
Hari mulai gelap,
Perjalanan dari rumah Dina, menuju Rumah Damar lumayan agak jauh, sudah hampir satu jam Damar mengemudi, selain jarak, kemacetan adalah faktor utama nya.
Beberapa kali lampu merah menyala, menandakan harus berhenti nya kendaraan yang melaju, sesekali Damar melihat ke arah luar jendela kaca mobil nya.
Terlihat di sana anak kecil yang berlarian membawa kotak berisi barang untuk di jual, yang di kalungkan ke leher dan pundak mereka, dan yang lain membawa ukulele dan kemoceng,
Damar mebuka jendela kaca nya, terlihat beberapa anak menghampiri nya, ada yang menawari nya Rokok dan air mineral,
Ada yang menyanyi, bahkan seorang anak perempuan membersihkan kaca depan dengan kemoceng yang dia bawa.
Sungguh Damar merasa kasihan akan semua anak yang menghampiri nya, dia merasa tersentuh akan semangat semua anak anak itu. Meski dalam balutan debu dan asap kendaraan,
Mereka tetap tersenyum bahagia, tertawa bercanda dengan teman teman nya.
"Kamu gak sekolah jo,,?"
Tanya Damar pada anak yang menyodorkan air mineral,
Damar mengikuti memanggil " Jo " karena teman anak itu memanggil nya seperti itu.
Anak perempuan yang memegang kemoceng.
"Sekolah om,"
Jawab anak itu,
"Kamu.? Siapa nama nya,?"
Tanya Damar pada anak perempuan sebelah nya.
Anak perempuan itu tampak malu dan menyembunyikan wajah nya di punggung anak bernama Jo.
"Sekolah om, Dia adik saya om, nama nya lena om,"
Jawab lagi anak itu.
Sebelum lampu hijau menyala, Damar mengeluarkan uang dalam Dompet nya,
Damar tidak terlalu suka membawa uang cash yang banyak, terlalu merepotkan pikir Damar.
Damar memberikan uang pecahan seratus Ribu pada anak laki laki yang di ketahui bernama jo,
Ada lima anak yang menghampiri nya, maka Damar memberi nya masing masing satu lembar uang pecahan seratus ribu.
Terlihat sekali betapa bahagia nya anak anak itu, beberapa anak berlari kegirangan, dan yang lain nya tersenyum berterima kasih, terdengar anak yang bernama jo itu mendo'akan Damar.
"Semoga om bahagia dan sehat selalu, tuhan menjaga om kemana om pergi, dan om di cintai semua orang, berkat tuhan selalu menyertai om, terimakasih atas kasih nya om."
Anak ini tersenyum dan menunduk, lalu pergi.
Umat kristiani rupanya.
Batin Damar berlalu.
Damar jadi teringat,
dulu sebelum dia menyapa Dina, yang sekarang menjadi tunangan nya, dia sempat beberapa kali melihat gadis itu memberi uang pada anak anak jalanan seperti tadi, tidak hanya anak anak, Dia juga pernah melihat Dina memberi makan tunawisma.
Ternyata, berbagi memberikan efek rasa bahagia, bukan hanya bagi mereka yang menerima, tapi kita sebagai pemberi juga sama bahagia nya.
Melihat mereka yang begitu senang nya saat mendapat sesuatu dari kita. Padahal bagi kita itu bukan sesuatu yang besar, akan tetapi bagi mereka itu sangat lah berarti.
Mengingat Dina selalu menyempatkan untuk menolong dan memberi pada mereka, membuat perhatian Damar selalu mengingat diri nya, semakin lama semakin Damar merasakan betapa tulus nya Dina sebagai seorang perempuan, meski bawel dan sedikit suka membantah, tapi Dia adalah perempuan yang hangat.
Terlihat saat Damar dalam keadaan sangat tercekat karena kehadiran masa lalu nya, Dina menekan egonya dan melihat kondisi dan situasi, Dia tidak memikirkan diri nya sendiri. Dia lebih peka pada lingkungan sekitar nya.
Damar Pov
Lagi lagi kamu membuat aku merasa penasaran, tidak sedikit pun kamu menunjukan kesal dan marah pada ku, kamu menahan ego mu karena kamu melihat aku begitu menyedihkan, aku tidak
Menyangka perempuan yang suka bicara seperti kamu memperlakukan ku begitu hangat.
Saking peka nya kamu terhadap ku, kamu sama sekali tidak bertanya apa apa pada ku, kamu mengalah pada ego mu, kamu melihat sisi menyedihkan ku, tapi kamu tetap bersama ku.
