
'Kenyataannya luka yang paling dalam itu bukan mencintai tanpa di cintai, bukan ia yang tak ingin di tunggu, bukan juga ia yang memintamu untuk belajar mencintai yang lain, melainkan ia yang pergi untuk selamanya dengan membawa cinta dan harapan dan meninggalkan luka yang takkan terobati'
~Geisha Al-Ahkam
~Asrama British School
Geisha duduk termenung di taman belakang Asrama, ia benar-benar menjadi gadis yang pendiam dan selalu menangis, permintaan Zidan yang membuat ia frustasi, membuat luka di hatinya semakin dalam.
"Ah Zidan kenapa kau melakukan ini kepadaku? Kenapa memintaku untuk belajar mencintai pria lain? Aku tidak bisa Zidan! Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu!" Batin Geisha.
"Hapus air matamu! Jangan terus menangis seperti itu!"
Geisha menghapus airmatanya lalu menoleh.
"Kak Al?"
"Ikut aku!"
"Kemana?" Geisha mengkerutkan alis.
"Bisa ikut saja tanpa banyak bertanya?"
"Aku tidak akan ikut denganmu jika kau tidak memberitahuku kita akan kemana!"
Alghifari terdiam dan memandang Geisha dengan lekat.
"Ah aku tidak mengerti Zidan, kenapa kau menitipkan Geisha kepadaku? Kebenaran apa yang sedang kau sembunyikan?" Batin Alghifari.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau tahu bukan siapa aku sebenarnya? Jadi jangan banyak membantah!" Alghifari lalu melangkah pergi.
Geisha menelan ludah lalu mendengus kesal dan melangkah mengikuti Alghifari.
*************
~RS Gemilang CityGroup
"Kenapa kita ke rumah sakit kak?" Geisha turun dari motor Alghifari.
"Smoga kau kuat dengan kenyataan ini!" Batin Alghifari.
"Masuk saja! Nanti kau akan tahu!" Alghifari lalu turun dari motornya dan melangkah masuk namun, Geisha masih berdiri termenung.
"Ah kenapa tiba-tiba perasaanku jadi tidak enak?" Batinnya.
"Kenapa masih berdiri di situ? Kau tidak ingin masuk?" Alghifari menoleh ke arah Geisha.
"Aahh iya kak!" Geisha mengusap-ngusap dadanya lalu mengikuti langkah Alghifari.
Ketika menyusuri lorong-lorong rumah sakit tiba-tiba langkah kaki Geisha terhenti, ia kembali memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dan tanpa sadar air matanya mulai mengalir tanpa di komando.
"Ada apa denganku? Kenapa rasanya sakit sekali? Apa yang sebenarnya terjadi?" Batin Geisha.
Ia memegang dadanya dengan kuat menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya. Alghifari lalu menghentikan langkahnya saat ia merasa Geisha tak mengikuti langkahnya, ia lalu berbalik ke arah Geisha.
"Kenapa berhenti?" Geisha tak menjawab, ia hanya berdiri termenung dengan air mata yang terus mengalir.
Alghifari lalu menghampirinya.
"Aku bertanya kenapa berhenti?!" Tanya Alghifari namun Geisha masih berdiri terdiam.
"Geisha?!!" Alghifari membentaknya.
"Apa yang kau lakukan?!"
"Aku....., entahlah! Aku tidak tahu kak! Kakiku tiba-tiba terasa berat untuk melangkah, dadaku pun tiba-tiba terasa sesak! Apa yang sebenarnya terjadi? Aku pun tidak tahu hanya saja ini sangat sakit untukku!" Geisha menarik nafas panjang.
"Apa aku sudah gila kak? Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini? Sakitt kak....., hatiku benar-benar sangat sakit!" Geisha mulai menangis dan kebingungan, ia menundukkan kepalanya lalu memukul pelan dadanya yang terasa sesak.
"Geisha lihat aku!!" Alghifari merangkul kedua bahu Geisha hingga membuat gadis itu menatap netra coklat miliknya.
"Ada apa kak?! Apa yang terjadi? Aku....., Aakh aku tidak tahu....."
Alghifari menarik nafas pelan lalu menghapus air mata Geisha.
"Apapun yang terjadi, aku percaya kau gadis yang kuat!" Alghifari lalu menggenggam tangan Geisha dan menuntunnya menyusuri lorong-lorong rumah sakit, Geisha menarik nafas, menghapus sisa air matanya yang tak ingin berhenti lalu ia hanya terdiam mengikuti langkah kaki Alghifari dalam keheningan, genggaman tangan itu mampu menenangkannya. Setelah sampai di ruangan yang di tuju, Alghifari melepaskan genggaman tangannya. Geisha terlihat mengkerutkan alis saat mendapati sahabat-sahabatnya yang sedang menangis,
Viera yang duduk menangis di bangku dan Fairuz yang berdiri di sampingnya pun terlihat menangis lalu, Fikral yang masih saja sesekali meninju tembok dan terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
Geisha melirik ke arah Alghifari meminta penjelasan namun Alghifari hanya mengangguk kecil ke arah Geisha.
