
Dina keluar dari mobil Damar dengan kaki yang sedikit pincang berjalan nya,
Kali ini Dina ikut sampai di basement, tidak meminta Damar untuk menurunkan nya di jalan seperti tempo hari.
Dina sudah tidak peduli dengan pandangan orang orang tentang dirinya, pertunangan pun sudah tidak di tutupi lagi,
Dina berjalan perlahan meninggalkan Damar, yang masih memarkirkan mobil nya, sangat perlahan dina berjalan menuju lift yang akan membawa nya ke atas.
Setelah nyaman memarkirkan mobil nya, Damar mengejar dina dan menunggu pintu lift terbuka,
Damar memapah Dina untuk masuk saat pintu lift sudah terbuka.
"Pelan pelan jalan nya, nanti luka nya robek lagi"
ucap damar mengingatkan.
"Hhhmmm,, iya"
Lift sudah naik, di dalam lift hanya ada mereka berdua, rasanya damar ingin sekali menggoda dina, akan tetapi mood Dina sedang tidak baik,
"Mau aku gendong lagi.?"
Bisik damar di telinga Dina, tetap saja kan menggoda.
"Gak mau,,"
Hanya itu jawaban nya.
"Kenapa gak mau.?"
Tanya Damar lagi,
"Ya gak mau aja,,"
Jawab Dina lagi.
"Bukan Mahrom nya ya.? Mau di halalin dulu gak, biar jadi mahrom nya.?"
Lagi lagi damar menggoda Dina seperti itu,
Sebenar nya Dina merinding saat Damar mengatakan ingin cepat cepat menikahi nya,
Dina takut jika Damar akan benar benar menikahi nya dalam waktu dekat ini.
Karena saat Damar ingin bertunangan maka benarkan terjadilah pertunangan. Dan mungkin dalam menikah pun akan sama seperti itu, jika Damar ingin menikah maka akan terjadi pernikahan.
Iiiiihhhh menakutkan sekali dia, saat ingin bertunangan maka terjadilah pertunangan, sekarang dia ingin menikah,,, memang nya menikah itu main main apa, mau sebut apa lagi pernikahan nya, jika pertunangan aja dia sebut pacaran resmi, jika tidak cocok tidak usah di teruskan,, terus. Kalau pernikahan dia menyebutnya apa, pacaran yang di halalkan,, kalau dalam pernikahan tidak cocok itu sih bahaya, pihak perempuan yang akan banyak di rugikan, dan lagi, aku gak mau jadi janda,,,,, aaaahhhh gak mau aku.......
Dina bergelut dalam fikiran nya,
"Bagaimana mau tidak.?"
Damar berbisik di telingan Dina,
Sontak Dina kaget dan mengibaskan tangan nya memukul pipi Damar yang ada di belakang nya.
"Aduuhh, kamu ini kasar sekali,"
Ucap Damar mengusap pipi nya.
"Haha, salah sendiri." Ucap Dina puas.
"Eeemmmhhhh,,, kamu itu manis sekali,,"
Ucap damar mencubit kedua pipi nya Dina dengan gemas. Karena sekarang mereka saling berhadapan.
Ting..... pintu lift terbuka.
Ada rommy, dan kariawan lain yang hendak masuk, akan tetapi karena mereka melihat pemandangan yang ada di dalam lift, langkah kaki rommy dan kariawan itu tiba tiba berhenti.
Dina dan Damar memandang orang orang yang ada di pintu lift secara bersamaan, tanpa melepaskan cubitan Damar yang menempel di pipi Dina.
"Astaga,,, ngapain kalian." Sergah Rommy,
Dina tersadar dan menangkis kedua tangan Damar yang menempel di pipi nya.
__ADS_1
Hanya Rommy dan beberapa kariawan yang memasuki lift, sebagian mundur karena mengetahui ada Damar si pemilik perusahaan di dalam nya.
Pintu lift tertutup, meski di dalam lift tidak terlalu penuh, Damar sengaja menarik Dina mendekat pada nya. Bermaksud agar kaki nya tidak sampai di kenai orang lain.
Di dalam lift ada Novi,sekertaris Damar yang kemarin mendorong Dina sampai Dina mendapat jahitan di betis nya.
Dina bukanya tidak mengenali nya, hanya saja dia malas mencari masalah,
"Pak, maaf atas kejadian kemarin"
Ucap Novi, setelah beberapa orang turun dari Lift dan hanya tinggal ber empat. Tersisa dirinya, Damar, Dina dan Rommy.
"Minta maaf,,,, untuk apa.?"
Tanya damar.
"Karena kemarin saya membuat keributan."
Jawab Novi angkuh.
"Ooohhh keributan ya,, Kenapa minta maaf sama saya.?, tunangan saya yang kamu dorong, bukan saya,"
Jelas damar dingin.
Novi melotot mendengar ucapan Damar, ternyata mereka sudah bertunangan, fikir Novi.
"Tu,,tu,,tunangan pak,
maaf, saya meminta maaf pak, saya juga meminta maaf pada tunangan bapak."