Memang benar, mungkin jika kamu membiarkan aku pulang, aku akan terus larut dalam kesedihan ku, aku akan mengingat masa lalu ku dengan Sam yang sangat buruk, aku akan mengingat semua yang Sam lakukan pada ku dulu.
Aku akan mengingat masa masa aku di bully saat aku kuliah dulu,
Aaaahhhh,,, masa masa itu benar benar menyakitkan, aku jadi mengingat nya kembali.
Samantha,, untuk apa hadir di hadapan ku lagi, Cinta yang mana yang kau maksud kan,,
Ciiihhh,, Dia bilang mencari ku selama ini, apa sesulit itu untuk mencari ku,, sampai bertahun tahun dia tinggal di sini tapi tidak menemukan ku,
Bul **** kamu Sam.
Cinta seperti apa,, saat menjadi Model hampir setiap tahun kamu mengencani setiap produser kamu,
Hampir setiap malam kamu makan malam dengan pengusaha yang berbeda, kamu fikir aku tidak tau, saat kamu menekuni dunia modeling di sini, di negara kelahiran ku, aku menutup mata, aku pura pura tidak tahu siapa kamu,,
Namun tetap saja, Aku masih mengingat mu, aku mengingat betapa aku mencintai kamu dulu, aku mengingat, betapa aku sangat percaya kamu dulu, di saat orang lain menjauhi ku, kamu mendekati ku, kamu berusaha melindungi ku, namun pada akhir nya.
Ternyata kamu lah Dalang pembullyan ku, kamu menginginkan uang ku, kamu menginginkan kepopuleran ku di negara ku, ternyata kamu palsu Sam, kamu tidak tulus mencintai ku.
Sial kamu Sam,, sial,, untuk apa kamu hadir di hadapan ku lagi,, untuk apa,,, kamu yang menghancurkan hidup ku Sam,,
Kamu wanita breng se k Sam,,
............
BRUUUUUKKKKHHH,,,,, cekiiiiiittttttt.....
AAAAhhhhhhh,,,,,,
Tiba tiba Damar hilang kendali, Dia membanting setir untuk menghindari ada nya kecelakaan beruntun. Dan mobil Damar menabrak pembatas jalan.
Ternyata saat Damar hendak membelokan mobil nya tiba tiba speda motor menyalip nya, dan karena kaget speda motor itu terjatuh dan membantingkan Diri,
Tidak ada korban jiwa Dalam kecelakaan ini, hanya luka kecil di bagian sikut dan lutut si pengendara motor. Dan Damar pun terhindar dari luka kecil maupun besar.
Hanya shock saja, dan mobil nya sedikit hancur di bagian depan. Ternyata lamunan nya tadi membuahkan kecelakaan hari ini.
Karena langit sudah gelap, Damar mengantar pengendara motor untuk pergi ke klinik terdekat, meski si pengendara mengakui kesalahan nya karena dia mengantuk, tapi tetap saja Damar akan bertanggung jawab penuh pada pengendara speda motor tersebut.
Damar harap, dalam kecelakaan ini, bisa di selesaikan dengan kekeluargaan, tanpa adanya proses hukum yang berlanjut, baik untuk Damar maupun bapak yang mengendarai motor.
Namun tetap saja, ini negara hukum, tidak semudah itu, Damar harus menyelesaikan nya secara Hukum.
"ya,, terserahlah, saya akan membayar semua denda nya,"
Jelas Damar pada polisi di lokasi kecelakaan.
Damar pulang dengan di jemput oleh Rommy, dia menelepon Rommy untuk Datang.
Dan sesampai nya Di rumah, Damar tidak banyak bicara, dia meninggalkan Rommy dan pergi ke atas dimana kamar nya berada, dia mandi dan berganti pakaian.
Setelah waktu isya terlewat, Damar turun kebawah untuk meminum kopi dan menghangatkan Diri, saat tiba di anak tangga terakhir, Damar mengerutkan Dahi nya, ternyata Rommy masih belum pulang.
"Ngapain lu masih di sini, gue kira udah cabut."
__ADS_1
Lontar Damar menghampiri Rommy yang duduk di meja makan.
"Kan gue mau denger cerita elu,"
Sahut Rommy,
"Cerita apa.? Gak ada cerita, emang pendongeng geu."
Ketus Damar.
"Lu ketemu Sam tadi siang.?"
Tanya Rommy, mengubah nada suara nya.
