Bahagia Bersama Mu

Bahagia Bersama Mu
35. Menyelami Perasaan


__ADS_3

Damar masih sibuk dengan sambungan telepon nya, Dina berbalik masuk kedalam rumah kembali, dia tidak mau semakin memperkeruh suasana hati nya Damar,


meski Damar belum mau membuka prihal wanita asing itu, biarlah, waktu akan menjelaskan nya.


Hampir lima belas menit Dina masuk ke dalam rumah, dan Damar masih dengan sambungan telepon nya, wajah nya tidak semarah tadi tapi masih terlihat kesal.


"Awas lu Rom, gue ingetin sekali lagi."


Terdengar ucapan Damar sebelum menutup sambungan telepon,


Seperti nya Dia menelepon kak rommy,


Dina menghampiri Damar yang duduk di kursi teras depan, terlihat Damar sedang mengacak ngacak rambut nya, dengan wajah marah dia mengetikan sesuatu di hape nya.


"Mas,, sudah.??"


Tanya Dina menghampiri Damar,


Ada rasa tak tega melihat Damar seperti itu, meski Dina sama sama kesal, tapi Dina memilih mengalah.


"Saya pulang saja."


Lontar Damar pada Dina.


"Kenapa pulang mas, ada pekerjaan,?"


Tanya Dina lagi,


"Tidak,, cuma saya sedikit pusing."


Jawab Damar pendek.


"Loh, kalau pusing jangan dulu menyetir, berbahaya, tunggu kamu baikan ya, nanti boleh pulang."


Tutur Dina, membujuk, mengerti suasana hati Damar.


Damar hanya diam.


Sebenar nya Dina tidak rela jika Damar pulang dengan keadaan kesal seperti itu, meski Damar belum mau menjelaskan, Dina tidak mempermasalahkan,


Ada sisi lain dari seorang Dina Aryanti Dewi, yang baru Damar ketahui.


Dina yang Dewasa dan pengertian,


Damar sejak tadi menyadari akan kekesalan Dina, akan tetapi Dina tidak meledak dan mendesak memintai nya penjelasan, karena lebih memilih menunggu, untuk Damar lebih tenang terlebih dahulu.


Berbeda dengan gadis lain di luar sana.


Meski Damar menampakan kekesalan dan kemarahan nya, tetap saja Dina mengalah dan tidak mendebat nya.


Dan sisi lain dari Dina ini, membuat Damar lebih nyaman, dan takut kehilangan Dina.


"Ayuukk, kita makan dulu, aku sudah siapin makan untuk mas Damar, tadi mas kan makan nya hanya sedikit, apalagi tadi juga melewatkan sarapan, siapa tau setelah makan pusing nya hilang, "


Bujuk Dina lagi,


Tapi Damar tetap Diam, dan mematung, seperti memikirkan sesuatu.


"Mas,, "


Dina menggoyangkan tangan Damar, dan membuat Damar tersadar dengan lamunan nya.


"Eh, iya."


"Ayyuukk.."


Dina mengenggam tangan Damar dan menarik nya masuk ke meja makan, Damar menyadari, Dina begitu hangat memperlakukan nya, di saat suasana hati nya bergemuruh,


memang perlakuan seperti ini lah yang Damar butuhkan.


membuat Damar semakin takut kehilangan Dina.


Damar dan Dina telah sampai di meja makan, mereka telah duduk nyaman berdampingan.


"Maafkan saya Din,"


Tiba tiba Damar meminta maaf.


"Eh, kenapa.?"


Ucap Dina kaget, kenapa tiba tiba minta maaf.


"Maaf kan saya, kencan kita batal karena saya."


Tutur Damar.


Ohh karena itu,


"Tidak apa apa, jangan di fikirkan, sekarang kita makan ya, katanya mau masakan aku, nih aku udah masakin."


Ucap Dina, menyodorkan piring pada Damar.


"Nasi goreng.?"


Tanya Damar, mengerutkan dahi nya.


"Hehe iya,,, yang cepet kan cuma nasi goreng,


mas gak suka.?"


