
Damar PoV
"Bisa Diam gak sih,"
Lagi lagi dia mendengus,
lucu sekali ketika dia merasa kesal, aku semakin ingin menggodanya.
Semakin hari semakin aku menyukai nya.
Terkadang Dia menjadi sosok yang sangat dewasa dan pengertian, tapi di sisi lain dia hanya gadis biasa yang bisa manja dan merajuk, bahkan lebih egois dari biasanya, namun itu wajar menurut ku.
Bahkan, saat seperti itu lah yang membuat kami menjadi semakin dekat.
Misalnya seperti ini, aku tau Dia kesal karena aku meminta nya memasak untuk ku, tapi dia tetap membuatkan ku sesuatu.
Melihat dia memasak untuk ku dari dekat, sungguh aku merasa bahagia, aku semakin ingin cepat cepat memiliki nya, fikiran ku kacau saat melihat punggung nya.
Ingin sekali aku memeluknya dari belakang dan mengganggunya, namun jika aku lakukan hal itu, tentu dia akan marah besar, karena mungkin dia tidak terbiasa dengan sentuhan laki laki selain kakak nya, terlihat jelas sekali saat beberapa kali aku menyentuh nya, Dia gemetar dan kaku,
Benar benar gadis polos.. Haha
"Mas,, tunggu di meja makan aja gih," pinta Dina karena aku terus duduk di belakang nya.
"Kenapa memang.? Aku mau lihat cara kamu memasak, siapa tau ada hal aneh yang kamu masukan."
Goda ku pada nya, yang pastinya membuat wajah nya semakin cemberut karena kesal.
"Eeehh,, seenaknya kamu bicara. Kalau gak percaya nihh kamu masak sendiri."
Dina menjawab dengan memutar tubuhnya, berbalik melihat ku, wajah nya melotot,
Kali ini dia benar benar marah, aku tau karena dia mengubah panggilan nya pada ku.
"Masih mau di masakin gak.? Kalau mau, pergi kamu."
Dina mendelik kesal. Dan aku akhir nya mengalah, saat hendak pergi aku mencubit pipi nya yang bulat,
Semakin kesal dia mengangkat sutil yang di pegangnya keatas kepalaku, dia mengancam akan memukul ku dengan sutil kalau aku tidak pergi.
"MAS DAMAR,, kamu pergi gak."
Eeeuuhhh,, dia benar benar menggemaskan, aku semakin ingin menggoda nya, namun keinginan itu masih terkalahkan dengan rasa lapar ku, maka aku akan pergi saja meninggalkan dia sendiri di dapur.
"Iya,,, iya,,, galak banget sih."
Sebelum pergi aku berniat akan memencet hidung nya, namun dia menepis tanganku dan menghentakan kakinya, sebelum aku melakukan hal itu,
"Oke... aku pergi."
Aku menunggu di meja makan, seperti perintahnya padaku, sambil menunggu, aku membuka Ipad ku, ku cek semua pekerjaan ku.
Sampai tidak terasa, makanan sudah tersaji di meja makan, eeemmhh harum sekali. Aku dongakan wajahku melihat makanan yang tersaji, ternyata wajah Dina yang kesal menarik perhatian ku.
"Sudah mas.? Ini bukan jam kantor loh," sindir Dina datar pada ku, karena aku masih bekerja.
Sudah berapa lama aku mengecek Ipad ku, sampai aku tidak sadar Dina sudah selesai menyajikan makanan di atas meja makan.
"Ehh iya," jawab ku sekenanya. Dan menyimpan Handphone dan Ipad ku di meja yang lain.
Eeemmhh,, bau nya enak sekali, ternyata Dina benar benar pandai memasak, dan dia juga sangat menyukai kuliner.
Saat aku tunjukan kulkas dan bahan makanan di Rumah kami, Dina begitu Excited melihat nya, matanya seperti melihat harta karun, haha..
Dan yang membuatku salut, Dia tau semua nama dan fungsi bumbu bumbu di dapur,
Yang bahkan aku lihat semua nya sama, namun Dina tau itu semua berbeda.
Mata nya berbinar saat sampai di dapur rumah ku. Katanya kalau di rumah nya dapur nya sebagus dapur Rumah ku, dia akan memasak seharian. Benar benar perempuan unik kamu Din.
"Mas,, Fey mana.?" Tiba tiba dia menanyakan adik ku.