Hhhmm...
Damar mengangguk.
"Lu gak papa Mar.?"
Tanya Rommy, merangkul pundak Damar.
"Apaan sih lu, emang musti kenapa gue.?"
Ucap Damar menyingkirkan tangan Rommy.
"Gue khawatir sama lu Mar, kemana aja Lu dari tadi siang, gue takut lu ngelakuin...."
"Ngelakuin apa.?? Gak bakalan gue bunuh diri, lu pikir gue orang gila apa.? Sekarang Gue punya Dina, gak ada lagi Sam di hidup gue"
Potong Damar. Pergi meninggalkan Rommy.
Rommy kaget pada kata kata Damar, memang sulit di perkirakan, sejak Siang tadi ,Rommy banyak berfikir, setelah bertemu nya Damar dengan Sam, Rommy khawatir,Damar akan menjadi terpuruk seperti sebelum nya.
Tadi siang tiba tiba Sam menelepon nya dan meminta nomor handphone nya Damar, dengan berbagai macam alasan bahwa dia hanya ingin minta maaf, dan bahkan sempat mengancam, dengan ragu rommy memberikan nya, Samantha mengetahui nomor Rommy dari profil media sosial nya.
Rommy mengira Damar akan mengamuk karena Dia telah memberikan nomor pribadi nya pada Sam, mantan kekasih nya, namun ternyata, semua baik baik saja, bahkan fikiran Rommy masih melayang, saat mendapat telepon bahwa Damar mengalami kecelakaan. Tapi tetap saja semua benar benar baik baik saja.
Eeeehhh Dina, apa sejak tadi siang Damar bersama Dina, apa Dina mengetahui siapa Samantha itu.? Bagaimana reaksi Dina, apa Damar dan Dina bertengkar.? Tapi melihat keadaan Damar sekarang, sepertinya baik baik saja. Mungkin Dina adalah pilihat tepat bagi Damar, terlihat sekali Damar bisa tenang bersama nya, dan lagi memang cocok, laki laki yang keras kepala dan perempuan yang banyak bicara. Sungguh pasangan yang membingungkan. Haha
Fikir Rommy, dalam batin nya.
Rommy mengikuti Damar ke halaman belakang, Dia membawa secangkir kopi milik nya, ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada Damar, namun entah pertanyaan itu akan mendapat jawaban atau hanya tatapan sisnis dari Damar.
Damar telah duduk di kursi taman belakang dengan tenang, seorang assisten rumah tangga menyodorkan secangkir kopi dan sepotong cake kepada Damar.
Rommy di kursi yang lain, sekarang mereka duduk sejajar dengan kopi masing masing di atas meja di samping mereka,
Pandangan Damar lurus melihat taman yang gelap, meski lampu taman menerangi, tetap saja warna hitam lebih dominan.
"Mar,,, tadi siang kemana aja lu.?"
Tanya Rommy, tiba tiba.
"Kencan gue.."
Jawab Damar pendek.
"Kencan, sama siapa.?"
Tanya Rommy lagi, heran.
Damar menatap nya dengan tajam,
"Lu pikir sama siapa.?"
Damar mengeraskan suara nya.
Lontar Rommy dengan tawa jenaka nya.
"Gue tadi ingin sekali membanting semua yang ada di hadapan gue, gue ingin marah, waktu tadi, gue mengingat semua yang Sam lakuin sama gue, gue tahan semua itu, gue menjaga perasaan Dina.."
Huuuuhhhhfff... Damar menarik nafas nya, Rommy hanya menyimak dan mendengarkan.
merasa heran mendengar Damar tiba tiba memulai cerita nya.
"gue berfikir,, Dina ada di sana, gue bingung musti ngapain, seperti nya Dia lebih kebingungan, apalagi tanpa rasa bersalah Sam terus menempel pada gue, tanpa canggung Sam terus mengatakan masih mencintai Gue, kesal sekali gue denger nya, dan pada saat itu, perasaan Dina yang gue fikirin,"
"Ini adalah kencan pertama kita, gue dan Dina, lu tau.? betapa senang nya Dina saat gue mengajak nya menonton, setelah empat bulan kita bertunangan baru kali ini kita pergi berkencan, tapi semua nya gagal karena gue, Setelah gue pergi meninggalkan Sam di sana, Dina hanya Diam, entah apa yang dia rasakan."
