
Jangan bilang,, Mas lupa, kalau besok hari wisuda aku.
Desis Dina dalam sambungan telepon.
"Bukan lupa, akhir akhir ini di kantor banyak sekali masalah, sulit untuk aku meninggalkan pertemuan." Jelas Damar.
Ya sudah tidak apa apa, aku mengerti kesibukan anda, sulit memang membuat janji dengan orang penting seperti anda.
Dina menyindir.
"Jangan seperti itu, nanti sepulang acara, kita makan malam, ajak ibu sama dinda, nanti aku ajak mama, karena mama ada di sini, sekalian silaturahmi, mama katanya pengen ketemu kamu sama ibu." Bujuk Damar.
Tidak usah memaksakan bapak,,, saya mengerti anda sibuk.
Dari nada bicaranya sudah di pastikan Dia kecewa.
"Din,,, bukan begitu, bicara yang benar,,, selesai acara nanti kita kan ketemu, mengertilah. Aku benar benar gak bisa." Ucap Damar dengan lembut.
Mas, aku juga gak maksa kok, mau dateng atau enggak, itu kan urusan kamu.
"Lantas kenapa kamu marah, jangan sampai nanti kita bertemu hanya untuk bertengkar, sudah seminggu ini kamu banyak mengeluh, ada apa.?"
Tanya Damar dengan sangat lembut.
Dina hanya Diam.
"Din..." panggil Damar.
Gak apa apa, terserah, aku gak akan minta mas buat datang ke acara wisuda aku, memang apa pentingnya acara itu untuk mas Damar.
Dina masih merajuk.
Damar menghela nafas.
"Iyaa,, nanti di usahain, tapi musti tanya Rommy dulu." Jelas Damar.
Gak usah mas, apa apa Rommy, apa apa Rommy.. udah ah aku tutup dulu.
Tut.. tut.. sambungan telepon terputus.
Tok.. tok.. tok..
"Mar, Siap.?"
Rommy masuk tanpa menunggu di persilahkan.
"Hhhmmm..." sahut Damar tanpa melihat Rommy, dan Menatap layar handphonenya dan mengetikan sesuatu.
"Mar, ada apa.?" Tanya Rommy yang melihat Damar seperti sedang cemas.
"Hhhmm.?" Sahut Damar lagi, masih tidak melihat Rommy.
"Mar, "
Damar mendongakan wajahnya.
"Oh,, ini Dina." Ucap Damar.
"Rom, besok schedule gue kosong gak.?" Lanjut nya.
"Penuh bro." Jawab Rommy.
"Di kosongkan bisa.??" Tanya Damar lagi.
"Oh.. no.. no.. dari pagi sampai malam ada Meeting, paling lusa baru bisa Free, kenapa memang.?" Jelas Rommy, melihat i pad nya.
"Dina besok wisuda, dia mau gue dateng." Ucap Damar.
"Ohh.. gak bisa,, besok penuh banget jadwal lu. Gue gak bakal bisa handle semua." Tukas Rommy mendekat pada Damar.
"Iya,, itu yang gue bilang ke dia. "
"Terus Dia, mengerti dong..?" Tanya Rommy penasaran.
"Enggak, dia marah." Ungkap Damar.
"Terus, lu mau pergi.?? Jangan dong... please,, gue gak mampu bos kalau lu pergi. Gue sama siapa dong.??" Tiba tiba Rommy merengek dan bergelayut di lengan Damar.
"Apaan si lu, sana,, jijik gue." Desis Damar menjauhkan kepala Rommy yang menempel di bahunya.
"Lihat aja besok." Lanjut Damar.
Rommy pun menepuk jidatnya.
Jika tentang Dina, Damar bisa melakukan apa saja.
Sementara itu, di dalam kamarnya Dina menatap cermin dengan kesal, menunjuk nujuk dirinya dan meracau sendiri.
"Apa kamu lihat lihat, merasa cantik kamu.?"
"Cantikan juga mbak super model itu, pantesan tunangan kamu betah di kantornya, tahu tidak karena apa.? Karena ada mantan nya."
Ting, pesan masuk.
Jangan marah, nanti malam aku kerumah kamu.