"Mungkin lagi nidurin anak nya." Jawab ku asal.
"Gak ikut makan.?"
Benar benar perempuan yang perhatian,
"Nanti juga turun, mana nasi nya." Pinta ku pada nya, yang langsung dengan sigap dia menyendokan nasi putih di atas piring ku.
Malam ini sangat istimewa, Dia memasak menu jepang untuk ku, menu lengkap dengan daging, sayur dan telur.
Dia membuat tiga hidangan,
Bulgogi, miso sup, dan telur gulung.
Aku mencoba ketiganya, dan semua nya benar benar enak.
"Gimana.?"
Dia memajukan wajah nya saat aku mencoba semua masakan nya. Terutama saat aku mencicipi sup nya.
Dan lagi lagi, aku ingin menggoda nya. Aku pura pura berfikir dan terus merasai makanan nya.
"Gimana mas,, gak enak ya, aku baru pertama kali bikin sup nya. Maaf nya"
Ucap nya melemas dan meminta maaf.
Ternyata Dia baru pertama kali bikin miso sup,
Tapi menurut ku ini benar benar enak. Hampir mirip lah dengan yang aku makan di resto jepang.
Malahan ini lebih terasa segar ikan nya, di tambah lagi dia menambahkan wortel dan tofu dalam sup nya, jadi lebih balance rasanya antara gurih dari ikan dan segar dari sayuran nya.
"Hhhmm,, ini enak. Semuanya enak." Jawab ku, memberi sedikit senyuman.
Sedikit saja, kalau banyak banyak nanti dia besar kepala. Hehe
"Waahh benarkah,??"
Wajahnya sumringah, senyum merekah menghiasi wajah nya, dia semakin cantik saat tersenyum. Hanya dengan sedikit pujian saja dia merasa bahagia, mungkin dia merasa di hargai.
"Hhhmmm,," jawab ku, Mengangguk.
"Alhamdulillah, kalau mas Damar suka, hehe,,"
__ADS_1
"Mas,, nanti kalau kita sudah menikah, setiap hari aku buatin kamu makanan dengan menu yang berbeda, Mau.???"
" Selain Asian Food aku juga bisa masak Western Food loh mas, apalagi kalau dapur nya senyaman tadi,,, aaaahhhh aku akan betah tinggal seharian di dapur,,"
"eeehhh apa yang aku katakan.. astaga..."
Dia terus nyerocos dari tadi, sampai sadar apa yang di katakan nya dia menutup mulut nya sendiri dan terus menggeleng.
Biasanya apa yang di ucapkan secara tidak sadar, itulah yang sebenarnya.
Aku menatap wajahnya dengan lekat, ku simpan sendok yang sedang ku gunakan, aku naikan sikutku diatas meja makan, kepalan tanganku menahan dagu ku, terus ku tatap wajah nya yang semakin memerah.
Dia tersipu malu, aku tersenyum melihat nya seperti itu, jika sekali saja dia berkata siap untuk ku nikahi, aku tidak akan menunggu hari esok, akan ku pastikan, aku akan menikahi nya hari itu juga.. hahaha.
Karena kesempatan langka belum tentu datang dua kali.
"Permisi mas, aku ke toilet dulu."
Ucap nya berdiri dan pergi dengan buru buru.
Tapi tidak lama kemudian dia kembali lagi..
"Toiletnya di mana.?"
Hahhaa,,, sesuai perkiraan ku, Dia tidak tau di mana letak toilet nya.
Aku menunjukannya dengan jari tangan ku, tanpa aba aba dia langsung pergi begitu saja.
Aku hampir menghabiskan makanan ku, tapi Dina belum kembali juga, sebenarnya apa yang dia lakukan di dalam toilet.
Awalnya aku akan meminta Fey untuk memerikasanya, namun belum sempat aku memanggil Fey, Dia sudah muncul dengan wajah yang segar, sepertinya Dia baru saja mencuci wajah nya. Wajahnya sangat segar tanpa makeup.
"Kamu tidur di kamar mandi.?" Ucap ku padanya yang sudah duduk di kursi.
"Enggak,"
Dia menggeleng.
"Tadi kakak menelepon, dia tanya aku masih di mana, terus kata kakak, dia mau jemput aku ke sini." Lanjut nya.
"Kakak kamu marah, kamu di sini.? Nanti aku antar saja kamu pulang." Tanya ku padanya.
