
Dina PoV.
"Makanya kalo mau tidur cuci muka dulu, biar gak bengkak kayak gini," omel ibu, mengompres bengkak mata ku.
Sudah enam bulan aku bertunangan dengan mas Damar, baru kali ini kami benar benar bertengkar, dan aku juga baru tahu ternyata sikap mas Damar seperti itu kalau lagi marah.
Dia hanya diam dan mau menang sendiri, tidak memberikan kesempatan untuk aku menjelaskan, meski begitu, tetap saja aku memikirkannya.
"Kamu kenapa nangis sampe kaya gini sih.?"
Ibu masih lanjut mengomel.
"Kamu ada masalah sama nak Damar.?" Ibu terus bertanya.
"Atau kamu nya nakal, jadi nak Damar nya marah sama kamu.?"
Nah, sekarang malah aku yang di salahin.
Aku ceritakan saja semuanya sama ibu, biar ibu gak nyalahin aku terus.
Mana tadi berantem nya di rumah mas Damar lagi, aaduuhhh,, ke denger sama mama ratna gak yah.
"Yaaa pantes marah lah nana,,, harusnya pas sampe emmol kamu ngasih kabar sama nak Damar, kalo kamu gak jadi ke kampus, sekarang sudah salah paham kayak gini, kamu mau gimana.?"
Tetep kan aku yang salah di mata ibu,
"Ibu,, di sini tuh nana yang anak ibu, bukan Mas Damar, harusnya ibu belain nana, bukan Dia."
"Dan lagi, ini tuh bukan salah paham, Dia nya yang gak mau denger penjelasan nana, malah emosi aja di duluin, pak bos yang egois dasar, pengen menang sendiri. Heran deh, nana yang PMS Dia yang emosian."
"Eh eh ehhh,, kamu ini Na, Dia itu tunangan kamu, gak baik ah bilang begitu." Lagi dan lagi ibu membela calon menantu nya.
"Udah ah bu,, nana lagi males ngomongin Dia, Nana mau telepon kakak dulu, minggu ini pulang apa enggak."
Tiba tiba saja aku ingat sama kakak, biasanya kakak juga emosian tapi dia selalu mau denger kalo aku jelasin duduk perkaranya, gak kayak pak bos, menyimpulkan se enaknya saja.
Ehhh,, hape aku dimana ya.?
Aku cari di tas gak ada, di mobil juga gak ada, aaahh apa mungkin jatuh pas di mal tadi,
Eehh gak mungkin deh, tadi pas di rumah mas Damar Raka kan menelepon.
Astaga... ini pasti jatuh di rumah mas damar,
Kalau benar jatuh di rumah mas Damar, nanti juga bakal di anter ke sini.
Damar PoV.
Hari ini,emosi ku benar benar tak bisa ku tahan, melihat Dina bersama orang lain membuat ku sangat marah, apalagi pria itu berani menyentuhnya, itu awal puncak rasa marah ku.
Dia benar, aku memang egois, aku gak mau mendengar penjelasan Dia, padahal saat Dia menangis tadi aku sangat ingin memeluk nya dan mengusap air matanya. Entah kenapa hari ini aku begini.
Namun kemarahanku susah ku redam saat laki laki bernama Raka itu menelepon, dengan Dia bertanya siapa aku, sudah jelas Dina tidak menyebutkan kalau aku adalah tunanganya.
Maka dari itu, pantas jika Laki laki itu berfikir bahwa Dina tidak memiliki kekasih. Apa benar yang dikatakannya, bahwa aku sedang cemburu.
"Abang,,,,"
Ada apa mama memanggil.
"Mama gak tau loh kalau Dina sudah pulang, padahal mama mau ajak Dia masak disini, mama mau belajar sama Dia, kata Fey Dina jago masak."
"Kamu sih, ajak Dia pulang gak bilang bilang, mama kan jadi kecewa, padahalkan mama cuma tinggal sebentar."
"Besok abang ajak Dina kesini lagi ya, mama masih pengen ketemu sama Dia, mama pengen ngobrol sama calon menantu mama."
Mama terus saja mengoceh panjang lebar tanpa tahu kalau Dina pulang dalam keadaan menangis.
"Abang..."
Mama menepuk lengan ku.
"Kok melamun sih."
Aku tersenyum sambil menggeleng saja, bingung juga mau jawab apa.
