
"Aku kembali ke kantor." Ucap Damar pelan.
Namun dina hanya diam, seperti memikirkan sesuatu, menatap lurus pada ruangan dimana Jaka berbaring.
Damar melihat Dina yang melamun di depan nya, Dia mencubit pipi nya dengan gemas, Dina tersadar dan menangkis serta mencubit balik tangan Damar dengan sangat kuat.
"Aagghh.." Ringis Damar karena cubitannya.
"Kenapa.?" Tanya Ibu khawatir.
"Ini bu,,"
"Eh. Gak apa apa bu.." tangkas Dina. Dan melotot pada calon suami nya.
Damar mengulum senyum.
dan ibu hanya menggelengkan kepalanya.
"kamu ini na.?"
"Lah, kok Nana sih bu, mas Damar duluan juga" protes Dina cemberut.
"Tetap saja kamu jangan seperti itu."
"Terus aja di salahin," masih cemberut. "Kamu sih,," Dina melotot pada Damar.
"Eh,, eh,, kenapa makin gak sopan sih, masa panggil calon suaminya pakai kamu kamu." Ibu mengomel saat Dina mendengus padaDamar,
"Iya maaf,, tapi kan."
"Gak usah pakai tapi kalau sudah minta maaf." Ibu masih saja mengomel.
"Iyaaa maaf..." sahut Dina, agar semua cepat selesai.
Dan lagi lagi Damar hanya tersenyum.
"Tidak apa apa Bu," tutur Damar. "saya pamit dulu bu, besok pagi saya kembali.."
"Aku mau bicara sebentar."
Damar meminta Dina untuk mengikuti nya, berjalan membawa Dina ke pintu keluar dari rumah sakit.
Dina mengikutinya dengan cemberut.
"Jangan cemberut seperti itu, pipi kamu makin mengembang. " Damar menggoda.
"Mengembang, memangnya kue." Ketus Dina melotot pada Damar.
"Nah, sekarang mata kamu yang tambah bulat. Semakin membedar semua, kalau kamu cemberut seperti itu. " lagi lagi Damar iseng menggoda calon istrinya.
"Apaan sih,,"
"Hahaha,,, aku semakin gemas kalau kamu seperti itu."
"Iihh nyebelin banget sih, sudah sana pergi, aku mau masuk lagi."
"Eh tunggu,," ucap Damar, mengeluarkan sesuatu dari saku celananya.
"Pakai ini untuk keperluan menikah besok." Damar menyodorkan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang tunai.
"Apa ini.?? Uang.? Gak usah, lagian kan mas udah kasih aku Debit card, jadi gak perlu ya.."
Tolak Dina. Enggan mengambil pemberian Damar.
"Ini tuh buat keperluan nikah yang harus di bayar secara cash, pakai apapun yang kamu perlukan. Tidak usah banyak membantah."
Damar memaksa Dina untuk menerima kantong kertas berisi uang itu. Di simpannya di telapak tangan Dina, Dan pergi berjalan ke arah Dia memarkirkan mobilnya.
"Iihh,, mau ngasih uang saja pake marah, cepet tua nanti." Dina mendengus, karena Damar memaksa.
" Emang udah tua sih Dia.. haha" lanjutnya pelan dan mengikuti Damar.
"Aku dengar yang kamu katakan." Ucap Damar tanpa memutar badannya.
Dina terkekeh, ternyata tajam sekali pendengaran nya.
__ADS_1
Sampai di depan pintu mobil Damar berpamitan sama perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
"Kamu istirahat yang cukup malam ini, jaga kesehatan, telepon aku kalau ada apa apa."
Damar mengusap kepala calon istrinya.
"Aku akan usahain yang terbaik untuk kakak kamu, doakan saja, agar semua baik baik saja."
Saat di singgung soal kakaknya Dina malah menjadi sedih dan seperti menahan tangis.
"Kenapa.?" Tanya Damar saat sadar ada
raut sedih di wajah calon istrinya.
"Maafkan aku, semua salah ku..," lirih Dina menunduk.
"Apa maksud kamu,?"
"Jika bukan karena permintaan kakak, kita gak akan menikah di rumah sakit seperti ini." Jelas Dina.
"Hhmm iya, jika bukan karena kakak kamu, mungkin kita akan menikah setahun atau dua tahun lagi, atau mungkin sampai lima tahun."
