
Dina PoV.
Sebagai anak pertama menjadikan nya sebagai orang yang tegas, di tambah lagi dalam pekerjaan nya dia adalah seorang atasan, dia tidak suka dengan penolakan, apalagi jika aku yang kerap selalu bertanya dan membantah di kala dia meminta ku sesuatu.
Mas Damar terus berjalan menuju Rumah besar yang ada di depan nya tanpa menoleh lagi kebelakang, karena langkah nya yang lebar, aku berjalan setengah berlari untuk mensejajarkan langkah ku.
"Mas, ngapain kita ke sini.?" Bisik ku menarik lengan nya agar menunduk mendekatkan telinga nya.
Dia mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan ku.
"Ini tempat tinggal ku, kamu tidak mau berkunjung" jawabnya sama berbisik, seperti mengejek ku karena aku berbisik.
"Kenapa tidak bertanya dulu kalau mau ke sini,"
Akhirnya aku bicara normal, tanpa berbisik, dan menjauhkan kepalaku dari kepala mas Damar.
"Kenapa mesti bertanya.?" Jawabannya benar benar mengesalkan,
Hellooww,, aku ini anak mausia tuan, bukan kucing di pinggir jalan yang kamu bisa bawa se enak nya. Ciihh,, lucu sekali, Kenapa mesti bertanya. Heran deh.
"Kenapa.? Hhmmm" ucapnya merangkul pundak ku, dan dia mengajak ku untuk terus berjalan masuk lebih dalam ke dalam Rumah besar nya.
Aku selalu merasa berdebar kalau mas Damar menyentuh ku,
Pintu besar itu terbuka lebar, saat Fey masuk ke dalam rumah, dia tidak menutupnya kembali, mungkin karena ada kami di luar,
Mas Damar melepaskan rangkulan nya saat kita sudah masuk kedalam rumah. Dia menerima telepon dan berjalan menuju lantai atas, tentu saja aku diam tak melangkahkan kaki lagi.
selain ini bukan rumah ku, mas Damar juga tidak mengajak ku, masa iya aku setidak tau malu nya harus mengikuti nya sampai ke atas.
Memang aku perempuan macam apa.
Dan lagi kenapa ini, si penghuni rumah meninggalkan aku tanpa mempersilahkan aku duduk terlebih dahulu. Kemana pergi nya Fey, dan mas Damar juga kenapa tidak turun lagi.
Akhir nya aku duduk di sofa besar di ruang tamu,
Ku sisir semua ruangan yang mampu ku lihat, aku seperti anak yang tersesat di tengah kota, tak tau apa yang harus ku lakukan, aku sempat merasa kesal, kenapa mas Damar mengajak ku ke sini kalau untuk di tinggal sendiri.
Rumah dengan model kontemporer, pengaplikasian garis yang kontras dengan warna netral dalam ruangan. Bersih dan terlihat mahal menjadi salah satu ciri khasnya. Tidak lupa penggunaan warna abu-abu metalik dan putih yang kental menghiasi ruangan, terutama dalam segi furnitur.
Ternyata keluarga nya mas Damar memiliki selera yang unik untuk ukuran kelas menengah ke atas, terlihat dari pilihan motif karpet dan warna sofa yang sederhana, agar tampilan tetap selaras dan elegan.
Berbeda dengan orang kaya lain nya yang biasa aku lihat di drama drama, yang lebih suka dengan Rumah yang di hiasi dengan barang yang mencolok dan bahkan yang terbuat dari emas dan berlian, sehingga terlihat berkilau dan kesan mahal tentu nya.
Di sini berbeda, meski tak banyak kilauan yang menusuk mata dari hiasan rumah, akan tetapi tidak mengurangi kesan megah dari rumah ini, bahkan menjadikan rumah terlihat hidup dan hangat, berbeda dengan rumah yang besar dengan banyak hiasan yang berkilau akan menjadikan rumah dingin dan angker.
Angker nya karena takut merusak benda yang berkilau yang di lapisi emas itu.. Hahaha..
Kenapa aku menjadi menilai Rumah orang lain,
Mau seperti apapun bentuk Rumah nya, yang terpenting adalah bagaimana kita mengisi kehidupan di Rumah itu sendiri, kehangatan, ketenangan, dan kedamaian, itulah yang mesti ada dalam sebuah Rumah.
Rumah, adalah satu satu nya tempat yang akan menerima kita dalam kondisi apapun, dan dari Rumah itulah kita akan mendapatkan salah satu kebahagian. Karena arti Rumah bukanlah soal bangunan megah nan indah. Melainkan merasa aman dan nyaman berada di dalam nya.
"Onti,,, onti,,, kam hiiilll..."
