Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
62. Aku sudah menikah


__ADS_3

"Alhamdulillah,  semua telah siap ya, sekarang mari kita mulai." Ucap nya pak penghulu.


Manusia hanya berencana dan berusaha, namun kembali lagi hanya yang maha kuasalah  yang menentukan,  akad nikah baru akan di laksanakan, dan waktu menunjukan pukul delapan pagi.


selain waktu yang molor satu jam, pada akhirnya yang menjadi wali adalah dari pihak KUA, karena ternyata kondisi jaka semakin tidak memungkinkan untuk menjadi wali nikah. Maka Dina akan di nikahkan oleh wali hakim. Karena mendiang ayah tidak memiliki kakak atau adik laki laki.


Awalnya Dina protes, namun mau bagaimana lagi, tidak mungkinkan untuk menunda lagi, semua persiapan dan persyaratan sudah seratus persen. Maka acara akan tetap berlanjut dan siap untuk dimulai.


"Baik kita mulai,, bismillahirahmannirahim.."


"Mohon di periksa kedua nama nya, kepada dua saksi, dan kedua mempelai."


"Saya sampaikan susunan acaranya,"


Pak penghulu menyampaikan nya, mulai dari pembacaan ayat suci, khutbah nikah, yang akan di sampaikan oleh kepala KUA yang akan menjadi wali nikah, ijab qabul, doa dan sighat taklik.


"Baik kita mulai."


Setelah pak penghulu membacakan ayat suci, kepala KUA, menyampaikan khutbah nikah nya.


"Kepada kedua calon mempelai, saya sampaikan pernikahan dengan kondisi sederhana seperti ini, tidaklah menjadikan pernikahan tidak memiliki arti, pernihakan tetap suci, sakral dan akan menjadikan salah satu sumber bahagia dunia maupun akhirat, karena pernikahan adalah ibadah terlama dan terpanjang yang akan dipertanggung jawabkan sampai nanti, kelak di akhirat."


"Dan barang siapa yang telah menikah, maka dia telah menyempurnakan setengah dari agama nya,, maasya allah,, Mas Damarta, allah telah menciptakan mbak Dina yang ayu nan cantik untuk di jadikan istri sebagai penentram hidup, begitupun untuk Mbak Dina, allah menghadirkan rasa kasih sayang diantara keduanya, dan kamu menyadari akan hal itu, maka sungguh kalian adalah termasuk orang orang yang berfikir."


"Saya ingatkan, pasangan adalah layaknya pakaian, suami menjadi pakaian istri, dan begitupun sebaliknya, maka dari itu kalian harus saling melindungi, menutupi ketidak sempurnaan masing masing, mungkin pakaian tidak akan selamanya sesuai kemginginan, cocok dan nyaman saat dikenakan, namun tetap pakaian itu masih melindungi dan menutupi."


"Seorang istri menjadi pakaian bagi suaminya, di ibaratkan meski pakaiannya tidak terlalu bagus,  atau cantik, maka dari itu ia akan memberikan perlindungan, dikala mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, atu masalah hidupnya yang lain, Mbak Dina harus bisa menutupi ketidaksempurnaan Mas nya, sehingga orang luar hanya akan melihat bahwa Mas Damarta adalah laki laki yang sempurna."


"Tapi saya lihat, mbak Dina ini sangat cantik ya, jika di umpamakan  akan menjadi pakaian yang indah. Karena sudah cantik di luar, maka jangan ragu untuk mempercantik di dalam, menjaga dan melindungi suaminya layak nya pakaian yang bagus dan menutupi, membuat nyaman dan hangat bagi si pemakainya."


"Padahal sebenarnya mas Damarta itu, masih suka bikin kesal dan suka marah marah ya,, hehe,, maaf itu curhatan ibu ibu kompek perumahan saya, tapi saya yakin, kalau Mas Damarta tidak seperti itu pastinya."


Semua orang dalam ruangan itu tersenyum, namun tidak dengan Dina, terlihat dia tampak sangat gugup. Dan Damar melirik pada calon istrinya.


"Terakhir, ingat ya mas, bahwa dunia ini perhiasan, dan sebaik sebaik perhiasan adalah istri yang shalihah, yang mampu mendapingi suami di sampingnya, maka jadilah pemimpin rumah tangga yang baik, yang mampu bertanggung jawab lahir dan batin atas yang di pimpinnya yaitu istri dan anak anak nya kelak."


Semua orang dalam ruangan diam dan menyesapi khutbah nikah yang di sampaikan oleh bapak kepala KUA.


"Baik terima kasih Bapak kepala KUA


khutbah nikahnya, selanjutnya kita melanjutkan


pada acara inti yaitu ijab kabul yang mana wali


nikahnya adalah Bapak KUA lagi. Mari kita bersiap,"


pak penghulu mempersilahkan.