"Mar,, nih hape si Dina, kayak nya jatuh pas tadi pulang karena buru buru,"
Si Rommy muncul dari mana, aku kira dia sudah pulang.
"Loh, kamu nemu dimana Rom.?" Tanya mama.
"Di sana tan, di tempat parkir, padahal pas aku naik mobil Dina tadi, aku gak lihat hape jatuh, sambil nangis sih, jadi gak fokus kan."
Si alan, si Rommy mulutnya gak bisa di filter, pake bilang Dina nangis segala lagi.
"Nangis.???" Mama mengerutkan dahinya.
Tuh kan, mama malah lihat ke aku, mama terus saja menatap muka ku dengan lekat, ya,, ku palingkan saja muka ku.
"ABAAAANG,,, KAMU APAIN ANAK ORANG.?"
Langsung saja mama teriak dan memukul lengan ku.
"Gak di apa apain mah, Dianya aja cengeng," kilah ku.
"Kamu berantem sama Dina.? Pantes tadi mama denger kamu teriak teriak.. pasti kamu marahin Dina kan.??" Mama malah menyimpulkan seenaknya.
Dan setiap mengeluarkan kata kata, pasti mama memukul lengan ku. Pelan sih, tapi kalau lama kelamaan terasa juga.
"Enggak mah.."
"BOHONG,,, kamu apain Dia."
"Damar cemburu tante."
Breng sekh, Si Rommy nyela seenaknya,
Tapi eh, mama mulai tenang.
__ADS_1
"Kamu itu kayak papa aja, kalau lagi cemburu uring uringan gak jelas."
Cemburu cemburu, sok tau lu Rom.
Setelah memperkeruh suasana lu malah pamit pulang, dasar si alan lu.
"Pokoknya mamah gak mau tahu, kamu harus berbaikan sama Dina, besok ajak Dia ke sini. Bagaimana caranya mama gak mau tau."
"Mah, gak bisa lah, aku sama Dia lagi gak ngomong, terus hape nya Dia juga di sini, gimana aku mau berbaikan sama Dia." Ucap ku beralasan.
Terlalu memalukan, baru saja aku memarahinya, terus besok datang menjemputnya.
Setidaknya, biarkan Dia tenang dulu.
"Pokoknya mama gak mau tahu, kamu ini gimana sih, kamu itu susah dapat pasangan, sekalinya ada yang mau malah di bikin nangis, nanti muka mama mau di taruh di mana abang,,, kalau mama ketemu sama ibu Dewi."
Sekarang mama malah menyalahkan aku.
Ini kan cuma salah faham, kenapa jadi melebar seperti ini.
"Inikan cuma salah faham mah, gak usah di besar besarkan." Aku membela diri ku.
"Iya, pasti ini kamu gara garanya." Sekali lagi mama memukul lengan ku.
"Mah,, aku ini anak mama, jangan nyalahin terus lah." Keluhku.
"Abang denger ya, sebelum kamu bawa Dina ke sini, mama gak mau ngomong sama kamu."
Sekarang mama malah mengancam.
"Mama jangan berlebihan deh, aku yang anak mama di sini.. mustinya mama percaya sama aku"
Eehh mama malah maen pergi aja, mengabaikan ucapanku.
Sekarang dua perempuan memusuhiku, masalah akan semakin melebar kalau Fey juga ikut memusuhi ku, karena sudah di pastikan dia akan lebih memihak Dina dari pada aku.
Karena sekarang, Dina lebih penting dari pada aku.
Deerrrtt.... deerrrttt.... deeerrrttt..
Hape Dina bergetar, ada panggilan masuk rupanya.
"Cih,, Raka."
Laki laki itu memang tidak tau malu ternyata.
"Halo,," aku jawab saja.
Maaf ini nomornya Dina kan.?
"Hhhmm.." malas sekali aku menjawabnya.
Dina nya ada pak.?
Kurang ajar, dia panggil aku bapak, dia pikir aku mau sama ibunya. Seenaknya saja.
"Dina nya gak ada."
Tut... tut... tut...
Berisik, aku tutup aja telepon nya.
Aku penasaran, Dina menamai kontak ku apa.
Ku coba panggil saja.
(RIRIWA)
apa ini, artinya apa. Aneh aneh saja dia.
Tapi aku penasaran, ku coba cari saja di google apa arti dari ririwa.