"Kak?" Geisha melangkah menghampiri Viera.
__ADS_1
"Geisha?" Viera beranjak berdiri.
Geisha lalu menggenggam kedua tangan Viera dan menghapus air matanya.
"Ada apa kak? Kenapa kalian menangis? Kak Syeza mana? Kak Rayhan?"
"Zidan Sha...., Zidan"
"Zidan? Ada apa dengannya? Akh apa ia sudah kembali?" Bola mata Geisha yang sembab oleh air mata terlihat berbinar.
Viera hanya mengangguk pelan.
"Dimana Zidan kak?"
"Di dalam"
"Di dalam?"
Viera hanya mengangguk.
Geisha yang terlihat bahagia langsung berlari masuk sambil tersenyum ceria.
Viera menarik nafas panjang lalu ikut melangkah masuk mengikuti Geisha.
Suara pintu terdengar terbuka membuat Syeza dan Rayhan sejenak menoleh ke arah pintu, terlihat Geisha melangkah masuk dengan senyum ceria di ikuti oleh Viera dan Alghifari.
"Kita keluar ya? Berikan waktu untuk Geisha" Ujar Rayhan.
Syeza hanya mengangguk.
Rayhan lalu menuntunnya keluar dengan Syeza yang masih dalam pelukannya.
Alghifari melirik sejenak ke arah Rayhan dan hanya menarik nafas pelan.
Mata berbinar itu tiba-tiba menghilang dan menjadi redup begitu saja saat mata Geisha dengan saksama menyaksikan perjuangan terakhir Zidan, senyum itu pun ikut menghilang seiring senyum terakhir Zidan yang ia perjuangkan agar terlihat oleh Geisha meskipun sangat terlambat dan senyumnya terlihat sangat tipis tapi, Zidan tetap ingin tersenyum untuk gadis yang sedang berdiri kebingungan di depannya. Dengan mata berlinang, Geisha perlahan menggenggam tangan Zidan yang sudah dingin dan mulai kaku, pria itu bahkan tak mampu membalas genggaman tangannya.
"Ada apa Zid? Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa seluruh tubuhmu di pasang alat seperti ini?" Geisha mulai terlihat panik.
Zidan hanya tersenyum kecil ke arah Geisha dan itulah senyum terakhirnya.
Perpisahan yang menyakitkan! Tak ada kata yang terucap, tak ada sapaan setelah cukup lama mereka tak bersua, begitu pun sebaliknya tak ada ucapan selamat tinggal, tak ada penjelasan perihal menghilangnya Zidan, hanya sebuah lekukan tipis dari bibir Zidan yang pucat yang berusaha untuk menenangkan Geisha yang terlihat panik, lalu dengan perlahan Zidan mulai menutup matanya dengan sempurna, menutup mata untuk selama-lamanya dan mulai hari ini, kisah di antara mereka berakhir, kisah Geisha yang mencintai Zidan tanpa di cintai, kisah Geisha yang selalu setia menunggu Zidan, kisah Geisha yang tak pernah memaksa Zidan untuk kembali mencintainya dan kisah Zidan yang mulai membuka hati dan mencintai Geisha namun takdir menghalangi kisah di antara mereka. Takdir bahkan tak mengizinkan mereka untuk saling menyapa, takdir itu hanya memperkenankan senyum kecil terakhir untuk kisah mereka, senyum kecil yang membawa pergi kisah cinta mereka dan meninggalkan kesedihan.
"Tidak Zidan!! Aku mohon!!" Geisha menggenggam tangan Zidan semakin erat, tak ingin membiarkan tangan itu terlepas dari genggamannya, tangan yang sudah terlihat sangat pucat, dingin, dan kaku. Tangan yang tak bisa lagi membalas genggamannya.
"Zidan kau mendengarkan ku bukan? Tolong buka matamu!! Kau...., kau pernah bilang, bahwa kau ingin aku memanggilmu dengan panggilan kakak bukan? Aku ingin melakukannya sekarang jadi, dengarkan aku baik-baik dan buka matamu!!" Geisha menghapus air matanya dan menarik nafas pelan.
"Kakak, kak Zidan aku mencintaimu kak! Rolong buka matamu kak!! Kau mendengarkan aku kan kak? Aku...., aku sudah melakukan apa yang kau inginkan kak, apa..., menurutmu apa itu terlambat? Katakan!! Apakah aku terlambat melakukannya? Aakh aku terlambat bukan?" Air mata Geisha kembali mengalir.
