Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
32. Balada Membuka Kebenaran


__ADS_3

Dina beranjak hendak meninggalkan ruangan Damar, akan tetapi Damar menahan nya,


Damar meminta nya menunggu nya sebentar lagi, setelah itu dia akan mengantarkan Dina pulang,


Akan tetapi Dina ingin tetap pulang sendiri dengan alasan tidak mau merepotkan, dan Damar tetap saja meminta Dina untuk menunggu.


"Tunggu aja, aku gak lama."


Pinta Damar, sebenar nya lebih ke arah perintah.


Dina menurut,


Sekarang Dina lebih tau kalau soal pekerjaan Damar tidak akan pernah menunda nya, bisa di lihat beberapa kali mereka pergi bersama, tidak pernah hape nya tidak berdering, bahkan di hari pertunangan nya saja, Damar selalu menerima telepon soal pekerjaan.


Benar benar gila kerja. Fikir Dina.


Dina akhir nya duduk di sofa panjang yang tadi dia pakai makan, Dina memainkan hape nya, sesekali dina tertawa lepas, karena melihat sesuatu di layar hape nya.


Damar hanya melirik ke arah Dina dan tersenyum, lagi lagi Dina tertawa, dan mengundang perhatian Damar.


"Lihat apa kamu din, sampai seperti itu.?"


Tanya Damar, tetap pada layar laptop nya.


Dina hanya tersenyum.


Tiba tiba hape Dina berbunyi, ada panggilan telepon masuk.


Tanpa berfikir panjang dia mengangkat nya.


"Halo Ren,"


dina menyapa pada seseorang di sebrang sambungan telepon.


"Haha,, bisa dong,, gak usah gue bisa pergi sendiri, kita ketemu di lokasi aja,."


Ucap dina lagi.


"Gue gak boleh pacaran tau, apalagi sama elo, yang anak nya pecicilan, iiihhhh ogah gue. Haha"


"Terserah loe,, yang penting gue enggak,, gue menolak cowok yang nama nya RENO. anti gue"


Sambung Dina di selipi tawa, Dina memutar duduk nya.


"ASTAGA.....MAS DAMAR, "


Teriak Dina tiba tiba. Kedua mata nya membulat sempurna.


Terlihat Damar sedang menatap nya dengan sangat tajam, seperti sedang menangkap basah anak yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sebentar Ren,"


Dina berdiri dan mencoba menjauh,


Tapi Damar menahan nya untuk tetap duduk.


"Apa sih."


Dina berteriak tanpa suara.


Damar hanya menatap tanpa menjawab, dan memberi isyarat Dina untuk duduk.


Tapi Dina melangkahkan kaki nya melewati kaki Damar, dan pergi menjauh.


Eeehhhh....


Damar melotot, tidak menyangka Dina akan melewati kaki nya.


Damar berdiri dan mengikuti punggung Dina.


"Iya Ren, nanti aja gue kabarin lagi, gue lagi ada di luar nih, nanti sampai rumah gue hubungi lagi."


Ucap Dina sebelum menutup telepon.


Dina tau, Damar masih berada di belakang punggung nya, dia sengaja dia tidak memutar badan nya , dan menjauh duduk di sofa.


Damar tetap berdiri di tempat nya tadi saat mengekor pada Dina.


"Siapa Dia.?"


Tanya Damar dingin.


"Siapa.?"


Dina balik bertanya.


"Pacar kamu lagi.?"


Tanya nya lagi ketus.


"Mulai lagi deh,, bukan mas, dia teman kampus"

__ADS_1


Jawab Dina malas.


Dina berdiri dan hendak pergi ke luar.


"Aku tunggu di bawah ya.?" 


Ucap nya hendek pergi.


Mencoba mengahiri pembicraan yang pasti akan membuat keduanya berdebat,


"Cih,, kenapa pergi, ketahuan ya kamu sudah melakukan penghianatan."


Ucap Damar.


Penghianatan apaan, memang apa yang aku lakukan, enak aja, se enak nya saja menuduh.


Batin Dina, mengerutu.


"Mas udah dong, dia cuma teman kampus aku, dia minta bantuan aku buat lihat tugas akhir nya, gitu doang,"


Jelas Dina, mengalah saja.


"Kamu bertemu berdua.?"


Tanya Damar makin ketus.


" tidak paduka raja, aku ketemu nya rame rame, ada eva,riska,Fira, dan teman yang lain juga."


Tutur Dina.


"Sudah selesai kerja nya.? Aku mau pulang, ini sudah sore, aku mau istirahat."


Sambung nya.


"Sedikit lagi."


Jawab Damar pendek.


"Haaaahhh kamu belum selesai mas, itu kamu bisa berhenti dulu, saat tau aku di telepon sama laki laki, tapi ketika kamu di suruh makan, gak mau sebentar aja di tunda dulu itu pekerjaan, sebegitu tidak percaya nya kamu sama aku. Benar benar kamu mas."


seru Dina, menjadi kesal atas sikap Damar.


"Aku bukan gak percaya sama kamu, tapi aku hanya,,,,"


"Hanya apa.?" 


Tanya Dina melotot semakin kesal.


" hanya,,,, menjaga milik ku."


"Milik ku apa nya, kita belum menikah, tunggu sampai menikah baru boleh bilang seperti itu."


Damar mematikan laptop nya dan membereskan semua yang ada di meja, dia memeriksa semua sebelum meninggalkan ruangan nya.


Ukuran seorang laki laki, Damar termasuk yang Rapih dan bersih.