"Uuuhhh,,, apa maksudnya mengirim pesan, selama seminggu ini kemana aja pak, biasa nya sehari lima kali, ini sehari sekali aja enggak." Racau Dina memarahi handphonenya.
Sepertinya tidak ada niatan Dina untuk membalas pesan Damar, dan membiarkan begitu saja.
"Ibu,, nana pergi dulu ya.?" Pamit Dina memakai helmnya sambil teriak.
"Mau kemana kamu, ini sudah sore." Sahut ibu keluar dari kamarnya.
"Mau ke rumah Riska sebentar, ada perlu buat besok." Jelas Dina memgambil tas slempang nya di atas sofa.
"Perlu apa kamu, jangan lama lama, hari ini kan kakak pulang." Tegur ibu.
"Aaahhh beneran kakak jadi pulang bu,?" Sambut Dina. " katanya gak bisa." Lanjut nya.
" mau belajar memakai riasan untuk besok."
"Iyaa,, ibu lupa, kakak bilang jangan bilang kamu dulu, kakak bilang takut kamu mengamuk kalau dia gak pulang." Ungkap ibu.
"Iiihhh,, kakak so sweet,, gak kayak pak bos. Sok sibuk." Keluh Dina.
"Huss,, kamu ini ngomong nya kok gitu, dia itu tunangan kamu, pak bos,, pak bos,, " tegur ibu lagi.
"Iyaa,, maaf" Dina melengos.
Berlalu pergi ke rumah Riska.
Matahari mulai turun, langit mulai gelap, belum ada tanda Dina menampakan diri di rumahnya,
Damar telah menunggu hampir satu jam. Ternyata Dina belum kembali dari rumah temanya.
"Nak Damar, coba di telepon Nana nya." Usul ibu karena Damar menunggu di teras, seperti tidak sabar akan kehadiran Dina.
"Gak usah bu,, terima kasih, saya tunggu saja. Dina sudah tau kok saya akan Datang." Jelas Damar sopan.
Sebenarnya Damar enggan menelepon karena dia ingin tahu, jam berapa Dina akan pulang dengan kesadaranya sendiri.
Jarum jam terus berputar, langit semakin gelap, namun Dina benar benar belum datang, supaya tidak membuang waktu dengan percuma, Damar membuka laptopnya di kursi teras depan.
Kemana anak itu, ini sudah jam delapan tiga puluh, tapi dia belum pulang.
Batin Damar melihat arloji di tangan nya.
__ADS_1
Terdengar pintu gerbang rumah di buka, menandakan bahwa yang di tunggu akhirnya pulang juga.
"Mas,, " gumam Dina dari dalam helm yang tertutup kacanya.
Damar diam menatap Dina yang tidak membuka helm nya.
"Mas, sudah lama.? Maaf ya aku dari rumah Riska," terdengar sayup dari dalam helm.
"Kenapa malam sekali pulang nya." Decak Damar hendak membuka helm.
"Eeeehh,, aku ganti baju dulu ya.?" Ijin Dina menahan helm nya agar tetap di kepalanya.
Namun Damar tetap saja berusaha membuka helm yang di pakai Dina, setelah terbuka, Damar menatap tajam wajah Dina, Dina pun menunduk malu, Damar memegang dagu Dina mengarahkan wajah Dina ke arah wajahnya.
"Apa apaan ini.?" Decak Damar.
"Iihh,, apaan sih mas," Dina menangkis tangan Damar.
"Kamu keluar malam malam memakai riasan.?" Damar menaikan nada suaranya. "Itu bahaya Dina, kamu bisa di anggap wanita nakal."
"Enggak, tadi aku belajar make up di rumah Riska. Karena buru buru jadi gak sempet buat di hapus lagi." Jelas Dina cemberut.
"Make up,,, buat apa.?" Tanya Damar.
"Buat acara besok." Jawab Dina.
"Tidak usah memakai riasan, seperti biasa saja." Printah Damar.
"Kenapa,,, itu kan hari perayaan, semua orang juga ber make up. Kenapa aku gak boleh, waktu kita tunangan juga aku pakai make up." Keluh Dina.
"Aku tidak suka." Jelas Damar.
"Hanya itu.??" Tanya Dina sinis.
"Apa maksudnya hanya itu," Damar tak kalah sinis.