Tutur Novi, seperti di paksakan.
"Kamu tau siapa nama tunangan saya.?"
Tanya Damar lagi.
"Eh,, maaf pak, maksud nya.?"
Novi balik bertanya.
DINA ARYANTI DEWI, jika nama nya saja kamu tidak tau, kenapa kamu mencari masalah dengan nya.? Dan lagi, yang pertama mengejar, bukan dia tapi saya "
Lontar damar penuh penekanan, dan tidak memgalihkan pandangan nya dari Dina.
"Kamu tau kesalahan mu apa.?"
Lanjut nya, tanpa melihat yang di ajak bicara.
Novi hanya diam, dan keringat dingin mulai mengucur. Dan dia tidak berniat menjawab pertanyaan dari Damar.
"Dia berharga bagi saya, jangan berani berani lagi kamu menyentuh nya."
Ucap Damar melingkarkan tangan nya di bahu Dina,
Sebenar nya dina merasa tercekat dengan perlakuan Damar, ingin dia menggigit lengan yang memeluk nya, akan tetapi karena dia juga kesal pada Novi, maka Dina membiarkan nya.
Novi semakin gematar tidak mampu berkata apa apa, bahkan dia mampu berdiri saja, itu sudah menguras seluruh tenaga nya.
"Jika kamu berani menyakiti nya lagi, kamu tau, apa yang bisa saya lakukan sama kamu.."
Lanjut nya lagi, sambil mengusap kepala Dina.
Pitu lift terbuka di lantai lima, dimana ruangan tempat Dina bekerja,
Dina melangkah dengan perlahan, dan Damar membantu dengan memapah nya. Karena Dina jalan dengan terpincang pincang.
" gak usah mas, sampai sini aja."
Tolak Dina.
"Aku antar sampai kubikel kamu."
Damar ikut keluar mengantar Dina,
Dina memasuki ruanganya dengan di bantu oleh Damar,
__ADS_1
Semua orang melihat, tak terkecuali Arya yang baru saja tiba dengan lift yang lain.
Siska mendekati Dina dan membantu memapah Dina.
"Sampai sini aja Mas, terima kasih."
Lontar Dina.
Dan Damar mengangguk.
"Aku ke atas,"
Bisik damar,
"Iya,,," jawab dina tanpa suara.
Siska membantu Dina duduk di kursi nya, tidak ada yang berani membahas kejadian kemarin, Bahkan Arya pun hanya melihat dari kejauhan.
Tidak menunggu sampai besok, gosip bahwa Dina dan Damar telah bertunangan telah tersebar, ada sebuah group chat kantor yang membahas tentang gosip itu,
ternyata dina baru tau kalo diri nya adalah anggota group itu, ada beberapa foto pertunangan Dina dan Damar, dalam group chat tersebut.
Mereka dapat dari mana foto foto ini, aku aja belum punya foto pertunangan aku, karena foto nya belum jadi, masih dalam proses cetak, ehh tapi ini kayak foto dari hape deh.
Batin Dina saat memperhatikan Foto di layar laptop nya.
Saat Dina mendekat kan wajah nya untuk memperhatikan foto nya, tiba tiba hilang,
Dina telah di keluarkan oleh admin dari group chat tersebut.
"Iiihhh Dasar,, aku di keluarin,, aahh bodo amat."
Gumam Dina, masih melihat layar laptop.
Keadaan di kantor sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat, benar benar berbeda.
Semua orang seperti yang menjauhi Dina, akan tetapi Siska masih sama seperti sebelum nya.
Kabar pertunangan nya tentu saja menjadikan Sikap Arya pada Dina berbeda, bahkan mungkin Arya akan mendapat Dua masalah sekaligus,
Tidak akan pernah mendapatkan Gadis pujaan nya, Dan tentunya dia harus menghadapi yang punya perusahaan, pekerjaan nya di pertaruhkan sekarang.
Melihat sikap Damar pada Novi tadi di dalam lift, membuat Dina takut untuk menyapa Arya, pada perempuan saja Damar mampu mengancam, apalagi pada sesama laki laki, mungkin lebih Dari ancaman.
Eeehh iya,, dari tadi aku tidak melihat kak Arya, dimana ya dia.
Batin Dina menyisir seluruh ruangan.
Tapi arya tetap tidak ada.
"Mbak sandra, kak arya kemana yah, ini ada pekerjaan yang musti di selesain sama kak arya."
Lontar Dina pada Kasandra yang sedang bergelut dengan laptop nya,
Mungkin kalo bilang urusan pekerjaan tidak apa apa kali ya.. Fikir Dina.
"Lagi di atas, di lantai tujuh,"
Jawab kasandra, datar tanpa melihat Dina.
"Di atas,, lagi ngapain ya mbak.?"
Tanya Dina mengorek informasi.
"Laaahhh,,, kan di panggil sama calon suami lo."
Jawab Kasandra, Heran.
"Ooohhh..."
Haaahhh apa,,, ka Arya,,,
mas Damar,,,
Sedang apa......
__ADS_1
Astaga....