"Dia tidak menanyakan apa apa pada gue, gue tau Dia marah, tapi Dia tidak menampakan nya, mungkin karena melihat gue menyedihkan, jadi dia mengalah untuk tidak marah, kalaupun waktu itu dia bertanya dan marah prihal Sam, gua akan Diam dan menahan agar tidak menyakiti nya, padahal gue sudah mempersiapkan nya,."
"Gue akan mengalah, tapi ternyata, Dia yang mengalah terlebih dahulu."
"Haaahh,, Dina tau siapa Sam.?"
Potong Rommy pada ucapan Damar.
"Entah lah,, Dina bukan orang bodoh, di sangat peka, pasti Dia tau, "
"Bagaimana reaksi Dia.?" Potong Rommy lagi.
"Biasa saja, mungkin karena melihat gue menyedihkan waktu itu, Dia malah menenangkan gue, meski Dia terlihat bingung tapi Dia tetap bersikap hangat pada gue,"
Rommy semakin kaget, ternyata di balik sikap cerewet dan grasak grusuk nya, Dina mempunyai sikap yang menenangkan.
"Pada waktu itu, gue semakin sadar, gue memilih perempuan yang tepat, perempuan yang mengerti gue, dan perempuan yang membuat gue nyaman, semakin takut gue kehilangan Dia,"
"Lu cinta sama Dia mar.?"
Tanya Rommy tiba tiba,
Damar memalingkan wajah nya menatap Rommy,
"Lu pikir gue main main sama Dia Rom.? Pernah gue mengajak perempuan untuk bertunangan selain Dina gak.?, gue serius sama Dia, gue ingin menikahi nya, namun seperti nya Dia masih Ragu sama perasaan gue,"
Jelas Damar.
"Lu pernah bilang Cinta sama Dina.?"
Damar menggeleng.
"Makanya lu bilang kalau lu cinta sama Dia, gimana sih lu, mana ada perempuan yang mau menikah tapi laki laki belum mencintai nya. Ya pasti fikir fikir dulu lah."
Tukas Rommy,
"Memang nya penting, dulu sebelum bertunangan gue udah nunjukin perhatian gue, nunjukin rasa suka gue sama dia, apa itu gak cukup, itu lebih dari ucapan Cinta menurut gue."
Sanggah Damar, membenarkan sikap nya.
"Gue juga yakin, kalo Dia mulai mencintai gue."
Lanjut Damar, tersenyum.
"Sekarang Sam sudah tau keberadaan lu, gue musti gimana.?"
Tanya Rommy, selama ini memang Rommy lah yang menemani Damar saat masa sulit yang Damar alami, dan sekarang setelah semua nya membaik, masa lalu Damar kembali.
Taqdir macam apa yang harus di jalani oleh Damar,
"Rom,, lu pulang aja, gue gak papa, lu bisa balik sekarang, besok kita ketemu di kantor, dan tolong urus semua tentang kecelakaan tadi."
__ADS_1
Tutur Damar, meminum tegukan terakhir kopi nya, dan pergi meninggalkan Rommy, tanpa menunggu nya menjawab.
"Okk.."
Teriak Rommy,
Damar masuk kedalam Kamar tidur nya, sejak sampai rumah Dia belum mengecek handphone milik nya,
"Kenapa mati,?"
Gumam Damar, ternyata Hape milik nya mati.
Padahal terkhir kali dia memakai nya baik baik saja, saat kecelakaan, waktu menghubungi Rommy,
Ternyata batre nya habis.
Saat handphone itu di hidupkan, langsung masuk beberapa pesan, dan tanda panggilan tak terjawab, saat handphone nya mati.
Damar tersenyum melihat siap yang mengirimi nya pesan, sampai lima belas pesan dari orang yang sama.
Siapa lagi, kalau bukan dari Dina, tunangan yang mengkhawatirkan nya.
Senyum itu kembali hilang, saat Damar melihat bahwa Sam juga mengirimi nya pesan, dan tidak sengaja Damar membuka nya, dan sial nya lagi telah terbaca,
Sam mengajak nya bertemu, untuk meminta maaf dan menjelaskan semua nya.
Tdak ada keinginan dari Damar untuk membalas pesan dari Sam, akan tetapi wanita itu malah menelepon saat tau handphone milik Damar telah menyala.
Handphone itu terus bergetar, sampai tiga kali Damar mengabaikan panggilan nya, yang pada akhirnya Sam mengirimi nya pesan lagi.
Dammy,, ist ok jika kamu belum memaafkan saya, saya mengerti, but I beg you, I want to meet you, saya ingin menebus semua nya.