"Aahh,, ya sudah, mas tunggu di dalam ya, aku mau ganti baju dulu." Pamit Dina masuk ke dalam Rumah.
Hhhmmm,, Damar mengangguk.
Tidak sampai setengah jam Dina keluar dari kamarnya.
Damar sudah berpindah posisi, membawa laptopnya ke ruang tamu.
"Masih kerja pak, jam kantor nya kok tidak menentu ya, bos nya pasti galak.." Sindir Dina datang dari dalam membawa teh panas dan sponge cake untuk Damar.
Damar melirik Dina dan menghentikan aktivitasnya, mengambil teh panas yang di bawa Dina dan meminumnya sedikit demi sedikit.
"Bos nya tampan, dan sangat berwibawa," ucap Damar menyimpan cangkir teh.
Dina mencebikan bibir nya.
"Besok acaranya jam berapa.?" Tanya Damar setelah memyimpan cangkir teh.
Dina menjawab dengan malas, menjelaskan acara apa saja untuk esok hari, ada rasa kecewa karena Damar sudah menyatakan bahwa besok dia benar benar gak bisa hadir. Sebenarnya Dina ingin memaksa, namun apa daya, kalau Damar sudah memutuskan sulit untuk merubahnya.
"Tadi ke rumah teman kamu cuma mau belajar make up saja.?"Tanya Damar.
"Iya," Dina mengangguk.
"Kenapa sampai selarut ini,, Aku kan tadi bilang mau ke sini, kenapa kamu keluar, kamu sengaja buat aku menunggu.?" Delik Damar.
"Jangan su'Udzon, tadi emang niat nya mau sebentar, tapi Fira, sama Eva malah menyusul, ya kita keasyikan ngobrol,, lagian, kenapa tidak menelepon. Masih ada kan nomor aku di hape nya mas.?" Balas Dina.
"Kenapa sekarang kamu pintar sekali menyindir ya,, jadi gemas" Damar hendak mencubit pipi Dina, namun Dina lebih cepat untuk menghindar.
"Kebiasaan deh." Desis Dina.
Dan Damar pun tersenyum melihat Dina kesal.
Sebelum pulang Damar mewanti wanti Dina untuk tidak memakai riasan yang berlebihan, biasa saja, dan pakaian tradisional yang tertutup, dengan lengan panjang dan rok yang menutup seluruh kaki nya.
Hari kelulusan telah tiba.
Pagi pagi sekali Dina sudah bersiap untuk pergi ke acara kelulusan nya. Mulai dari pakaian dan make up, selepas menyiapakan sarapan untuk ibu dan kedua saudaranya, Dina pergi mandi untuk bersiap siap.
Dina memakai kebaya berwarna hijau kesukaanya, yang berlengan tiga perempat dengan bawahan rok lilit batik dengan warna senada yang panjangnya di atas mata kaki. Di padu dengan make up yang Flawles dan rambut yang hanya di gulung rapi ke belakang dengan memakai hiasan yang sederhana.
Dina m sangat menawan dan cantik, terlihat lebih tinggi dari biasanya karena Dina memakai high heels yang tinggi nya 15 sentimeter, setelah siap Dina keluar untuk bersiap pergi.
"Wooww,, teteh mau kemana.?? Menor bener, pake heels lagi.." ledek Dinda pada kakaknya.
"Adek,,," tukas ibu, mengipaskan tangan.
"Biarin aja bu, dia mah sirik, gak rela kalau tetehnya lebih cantik. Weee.." ucap Dina. Duduk di kursi meja makan.
"Cantik dari mana nya.?? Heboh banget." Ledek Dinda lagi.
"Sirik aja,, " tetap Dina gak peduli,
"Abang bisa hadir na.?" Tanya jaka keluar dari kamar nya.
Dina menggeleng sedih.
"Pantes teteh dandanya menor, abang gak ada toh." Dinda cekikikan,
ternyata Dinda memperhatikan aturan macam apa yang di tetapkan untuk kakaknya.
"Tapi sayang udah dandan pol, gak di lihat sama tunangan nya. Sia sia dong,, apalagi......." ocehan Dinda terhenti saat ibu menyikut anak bungsu nya, dan jaka memelototinya.