"Kak, aku tahu aku terlambat tapi kau mau memaafkan aku kan? Kak...., kau marah padaku? Jika kau tidak marah kau pasti membuka matamu! Aku mohon...., aku takut kak, kau membuatku takut kak" Geisha lalu menggoyang-goyangkan tubuh Zidan.
"Bangun Zidan!! Dengar, aku tidak akan memanggilmu dengan panggilan kakak jika kau masih menutup matamu seperti ini! Zidan!! Kau tidak bisa pergi dan meninggalkan aku begini saja! Buka matamu Zidan! Apa yang kau lakukan?! Kenapa masih menutup matamu?! Apa kau tidak mendengarkan ku?! Aku menyuruhmu membuka mata!! Zidan buka matamu!! Aku tidak ingin kau menutup mata seperti ini!"
Geisha semakin keras mengoyangkan tubuh Zidan dan menangis histeris.
"Sha tenanglah!" Viera menarik Geisha dan memeluknya.
"Kakak...., Zidan kak!" Geisha menangis tersedu-sedu.
Viera hanya menangis sambil mengusap-usap rambut Geisha berusaha untuk menenangkannya.
Para suster lalu melepaskan alat-alat yang terpasang di tubuh Zidan lalu mayat yzidan di tutupi kain putih.
Ketika kain putih tersebut menutupi wajah Zidan, Alghifari terlihat berpaling ke arah lain lalu menghapus airmatanya.
Viera lalu membawa Geisha keluar di ikuti Alghifari. Fairuz lalu menoleh ke arah Alghifari, Alghifari hanya mengangguk kecil.
"Ruz, Ray kalian bisa membawa mereka pulang? Tunggu di basecamp! Aku akan mengurus jenazah Zidan"
Rayhan dan Fairuz mengangguk.
Alghifari lalu menemui dokter dan mengurus jenazah Zidan untuk di bawa pulang.
Fairuz dan Rayhan lalu membawa kami keluar dari lorong itu, lorong yang menjadi saksi bisu berakhirnya kisah Zidan.
~Basecamp
Sore yang sendu, sore yang seharusnya di hiasi dengan senja yang penuh dengan keindahan, kemegahan dan kebahagiaan namun, kali ini senja pun tak ingin menunjukkan kemegahannya di langit jingga, ia memilih bersembunyi di balik awan yang bermendung.
Gerimis-gerimis hujan mulai turun membasahi bumi, seolah-olah menunjukkan bahwa langit ikut bersedih atas kepergian Zidan.
Syeza, gadis itu menarik nafas lalu memandang ke sekelilingnya, terlihat Alghifari, Fairuz dan Rayhan yang sibuk melayani tamu yang berdatangan dan mengurus keperluan lainnya dan di bantu oleh beberapa anak-anak British School, ada juga beberapa pria berjas yang berdiri menjaga seperti satpam.
Akh mereka pasti asisten-asistennya ayahnya. Dan di ruangan yang biasa mereka gunakan untuk berkumpul, terlihat Viera sedang menemani Geisha yang duduk termenung di depan jenazah Zidan, ada beberapa anak British School dan juga beberapa warga yang sedang membawa yasin lalu Fikral, ah pria itu memilih mengurung dirinya dalam kamar. Ia yang belum bisa menerima kenyataan bahwa Zidan sudah pergi untuk selamanya dan terus menyalahkan dirinya. Kenyataan ini memang terlalu menyakitkan untuk di terima. Syeza lalu melangkah menghampiri Viera dan Geisha.
__ADS_1
"Sha" Syeza menggenggam tangannya.
Geisha menoleh dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir. Syeza tersenyum kecil lalu memeluknya, Geisha lalu menangis tersedu-sedu di pelukannya.
Syeza memejamkan matanya sejenak lalu melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Geisha.
"Aku tahu kau gadis yang kuat" Ujarnya lalu membuka kain yang menutupi wajah Zidan, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja ketika melihat wajah tenang milik Zidan, ia lalu tersenyum ke arah jenazah Zidan.
"Kau lihat Sha? Zidan terlihat sangat tenang! Ia tak lagi merasakan sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, rasa sakit itu sudah hilang untuk selama-lamanya".
Yah! Bersama dengannya, bukan hanya rasa sakit yang hilang tapi Zidan pun ikut menghilang untuk selama-lamanya!.
Syeza menarik nafas lalu kembali menutup wajah Zidan dengan kain tersebut lalu kembali menoleh ke arah Geisha.
"Jangan menangis seperti ini di depan Zidan Sha, kau akan membuat Zidan merasa sedih karena ia tidak bisa menghapus air matamu"
Geisha semakin terisak.
Syeza lalu kembali menghapus air matanya.
"Huuss jangan menangis lagi"
Geisha mengangguk-ngangguk lalu tangannya terangkat dan menghapus air mata sahabatnya.
"Kakak juga jangan menangis lagi!"
