Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Kenyamanan


__ADS_3

"Al?" Syeza berjalan menghampiri Alghifari yang sedang duduk termenung dibalkon rumah.


Alghifari menoleh lalu memasang wajah memelas.


"Kenapa?"


"Aku rasa selamanya kau akan terus memanggilku dengan nama!"


"Ahaha" Syeza tertawa kecil lalu duduk disamping kakaknya.


"Terima kasih untuk kemarin! aku bahkan tidak bisa mengendalikan emosiku"


"Untuk apa berterima kasih? memangnya aku orang lain untukmu?"


"Hanya saja aahh aku banyak berterima kasih karena keluargamu menerima baik aku dan ibuku"


"Yakhh! Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?" Alghifari menoleh menatap ke arah adiknya.


"Ehehe entahlah, terkadang aku merasa bersalah atas segala hal, apa mungkin sebaiknya dulu ibuku tak bersahabat dengan ibumu? apa sebaiknya dulu ibuku menolak untuk menikah dengan ayahmu? apa mungkin tak seharusnya kami ada dalam keluargamu?"


Alghifari tersenyum lalu menggenggam tangan Syeza.


"Kau tahu? kau dan ibu adalah anugerah dalam keluarga kita jadi, jangan pernah merasa terbebani dengan segala hal sudah terjadi!"


"Justru terkadang aku merasa menjadi penyebab kematian ibu!" Sambung Al


"Yakhh!! kenapa kita jadi menyalahkan diri seperti ini?!"


Alghifari hanya tertawa kecil lalu melepaskan genggamannya, ia lalu fokus memandang langit sore yang memamerkan kemegahannya dibalik lipatan jingga.


"Za kau benar tidak ingin ikut ke Indonesia sebentar?"


Syeza hanya menggeleng.


"Tapi kau tidak ingin mengunjungi ibu? kau ingat kapan terakhir kali kau menemuinya? pasti sudah lama bukan? aku ingin mengunjunginya bersamamu"


Syeza hanya terdiam.


"Dan kau juga tidak ingin bertemu Rayhan? mungkin saja nanti kalian akan jarang bertemu!"


"Untuk apa? aku tidak punya alasan untuk menemuinya!"


"Kau masih mencintainya bukan?"


Gadis itu kembali diam.


"Waktu itu sebelum menemui ayah aku sempat bertemu dengannya dibasecamp! aku menyuruhnya untuk menjauhimu! hah, aku bahkan memukulnya! maaf tidak seharusnya aku ikut campur bukan?" Ujar Alghifari.


"Kau sudah melakukan yang terbaik!" Timpal Syeza.


"Heeem?"


"Bukankah itu yang memang harus dilakukan oleh seorang kakak ketika adiknya disakiti oleh laki-laki?" Syeza tersenyum.


"Hal-hal kecil seperti itu, ah tidak! itu bukan hal yang kecil tapi effort dari seorang kakak yang selalu aku inginkan!"


"Kau merasa bahagia aku memukulnya?!"


"Tentu saja! Kau tidak merasakan bagaimana bahagianya ketika kakakmu membelamu!"


Alghifari hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Al aku merasa akhir-akhir ini kau banyak tertawa dan tersenyum!"


"Benarkah?" Alghifari yang sedang tersenyum spontan mengubah mimik wajahnya.


"Eeemm!" Syeza mengangguk sambil tertawa melihat perubahan mimik wajah Al.


"Kedepannya teruslah seperti itu! bila perlu lebarkan sedikit lagi senyumnya! kau tidak sadar bukan wajah tampanmu bertambah jika sedang tersenyum?" Ujar Syeza, ia lalu ikut memandang langit sore.


"Aku rasa, kedepannya itu mungkin hal yang sulit!" Batin Alghifari, ia terdengar menghela nafas.


"Ada apa? kau keberatan? tidak apa-apa, aku tidak memaksamu! lakukan jika kau merasa nyaman!" Ujar Syeza saat ia mendengar helaan nafas Alghifari.

__ADS_1


"Hah? aahh tidak! aku hanya merasa sedikit lelah!"


"Kemarilah!" Syeza tersenyum lalu menepuk pahanya menyuruh Al untuk berbaring diatas pahanya.


"Kenapa diam saja? aku jamin kau akan merasa nyaman berbaring disini!" Ujar Syeza saat melihat Al yang hanya duduk diam menatapnya.


Alghifari kembali menghela nafas lalu membuang muka.


"Yakhh!! kau menghela nafas saat aku memintamu berbaring dipahaku?!" Syeza terlihat kesal namun Alghifari tak menggubrisnya.