Tutur Dina.


"Tidak, bukan seperti itu, ini berarti nasi goreng pertama yang kamu bikin untuk saya, iya kan.?"


Ucap Damar, melihat nasi goreng nya.


"Ya udah di coba atuh." 


Tutur  Dina.


Hhhmm... Damar memakan nasi goreng nya.


Damar makan dengan tenang, terlihat sekali banyak hal yang Damar rasakan, dan Dina merasakan hal itu, ini pertama kali nya Dina melihat Damar seperti itu.


Dina Pov.


Mas Damar Seperti Rapuh dan tidak berdaya, ini bermula saat bertemu dengan wanita asing itu, Samantha,, yaa,, nama nya Samantha.


Aku ingat dia.


aku bisa menebak siapa sebenar nya wanita itu, 


dan sedalam apa dulu cinta mas Damar pada Samantha,


Seperti apa kisah mas Damar dan Samantha,


dan berakhir seperti apa, dan kenapa,


aku menjadi penasaran.


Selama empat bulan aku bertunangan, ini kali pertama aku melihat nya rapuh dan sedih,


Aku seperti flash back melihat kakak dulu saat ayah meninggalkan kami. Hati kami hancur saat itu,


Dan sekarang aku melihat mas Damar seperti itu, aku merasa sakit hati, entah ada apa dengan perasaan ini, apa arti nya rasa sakit ini.

__ADS_1


Aku kesal dan marah saat Samantha bergelayut dan memeluk mas Damar, rasa nya aku ingin mendorong Wanita itu dan memakaikan nya baju yang benar, sekalian aku ingin pakaikan dia kerudung,


lebih baik dari pakaian nya yang dia pakai tadi, hanya memakai kemben dan hotpans saja.


Tapi rasa sedih ku mengalahkan rasa kesal dan marah ku, sebenar nya melihat mas Damar seperti itu, rasa nya aku ingin memeluk nya, menenangkan nya dan menguatkan nya,


bahwa dia tidak sendiri, akan ada aku di samping nya.


Meski aku tak tau, apa alasan mas Damar bersedih.


Kebersamaan ku bersama nya selama empat bulan ini, menjadikan ku lebih terbiasa dengan kehadiran nya, meskipun masih ada sekat, karena aku membatasi semua yang dia lakukan nya untuk ku.


Dia marah karena aku belum pernah memakai kartu Debit nya, yang Dia berikan saat kami sudah satu bulan bertunangan. Dia merasa aku tidak menganggap nya, padahal bukan seperti itu sebenar nya.


Bukan karena aku tidak menghargai nya, tapi aku takut jika suatu saat dia pergi meninggalkan ku, aku takut akan terpuruk karena kehilangan dia, meski dia terus mengajak ku menikah,  untuk meyakinkan ku. Tetap saja.


Hati ku belum sepenuh nya yakin, entah apa yang membuatku belum yakin pada nya, padahal sejauh ini, dia adalah laki laki baik dan bertanggung jawab.


..........


"Kamu tidak makan Din.?"


Tanya damar membuyarkan lamunan Dina.


"Ehh apa.?? Ini punya aku,"


Jawab Dina memperlihatkan nasi goreng milik nya.


"Kenapa seperti itu nasi kamu.?"


Tanya Damar melihat nasi goreng Dina.


"Iyaa,, punya ku gak pake kecap."


Jelas Dina.


"Sini, aku coba"


Secepat kilat Damar menyendok nasi goreng milik Dina, dan memasukan nya ke dalam mulut nya.


Uhuukkk....


Nasi goreng ekstra pedas masuk ke dalam perut Damar, Damar melepas sendok yang di pegang nya dan meminta minum pada Dina yang lupa menyajikan minum untuk Damar.


"Uuhuuk,,, Air.."


"Astaga,,, kenapa mas makan sih,, itu kan punya ku."


Dina berlari ke dapur dan mengambil sgelas air putih.


Glekkk... glekkk.


Damar meminum nya hanya dalam satu kali tegukan.


