
Waktu terus berjalan.
Akhirnya, Dina telah menyelesaikan masa magang nya dengan tenang, meski suasana kantor sedikit berbeda tapi itu tidak menjadi penghalang.
Arya benar benar menjaga jarak dengan nya, tidak pernah lagi mengajak makan siang bersama, bahkan menyapa pun tidak.
Entah karena menghargai permintaan Damar, atau mungkin kecewa karena gadis pujaan nya sudah ada yang mengikat. entahlah hanya Arya yang tau.
Pernah Dina mengirimi nya pesan untuk terakhir kali nya, karena masa magang nya telah selesai, itu pun hanya mengucapkan terima kasih, dan permohonan maaf. dan Arya sama sekali tidak membalas nya.
Berbeda dengan Novi sekertaris nya Damar, dia malah selalu mencari muka di depan Dina, yang kata nya dia sudah tidak mengejar lagi Arya, kabar nya sekarang Novi ingin mengejar Rommy saja, makanya dia sengaja mendekati Dina,
Mengetahui Dina yang bertunangan dengan Damar, maka tidak mustahil jika dirinya dengan Rommy, Novi sengaja melepas Arya karena ingin mendapatkan yang lain. yang lebih, tepat nya.
melepas ikan kecil untuk mendapat ikan yang lebih besar, begitu fikir Novi.
cih,,, licik sekali ternyata wanita itu.
Dina berpamitan dengan Siska dan Kasandra, yang di sambut haru oleh kedua nya, dan mereka pun saling berpelukan, tak terkecuali Kasandra.
meskipun kasandra sedikit ketus, akan tetapi dia banyak membantu setiap pekerjaan Dina, ketus orang nya tapi baik hati nya, itu yang menggambarkan sifat kasandra.
"mbak sis, mbak sandra. terima kasih ya atas bantuan nya, dan maaf loh selama ini aku selalu merepotkan, aku pamit dulu ya.."
tutur Dina berpamitan.
"aaahh Din,, jangan cepet cabut dong,, aku seneng loh berteman sama kamu, nanti kalau kerja, kamu di sini aja ya, biar bisa ketemu lagi."
lontar Siska, mengajak Dina berpelukan.
"dih, lebay banget lo sis, meski Dina gak kerja di sini, sudah di pastikan dia bakal sering kesini, iya kan din.?"
seloroh Kasandra.
"kenapa memang.?" tanya Siska.
"iya lah, calon lakik nya kan yang punya ini kantor, gimana sih lo." terang Kasandra.
"hahaha iya, koq bisa lupa." jawab siska.
"Din, kamu sudah bicara sama Arya.?" lanjut siska.
Dina menggeleng,
"gak usah di pikirin, Dia gak papa koq, nanti juga baik lagi"
"iya mbak" jawab Dina.
***
Dina beranjak meninggalkan kantor damar, ternyata magang nya itu akan membuahkan hasil, bagi kehidupan nya, entah itu point untuk nilai nya, atau kisah asmara nya.
dari magang tersebut Dina menjadi tunangan seseorang, Dari magang itu, Dina belajar memahami seseorang, belajar mengerti keinginginan orang, dan yang pasti, Dina harus menerima apa yang telah ia dapat.
karena kesibukan masing masing, Dina dan Damar hanya berkomunikasi lewat pesan, lebih intens nya lewat telepon, sama persis seperti yang jaka lakukan pada nya.
meski akhir akhir ini jarang bertemu, tapi Dina dan Damar tetap menjaga hubungan nya.
sekarang Dina mempunyai dua orang yang mengawasi nya, kakak nya dan tunangan nya, akan tetapi untuk tunangan nya, Dina mesti lebih berhati hati, jika jaka tidak akan merasa cemburu, lain dengan Damar yang cemburu nya lebih satu level dari orang normal biasa.
***
waktu terus berjalan, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan.
ini adalah bulan ketiga Dina dan Damar menjalani hubungan pertunangan, selama tiga bulan kebelakang semua nya berjalan dengan semesti nya, meski beberapa kali Damar selalu merasa kesal karena Dina lupa memberi tahu keberadaan nya,
tapi itu tidak menjadi soal, Dina menganggap itu sebagai salah satu bumbu untuk memperkuat ikatan mereka, menjadi lebih mengenal dan memahami, kehawatiran dan kecemasan Damar juga lebih tinggi satu tingkat dari sang Kakak, dan Dina menyadari Hal itu.
trining,,, trining,,, trining...
eh telepon nya berbunyi, tidak salah lagi siapa yang menelepon.
