarkan dari mulut tunangan nya.
Meskipun di kantor tetap saja dia adalah tunangan nya, kenapa musti ganti panggilan, fikir Damar.
"Bapak,, boleh saya masuk.?"
Dina lebih kencang mengetuk pintu. Karena tau pintu nya terkunci.
"Siapa Kamu.?" Tanya Damar dingin.
"Ini aku Dina,"
"Dina siapa.?"
"Mas Damar,, buka ih.."
Desah Dina kesal.
"Kenapa kamu kesal."
Ucap Damar senyum menyeringai.
"Bener bener kamu mas, Awas ya,,, "
Dina mengambil hape nya dan menelepon Damar.
Haloo,, dengan siapa.?
"Mas buka pintu nya, aku malu di sini di liatin semua orang."
Gerutu Dina agak berbisik.
Ya sudah pergi saja kalau gitu, ngapain kamu ada di sini, ini bukan tempat kamu.
"Oohhh gitu, ok fine, awas ya nanti nyariin aku, gak mau aku ketemu sama kamu"
Ancam dina menutup telepon.
Dina berbalik dan hendak pergi..
Akan tetapi..
Ceklek,,,,
pintu ruangan Damar terbuka, Damar keluar dan menggendong Dina Masuk ke dalam.
"Aaaaaaaa,,,apa an sih... turunin gak."
Teriak Dina, menarik perhatian penghuni Lantai Tujuh.
Damar menurunkan Dina di Sofa panjang dalam Ruangan nya, Dina mengomel saat di turunkan.
"Apaan sih mas, bikin malu aja."
Damar hanya tersenyum tanpa menjawab,
Terlihat Arya yang sedang berdiri di sebelah meja kerja Damar, Dina melotot saat melihat Arya mematung di sana. Ternyata benar Arya ada di sini.
"Mas,, kenapa kak arya ada di sini.?"
Bisik Dina pada Damar.
"Kenapa memang, bukan nya kamu kesini dengan terburu karena Dia.?"
Desis Damar.
"Eh apa.? Enggak, aku ke sini mau ketemu sama mas Damar,"
Seloroh Dina.
"Mau apa.?"
Dengus damar.
"Eeeemmmhh kak Arya bisa tunggu di luar, aku ada perlu sama pak Damar."
Pinta Dina pada Arya,
Tapi arya tetap saja berdiri di tempat nya.
"Dia gak akan pergi, dari tadi dia mematung seperti itu, di suruh duduk dia mau nya berdiri, apa boleh buat.?"
Beber Damar.
__ADS_1
"Maaf, pak."
Cetus Arya.
Damar hanya tersenyum, menunggu lanjutan kalimat arya, tapi ternyata hanya itu.
Dina menarik lengan kemeja Damar saat Damar hendak berdiri. Dan Damar kembali ambruk terduduk di samping Dina lagi.
"Sudah mas, hentikan."
Pinta Dina.
Damar menarik lengan kemeja nya dan berdiri menghampiri Arya.
"Duh kamu ini, segitu nya kamu membela pacar mu Din."
Sindir Damar.
Arya melotot kaget,
"Maaf, pak,, saya bicara seperti itu karena saya ingin menghentikan pertengkaran kemarin, saya tidak ada maksud apa apa pak, maafkan saya."
Berber arya.
"Kenapa.?"
"Karena saya tidak tahan jika Dina di cap sebagai penggoda anda, makanya saya mengaku pacar nya,"
Jelas Arya lagi.
"Dan Hasilnya, pertengkaran nya berhenti.?"
Cicit Damar.
"Maaf, pak."
Sahut Arya.
"Baiklah pergilah, saya tidak akan menghukum mu, karena di sini pasti ada yang membela kamu, mulai sekarang kamu harus tau batasan mu dengan tunangan saya, saya harap kamu tidak mengajak makan berdua, atau kamu sengaja datang kerumah tunangan saya lagi.."
Lontar Damar penuh penekan,
melihat ke arah Dina yang sedang duduk, dan dia sedang bergumam.
"Apa,?" Berucap tanpa suara.
Arya tercekat, mengingat itu adalah usaha untuk menyatakan persaan nya pada Dina,
Kenapa pak Damar bisa tau, tidak mungkin Dina mengadu, ini juga akan jadi masalah bagi nya, apa mungkin waktu itu mereka sudah bertunangan,
Harusya gue tau saat gue lihat pak Damar di lantai lima, dan hanya ada dina di sana... aduuuhhh bodoh kau Arya,, bodoh..
Batin Arya mengingat apa yang terjadi sebelum nya.
"Maaf pak,, saya hanya......"
"Silahkan keluar" potong Damar.
"Terimakasih pak, sekali lagi saya minta maaf"
Pamit Arya undur diri.
Arya telah keluar, kini hanya tinggal Dina dan Damar di dalam ruangan, awal nya Damar kesal saat ada yang memberitahukan bahwa Dina datang ke Lantai tujuh dengan tergesa, benar saja dia datang ke ruangan Damar karena tau Arya juga di lantai tujuh.
Maka dari itu Damar sengaja mengunci pintu agar Dina tidak nyelonong masuk, dan damar bisa mengerjai nya.
"Se khawatir itu kamu pada nya, sampai ter engah engah kamu berlari ke sini."
Tuduh Damar.
"Siapa,? Enggak," sanggah Dina.