(RIRIWA \= Arwah gentanyangan)
Astaga,, Dina, maksudnya apa.? Kamu samain aku sama hantu. Awas kamu.
Ada baiknya kamu meninggalkan hape kamu di sini. Dan lagi hape kamu tidak terkunci. Jackpot.
***
Damar mengetikan sesuatu di handphone Dina, sambil tersenyum licik, terlihat dia merasa puas.
"Kamu mau handphone kamu, ambil sendiri kesini, kita lihat berapa lama kamu bisa jauh dari handphone kamu." Gumam Damar berjalan menuju kamarnya.
Matahari mulai tenggelam, langitpun sudah gelap gulita, tidak ada rembulan malam ini, hanya bintang yang berkelip yang menghiasi gelapnya lanhit di malam hari.
Damar masih memandangi layar handphone Dina, hari ini dia sama sekali tidak ada keinginan untuk menyelesaikan pekerjaanya.
Hingga matanya benar benar berat dan mengantuk.
Dan tanpa sadar Damar pun terlelap dalam nyamannya balutan selimut yang halus, yang menutup sebagian tubuhnya, tempat tidur yang empuk dan hangat membuat tidurnya semakin terlelap.
Semakin dalam Damar terlelap, semakin tak terasa bahwa hari mulai pagi, ada hembusan angin subuh yang lumayan menyejukan, gema adzan yang berdengung di telinganya.
Membuat Damar membuka matanya perlahan,
Di lihatnya layar handphone, ternyata waktu menunjukan pukul empat tiga puluh pagi.
Bangunnya Damar untuk menjalankan kewajibannya sebagai hamba tuhan yang beriman.
Sementara itu, Dina aryanti masih terlelap dalam balutan selimutnya. Meski ayam berkokok dan gema adzan berkumandang, Dia hanya beberapa kali meggeliat tanpa membuka matanya.
Embun pagi mulai menguap, panasnya matahari siang telah naik ke atas, dua insan yang sedang tak saling bicara itu satu sama lain melanjutkan aktifitasnya masing masing.
...
Selang beberapa hari.
mereka masih tak saling bicara.
__ADS_1
Romm, hari ini gue gak ngantor dulu. Kepala gue pusing, lu urus semua kerjaan.
Pesan Damar pada Rommy selama tiga hari ini.
"Ah kacau lu mar, masa gue terus yang handel, lu berdua yang berantem kenapa gue yang dapet imbasnya." Gerutu Rommy saat membaca pesan dari Damar.
Di tempat lain.
"Teteh,,, ini kakak nelepon, cepetan adek mau berangkat sekolah." Teriak Dinda di dalam kamarnya.
"Iyaaa,,," sahut Dina berlari menghampiri.
Di ambilnya handphone milik adiknya.
"Haloo kakak.." sapa Dina. Antusias
Hape kamu masih di rumah bang Damar.? .
Tanya jaka, yang tempo hari mengetahui bahwa habdphone adiknya ketinggalan di rumah tunangannya.
"Iyaaa."
Kenapa,, kamu masih belum berbaikan.? .
"Eh, apa.? " . Sontak Dina kaget, kenapa kakak nya bisa mengetahuinya padahal Dina tidak berniat membicarakan nya.
Kenapa kaget.? Kamu fikir kakak gak tau kenakalan apa saja yang kamu lakukan selama kakak gak ada.
"Enak aja, siapa yang nakal coba."
Pasti ini mah ibu yang laporin, siapa lagi kalau bukan ibu. Batin dina.
"Kak, minggu ini pulang yaa.. nana kangen sama kakak." Dina berusaha mencari topik lain.
Iyaa insyaAllah, kakak usahakan. Baik baik kamu di sana, jaga ibu sama adik kamu, selesaikan masalah kamu sama bang Damar, jangan terlalu berlarut, kakak percaya sama kamu, kalau kamu gak akan pernah ngecewain kakak. Hiks.
Terdengar suara jaka bergetar seperti menahan tangis.
"Kakak ada apa.?"
Tidak na,
"Kaka,, ada apa.??" Desak Dina.
kakak hanya kangen sama kalian.
Jawab Jaka terlihat sekali menutupi.
"Kakak, kenapa.?? Nana punya salah ya, maafin nana ya." Lirih Dina.
Tidak,, kamu adik baik na, kakak sangat menyangi kamu. Naa maafin kakak ya.