Karena Dinda terus mengoceh tanpa melihat raut sedih dari wajah kakak perempuannya.
"Ehh, maaf." Lirih Dinda pelan, tersadar akan ocehan nya.
Dina pergi ke kamarnya karena mendengar suara dering handphonenya.
"Mas Damar," gumam Dina. Ada sebesit harapan kalau Damar bisa hadir dalam acara kelulusannya.
Namun ternyata tidak, Damar menelepon hanya untuk menyampaikan selamat dan menyampaikan akan mengatur makan malam untuk nya, dan tidak lupa Damar juga menanyakan hadiah apa yang Dina inginkan untuk kelulusanya.
"Na,, sudah siap." Terdengar suara jaka dari ruang tamu.
"Iya, kak..." sahut Dina.
Karena Dinda harus sekolah, jadi yang pergi menemani Dina ke acara ke lulusan itu hanya ibu dan jaka, mereka bertiga pergi dengan suka cita, meski Dina menyembunyikan rasa kecewa nya karena Damar tidak bisa hadir, tetap saja raut sedih terlihat dari balik senyum Dina.
Setelah sampai di lokasi, ibu pergi k toilet di temani eva, karena mungkin jaka ingin berbicara dengan adiknya berdua.
"Kenapa na.?" Tanya jaka setelah ibu pergi.
"Kenapa apanya kak.?" Dina balik bertanya.
"Kamu marah karena abang tidak bisa hadir. Iya.? Atau ada hal lain yang mengganjal.? " Selidik jaka, karena dari kemarin melihat Dina yang uring uringan.
Iiiissshhh,, kenapa kakak peka sekali sih, mas Damar aja gak speka kakak,, kalau begini aku kan jadi bingung mau ngomong apa. Masa aku bilang sama kakak kalau aku gak suka mas Damar kerja sama mantanya.
Ketemu terus di kantornya, dan lagi, foto itu sangat mengganggu ku, sebenarnya apa yang terjadi antara mas Damar dan Sam dalam foto itu. Semakin aku memikirkanya semakin aku kesal, aku belum sempat menanyai mas Damar tentang foto itu.
Sekarang sangat sulit untuk menghubungi mas Damar, sekarang mas Damar jarang sekali menelepon, mengirim pesan pun bisa di hitung, tidak seperti biasanya yang selalu mengingatkan.
Dina tenggelam dalam fikiranya.
"Heehh,, nana, kenapa.?" Ucap jaka, menghentikan lamunan nya.
"Eh,, apa.?" Sahut Dina. " enggak apa apa kak,, nana hanya sedih aja mas Damar gak bisa hadir, padahal sekarang kita jarang bertemu karena kesibukan mas Damar, tadinya nana berharap di hari ini mas Damar bisa menemani nana, tapi tenyata tetap gak bisa." Keluh Dina.
"Tapi gak apapa, karena sekarang ada kakak,, kakak yang terbaik, dan selamanya yang terbaik." Lanjut nya, memeluk lengan sang kakak.
__ADS_1
Biasanya jaka selalu mengomel kalau adiknya selalu memeluk dan berlaku manja di depan umum, namun tidak hari ini, jaka membiarkan adiknya memeluk lengan nya dan membalasnya dengan menepuk nepuk kepalanya pelan.
"Ehheem,, permisi saya ganggu."
"Mas Damar..." teriak Dina melepas pelukan lengan dari kakaknya. Saat tahu siapa yang Datang.dan menghampiri Damar dengan suka cita.
Damar tersenyum, melihat Dina bahagia karena kedatangannya, tidak seperti sebelumnya yang terlihat kesal karena Dia tiba tiba datang.
Damar membawa buket bunga yang sangat indah.
"Mas, kamu datang.??" Sapa Dina dengan senyum bahagia. Menerima buket bunga yang di bawa Damar.
Setelah bersalaman dan saling menyapa Jaka meninggalkan sang adik bersama tunangannya, pergi ke gedung di mana acara akan di mulai.
"Aku hanya sebentar, aku ada meeting, kebetulan lewat sini, jadi aku mampir." Jelas Damar. Mengusap kepala Dina.
Dan Dina langsung cemberut.
"Kita sudah bicarakan sebelumnya ya,? Ucap Damar berpindah mengusap pipi.