Meski Sam memohon, tetap saja Damar malas untuk menjawab nya, padahal Dia telah membaca nya.
Damar menekan tombol memanggil.
Dan panggilan tersambung.
Halo,,, mas kok baru nelepon sih.?
"Hhhhmmm..."
Hhhmmm apa.? Baru sampe rumah emang.? Kok hape nya mati, kenapa.? .
Tiba tiba Dina menjadi kahawatir
"Kenapa apa.? Aku tidak apa apa, aku gak tau kalau hape aku mati, ini baru nyala karena di charge, kenapa kamu sekhawatir itu sama aku.?"
Jelas Damar, sedikit menggoda.
Apaan sih, ya khawatir lah, tadi kan mas bilang pusing, gimana sih. Ya aku khawatir lah.
"Kalau mau tidak terus khawatir, mau dong di ajak menikah, nanti kalau aku pusing, ada yang nemenin, terus gak usah pulang kan udah satu rumah. Iya kan.?"
MULAI DEH,,, iya nanti.
"Nanti kapan.?"
Yaaa gak tau,, pokok nya nanti, gak sekarang.
"Haha, kamu ini, kalau nanti ya memang tidak sekarang, kamu belum yakin sama aku,?apa yang membuat kamu belum yakin.?"
Dina hanya Diam...
"Diiinnnn"
"Din"
"DINA,,,"
EEEHH IYA.
"Apa yang membuat kamu ragu sama aku.?"
Eeeemmmhhh,,, aku belum yakin sama perasaan aku mas,, dan juga sama persaan kamu...
Tut,,, tut,,, tut,,,
Dengan seketika Dina memutuskan hubungan telepon nya.
Damar beberapa kali mengulang panggilan telepon nya, tapi Dina tidak memgangkat nya,
"Apa yang salah,, apa signal nya jelek"
gumam Damar.
Berbeda dengan Damar yang kebingungan, Dina malah merasa dada nya berdebar, seolah tidak percaya dengan apa yang dia katakan pada Damar barusan.
Dina hanya spontan memgutarakan isi hati nya, Dia tidak bermaksud untuk meminta lebih pada Damar, setelah apa yang Damar telah berikan selama ini,
" ya ampun Na,, mas Damar adalah Laki laki yang bertanggung jawab, dengan memperlakukan kamu dengan baik saja itu sudah cukup, memang nya kamu mau apa lagi dari Dia,, Cinta,, ngelunjak kamu Na,, jika kamu mau Dia mencintai mu, apa kamu mencintai Dia juga, enggak kan,,,, Aduuhh bodoh kamu Dina,, bodoh,,, "
Racau Dina memegang menunjuk nunjuk foto dirinya di layar handphone nya,
"Kamu lihat tidak mantan pacar nya, cantik dan sexy bak model international,, mampu kamu bersaing sama Dia na.??? Mampu kamu.?"
Lanjut nya masih menatap layar handphone.
"Eeehh iya,, seperti nya aku pernah melihat wanita itu, jangan jangan,, dia ben6ran model lagi.."
Ucap Dina, membuka laptop nya,
Dia mengetika sesuatu di laptop nya dan munculah beberapa berita dan foto Samantha Valerry, Model internasional yang beberpa tahun kebelakang menetap di ibu kota karena mengencani produser asal negara ini.
"Dih,, kata nya masih mencintai mas Damar, tapi kok Dia pacaran sama orang lain,, dan ini lagi,, Dia beberapa kali ketahuan makan malam dan jalan bareng dengan beberapa pengusaha,"
" wooww,, ternyata Sam ini cukup memikat para pria ya.. tidak heran kalau dia jadi model, wajah nya yang cantik dan tubuh yang begitu sexy.. huuuuhhhfff,, berbeda sekali dengan aku.."
Gumam Dina membaca, beberapa artikel tentang Samantha Valerry.
Triiing,,, pesan masuk.
Eeehh mas Damar.
Kenapa Hp nya mati.?
Kamu marah.?
Kenapa marah.?
Ya sudah, kamu istirahat ya, gak usah berfikir macam macam, aku gak apa apa.
good night,,, my sweet fiance.
"Manis, memang nya gula,"
Dengus Dina malu bahagia, saat membaca pesan pesan Dari Damar.
Tapi tidak satupun Dina membalas pesan Damar, jika saling membalas pesan, maka kedua nya tidak akan istirahat. Seperti itulah pemikiran Dina.
"Good night mas,, tidur yang tenang ya..."
__ADS_1