"Apalagi, kamu masih suka cari alasan untuk tidak menikah dengan aku, namun karena kakak kamu, kamu setuju menikah dengan ku." Ungkap Damar. Namun terdengar sinis di telinga yang mendengar.
"Kamu terpaksa mas.?" Tanya Dina tak kalah sinis. "Kenapa kamu tidak menolak sejak awal, jika kamu keberatan."
"Aku tidak keberatan," sanggah Damar melengos.
"Malah aku mau berterima kasih sama kakak kamu, berarti Dia percaya sama aku karena Dia bersedia memberi ijin adik perempuan nya untuk menikah dengan ku."
"Dan itu adalah harapan terbesarku dalam menjalin hubungan ini, aku ingin menikahi mu dan berusaha membahagiakan kamu."
Damar menarik nafas.
"Namun, fikiran ku sedikit terganggu jika kamu bersedia menikah dengan ku hanya karena kakak kamu, hanya karena Dia meminta mu."
Dina terdiam, Dia merasa bingung, entah apa yang harus ia katakan.
"Atau mungkin kamu yang terpaksa menikah dengan ku,, hanya karena untuk menyenangkan keluarga mu saja." Berbalik Damar berdecak bertanya pada Dina.
"Aku tidak pernah menganggapnya kesalahan,," sergah Damar.
Wajah serius Damar tepat di depan wajah Dina, kedua tangan nya memegang kedua bahu Dina.
" pernikahan adalah satu ibadah yang sakral, entah dimanapun itu di laksanakannya, pernikahan itu tetap Sah dan suci. Aku menikahimu karena keinginanku menikah dengan mu, bukan karena orang lain yang meminta ku untuk menikah."
"Apaan si, kenapa mas seperti memojokan ku." Tepis Dina pada kedua tangan Damar yang memegang bahunya.
"Kamu fikir cuma kamu yang menganggap pernikahan itu suci, aku juga sama Mas,, namun kita akan menikah saat kamu masih terbelit perasaan sama masa lalu kamu.?"
Dengan sekuat tenaga Dina menahan emosinya.
"Jangan terus kamu ungkit sesuatu yang bahkan kamu sendiri belum tahu kebenarannya." Sergah Damar sedikit menekankan intonasi suaranya.
"Apa sedikitpun kamu tidak memikirkan perasaan aku,? perasaan perempuan yang akan kamu nikahi besok.?"
Air mata itu lolos begitu saja dari pelupuk mata.
"Apa kamu kira fikiranku tidak terganggu juga, memikirkan hubungan antara kamu dengan Samantha,,,? " hikss...
"DINA,,, aku sudah berusaha menjelaskan sama kamu,, bahwa itu TIDAK seperti yang kamu fikirkan." Wajah Damar terlihat marah.
"APA,,?? APA YANG BERUSAHA KAMU JELASKAN..??? Apa Mas.??"
Dina mengeraskan suaranya dan dengan gemetar menengadah menatap calom suami nya dengan kesal. Dengan air mata yang terus membasahi pipi nya.
Damar membuang muka.
"Sesulit apa sih buat kamu mikirin perasaan aku Mas..???"
"Coba kamu fikir, hati wanita mana yang tidak sakit, melihat calon suami nya berciuman dengan wanita lain, apalagi itu adalah masa lalu kamu,, orang pernah punya kenangan indah sama kamu."
Kali ini Damar yang diam.
"Memang benar aku menikah karena kakak memintaku untuk menikah, harus kamu tahu Mas, aku juga ikhlas menerima pernikahan ini, dan pernikahan ini juga terjadi atas keinginan ku.."
__ADS_1
"Jadi Berhentilah memojokan ku, seolah hanya kamu yang mau menikah." Ketus Dina membalikan badan pergi meninggalkan Damar.
"Din,, bukan seperti itu.. " ucap Damar berusaha menghentikan langkah Dina.
"DINA,,," teriak Damar, namun tetap saja, Dina berjalan tanpa mengindahkan panggilan dari Damar.
"Aaarrggghhh..." Damar meninju udara, masuk kedalam mobil dan
percakapan yang di bumbui pertengkaran pun berhenti sampai sini, Dina masuk kembali ke Rumah sakit, dan Damar kembali ke rencana awalnya untuk pergi ke kantor.
Maafkan aku.
Pesan dari Damar. Yang di baca oleh si penerima tanpa ada niatan untuk membalasnya.
"Keluarga Bapak Jaka Permana." Seorang perawat memanggil, saat Dina tepat berada di depan ruang ICU.
