
Zen bergegas menemui kasih. dengan harapan sebelum Bastian kembali gadis itu sudah pergi jauh..
Bastian yang masih di ruangan nya. menatap kasih dan Zen dari layar monitor nya. dari layar monitor Bastian bisa melihat aktifitas mereka berdua disana. ia melihat percakapan diantara mereka. Bastian merasa penasaran. kemudian dia memperbesar volumenya sehingga suara percakapan mereka berdua terdengar dengan jelas.
"tuan..saya kasih..orang yang tempo hari membuat anda marah"
mata Bastian melotot..tubuhnya yang tadi dengan posisi menyandar manjadi tegak lurus. mendengar perkataan kasih dari layar monitor.
"brengsek berani sekali dia memanggil Zen dengan sebutan tuan"
"tuan bastian. saya tau ditempo hari itu adalah kesalahan saya. seperti yang Anda katakan saya tidak melihat mobil anda"
"apa.. apa dia bilang. bastian. berani sekali dia mengganggap Zen adalah aku. apa dia tidak melihatnya. atau dia tidak mengenalinku". Omelan bastian kesal dibalik layar monitornya
"anda benar tuan saya tidak melihat mobil anda. dan mungkin anda benar saya tidak punya mata. Anda benar tuan. mata saya tidak seberuntung mata anda yang bisa melihat apa yang anda inginkan. saat yang saya lihat hanya gelap bagaimana bisa saya melihat mobil anda"
"maafkanlah saya tuan dan ampuni teman saya. jangan hukum dia tuan. saya yang salah . hukum saja saya. atau jika anda ingin, leyapkanlah saya. tapi jangan sakiti teman saya. dalam dunia saya yang gelap, saya hanya punya satu teman baik tuan. jangan biarkan saya masuk ke dunia yang lebih gelap lagi saat kehilangan dia. saya mohon maafkanlah teman saya"
apa. apa yg gadis itu katakan. dia tidak bisa melihat. apa maksudnya?". Bastian yang awalnya terbakar api amarah seketika api itu padam. dia hanya menatap lekat wajah kasih dari layar monitor nya dengan tatapan prihatin.
"tuann.. tuan bastian apa anda mendengar kan saya"
"ii..iya.. saya mendengarkan. saya sudah mema'afakan kamu". jawab Zen yang hanya melongo menatap kasih. ia kagum melihat keberanian kasih.
entah apa yang mendorong Zen. dengan perlahan-lahan mendekati kasih dan tanpa sadar memeluk kasih..
"sekarang pulanglah. aku tidak akan mengganggu mu lagi. lain kali hati-hati lah jika berada dipinggir jalan".
__ADS_1
"baiklah tuan terimakasih kasih. Anda sangat bermurah hati" balas kasih tanpa menolak pelukan dari Zen. menurut nya itu tanda perdamaian.
"sial berani sekali dia memeluknya". ketus Bastian menatap tazam Zen dibalik monitor nya.
itulah sosok kasih. wanita cantik yang memiliki keindahan begitu sempurna dari mana saja orang melihatnya. namun dia sendiri tidak bisa melihat keindahan itu. dia hanya seorang gadis buta yang hidup dalam kegelapan.
Zen mengantar kasih keluar sampai depan gedung. Rendi yang melihat dari jauh berlari mendekati kasih. Rendi menatap tajam Zen saat melihat Zen memegang tangan kasih. Rendi menarik tangan kasih yang dipegang Zen sehingga terlepas dari genggamannya.
"kasih.. kenapa lama sekali. menatap khawatir kasih. jujur saja Rendi sudah bolak balik keluar masuk gedung itu karena kasih sudah terlalu lama didalam sana. dia takut terjadi sesuatu padanya. dia ingin menyusul kasih namun tidak diijinkan oleh resepsionis dan dihadang oleh petugas keamanan. Rendi memeluk erat tubuh kasih.
"maaf ya ka" kaka jadi nunggu lama". kasih merasa bersalah
"ayo kita pulang".
Rendi memegang lembut tangan kasih dan menatap tajam Zen. zen yang menyadari sikap rendi yang cemburu padanya hanya tersenyum tipis. namun hatinya terasa terbakar saat melihat kasih dipeluk oleh laki-laki lain. jujur saja Zen sudah jatuh hati pada kasih saat dia melihat pertama kali kasih meski hanya di dalam foto.
"Bastian". ucap Zen
"rendi..pacar kasih" jawab Rendi
raut wajah Zen seketika berubah menjadi masam. setelah mengetahui ternyata orang yang dia suka telah menjadi milik orang lain. sementara Rendi tersenyum puas melihat ekspresi wajah Zen. kasih juga tidak habis pikir dengan perkataan Rendi. yang mengatakan dia pacarnya. namun memilih untuk tidak berkomentar.
"tuan kami permisi dulu" kasih tersenyum dan menunduk memberi hormat pada Zen. yang dia kira itu adalah Bastian.
flashback
Zen segera pergi keruang tunggu. untuk menemui kasih. dengan harapan setelah Bastian kembali kasih sudah pergi jauh. meski nanti dia akan jadi korban amukan Bastian.
__ADS_1
sesampai diruang tunggu. Zen langsung masuk karena pintu seperti nya tidak ditutup.
"kamu" Zen berdiri didepan kasih namun dengan jarak yang cukup jauh.
"ehh tuan. tuan. kasih berdiri dan menunduk memberi hormat pada Zen"
"mau apa kamu?" ucap Zen dengan lembut
"tuan bastian maafkan saya. saya mengganggu waktu berharga anda" saya kemari hanya ingin menjelaskan sesuatu pada anda". ucap kasih tanpa rasa ragu atau takut.
"tapi saya..bukan"
"tidak tuan saya mohon jangan usir saya. beri saya sedikit waktu menjelaskan semua nya pada anda. selanjutnya saya akan menerima keputusan anda apapun itu" ucap kasih memotong perkataan zen.
yang benar saja. dia mengganggap aku Bastian. ha ha ha..bantin Zen.
"baiklah" katakan apa yang ingin kau jelaskan. ucap dingin Zen.
kasih menjelaskan semuanya.. seperti yang didengar Bastian di ruangannya.
flashback off
kasih dan Rendi meninggalkan Agraha Wijaya Gruf. sementara Zen kembali ke ruangannya dengan perasaan kecewa. kecewa karena gadisnya ternyata hanya mimpi yang tidak mungkin bisa dia gapai.
______________
"hello readers.. author masih dalam tahap belajar. mohon bantuan, kritik dan sarannya baik yang bagus maupun tidak. author akan menerima dengan senang hati"..😁😁😁😁😁
__ADS_1