"Mas, aku gak suka yah, kamu terlalu keras sama kariawan kamu,"
Sambung Dina, sebenar nya dia agak sedikit gemetar mengatakan nya.
Damar mengerutkan dahi mendengar perkataan Dina,
"Apa maksud nya.?" Tanya Damar.
"Iyaa,, jangan mentang mentang kamu atasan nya mereka, dan kamu pemilik perusahaan ini, kamu se enak nya sama kariawan kamu, aku gak suka."
Jawab Dina semakin gemetar.
"Ternyata kamu benar benar peduli sama laki laki itu.?"
Ucap Damar sinis.
"Bukan,,, ini bukan soal kak Arya, ini soal kamu mas."
Sanggah Dina.
"Jadi kamu maunya apa, mau aku minta maaf sama si Surya tadi,, " ketus Damar.
__ADS_1
"Surya,, surya,, bukan surya, Arya. Ngerusak nama orang aja, aku bilang ini bukan masalah kak Arya aja,"
"Salah aku dimana.? Aku hanya berusaha melindungi kamu, aku gak suka kamu di pojokan sama semua kariawan ku, kalau saja aku tidak menuruti mu untuk merahasiakan pertunangan ini, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Kamu benar, ini semua salah aku."
Tutur damar, seperti menahan emosi.
Dina diam mendengar ucapan Damar, sekarang Damar menyalahkan dirinya sendiri, padahal jelas jelas ini semua adalah kesalahan dina, tapi Damar menyalahkan diri sendiri karena menuruti keinginan Dina.
"Mass,, aku juga berusaha melindungi dan menjaga pemberian tuhan, aku gak mau karena hanya membela ku, kamu di pandang sinis sama semua kariawan mu, jangan jadikan aku sebagai alasan untuk kamu menyakiti orang lain, biar tuhan yang membalas semua."
Tutur Dina menghampiri Damar.
Damar diam tidak bergeming, tetap di posisi awal nya. Berdiri membelakangi Dina.
"Mas,, maafkan aku ya.."
Pinta Dina meraih tangan Damar, mengengam kedua nya dan sekarang mereka saling berhadapan.
"Pemberian tuhan yang mana maksud kamu.?"
Eh iya, kenapa.
"Pemberian tuhan yang mana.?"
Damar mengulang pertanyaan nya.
"Eemmmhhh,,, apa yah,, hihi.. aku hanya asal bicara."
Damar melengos melepaskan kedua tangan Dina,
Eeehhh Dia marah..
"Masa gitu aja marah, ya kamu mas, pemberian tuhan yang mesti aku jaga, emang mau siapa lagi."
Ucap Dina sedikit ketus.
Damar berbalik, dan kali ini dia yang mengenggam tangan Dina,
"Kamu tau Din, ketika kamu mengakui keberadaan ku, dan kamu menerima semua perhatian ku, itu semua kebahagiaan dalam hidup ku,"
Dina tersenyum dan mengangguk, dia mengerti apa yang Damar inginkan, kini Dia akan berusaha menjaga hubungan ini, karena Damar begitu menghargai nya.
Damar mengangkat kedua tangan Dina dan mendekatkan ke bibir nya, akan tetapi Dina lebih sigap, Dia menarik kedua tangan nya dengan cepat.
Hahaha,,, damar tertawa melihat kelakuan Dina.
Dina menjauh dan duduk di sofa yang sebelum nya di duduki nya.
meski damar bertanya kenapa dina menjauh, Dina tidak mau menjawab nya.
Apapun jawaban yang di lontarkan Dina, pada akhirnya Damar selalu mengajak nya menikah,
"Kamu kenapa Din, aku tidak akan menggigit mu, kenapa menjauh.?"
Dina tetap diam.
"Kenapa Diam.? Kamu belum terbiasa.? Atau karena kita belum halal."
Dina masih diam.
"Hahaha,,, mau aku cepat hal....."
"Apaan sih mas,,, dikit dikit menjurus ke sana,, apa apa menjurus ke sana."
Potong dina pada kalimat Damar.
"Loh, kamu tidak mau menikah sama aku.?"
Tanya damar.
"Mau, tapi tidak dalam waktu dekat ini, lagian belum sampai sebulan kita bertunangan, udah bicara menikah saja."
"Oke,, kamu sudah bilang mau, itu cukup bagi aku."
Ucap Damar puas.
Mempunyai hubungan dengan laki laki yang lebih matang memang menguras emosi, mungkin karena beda pergaulan, beda karakter dan beda cara pandang.
kurang dari satu bulan aku bertunangan, tapi aku sudah hafal laki laki seperti apa yang bertunangan dengan ku,
laki laki pemarah dan keras kepala, bahkan mungkin, cemburu nya di atas orang normal biasa, itu yang aku rasakan,
Tapi di balik itu semua, dia memperlakukan ku dengan baik, aku merasa dicintai jika dekat dengan nya, meski dia tidak pernah mengatakan cinta pada ku.
Aku bahagia bersama nya, tapi untuk menikah, aku belum siap, jika tidak ada cinta di antara kami berdua,
Aku berfikir keras, menyelami perasaan ku,
Aku senang bersama nya, aku ingin di dekat nya, dan jika dia pergi aku merindukan nya,
Apakah itu cinta.?? Apa aku mulai mencintai nya.??
Entah lah, tapi aku menikmati hari hari ku bersama nya,,, DAMARTA SATRIA WIGUNA.
__ADS_1
Kamu adalah pemberian Tuhan yang akan selalu aku jaga,,