"Kakak.... whaaa.. kenapa.?? Nana gak mau kakak sedih." Tiba tiba Dina menangis.
Lah, kenapa kamu nangis na. Sudah Diam.
"Kakak kenapa... " hanya itu yang Dina tanyakan.
Naa....
jaka menghela nafas.
Nana... kamu bahagia gak sama pertunangan kamu.?
Dina berhenti menangis.
"Eehh, kenapa tiba tiba kakak bertanya seperti itu.?"
Kakak takut kamu tidak bahagia na sama pilhan kakak, kakak takut, jika nanti kamu menikah kamu tidak akan di perlakukan dengan baik sama suami kamu, sama keluarga suami kamu, itu semua bergelut dalam fikiran kakak.
"Kakak,, nana bahgia kok, mas Damar juga baik sama nana, dan lagi mas Damar juga kan pilihan nana, sejauh ini semuanya baik, masalah kemarin bukan masalah besar, semuanya bisa di bicarakan baik baik. Kakak percaya yah sama nana, nana bahagia, dan kakak juga harus bahagia." Ucap Dina berurai air mata.
Iyaa,, maafin kakak ya na, atas segala kekurangan kakak.
"Kakak, jangan bicara kayak gitu, kakak itu kakak terbaik di dunia ini. Gak akan ada yang bisa nandingin."
Lebay kamu, ya sudah, kakak mau istirahat dulu.
Percakapan kakak beradik yang terpisah oleh jaraak pun telah terhenti.
"Nih,, hape kamu." Sodor Dina pada adik nya.
"Kenapa, hape teteh masih di rumah bang damar.? Kenapa gak di anterin ke sini sih, udah tiga gari tau, masa mau pake hape aku terus." Dengus Dinda, karena dari kemarin Dina selalu meminjam handphone nya.
"Aalllaahhh,, pelit amat, baru di pinjem gitu doang. Itu juga bukanya hape dari bang Damar, ya gak apa juga kali kalo teteh sering pinjem, kan teteh tunangan nya, haha." Goda Dina.
"Yeee, orang udah di kasihin juga."ucap Dinda cemberut.
"Hahha,, iya , iya,, teteh juga mau ah beli yang kayak gitu, biar up to date.."
"Ah kayak yang punya duit aja,." Ledek Dinda.
"Ehhh sembarangan, ada dong... kan ada duit punya nya pak bos... hahaha..." sebegitu senangnya Dia menggoda adiknya.
"Udah cepetan, jadi gak teteh anter ke sekolahnya,, naik motor aja ya, biar cepet." Lanjut Dina.
"Yyee,, situ yang lama, aku yang di suruh cepat." Dengus Dinda.
Selama tiga hari ini Dina dan Damar benar benar tak saling menghubungi.
Berdeda dengan Damar yang selalu di desak untuk meminta maaf dan menjemput tunangan nya ke rumah oleh sang mama, ibu Dewi malah lebih santai menyikapinya, ibu dewi percaya, mungkin kesalah fahaman ini bisa menjadikan hubungan pertunangan anak nya semakin erat, dan menjadikan keduanya semakin saling memahami.
Selama tiga hari ini, setiap pagi Damar hanya melihat layar handphonenya Dina. Selain nama kontak Dirinya yang di ubah, foto wallpaper nya pun di ganti menjadi foto dirinya, foto selfi yang sengaja di ambil untuk menjadikannya wallpaper.
Damar belum berani melewati batasnya, Damar masih menghargai privacy Dina, Dia tidak mengecek aktifitas handphone milik Dina, Dia berusaha menahanya, walaupun keinginanya besar.
Damar membiarkan dan tidak membuka setiap pesan masuk, meski handphone Dina tidak di kunci. itu adalah salah satu privacy yang harus Damar hargai.
"Beberapa hari ini benar benar tenang, tidak ada keluh dan omelan dari mas Damar, sungguh silence is golden.. tapi terkadang, aku malah merindukan omelanya.. haha,, aneh memang."
__ADS_1
"Pertengkaran kecil kemarin membuatku lebih sadar akan perasaanku,dan mengerti juga akan persaanya Dia, aku bukan mengacuhkan keluh nya, namun aku membiarkan Dia tenang dulu dengan tidak memberikan handphonenya. Sejujurnya aku ingin sekali menghampirinya, namun sebagai laki laki tentu saja aku terhalang oleh gengsi ku."