"iya mas.?" sahut dina.
di mana.?
"masih di kampus."
makan siang di kantor ya, aku lagi males keluar, aku sudah pesan makanan nya.
seperti itu lah Damar, tanpa bertanya tanpa apa, dia mengajak nya makan siang, padahal dina sudah ada janji dengan teman teman nya, namun karena titah sang paduka raja tidak bisa di bantah, akhir nya dina membatalkan janji nya dengan teman teman nya.
mau di jemput pak ujang .?
tawar damar di sebrang telepon.
"eh, gak usah, aku sendiri aja."
ya sudah....
tut... tut.. tut.. sambungan telepon terputus.
" Girls,, maaf ya kayak nya gue gak ikut lagi deh,, sorry."
__ADS_1
lontar dina meminta maaf.
"lo kenapa sih Na, akhir akhir ini gak bisa terus jalan sama kita.? kakak lo gak ngebolehin.? biasa nya kalo pergi sama kita suka boleh,, aneh deh."
tutur eva,
Eva, Fira dan Riska, adalah teman sejak SMA, dina belum sempat memberi tahu bahwa dirinya telah bertunangan, Dina berencana akan memberi tahu mereka ketika wisuda nanti, dan dina tidak berfikir itu akan menjadi boomerang bagi diri nya.
"nana, lo nyembunyiin sesuatu gak dari kita.?"
selidik Fira,
karena kedekatan, panggilan mereka sama dengan keluarga Dina.
"apa sih Fir, gak ada."
lontar Dina.
"gak percaya gue."
"iyaa oke,, nanti gue kasih tau yah, tapi gak sekarang, gue lagi buru buru, yaa girls,, please,,,"
Dina memohon,
mungkin dengan jawaban itu mereka akan diam, mereka sebenar nya menaruh curiga, di satu bulan dina bertunangan, pada waktu betis dina robek, damar menyuruh pak ujang supir kantor nya damar, untuk mengantar jemput dina, dan teman teman nya selalu membrondong dina dengan pertanyaan.
tapi dina kekeh bahwa itu adalah taxi online.
dan mungkin ini saat nya dina memberitahukan pada teman teman nya, prihal pertunangan nya dengan Damar. entah apa tanggapan mereka jika tau dina telah bertunangan dengan atasan nya saat Dina magang tempo hari.
Dina telah sampai di kantor Damar, ia ingin sekali mampir di lantai lima, rasanya rindu sekali pada siska yang selalu baik pada nya. akan tetapi rasa rindu nya terkalah kan oleh rasa malas menghadapi kekesalan Damar.
dan Dina melanjutkan lift nya sampai lantai tujuh,
tanpa mengetuk pintu dina masuk tanpa di persilahkan, terlihat Novi berada di samping damar dengan badan membungkuk menyimak penjelasan Damar,
setelah mengerahui dina telah datang Damar menyudahi pembicaraan nya dengan sekertaris nya, Novi berjalan ke arah pintu dan menyapa Dina dengan senyum yang di buat semanis mungkin.
"mbak Dina apa kabar"
ucap novi mengulurkan tangan nya,
di raih nya tangan Novi dan di jawab sewajar nya.
"Sehat mbak, alhamdulillah, "
hanya itu, dan tidak menanyai nya balik, dan Novi pun berlalu pergi dengan wajah sedikit kecewa.
"Sudah Datang kamu din.?"
"menurut anda," guman dina pelan.
"kenapa.?" tanya damar tanpa mengangkat kepala nya.
"enggak, makanan nya mana.?"
tanya dina menyisir ruangan,
"sudah dingin, aku panasin dulu, kamu lama sih datang nya."
jelas damar seperti menyalahkan.
dan menunjuk pintu di ujung ruangan nya.
enak aja, koq aku yang di salahin, situ nya sendiri masih berkutat dengan dokument, sok sibuk banget.
batin Dina mengerutu.
dina pergi kebalik lemari besar yang ada di ruangan Damar, ternyata di situ ada pintu untuk masuk ke ruangan lain, ada meja yang lumayan besar,selain ada dispenser di sana ada mesin pembuat kopi dan ada microwave juga,
tidak lupa washtafel untuk mencuci piring.
agak jauh dari meja, ada tempat tidur kecil di sana, terlihat begitu nyaman dan rapih, dan di pojokan ada pintu lagi menuju toilet.
dina masuk ke toilet nya, dia tertegun kagum,,
ini sih kamar mandi, lebih bagus lagi dari kamar mandi di rumah Dina, aahh kakak kalah nih, desain di sini lebih apik dan bagus. batin dina.
selama menjadi tunangan nya damar, dina baru mengetahui ada ruangan lain di dalam ruangan Damar.