Ternyata Jaka ingin menemui ibu dan adik perempuannya, kondisinya lebih segar di banding dengan kamarin, namun masih dalam posisi berbaring menyamping.
"Na, maafkan kakak,," perlahan Jaka mengeluarkan kata kata nya.
"Bukan maksud kakak untuk memaksakan, namun, kakak ingin sekali melihat adik kakak menikah, " parau suara jaka menahan tangis.
"Saat kecelakaan itu terjadi, kakak seperti melihat ayah," tetesan air mata dari pelupuk mata jaka mengalir sampai membasahi kasur yang ia tiduri.
"Jaka,,," ucap ibu, berurai air mata pula.
Dina memeluk sang ibu.
"Ayah hanya menatap diam melihat aku yang tergeletak di aspal jalanan, bu,, apa ayah marah sama jaka bu, hikss.. hikss..,"
Ibu menggeleng,,
" apalagi saat Nana berteriak,, aku seperti berada dalam peristiwa saat ayah mengalami kecelakaan itu,, mungkin seperti inikah kondisi ayah saat itu,," semakin basah kasur itu, dengan ter engah engah jaka melanjutkan ucapan nya.
Ibu masih berdiri berurai air mata, melihat anak sulung mengungkapkan yang selama ini Dia rasakan.
"Ayah mengalami kesakitan bu,,, Dia menahan nya sendirian,, dan pada akhirnya Ayah pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun untuk kita,, aaahhhh ayaaahh,, jaka kangen sama ayah,, maafkan jaka jika Jaka tidak bisa terus menjaga adik adik dan ibu... maafkan jaka ayah,," akhirnya pecah semua yang selama ini ia tahan.
Kembali Jaka melirik adik nya.
"Kakak sempat merasa jika kemarin ayah akan membawa kakak pergi, namun ternyata ayah malah diam saja,, dan ayah pergi lagi tanpa berkata apa apa sama kakak Na,, hiks,, hiks,, hiks,,"
Dina berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan Jaka.
"Kakak,, kakak adalah kakak terbaik bagi Nana, ayah pasti bangga sama kakak, karena telah menjaga Nana dan adek dengan baik, menjaga ibu, dan mengasihi kami tanpa pamrih,,,"
"kakak jangan merasa kalau kakak telah memaksa nana, seperti yang mas Damar katakan, kami memang berencana untuk menikah, namun belum sempat nana memberi tahu kakak."
"Dan kakak juga jangan khawatir, sesuai dengan keinginan kakak, besok kakak bisa melihat Nana menikah, dan kakak yang jadi wali nya."
"Mas Damar baik orang nya, meski kadang ngeselin dan gampang marah, tapi Nana yakin, Nana akan menikah dengan orang baik."
"Karena Nana juga anak baik kan Kak.??" Dengan lekat Dina memandangi wajah sang kakak. Yang di jawab dengan anggukan yang masih menyisakan air mata di pipi Jaka.
"Kakak bahagiakan melihat Nana mau menikah.?"
Tanya Dina perlahan mengusap tangan sang kakak.
Jaka mengangguk dan tersenyum.
"Iyaa,, makanya kakak harus di operasi biar sembuh seperti sedia kala, dan menjadi kakak yang galak dan selalu mengawasi adik adik nya lagi."
Lagi lagi jaka hanya menanggapinya dengan tersenyum.
"Ya sudah, sekarang kakak istirahat ya tidur, biar besok pagi fresh, terus operasi nya lancar, dan kakak sembuh seperti sedia kala."
Dina meninggalkan ruang ICU dengan wajah yang masih menyisakan air mata.
Malam ini, perasaan nya meraskan ketenangan yang tidak di rasakan sebelum nya.
Rasa percaya akan taqdir dan ikhlas akan semua ketetapan nya, membuat Dina merasa optimis kalau jaka akan sembuh seperti sebelum nya.
Soal pernikahan, Dina terlalu memikirkan nya, yang terpenting sekarang adalah kesembuhan untuk sang kakak. Apa yang terjadi besok sudah di tetapkan sejak dia berada di dalam kandungan, sudah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Mungkin orang tua jaman dulu benar, calon mempelai tidak di perkenankan untuk saling bertemu dulu sebelum akad, karena semakin mendekati waktu pernikahan, semakin banyak salah faham dan masalah.
__ADS_1
Campur aduk,, mungkin itu yang di rasakan oleh Dina.