"Ngapain ke sini sih kalau cuma buat aku lebih kecewa, mending gak usah ke sini sekalian, lewat doang percuma.." ucap Dina kesal, menangkis tangan Damar dan hendak pergi.
"Din,,, jangan seperti ini." Tukas Damar menarik tangan Dina.
Dina hanya diam cemberut.
"Ini hari istimewa kamu, kamu harus bahagia, kamu lalui dengan suka cita ya.??" Bujuk Damar.
"Mas,,, kamu itu,,,," ucapan Dina tehenti karena Eva datang untuk memberitahunya, acara akan segera dimulai.
"Ya sudah, kamu masuk ya, selamat atas kelulusannya, nanti kamu kasih tahu aku, kamu mau hadiah apa untuk kelulusan kamu, dan satu lagi,," ucap Damar memegang bahu Dina. dan Damar memajukan wajah nya ke arah telinga Dina.
"Hari ini kamu sangat cantik... namun, cukup untuk hari ini ya kamu merias wajahnya seperti itu, dan pakaianya bagus, lebih bagus lagi kalau kamu memakai lengan panjang." Bisik Damar.
Wajah Dina merona.
Damar tersenyum dan meninggalkan Dina yang cemberut, melambaikan tangan dan pergi menuju mobilnya, melajukan mobilnya dan pergi ke tujuan awal.
Meski awal nya kesal dan terus cemberut, tapi pada akhirnya Dina bersuka cita, bercengkrama dengan teman teman nya, rasa kesal itu masih ada, namun karena pengertian dari sang kakak jaka, Dina mencoba mengesampingkan ego nya seperti biasa.
Benar seperti apa yang jaka ucapkan, "dalam kesibukannya Abang masih menyempatkan untuk menemui kamu, walaupun hanya sebentar,, harusnya kamu berfikir seperti itu, bukan kebalikannya."
Kalimat sang kakak membuat Dina berusaha memahami jalan fikirnya, memang aneh, selama enam bulan mereka bertunangan, tidak pernah sekalipun terucap kata cinta atau sayang, baik dari Dina maupun Damar.
Meski begitu, baik Dina atau Damar merasakan bahwa keduanya saling menyayangi, bukan hanya sekedar bertanggung jawab atau menjalani keseriusan dalam suatu hubungan, walau kata cinta itu tidak terucap, tidak pernah menjadi masalah bagi kedua nya.
Namun berbeda dengan sekarang, Dina merasakan kesal jika Damar terlalu mengabaikanya, Dina merasa sedih saat Damar ingkar akan janjinya, dan Dina ingin marah jikalau Damar terlalu sering berinteraksi dengan wanita lain, terlebih Sam, sang masa lalu.
Acara kelulusan telah selesai, masing masing pergi bersama keluarga nya, ada yang makan bersama untuk merayakan kelulusannya, ada yang pergi untuk membeli hadiah, dan tidak sedikit yang langsung pulang kerumah. Seperti yang Dina dan keluaganya lankukan.
Dina langsung ambruk dalam kasurnya, tanpa berganti pakaian ataupun menghapus riasan, memejamkan mata walau tak berniat untuk tidur,
Memikirkan tentang semua persaanya, memikirkan tentang hubungan pertunangannya.
Dina pernah berjanji akan menikah dengan Damar setelah lulus kuliah, namun akhir akhir ini karena jarang bertemu, Damar tidak lagi menyinggung soal pernikahan, dan kelulusan ini kenapa menjadi tidak semenyenangkan yang di perkirakannya.
Entah apa yang Dina inginkan sebenarnya, jika Damar terlalu memperhatikannya Dia merasa sulit berbafas, tercekik akan semua aturan yang Damar tetapkan untuknya, namun, ketika Damar sibuk akan urusannya dan sedikit mengabaikan Dina, Dia merasa Damar jauh, bahkan Dia merasa bahwa Damar bukanlan tunangan yang sebelumnya.
Derrrttt.... Deerrrtt....
Gatar handphone Dina dalam tas kecil miliknya, membuat Dina terbangun dalam tidurnya, tanpa sadar Dina terlelap bersama fikiranya, dan terbangun karena seseorang memanggil dengan saluran ponselnya.