"Enggak, katanya mas Damar tadi minta ijin dulu sama kakak, kata kakak biar sekalian pulang, kakak juga masih di tempat teman nya, sebentar lagi ke sini jemput aku."
" kok gak bilang sama aku, kalau mas Damar telepon kakak." Dia mendelik kesal.
"Kamu kan tidak bertanya." Jawab ku asal.
"Kamu tidak makan.?" Tanya ku.
Dia menggeleng. "Aku mau makan Ramyeon."
Dia malah memainkan Handphone nya, mengetikan sesuatu dan pake ketawa ketawa lagi. Lagi apa sebenarnya Dia, lagi Chating spertinya, sama siapa.
"Makan dulu Din, baru boleh makan yang lain." Pinta ku padanya.
Dia tetap menggeleng, " enggak mas,, nanti kenyang dong, itukan sama kayak makan,"
"Beli Dimana.?"
"Enggak beli dong, nanti bikin di rumah." Jelasnya tanpa melihat ku.
Tetap saja pandangan nya pada layar Handphone nya.
"Dina...."
Dia langsung mendongakan wajah nya, ketika aku panggil nama nya.
"Eh.. apa.?" Jawab nya datar.
"Simpan Hape nya, di meja makan biasakan tidak memegang hape." Ucap ku tegas.
Dia cemberut dan menyimpan handphone nya kedalam saku baju nya. Tanpa protes.
"Makan dulu, atau mau aku suapin.?" Sambung ku.
Masih dengan menggeleng sebagai jawaban.
Ku ambilkan nasi untuknya, dan dia mengambilnya dengan wajah yang cemberut.
Mungkin kesal karena aku melarang nya menggunakan handphone di meja makan, aku tahu kebiasaan dia kalau sedang makan pasti menonton di handphone nya.
"Sekarang sudah mulai harus menghilangkan kebiasaan menonton hape saat sedang makan."
Ucap ku, yang semakin membuat nya mendelik kesal.
"Hhhm....." jawab nya.
***
"Euuummhh,,, bau apa ini,?"
Fey datang dari arah ruang tengah,
Melihatnya datang sendiri, sudah di pastikan Frans telah tertidur.
"Waaahh,, Kelihatannya enak, delivery order kok gak bilang bilang, I want too, you know"
Ucap Fey mencomot telur gulung.
"Ini Dina yang masak, bukan Delivery order " jawab Damar.
"oh really.? you can cook Ssy.? Waah keren,"
"Kamu bisa masak apa saja.,?" Lanjut Fey.
"Semua bisa, asal ada kemauan.. hehe" jawab Dina.
"regional cuisine, you can.?, seperti rendang, liwet atau gudeg, bisa.?" Tanya Fey antusias.
Dina mengangguk.
"wow very cool. Pantas abang really like you. Hihihi" lontar Fey.
Damar hanya tersenyum melihat interaksi kedua perempuan itu. Damar sudah selesai makan.
__ADS_1
"Aku ke atas dulu ya, tidak lama." Tutur Damar mendekatkan wajah nya pada Dina.
Dina hanya mengangguk.
Apa boleh buat, di sini ada Fey, tidak mungkin dia merajuk pada Damar, terlalu memalukan.
Fey dengan cepat memgambil nasi putih, menaruh diatas piring miliknya, tanpa basa basi semua hidangan yang dina masak telah masuk kedalam mulut nya.
"Eemmhh Ssy,, enak sekali, " tutur Fey di sela makan nya.
Kini Dina hanya menonton calon adik ipar nya itu menikmati makanannya, karena dirinya telah selesai saat Fey memulai makan.
Damar datang kembali menghampiri Dina, padahal Fey belum menyelesaikan makannya.
Damar memberitahu kalau jaka sedang di jalan menuju kerumahnya.
Damar mengajak Dina untuk berkeliling Rumahnya dan meninggalkan adiknya di meja makan seorang Diri.
"Aku pergi dulu ya Fey, gak apa apa kan.?"
"ya sissy, Don't worry. aku sedang menunggu jason, sebentar lagi dia akan pulang." sahut fey mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Dina pergi.
Dina setengah berlari mengejar Damar, karena Dia sudah meninggalkan Ruang makan saat Dina berbicara pada Fey, adiknya.
"Dia mah kalau jadi Tour guide, moal payu,, gak laku, masa tourist nya di tinggal " gumam Dina mendelik kesal.