Dina mengusap usap punggung Damar.


"Buang itu,"


Dengus Damar.


"Apa.?"


Masih mengusap punggung Damar.


"Mulai sekarang saya tidak mengizinkan kamu makan pedas, kamu keterlaluan, ini bukan nasi goreng pake cabe, tapi cabe yang kamu kasih nasi."


Sungut Damar, dengan nafas yang tersenggal.


Dina melepaskan usapan punggung nya, dan mendesis kesal.


"Mulai sekarang, tidak ada makanan yang berhubungan dengan cabe, mengerti kamu."


Tuntut Damar,


"Iihhh apaan sih. Gak mau, dari dulu aku suka makan pedas, gak apa apa tuh, tiba tiba berhenti makan pedas, ya gak bisa dong."


Desis Dina,


"Buang itu, kita makan ini."


Perintah Damar, menyodorkan nasi goreng milik nya.


Dina menggeleng dan cemberut.


Tiba tiba ibu masuk dan menyudahi perdebatan antara Dina dan Damar,


"Nak Damar, maaf nih ibu tinggal tinggal terus, biasa ada kumpulan di rumah bu RT, jadi ibu tidak bisa menemani nak Damar. "


Jelas ibu.


"Tidak apa apa bu, ini saya malah makan di sini jadi nya."


Tutur Damar.


"Yaa gak apa apa, malah baik, ini juga kan rumah nya nak Damar,"


Sambut ibu.


"Iya bu,, terima kasih."


Balas Damar.


"Kamu kenapa na, ada tunangan nya kok cemberut.?"


Sambung ibu.


"Ini bu, Dina makan pedas nya keterlaluan, saya melarang nya untuk makan pedas."


Ucap Damar mendahului.


"Keterlauan apa sih, namanya juga cabe, ya pedas lah, mas Damar aja berlebihan."


Tukas Dina , kesal.


"Loh..loh.. nana, kok ngomong nya gitu, Dia itu tunangan kamu, calon suami kamu."


Timpal ibu.


Damar tersenyum dan Dina semakin cemberut.


"Ibu tinggal dulu ya nak Damar."


Ucap ibu, berlalu pergi, Damar mengangguk mempersilahkan.


Dina masih saja cemberut,


Damar memegang tangan Dina penuh kelembutan, Dina terlonjak kaget dan hendak menarik tangan nya, tapi Damar menahan nya, untuk membiarkan tangan nya dalam gengagaman Damar.


"Jangan marah ya, jika makan pedas membuat mu sehat, tentu aku tidak akan melarang mu, tapi jika berlebihan, kamu akan mendapat masalah Dina, jadi Aku mohon, lakukanlah demi diri mu sendiri, demi kesehatan mu, bukan aku atau orang lain."


Eehhh,, kenapa mas Damar jadi seperti ini, aku kan jadi gak bisa marah, dan lagi seperti nya suasana hati mas damar mulai membaik, terlihat dari ucapan nya yang santai pada ku, tidak kaku seperti tadi. Dia menyebut diri nya Aku bukan Saya. Dan lagi Dia memohon.


Batin Dina, melihat Damar memohon.


Dina mengangguk perlahan,

__ADS_1


"Di kurangi ya mas, kalau tidak pedas mana bisa, kurang enak rasanya,, di kurangi saja gimana.?? Yang penting tidak terlalu pedas kan.??? "


Bujuk Dina, berbalik mengngenggam tangan Damar.


Damar mengulum senyum.


"Kamu kecil, tapi keras kepala ya ternyata."


Dina dan Damar saling melempar senyum.


Dan melanjutkan makan mereka, yang akhir nya makan sepiring berdua.


"Masih pusing mas.?"


Tanya Dina, setelah makanan nya habis.


Damar menggeleng,


"Aku pamit pulang saja lah, ini sudah siang."


"Di rumah ada siapa saja mas.?"


Tanya Dina lagi.


Damar mengerutkan dahi nya.


"Kenapa.?"


Balik bertanya.