"Mas Damar,," gumam Dina dengan mata setengah terbuka.
Namun Dina belum menjawabnya, malah pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan kembali wajahnya. Tak terasa waktu menunjukan pukul lima sore.
Di tempat lain, Damar mencoba menghubungi terus.
"Kemana anak itu, apa Dia pergi sama teman temannya.?" Gumam Damar terus menghubungi.
Halo,, assalamualaikum,,mass.
Akhirnya Dina menjawab.
"Wa alaikumsalam, kamu lagi di mana.?" . Langsung saja dengan pertanyaan.
Di rumah, tadi ketiduran, barusan ke kamar mandi dulu, cuci muka biar segar.
Jelas Dina.
"Iya,, nanti malam aku harus ke luar kota, untuk acara makan malam besok aku siapakan." Kembali Damar berjanji.
Tidak usah berjanji kalau mas gak yakin bisa nepatin.
Tukas Dina.
"Apa maksud kamu.?" . Damar Heran.
Iya,, mas pergi nanti malam, aku yakin siangnya masih di sana, dan belum tentu malamnya sudah sampai sini. Iya kan.?
Kembali Dina menjelaskan.
"Tapi aku akan usahain,"
Gak perlu, tidak usah memaksakan, kita jadwalkan setelah mas selesai dengan semua urusan mas, agar tidak mengganggu pada yang lain.
Tutur Dina, agar Damar tidak mengubah jadwalnya.
"Kamu kecewa.?" .tanya Damar.
Hhhmmm.. bohong banget jika aku tidak kecewa, aku ingin sekali marah, namun kemarahanku tidak ada gunanya kan,? Jadi buat apa, buang buang energi saja.
Lirih Dina.
"Din, aku minta maaf ya."
Kenapa.? Aku gak apa apa, kalau mau pergi pergi aja.
Sahut Dina.
"Ya sudah, sampai ketemu, setelah sampai di sana aku kasih kabar ya." Ucap Damar di akhir percakapan.
Setelah menutup percakapanya Damar hanyut dalam fikirannya.
Ternyata mengambil untuk melalukan satu pekerjaan dengan yang berhubungan dengan masa lalu itu tidak semudah yang di bayangkan, lebih rumit lagi, Sam selalu membuat ulah, kalau bukan karena ancaman dari Rommy, mungkin dia akan membocorkan pada publik kalau dulu kita pernah menjalin kasih.
Entah apa yang di lakukan Rommy untuk membuatnya tetap bungkam, apa semenakutkan itu yang di tampakan Rommy padanya, sekilas Rommy memang seperti pria jenaka yang Ramah, namun jika dia sudah bertindak, dia bisa saja berbahaya.
Rom,, Rom,, se setia itu kamu pada ku, kalau saja aku punya adik perempuan lain, mungkin akan kunikahkan kamu dengan nya..
Ting,, suara pesan masuk.
Dina,, gumam Damar.
Mas,, hati hati ya jaga kesehatan, jangan terlalu capek dan banyak fikiran, kembali seperti sedia kala, aku menunggu.
Damar tersenyum membaca pesan dari Dina, meskipun kecewa dan marah, dia tetap saja mengkhawatirkan tunangan nya.
"Gadis yang manis,, menggemaskan" gumam Damar tersenyum membaca pesan dari Dina.
Sementara itu, Dina memandangi foto pertunagan nya dalam handphonenya, menatap nya dengan seksama.
(Mas,, mungkinkah aku terlalu memaksa mu sebagai tunanganku, apa aku egois karena merasa di abaikan. Kamu membuatku terbiasa dengan aturan mu, salah kah aku, jika aku meminta untuk kamu tidak berhenti. Salahkah aku, jika sekarang aku yang menginginkan kamu.)
(Din,, maafkan aku akhir akhir ini aku mengabaikan mu, maaf ,aku selalu buat kamu kecewa, namun aku tidak akan pernah melepaskan kamu, selain karena aku sangat menyukaimu, atau mungkin karena aku sudah sangat mencintai mu.)
Mereka berdua hanyut dalam fikiranya masing masing.
__ADS_1
mungkin mereka akan saling memahami persaan masing masing kalau saling merindukan. menjalani hari tanpa satu sama lain.