"Menyebalkan!!" Syeza lalu hendak beranjak berdiri namun Alghifari dengan spontan membaringkan kepalanya dipaha Syeza membuat gadis itu duduk diam.


"Hah!! lepaskan!! aku ingin masuk! aku rasa moodku sedang tidak bagus!" Syeza berusaha berdiri namun Alghifari menahannya dengan merangkul pinggang gadis itu.


"Biarkan begini sebentar saja! aku merasa nyaman" Ujar Al, ia lalu memejamkan matanya.


Syeza menarik nafas pelan lalu membenarkan posisinya duduknya agar Al merasa nyaman berbaring dipahanya.


"Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu!" Ujar Al pelan.


"Lalu?"


Alghifari tak menjawab, pria itu hanya diam dengan mata yang masih tertutup. Ia bahkan tak tahu harus mengatakan apa, perasaannya bahkan tak karuan.


Syeza tak bertanya lagi, gadis itu memilih diam lalu mengusap rambut Al dengan lembut, mungkin saja kakaknya sedang tidak baik-baik saja.


"Bisa ambilkan ponselku? ada dikantong jas" Ujar Al saat terdengar ponselnya yang berdering.


Syeza mengangguk lalu mengambil ponsel Alghifari.


"Dari siapa?"


"Pria Bodoh?" Syeza sedikit mengerutkan alisnya saat membaca nama kontak yang tertera dalam panggilan masuk.


"Tolong nyalakan speakernya!"


Syeza kembali mengangguk lalu menekan tombol hijau dan speaker.


"Yakhh!! kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?! kau dimana hah?! waakhh!! kau memintaku pulang ke New York lalu mematikan ponselmu seharian?! Yakhh Al!! kau sengaja membuatku khawatir?! aku dirumah paman Hameed, katakan kau ada dimana sekarang hah?!" Alex memburu dengan pertanyaan.


"Yakh ada apa denganmu?! kenapa suaramu seperti ini?! kau sakit?! katakan kau ada dimana?!"


"Aku disini"


"Disini dimana?! tidak bisakah kau mengatakannya dengan jelas?! bagaimana aku bisa tahu kalau kau hanya mengatakan disini?!" Alex terdengar khawatir.


"Bukankah hanya kau yang tahu jika aku mengatakan sesuatu yang tidak dipahami oleh orang lain?"


"Yakhh!! situasinya sekarang berbeda!! bagaimana aku bisa berfikir jernih jika kau tiba-tiba seperti ini?! kau tidak pernah seperti ini Al!!"


"Hah! ternyata kau juga punya kelemahan? aku fikir tidak!"


"Yakhh!! memangnya kau tidak?! Aarrgh!! jangan mengajakku berdebat!! katakan saja kau ada dimana?! Akh tunggu kenapa kau menyalakan speaker teleponmu?!"


Alghifari hanya tertawa kecil menanggapinya.


"Al sedang bersamaku" Jawab Syeza.


"Syeza?" Alex terlihat kaget.


"Iya, naiklah! aku dan Al sedang dibalkon rumah"


"Aaaah baiklah!" Jawab Alex dengan suara pelan.


Syeza tersenyum lalu mematikan teleponnya.


"Aargh kenapa kau memintanya naik? dia hanya akan mengomeliku" Ujar Al lalu mengeratkan rangkulannya.


"Kau mendengar suaranya tadi? bagaimana mungkin dia berteriak kepadaku lalu tiba-tiba menutup telepon dengan suara lembut kepadamu?"


Syeza hanya tertawa lalu kembali mengusap kepala Alghifari.


"Waakhh jika dilihat oleh orang lain mereka akan mengira bahwa kalian adalah sepasang kekasih!" Vino bersama Alex berjalan menghampiri Alghifari dan Syeza dan duduk dihadapan mereka.

__ADS_1


Alghifari membuka matanya sejenak lalu melirik ke arah mereka dan kembali menutup matanya.


"Bagaimana menurut paman? mungkinkah dikehidupan sebelumnya kami adalah sepasang kekasih? aakkh ataukah dikehidupan selanjutnya kami akan terlahir sebagai sepasang kekasih?" Tanya Syeza.


"Kau sendiri bagaimana? jika bisa memilih, baik dikehidupan sebelumnya ataupun kehidupan selanjutnya kau akan memilih ditakdirkan sebagai apa?" Tanya Vino balik.


"Eeemm entah itu dikehidupan sebelumnya ataupun kehidupan selanjutnya aku akan tetap memilih seperti hari ini! terlahir sebagai adiknya! takdir yang aku jalani sekarang adalah hal terbaik yang aku miliki!" Ujar Syeza sambil tersenyum.