"silahkan wali nikah dan mempelai pria tangannya saling bersalaman"


"Wali nikah membacakan ijab terlebih dahulu


sebagai tanda penyerahan yang langsung


dijawab tanpa adanya jeda oleh mempelai pria


membacakan kabulnya sebagai tanda penerimaan dalam satu tarikan nafas."


Damar terlihat lebih tenang, berbeda dari sebelum nya, apalagi bapak kepala KUA, terlihat sangat santai dan kalem, tentu saja ini bukan kali pertamanya.


"Bismillahirahmanirahim, Saudara Damarta Satria Wiguna bin Suryo Gunawan Wiguna , Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan  Dina Aryanti Dewi binti Irman Sulaiman yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda  dengan mas kawin perhiasan emas seberat 230 gram, dibayar tu,,,nai."


Damar menggengam erat tangan Wali nikah dan


menjawab dengan cepat.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Dina Aryanti Dewi binti Irman Sulaiman dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."


"Bagaimana saksi sah?" tanya Pak Penghulu sambil memandang ke arah saksi.

__ADS_1


Kedua saksi mengangangguk dan menjawab "Sah."


"Sah.. Sah..." beberapa orang menjawab bersamaan.


"Alhamdulillah... mari kita sekarang berdoa


bersama-sama" kemudian Bapak Penghulu


membacakan doa yang diaminkan oleh semua


penghuni kamar.


"Silahkan mempelainya disandingkan" Pak


Penghulu memberikan tanda kepada Mama Ratna untuk membawa Dina duduk disebelah Damar.


"Selanjutnya adalah pembacaan sighat taklik yang


akan dibacakan oleh Mas Damarta kepada istrinya."


"Maaf Mas, sudah punya istri.?" Goda pak penghulu.


Damar mengerutkan dahinya, apa maksudnya, saya masih lajang, begitu fikir Damar.


"Boleh saya tanya mana istrinya.?"


Damar menatap pak penghulu, dia hanya melirik pada Dina, saat pak penghulu menggodanya.


"Haha, sepertinya Mas nya ini tida suka bercanda nya,.?"


Iisshh,, aku kan sudah menikah, benar, sekarang aku sudah beristri. Batin Damar saat menyadari arti dari candaan pak penghulu. Namun tetap tidak ada ada senyum dari bibir Damar, dia tetap stay cool.


Sighat Taklik ini bukan merupakan rukun nikah,


tapi menjadi bagian dari acara akad nikah


sebagai upaya pengingat bagi suami yang akan


"Silahkan dibawa Mbak Dina nya untuk duduk


bersanding bersama suaminya sekarang, boleh


dipegang tangan istrinya, sekarang sudah sah”


Dina menunduk malu, dari tadi melihat proses ijab kabul dari tempat duduk belakang bersama Mama Ratna dan Fey. Pikirannya seperti melayang-layang, dan semua tahapan dalam akad nikah membuatnya merasa gelisah tidak jelas.


Dalam hitungan menit semuanya akan berubah, ia akan menjadi seorang istri dari seorang laki-laki yang ada di hadapannya,  Tangannya yang dingin digenggam erat oleh laki laki yang sekarang menjadi suami nya.


sementara itu, Damar membacakan sighat taklik, dengan memegang kepala Dina sebagai istrinya, Dina terus menunduk dengan wajah yang merona, meski Damar telah menyelesaikan pembacaan sighat taklik nya Dina masih menunduk.


"Mas, boleh di cium kening nya."


Mendengar kata kata pak penghulu Dina kaget dan mengangkat wajah nya, dan akhirnya ciuman mendarat di hidung mempelai perempuan.


"Mas,, " meskipun dalam keadaan merona malu Dina masih bisa mendengus dan melotot, karena Damar mencium Hidung nya.


Namun tidak ada reaksi apapun dari Damar.


Malah Dia mencium ulang dan kali ini mendarat dikening dengan lumayan cukup lama. Dina tersadar ini cuku lama maka dengan spontan Dia mendorong dada Damar agar menghentikan kecupan nya itu.


"Iiissshhh,,, " dan semua orang tersenyum melihat tingkah mereka.


"Sudah sampai sini dulu kalau di sini, nanti bisa di lanjut ya, rupaya pengantin perempuan nya sangat pemalu." Ucap pak penghulu.


Lalu mengakhiri acara akad nikah nya, setelah di tutup dengan Doa yang di aminkan semua orang yang hadir. Ibu Dewi mempersilahkan semua nya untuk mencicipi berbagai jenis kue dan makanan Ringan yang telah tersedia di meja.


Damar dan Dina mendekati ranjang jaka,


"Kakak,,, sekarang Nana sudah menikah, kakak senang.?"

__ADS_1


Jaka mengangguk perlahan, air mata menetes dari sudut matanya, kebahagiaan kini telah bersamanya, Melihat adik perempuannya telah menikah membuat Jaka semakin tenang untuk melakukan operasi besar yang akan dilakukan pada dirinya.