"Kalau mas Damar hanya sendiri, lebih baik di sini saja dulu ya,, nanti sore boleh pulang."


Jelas Dina.


"Kenapa memang,? Hhmm.."


Tanya Damar mendekatkan wajah nya ke wajah Dina.


"Iiihhh apaan sih."


Ucap Dina mendorong wajah Damar menjauh.


"Gak apa apa, aku khawatir aja, nanti kalau pusing lagi gimana.? Sudah istirahat saja di sini ya. Di sini ada kamar tamu kok, mas boleh pake."


Tambah Dina.


Damar mengangguk. Dan seperti berfikir.


"Kamu masih kangen sama aku.??"


Goda Damar.


"Mass,,, apaan sih."


Ucap Dina kesal.


"Hahaha,,, mengaku saja,"


Goda Damar lagi.


"Mass,,,, "


sungut Dina. Wajah nya memerah karena malu.


Hahaha,,


Damar senang jika melihat wajah Dina merona memerah, karena merasa malu.


Dina mengantar Damar menuju kamar tamu, Dina meminta Damar untuk istirahat dan tidak memikirkan apapun,


Damar tersenyum dan masuk ke kamar tamu,


Sesungguhnya  memang benar, bahwa Damar memkirkan banyak hal, bukan hanya pekerjaan ataupun soal Samantha.


Damar juga memikirkan Dina, memikirkan perasaan nya dan juga memikirkan hubungan mereka.


Dengan posisi nyaman berbaring di tempat tidur, pandangan lurus ke langit langit, Damar masih bergelut dengan fikiran nya.


Damar Pov.


Wanita macam apa kamu Din,,


aku tau kamu marah dan kesal, saat Sam menyentuh dan memeluk ku, seharus nya kamu mengamuk pada ku saat itu, atau minimal kamu dorong Sam menjauh dari ku,


Tapi kamu tidak seperti itu,


karena kamu membaca suasana hati ku, kamu melihat kelemahan ku, kamu melihat aku sedih dan terpuruk. Maka dari itu, kamu buang ego mu dan berusaha menenangkan aku.


Kamu bersikap hangat pada ku,


padahal kamu sendiri marah pada ku, kamu berusaha menyenangkan hati ku, padahal suasana hati mu juga tidak baik,


apa semenyedihkan itu aku di mata mu Din.


Apa Kamu mengasihani aku Din,,


Atau kamu mulai mencintai ku,,


Sam tiba tiba muncul di hadapan ku,


saat posisi ku tidak siap,


Dia muncul saat aku sedang bersama mu,


Tanpa rasa berdosa Dia menghampiri ku dan mengatakan masih mencintai ku.


Cihh,,


Cinta macam apa yang kau maksud Sam.


Aku benar benar Muak, saat dia mengatakan Dia mencari ku selama ini.


Bulshit,, apa yang kau katakan semua nya omong kosong Sam.


Dina dan aku tidak pernah membahas soal Cinta, saat sam mengatakan Mencintai ku, Fikiran tertuju pada Dina, bagaimana perasaan nya saat ada yang menyatakan Cinta pada tunangan nya.


Meski kata Cinta jauh Dari hubungan kami berdua, akan tetapi sikap dan perlakuan Dina pada ku menunjukan bahwa Dia sudah mencintai ku,, dia mengalah pada ku, dia menjaga perasaan ku.


Apa namanya kalau itu bukan Cinta,


dan aku pun takut kehilangan Dia,


aku berjanji tak akan melepaskan nya,


Dan apa itu juga bisa di Sebut Cinta.?


Entahlah,,,


Untuk saat ini aku sangat nyaman bersama nya..


.........


Semilir angin mengantarkan Damar untuk tidur,


Hari ini sangat menguras fikiran Damar, meskipun di antara Dia dan Dina tidak ada pertengkaran yang berarti, tapi hari ini benar benar melelahkan bagi kedua nya.

__ADS_1


Damar semakin terlelap dalam tidur nya, semakin nyaman dan semakin dalam.


__ADS_2