"Ahaha iya" Syeza tersenyum lalu menghapus air matanya.
"Vie, ysha, aku tinggal sebentar ya mau melihat kondisi Fikral"
Viera dan Geisha mengangguk.
Syeza lalu beranjak berdiri dan berjalan perlahan ke arah kamar yang di tempati Fikral. Ia membuka pintu dengan pelan lalu menutupnya kembali, dalam kamar Fikral terlihat berdiri termenung di depan jendela, pandangan matanya tertuju ke arah taman belakang basecamp namun pandangan mata itu terlihat kosong.
"Kau tidak ingin keluar?"Tanya Syeza, ia lalu duduk di atas kasur
Fikral hanya menoleh sejenak lalu kembali fokus. Syeza tersenyum kecil lalu melangkah menghampirinya.
"Aku mengerti perasaanmu tapi ini terakhir Fik, kau belum menemui Zidan semenjak dua minggu dia menghilang, temuilah dia untuk terakhirnya kalinya! Dia akan terluka jika kau terus mengurung diri seperti ini!"
"Ini terlalu berat Za, kenyataan ini terlalu sakit untuk di terima! Zidan pergi secara tiba-tiba!" Fikral lalu menarik nafas.
"Semua ini salahku Za! Seandainya aku tahu bahwa dia sakit, semuanya tidak akan berakhir seperti ini bukan? Zidan pasti akan tetap bersama kita! Semua karena kesalahanku!"
"Tidak Fikral! Jangan menyalahkan dirimu seperti ini! Semuanya sudah menjadi takdir bukan kesalahanmu!"
"Lalu bagaimana nanti aku menjelaskan pada paman? Paman pasti akan sangat kecewa, aku bahkan tidak bisa menjaga Zidan dengan baik!"
"Kau sudah melakukan yang terbaik! Ayah pasti tidak akan menyalahkanmu jadi, tolong jangan menyalahkan dirimu seperti ini!"
Fikral hanya terdiam.
"Sebentar lagi kita akan masuk ke proses pemakaman, keluar lah sebentar!" Ujarnya lagi lalu melangkah keluar meninggalkan Fikral yang masih berdiri termenung.
************
Sore mulai beranjak, langkah-langkah kaki mulai bergerak untuk mengantar jenazah Zidan ke tempat peristirahatan terakhirnya, langkah-langkah kaki yang di iringi dengan air mata kesedihan, langkah-langkah kaki yang ditemani dengan gerimis hujan yang masih membasahi bumi. Ketika langkah-langkah kaki itu keluar untuk mengantar jenazah Zidan, Syeza menghentikan langkahnya dan sejenak menoleh ke belakang memastikan apakah Fikral ikut dalam rombongan atau tidak.
"Ah Fikral benar-benar tidak ingin keluar untuk ikut proses pemakaman Zidan?" Batinnya.
"Biarkan saja, Fikral hanya butuh waktu!"
Syeza menoleh ke arah Fairuz yang tersenyum ke arahnya, ia balas tersenyum dan mengangguk kecil.
Ketika tanah mulai menutupi mayat Zidan Geisha kembali terisak, Syeza menariknya dan memeluknya dengan erat.
"Zid, ini jauh lebih sakit! Kau pergi dan kali ini untuk selama-lamanya! Kapan lagi? Kapan lagi aku bisa melihatmu? Kapan? Kapan Zidan? Ini menjadi yang terakhir untukku!" Batin Geisha.
Geisha lalu jatuh pingsan.
"Sha, Geisha!!" Syeza mencoba menopang tubuh Geisha.
"Ray pinjam mobilmu, nanti kau bisa gunakan motorku! Aku akan mengantar Geisha lebih dulu" Ujar Fairuz.
Rayhan mengangguk.
Fairuz lalu mengendong tubuh Geisha dan membawanya pulang menggunakan mobil Rayhan.
Tangan-tangan yang gemetar itu menyeka mata mereka yang masih sembab ketika makam Zidan sudah terlihat sempurna dengan batu nisannya.
ZIDAN ElSIRAAJ
"Akh rasanya sakit sekali membaca namanya yang tertulis di atas batu nisan, ini seperti mimpi! Benarkah kau sudah pergi untuk selama-lamanya? Kenapa? Kenapa secepat ini? Kita bahkan baru berencana untuk mengadakan acara perpisahan bukan? Tapi, kau bahkan sudah pergi lebih dulu! Kau berencana ingin kuliah di Landon bukan? Ayah bahkan sudah menyiapkan segalanya untukmu! Ah Tuhan ini terlalu cepat!" Batin Syeza
__ADS_1
See you Zidan Elsiraaj. Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah cintanya Geisha, terima kasih sudah menjadi bagian dari warna Melukis Senja, terima kasih untuk kisah hidupmu yang menjadi bagian dari kisah mereka.