"mas, ini yang desain siapa.? bagus banget. apalagi toilet nya, iihhh jadi betah deh."
ucap dina antusias.
"kakak kamu."
"kakak,.??"
"jaka.?" tanya dina heran.
"memang nya kamu punya kakak lagi,?"
tanya damar tersenyum, sekilas melihat dina dan beralih lagi pada laptop nya.
__ADS_1
seberapa dekat sih, antara kakak sama mas damar, seperti nya mereka sering sekali berkomunikasi di belakang ku.
batin dina.
"mas, udah dulu atuh kerja nya, nanti makanan nya dingin lagi, terus yang mau di salahin siapa.?"
lontar dina supaya damar menyudahi kerja nya.
" iya, kamu duluan saja, ini penting, sebentar lagi."
sahut damar tidak berhenti menatap layar laptop.
Dina sudah menyajikan semua yang Damar pesan do meja depan sofa, ada udang asam manis dan capcai goreng yang terlihat menggiurkan, tidak lupa dengan bakwan jagung kesukaan Dina.
Dina mulai memakan nya.
Dina menikmati setiap suapan nya, karena dalam makanan Dina bukan lah tipe orang yang pilih pilih, asal bisa di makan, maka dia akan memakan nya.
"Enak din.?"
tanya Damar tersenyum melihat ke arah Dina yang sedang lahap makan.
Dina pun mengangguk. dan melanjutkan makan nya,
sempat beberapa kali Dina mengajak Damar makan dan menyimpan semua pekerjaan nya,
tapi tetap saja Damar ingin menyelesaikan pekerjaan nya dulu. meski Damar mendengar beberapa kali dina mengerutu, tetap saja damar melanjutkan pekerjaan nya.
sekarang di meja damar lumayan bersih oleh dokument dokument, damar telah memasukan nya kedalam laci meja nya, hanya ada beberapa di atas meja.
mungkin dia akan makan dulu. fikir Dina,
tapi ternyata tidak, Dia malah meneruskan memeriksa laptop nya.
Dina sudah selesai dengan makanan nya. dia melepaskan semua cangkang udang besar yang tersisa, dia mengambil piring dan memindahkan nasi dan udang yang telah terkupas tadi dalam satu tempat,
Dia berdiri dan mencuci tangan nya, dan kembali lagi mengambil piring yang berisi nasi dan udang yang tadi ia pindahkan.
Dina duduk di kursi meja kerja Damar, ia menyimpan nasi tepat di pinggir laptop yang Damar sedang gunakan.
Damar mengerutkan dahi nya heran,
"kenapa bawa makanan ke sini, nanti kalau kena dokumen penting gimana."
desis Damar. kesal
"makan dulu," lontar dina tak kalah kesal.
"iyaa,, nanti,, ini tanggung, simpan saja di sana."
"Aaaaa...."
Damar langsung mengangkat wajah nya, dina menyodorkan satu sendok penuh nasi dan udang.
"Aaaaaa...." ulang Dina, meminta damar membuka mulut nya.
Damar membuka mulut nya, dan
Hap,,, dia melahap satu suapan dari sendok yang di sodorkan Dina, dan Damar tersenyum senang atas perlakuan Dina pada nya.
Dina terus menyuapi Damar, dan Damar sudah tidak menatap lagi laptop nya,
"niiiih di lanjut sendiri yah, kan sudah tidak bekerja"
tutur Dina, menyodorkan piring yang berisi nasi udang dan capcay.
"eeehh kenapa.?"
tanya Damar,
"Mas Damar nya kan udah gak kerja, tuh udah diem."
jelas Dina.
"enngak, nihh aku lagi baca dokument"
lontar damar, menahan senyum.
"eemmhh,, kamu mas, mencari kesempatan dalam kesempitan."
ucap Dina.
"kamu yang mencari kesempitan dalam kesempatan."
balas Damar,
"Apa.?" tanya Dina.
"kamu ada kesempatan menyenangkan Tunangan mu tidak di gunain, apa nama nya.?"
"udah ah,, aku mau pulang.... aku sudah kenyang.."
sahut Dina, tidak merespon perkataan Damar.
__ADS_1
"Nah, itu juga termasuk." goda Damar.
Apaan sih,,,