"kenapa.?" tiba tiba Damar berhenti berjalan.
"apa.?"
"Bicara apa kamu tadi.?"
"apa.? kepo.." pergi melewati Damar.
"eehh.. mau kemana kamu.?, ayo ke atas."
Dina menggeleng, menolak ajakan Damar.
"kenapa.?" tanya Damar Heran.
tetap menggeleng.
"kebiasaan ya kamu, kalau di tanya hanya menggeleng dan mengangguk, kenapa, kamu takut."
kali ini Dina diam, tidak menggeleng ataupun mengangguk.
"kamu takut apa.? di sana gak ada hantunya." ledek Damar.
"iyaa lah, hantunya ada di sini." guman dina pelan.
"aku dengar." Decak Damar.
"Bagus lah, tandanya pendengarannya tajam." lontar Dina, pergi ke depan Rumah. dengan sedikit berlari.
"mau kabur kemana kamu." Damar mengejar.
Dina berlari agak cepat agar Damar tidak mendapatinya, namun Dina tidak berhenti sampai di depan Rumah, Dia berlari sampai ke taman depan rumah umah.
ternyata hari sudah benar benar gelap, langit yang hitam legam dengan kerlip bintang yang mengelilingi rembulan begitu terlihat sangat indah.
"Kenapa.?" ternyata Damar sudah di Samping Dina. Dia menatap wajah Dina yang menengadah ke langit, melihat tenangnya langit dan bintang di atas sana.
"mas, aku mau kaya Bulan deh."
"Bulan siapa.?"
"iiihhh, bukan siapa, tapi itu bulan di atas." tunjuk Dina pada langit.
"hhmm, kenapa.?"
"karena Dia indah, bersinar lembut dan menenangkan, dan lagi bintang bintang juga mengelilingi Dia." jelas Dina masih menatap langit.
"kenapa tidak matahari, dia lebih kuat cahanya. bukankah Bulan juga menyerap cahanya dari matahari." tutur Damar.
"iya aku tahu, tapi tetap saja bulan lebih indah." tukas Dina cemberut.
"aku tidak setuju kalau kamu jadi Bulan." protes Damar.
"kenpa.?"
"karena cukup satu bintang yang ada di sisi kamu, bukan banyak bintang, aku gak suka." urai Damar. merangkul bahu Dina.
"hahha,,, kamu sakit mas.? belajar gombal Dari mana.? hahaha" ledek Dina, pada kata kata Damar.
"aaawww... ampun ampun."
Ringis Dina karena Damar memencet hidungnya.
"mas ih, lepasin,,, sakit.." dina memukul mukul bahu Damar. yang tidak berarti bagi si pemilik bahu.
"kebiasaan deh, nih coba rasain sendiri enak gak.?" dengus Dina berusaha membalas perbuatan Damar.
namun, tidak semudah itu sobat, karena badan Damar yang lebih tinggi, bukan hal sulit baginya untuk memghindar.
hahaha,,, tawa itu bergema dari mulut Damar.
dan Dina menyerah dan cemberut membalikan badan.
Tid.. Tid... suara mobil dari Depan gerbang.
sepertinya itu adalah Jaka. dan inilah akhir dari cerita kunjungan pertama sang calon istri.
Jaka langsung pulang membawa adiknya, bukan tidak mau berkunjung, namun ada sesuatu pekerjaan yang harus ia cepat selesaikan. Maka dari itu jaka menolaknya dengan sopan, agar bisa pulang untuk mengerjakan pekerjaan nya. Kerena dua hari lagi dia akan kembali ke malaysia.
Setelah sampai di rumah, jaka dan dina melakukan aktifitasnya masing masing, Dinda sudah masuk ke dalam kamar nya.
Ibu bersiap untuk pergi tidur, ibu selalu membereskan dapur sebelum tidur, seperti mencuci piring kotor dan menyimpan makanan di tempat yang tertutup.
katanya supaya tidak ada kucing ataupun tikus yang akan mengacak acak makanan ataupun sisa makanan di piring kotor, kalau sebelum kita tinggal tidur semua nya sudah bersih dan rapih.
Ting....
pesan masuk pada handphone Dina.
langsung istirahat,
__ADS_1
Besok aku mau perjalanan bisnis, jaga diri kamu baik baik.
"aaahhh,,, baiklah,, aku mau tidur, kamu akan semakin menjadi kalau lagi jauh mas... "