Dina dan Damar berjalan bersama menuju Lift,


Damar masuk terlebih dahulu dan Dina mengikuti,


Lift mulai turun,


Pintu lift terbuka di lantai enam, ada dua orang yang ragu untuk masuk ke dalam karena ada Damar di sana,


"Masuk lah"


Ucap Damar, dan dua kariawan nya masuk ke dalam Lift.


Di lantai lima pintu Lift terbuka kembali,


Nampak ada Siska dan Arya yang hendak menaiki lift,


"Mbak sis..."


Teriak Dina saat tau siapa yang ada di pintu Lift.


"Dina..."


Teriak siska balik.


Siska menarik Arya untuk masuk ke dalam lift.


Siska dan Dina berpelukan, baru saja tadi ia ingin pergi ke lantai lima untuk bertemu siska, dan sekarang dia benar benar bertemu dengan nya.


"Mbak sis, apa kabar, aku kangen banget tau,,"


Tutur Dina.


"Aku baik, aku juga kangen sama kamu, kamu kenapa jarang kesini.?"


Ucap siska.

__ADS_1


"Iya mbak, aku sibuk bikin tugas akhir, mau cepat cepat lulus, biar bisa kerja cari uang yang banyak,, biar cepat kaya,, haha"


Jawab dina.


"Kamu ini ada ada saja."


"Kak arya sehat, lama ya tidak bertemu.?"


Tanya dina pada arya yang mematung di sebelah siska.


"Baik din,"


Jawab arya dengan senyum yang di paksakan.


Dan Dina tidak melanjutkan obrolan nya karena lift sudah sampai basement.


Arya sudah pergi dengan motor nya, sedangkan siska mesti berjalan lagi menuju mobil nya. Karena Siska dan Damar memarkirkan masing masing mobil nya cukup jauh dan beda arah tentu nya, maka dina dan siska berpamitan terlebih dahulu sebelum berpisah.


"Mbak, main dong ke rumah aku, nanti aku masakin deh."


Siska hanya mengangguk nganguk saja, dia merasa segan karena ada Damar di belakang Dina,


Meski sudah sampai parkiran Damar menunggu Dina selesai berbicara dengan Siska, dan Dina belum menyadari kalau Damar masih bersama nya.


"Mbak sis, nanti ajak juga ya mbak sandra, aku juga kangen sama dia."


Lagi lagi siska hanya tersenyum..


Aduuuhh Din, liat tuh muka calon laki kamu,


Kamu nyerocos aja dari tadi.


"Iya, iya,, nanti kita agendakan ya din, aku pergi duluan aja ya.?"


Akhir nya siska memilih pergi terlebih dahulu.


Dan Damar pun pergi mengambil mobil nya.


Setelah kedua nya berada di dalam mobil, tiba tiba Damar mengatakan mulai besok dia yang akan mengantarkan jika Dina pergi ke kampus,


Dan tentu saja Dina panik, Dina belum memberitahu teman teman nya soal pertunangan nya, meskipun ini sudah bulan ke tiga mereka bertunangan.


"Gak usah mas, takut merepotkan."


Tolak Dina, pada tawaran Damar.


"Kamu nanti kasih tau aja kalau kamu mau ke kampus,"


Tutur Damar tidak merespon penolakan Dina.


"Aku bilang gak usah mas, kamu kan sibuk, biasa nya juga kan aku sendiri, sekarang di anterin malah aneh jadi nya, kaya anak TK aja."


Jelas Dina.


"Besok kamu ke kampus.?"


Tanya Damar, lagi lagi mengabaikan ucapan Dina.


"Aku bilang gak usah Mas Damar."


Ucap Dina tegas.


"Kenapa.? Takut ketahuan teman teman kamu,? Mereka belum tau kan, kamu sudah bertunangan, cihh,,, kenapa kamu, atau jangan jangan kamu malu bertunangan sama aku.?."


Dengus Damar.


"Bukan begitu mas, malu apanya, di kampus gak ada yang tau bukan karena aku yang merahasiakan, tapi kan emang gak ada yang nanya, jadi kalau tiba tiba sekarang aku di anter kamu, terus teman teman aku tau kalau kita udah tiga bulan bertunangan, kan tambah parah nanti mereka marah sama aku, please kamu ngerti ya, nanti aku bilang dulu sama teman teman aku terus aku kenalin kamu sama teman teman aku,, yaaa.??."


Bujuk Dina.


"Kamu,,, kamu,,, kamu siapa.?"


Dengus Damar kesal, karena Dina dari tadi menyebut nya KAMU.


"Dihh,,, sensi amat pak,, iyaaa Mas Damar,, yang paling tampan, yang paling baik, dan yang paling cepat marah,, hahha.."


Ledek Dina, karena Damar protes.


"Enak aja, aku marah karena kamu bikin kesal...."


Ucap damar mencubit pipi Dina.


"Iiiihhh kebiasaan, kalo gak mencet idung, pasti nyubit pipi."


Ucap dina kesal, mengusap usap pipi nya.


"Awas saja kalau ada insiden seperti di kantor tempo hari, karena kamu merahasiakan pertunangan kita."


Ucap damar memperingati.


"Iyaaa..."

__ADS_1


Aduuuhhhh Eva, Fira, Riska,, gue musti ngomong apa, gimana cara nya ngasih tau kalian ya kalau gue udah bertunangan sama mas Damar, bisa di arak keliling kampung gue kalau mereka tau udah tiga bulan gue bertunangan,


Huuuhhh,,,, nasib gue,, punya temen emosian,, naaahh ini di tambah lagi tunangan nya lebih emosian,,, aaahhh gimana ini..... ibu..... tolong nana......


__ADS_2