Tiba tiba teriakan itu terdengar dari dalam.
Keluarlah anak kecil dari ruangan di bawah tangga. Dia berlari menuju ke arah ku.
"Onti,, cini.." dia menarik ku, mengajak ku ke ruangan lain.
"Kemana Frans" tanya ku sambil berjalan setengah berlari.
Dia melepaskan tangan ku saat kita telah tiba di suatu tempat, aku memutar pandangan ku lagi, ternyata ini adalah taman belakang. Sangat nyaman dan asri, begitu indah dan segar. Banyak sekali pohon kecil dan bunga bunga yang sangat indah.
"Sissy, kemari, kenapa bengong. Sini duduk."
Ternyata Fey yang menyuruh Frans mengajak ku kemari. Ada kursi taman berwarna putih bersih di pinggir taman, dengan meja bulat di tengah nya, ada dua cangkir teh di atas nya dan kue coklat yang tadi dia beli.
Aku duduk menghampiri nya, dia tersenyum sangat manis, Fey sangat cantik dan baik, meski dia orang yang bisa di bilang berada, tapi dia memperlakukan ku sangat lah baik, meski kami hanya bertemu beberapa kali.
"Fey,, Mas Damar di mana ya.?" Tanya ku pelan saat sudah duduk berdampingan dengan nya.
Mas Damar pergi begitu saja meninggalkan ku saat dia menerima panggilan telepon, sungguh mengesalkan memang, meninggalkan tamu tanpa sepatah kata.
__ADS_1
"Loohh, kan tadi abang sama kamu sy." Jawab nya.
"Dia pergi ke atas, tadi ada yang menelepon, dan Dia langsung pergi, aku di tinggal begitu saja." Adu ku pada Fey.
"Ya ampun abang, kebiasaan deh, pasti itu telepon dari kantor, kalau masalah pekerjaan abang suka lupa segala nya, pasti abang lagi di Ruang kerja nya Ssy, dia suka lama kalau udah masuk ruangan itu."
Jelas Fey tanpa melihat ku, karena dia melihat Frans yanng sedang di suapi nya kue coklat di pangkuan nya.
"Ooohh,,," jawab ku sedikit malas.
"Ssy,,,"
Eehhh kenapa, tiba tiba Fey mengenggam tangan ku, dan berhenti menyuapi Frans.
"terima kasih ya telah menerima abang,"
Kenapa berterima kasih, kok aku jadi takut sih.
"Waktu kami mendengar kalau abang mau bertunangan, awalnya kami kaget, kenapa tiba tiba abang memutuskan untuk bertunangan, dan kami juga bertanya tanya, wanita seperti apa yang abang pilih,, "
Eehh kenapa lagi ini, baru kali ini aku mendengar Fey berbicara dengan bahasa indonesia yang lumayan panjang.
"Dan saat kami melihat kamu Ssy, kami sangat senang, ternyata abang memilih perempuan sedehana yang baik dan cantik seperti kamu..."
"Fey,,," ucap ku, namun terhenti karena Dia melanjutkan ucapan nya.
"Yang terpenting, kamu itu tulus... terima kasih sekali lagi, karena kamu sudah menerima abang,"
Fey menarik nafas panjang beberapa kali, seperti nya Dia mengucapkan kalimat nya dengan berat, dia tulus berterima kasih, bukan hanya sekedar basa basi.
"Haha,, ada apa ini, aku jadi tersanjung nih,"
Sahut ku.
"Fey,, kamu tidak perlu berterima kasih padaku, aku menerima mas Damar karena mas Damar memang pantas aku terima,"
'Mas Damar meminang ku langsung di depan keluarga ku, Dia menunjukkan bahwa diri nya adalah laki laki baik dan bertanggung jawab,"
"Apa pantas jika aku menolak orang yang hendak berbuat baik kepada ku Fey,?. Tidak kan.?"
Fey tersenyum lebar mendengar ucapan ku, dia menarik tangan ku dan memeluku. Dan dia berbisik di telinga ku.
"do you love my brother Sissy.?"
Eeehh apa.?
Spontan aku menjauhkan badan ku darinya.
Aku memasang raut wajah yang bingung tidak mengerti.
Aku hanya Diam,
"Kenapa Sissy, kamu belum mencintai abang, padahal abang sudah sangat mencintai kamu."
Ucap nya sangat lantang.
"Dih, sok tau kamu." Tukas ku.
"You do not believe.?, mari kita buktikan"
Ucap nya bersemangat.
"Kamu tau Ssy, abang akan tinggal di ruangan kerja nya sampai lupa segala nya, jika dia tadi buru buru masuk ruang kerja nya, berarti ada sesuatu yang musti di selesaikan, dan itu akan memakan waktu lama,, bagi nya pekerjaan adalah yang pertama,,, "
" tapi sekarang tidak lagi, sekarang yang pertama itu adalah kamu."