" terima kasih Bang" pelan Jaka berbicara kepada sang pengantin baru.


" Kang,, Percayalah Saya tidak akan mengecewakan akang." Damar merangkul Dina yang sedang menahan tangisnya, dia berusaha tidak mengeluarkan air matanya.


" permisi ruang operasi telah siap, saya izin bawa bapak Jaka ke ruangan operasi dulu" ucap perawat perempuan.


"Kakak,, yang kuat ya, Nana nunggu disini." Akhirnya Air mata yang tertahan tadi pecah.


Jaka mengangguk.


Semua orang dalam ruangan tersebut langsung mengarahkan perhatian nya pada kakak beradik yang saling menguatkan.


Ibu dewi dan mama Ratna mendekat pada Damar dan Dina.


"Bu,, kakak pasti sembuh kan.?" Dina memeluk sang ibu saat menyadari bahwa Ibu berada di samping nya.


"Insya Allah nduk,, insya Allah,, " ucap ibu mengusap kepala anak gadis nya.


Melihat jaka yang di bawa rame rame oleh para perawat membuat perasaan Dina tak menentu, suara roda ranjang yang di seret para perawat itu terasa berdengung terdengar di telinga nya. Melihat semakin mengecil nya punggung para perawat itu karena langkah mereka semakin jauh.


Membuat Dina merasa sesak, penglihatan nya kabur, dan bahkan untuk menopang berat badanya sendiri dia tidak mampu, melihat istrinya seperti kehilangan keseimbangan, dengan sigap Damar menangkap nya sebelum terjatuh ke lantai, dan benar saja, saat Damar menatap wajah istrinya Dia malah bergumam dengan mata terpejam.


"Kakak,, jangan tinggalin nana.."


Hanya kalimat itu yang terdengar, setelah itu Dina menutup mata dan badanya mulai melemas, mungkin Dia pingsan karena sedari tadi menahan emosinya.


langit mulai meredup, awan yang tadinya biru kini menjadi kemerahan, langit sore yang sangat indah.


terdengar lenguhan dari dalam selimut, merasakan nyamannya dalam balutan selimut yang dipadukan dengan udara sejuk dari AC ruangan.


"huaaaahh...." Dina mengeliat keluar dari selimut seperti bayi.


dia mengerjakan mata beberapa kali dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengumpulkan kesadaran.


"di mana ini" dia memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan mencoba mengenali tempat dia berada.


" kebiasaan, setelah bangun tidur selalu menggeliat, seperti bayi saja" ucap Damar keluar dari ruangan dengan handuk yang melingkar di pinggangnya.


" aaahh..Mas, kamu ngapain di sini." Dina langsung menunduk tak berani melihat Damar yang bertelanjang dada.


"cepat bangun, ini sudah hampir sore. kamu harus makan, tadi kamu pingsan karena perut kamu kosong, dan kata dokter kamu stres, entah apa yang kamu pikirkan." omel Damar menyodorkan piring yang berisi nasi dan beberapa lauk.


" Mas ini jam berapa" tanya Dina mengambil piring yang damar sodorkan.


" jam dua tiga puluh" sahut nya datar.


" apa, jam Dua tiga puluh.?? Aku terlewat sholat zuhur Mas, Aku mau salat dulu, nanti aku makan" ucap Dina hendak beranjak dari tempat tidurnya, namun dia urungkan kembali, karena sadar apa yang Dia kenakan, Dia kembali ke dalam balutan selimut.


" kenapa..?"ucap Damar menyeringai.


Dina menggeleng dengan kesal,


"kenapa..??" tanya Damar lagi masih menyeringai. senyumnya itu benar-benar mengesalkan,


"Mas aku kenapa ada di sini, Terus siapa yang gantiin aku baju, perasaan tadi aku pakai kebaya deh,," tanya Dina dengan muka kesal.


"siapa lagi menurutmu, di sini cuma ada aku sama kamu."


"APA... kamu kamu jangan macam-macam ya mas.." sungut Dina melotot memegangi selimut yang membalutnya.


" macam-macam Apa maksud kamu, kita sudah menikah, aku ini suami kamu."


ASTAGA,,, benar, aku sudah menikah dia telah menjadi suamiku dan aku menjadi istrinya tapi apa benar Mas Damar mengganti pakaianku, berarti dia melihat semuanya,, aaahhh,, terserah lah,, aku mau salat dulu, terus aku makan aku benar-benar lapar.


Dina beranjak dari tempat tidur dengan berbalut selimut.


Damar terkekeh akan sikap istrinya itu.

__ADS_1


dan tentu saja tawa Damar membuat Dina semakin cemberut dan kesal.


aduuhh aku kenapa bisa lupa sih kalau aku sudah menikah.


__ADS_2