Alghifari hanya terdiam, mungkin memang iya, baik dikehidupan sebelumnya ataupun dikehidupan selanjutnya ia memang ditakdirkan sebagai kakaknya, tidak lebih dari itu.


"Yakh Al! kau akan terus diam saja? tidak ingin bangun dan menjelaskannya kepadaku? apa pertanyaan-pertanyaanku tadi tidak berarti untukmu?" Tanya Alex dengan suara tertahan membuat Vino dan Syeza hanya tertawa kecil.


Alghifari menarik nafas lalu beranjak bangun.


"Yakh kau menyadarinya? kau berteriak kepadaku tapi diakhir telepon kau menutup dengan suara lembut pada Syeza?"


"Tentu saja! aku tidak punya alasan untuk marah pada Syeza!"


"Waakhh! aku rasa kau sudah berubah! bagaimana jika kau berganti pekerjaan saja? kau bisa membantu Syeza membangun usahanya!"


"Eeemm ide yang bagus! bagaimana menurutmu Syeza? apakah kita bisa menandatangani kontraknya sekarang? aku akan membantumu mengembangkan usahamu hingga mengalahkan pria yang ada dibelakangku!" Ujar Alex lalu beralih duduk ditengah-tengah Alghifari dan Syeza.


"Yakh!! kau menanggapinya dengan serius?" Alghifari menarik bahu Alex.


"Tentu saja! kau sudah membuangku barusan! aku harus mencari nafkah untuk bertahan hidup! aku juga ingin menikah dalam waktu dekat ini, bagaimana aku menyiapkan mahar jika tidak memiliki uang?!" Jawab Alex ngasal sambil melepaskan tangan Alghifari dari bahunya.


Sedangkan Syeza hanya tertawa kecil.


"Bagaimana jika kau bekerja denganku saja? kebetulan aku sedang mencari orang yang bisa dipercaya! aku rasa kau sangat cocok!" Timpal Vino.


"Aahh aku rasa aku akan mendapatkan bonus yang lebih banyak jika bersama paman! bagaimana paman? kau membawa kontraknya bukan?" Alex beralih duduk disamping Vino.


"Yakhh kau!!" Alghifari lalu beralih memeluk Alex dan menariknya menjauh dari Vino.


"Yakhh!! yakhh!! apa yang kau lakukan?!! lepaskan!!" Alex berusaha melepaskan rangkulan Alghifari.


"Aku akan membungkam mulutmu agar tak banyak bicara!!" Tangan sebelah Al lalu menutup mulut Alex.


Alex lalu dengan spontan menginjak kaki Al lalu berlari menjauh.


"Yakhh!! kau berani menginjak kakiku?!!" Alghifari lalu mengejar Alex.


Syeza hanya tertawa kecil menatap aksi kejar-kejaran Alghifari dan Alex.


"Biarkan saja! itu cara Alex untuk menghiburnya! orang yang paling memahami Al adalah Alex! Alghifari hanya bertingkah seperti itu jika bersama Alex!" Ujar Vino.


Syeza menoleh dan tersenyum.


"Rupanya paman tahu banyak hal tentang Al!"


"Paman menanyakan semuanya pada Alex! paman tidak akan tahu jika tidak bertanya pada Alex!" Ujar Vino sambil tertawa kecil. Syeza ikut tertawa.


Mereka lalu asik mengobrol membiarkan Alghifari dengan Alex bertingkah sesuka mereka.


"Ini untuk pertama kalinya aku melihat sisi lainnya Al!"


"Nanti kau akan sering melihatnya!"


Syeza tertawa kecil dan mengangguk.


"Paman tahu? bahagia sesederhana ini, melihat Al dan Alex yang seperti ini saja membuatku senang dan merasa nyaman!"


"Alghifari dan Alex, dua orang yang sangat jauh berbeda jika didepan camera bukan?"


Syeza mengangguk setuju lalu menoleh sejenak ke arah Alghifari dan Alex yang masih sibuk kejar-kejaran.


"Lalu bagaimana dengan paman? kau tidak merasa nyaman?"


"Tentu saja nyaman! bukankah aku nyaman dengan paman sejak kecil? hingga aku bahkan pernah menyukai pamanku sendiri?!" Ujar Syeza tertawa kecil membuat Vino ikut tertawa.


"Ikutlah ke Indonesia! paman juga akan kesana sebentar!"


"Paman juga ikut ke Indonesia?"

__ADS_1


"Iya! ada urusan yang harus diselesaikan! kau juga tidak bisa ditinggal sendirian! kita juga harus mengunjungi ibumu bukan? sudah lama kita tidak kesana!"


Syeza hanya mengangguk kecil.


__ADS_2