"Ngaco kamu,," potong ku.
"Coba kamu kirim pesan ke abang, bilang kalau kamu mau pulang, karena kamu di abaikan di sini. Aku yakin. he would definitely come right out." Pinta Fey semakin menggebu.
Aku hanya Diam, aku bingung, sebenarnya aku juga ingin tau seberapa peduli mas Damar pada ku. Tapi aku juga takut kecewa jika semua yang di katakan Fey tidak terjadi..
"Ayolah Ssy.. trust me."
Karena Fey memaksa, oke aku coba.
__ADS_1
(Mas, kamu dimana.? Aku pulang saja lah, ngapain juga aku di sini tapi kamu nyuekin aku, aku di tinggal sendiri, kamu maen pergi aja.)
(Aku pulang,, Assalamualaikum)
Dan ternyata, dia langsung menelepon.
Tapi Fey menyuruhku untuk tidak mengangkat nya. Sampai dua kali berdering aku tidak mengangkat nya.
Sampai akhir nya berhenti. Dan tidak ada lagi panggilan dari mas Damar.
Tuuuh kan, apa yang aku fikirkan benar ada nya, hanya sebatas itu mas Damar peduli pada ku, tanpa sadar aku memasang wajah sedih.
Dan, Graapphh..
Tiba tiba saja mas Damar memeluku dari belakang, kalau saja tidak ada sandaran kursi taman, mungkin punggung ku sudah menempel dengan Dada nya.
"Mau kemana kamu.?"
Dia berbisik di telingaku, bibir nya hampir menempel di pipi ku, saking dekat nya aroma tubuh nya tercium oleh hidung ku.
aaahhh kenapa jantung ku berdebar.
Dengan kuat aku berusaha melepaskan tangan nya, tapi usaha ku sia sia, Dia malah semakin memper erat pelukan nya.
"Mas, lepasin,, gak malu apa ada Fey, kita bukan Mahrom." Ucap ku beralasan.
Tapi tetap saja dia memeluk ku.
"Fey sudah pergi, dia lagi bikin susu buat Frans,"
Ternyata benar, Fey sudah pergi, pantas dari tadi Frans sedikit rewel, Fey mengobrol sambil menimang Frans, rupanya Frans mengantuk.
"Aku pulang saja, males disini juga di kacangin, yang ajak aku kesini malah asik dengan pekerjaan nya." Aku mencoba merajuk.
"Ooohhh,, jadi ini yang Fey ajarin dari tadi sama kamu. rencana apa yang kalian sepakati.??hhmm"
Dia berbicara lembut, sampai nafas nya terasa berhembus di telinga ku.
Eh apa maksud nya, rencana apa,, apa dia tau kalo ini akal akalan adik nya.
"Ya sudah, sekarang aku sudah di sini, kamu masak ya. Aku mau makan masakan kamu, kita makan malam di sini," ucap nya. Berjalan duduk di samping kursi ku.
Haahh, makan malam, aku gak boleh pulang malam, apalagi di rumah ada kakak, bisa habis nanti aku.
"Tadi aku sudah hubungi kakak kamu, katanya dia akan jemput kamu setelah urusan nya selesai."
Lagi lagi mas Damar seperti tau apa yang di fikiran ku,, hhuuuffftt mengerikan sekali.
Apa,, kakak mau ke sini, ngapain, memangnya dia tau tepat alamat nya di mana.
Iiiihh, dasar, gak bisa apa kalau bertanya dulu, susah memang kalo punya tunangan paduka raja yang jika sudah mengeluarkan titah susah untuk di bantah.
"Heeehh,, kenapa melamun.?"
Mas Damar menghentikan lamunan ku,
Dia duduk tepat di samping ku,
Aku baru menyadari dia begitu tampan dengan hanya memakai kaos polo berwarna abu abu polos, dengan celana drawstring dengan warna senada, berbeda dari biasa nya. Lebih terlihat muda jika memakai stelan santai seperti ini.
"Kenapa.??"
Lagi lagi dia mencubit hidung ku,
"Iiiiihhhhh,,, mas,, sakit tau, tambah pesek nanti hidung aku." ku tepis saja tangan nya.
"Ya sudah ayuuuk,, aku lapar." Ajak nya menarik tangan ku.
Mulai deh,, semaunya sendiri.
Tanya dulu atuh woy,, di tanya....
Ini kunjungan pertama aku, mesti nya di jamu, bukan menjamu.
Udah mah di cuekin terus sekarang di suruh masak. Aneh memang.
__ADS_1