
"Ayah, ada yang ingin aku sampaikan" Alghifari menghampiri ayahnya lalu duduk dihadapannya.
"Ada apa Al?"
"Besok, aku tidak ingin wajah Syeza terekspose camera sehingga dunia tahu tentang wajahnya"
"Kenapa memangnya?"
"Setelah pers besok dunia akan tahu tentang keluarga kita dan tentu saja dunia akan tahu siapa Syeza! Putri dari seorang CEO terkaya di Indonesia, adik dari seorang CEO terkaya kedua diseluruh dunia dan keponakan dari seorang CEO terkaya ketiga diseluruh dunia" Alghifari terdengar menarik nafas.
"Apa ayah fikir dunia dan publik akan diam saja dengan keistimewaan yang dimiliki Syeza? Tidak ayah! Mereka pasti akan mengincar Syeza! Aku sempat melihat artikel satu tahun lalu tentang ayah yang menyembunyikan identitas Syeza, sekarang mari kita ungkapkan tentang keluarga kita tanpa menunjukan wajah Syeza! Biarkan dunia tahu tentang Syeza tanpa mengenal wajahnya, itu jauh lebih baik untuknya"
"Kau yakin dengan keputusan itu?"
"Ayah, aku cukup mengenal putrimu! Meskipun dia gadis yang sedikit ceria tapi dia tidak suka keramaian, tidak suka urusan pribadinya dikomsumsi banyak orang! Dia gadis yang tidak ingin dikekang ayah, putrimu tipe gadis yang ingin terbang bebas! Aku tidak ingin Syeza tidak bebas menjalani hari-harinya hanya karena dikejar-kejar oleh publik dan dunia"
"Al benar ayah! Aku paling benci hal-hal pribadiku jadi konsumsi banyak orang!" Timpal Syeza, ia lalu duduk disamping kakaknya.
"Tapi saat artikel satu tahun yang lalu rilis, bukankah kau merasa kecewa bahwa ayah sengaja menyembunyikan identitasmu?"
"Heeemm? Aahh itu karena aku tidak tahu alasan ayah yang sebenarnya!" Ujar Syeza sambil menggaruk tengkuknya. Elhameed hanya tertawa kecil.
"Baiklah, kalau begitu ayah setuju! Persiapkan semuanya Al!"
"Baik ayah!"
"Aahh bagaimana dengan tantemu?" Tanya Elhameed.
"Semuanya sudah beres ayah, besok setelah pers polisi akan mendatanginya" Ujar Al.
"Eemmm baiklah! Sekarang istirahatlah!" Elhameed mengangguk lalu beranjak dan melangkah pergi.
"Al?"
"Kau akan terus memanggil aku dengan namaku?!" Alghifari memicing ke arah Syeza.
"Ehehe, aku belum terbiasa!" Syeza hanya nyengir lalu menyenderkan kepalanya dibahu Alghifari.
"Al, setelah pers besok kau akan ikut ayah dan ibu ke Indonesia?"
"Eeemm iya! Masih banyak urusan di Apartemen dan markazku yang belum diselesaikan!"
"Markaz? Aahh kau masih suka membunuh?"
Alghifari tak menjawab, pria itu hanya diam.
Syeza tersenyum kecil lalu menggenggam tangan sang kakak.
"Aku tahu ini bukan hal yang mudahkan? Aku percaya pelan-pelan nanti kau pasti bisa melepas hal itu"
"Aku tidak bisa melepaskannya"
"Hah?"
"Bagaimana mungkin aku dengan mudah melepaskannya? Bahkan hal itu sudah melekat dalam diriku!"
"Eeemm tapi aku percaya kau pasti bisa!"
Alghifari hanya tertawa kecil.
Syeza lalu mengeratkan genggamannya, ia lalu memejamkan matanya.
"Kau tidak ikut ke Indonesia?" Tanya Al
Syeza hanya menggeleng.
"Sampaikan saja salamku untuk mereka dibasecamp!"
"Bagaimana dengan kau dan Rayhan?"
Syeza tak menjawab, ah ia tidak ingin membahas pria itu.
"Kau belum berbaikan dengannya? Kau tidak ingin melanjutkan hubungan kalian? Aku rasa Rayhan benar-benar menyesali perbuatannya! Sepertinya ia tidak ingin kehilanganmu!" Alghifari tersenyum kecil, ah meskipun ia tidak ingin adiknya kembali menjalin hubungan dengan Rayhan tapi, jika itu membuat Syeza bahagia ia akan menerimanya.
"Za? Bagaimana jika kau juga ikut pulang ke Indonesia sebentar? Kau dan Rayhan mungkin perlu untuk berbicara lagi?" Alghifari menoleh namun, gadis itu sudah tertidur lelap.
"Ah sejak kapan ia tertidur dibahuku?" Batin Alghifari.
Ia tersenyum lalu ikut menyenderkan kepalanya dikepala adiknya.
...****************...
"Ah pinggangku!" Syeza merasakan kesakitan saat ia mencoba bangun dari tidurnya.
"Aah kenapa badanku jadi sakit begini?" Ia lalu menggerakkan tangan dan kepalanya dan menatap ke sekelilingnya.
"Ouh? Ini bukan kamarku! Hah! Semalaman aku tidur disofa ini?!" Ia mendengus kesal.
"Kau sudah bangun? Mandilah! Sebentar lagi kita akan berangkat ke rumah kakek!" Alghifari melemparkan handuk ke arahnya.
Syeza terlihat kesal, ia lalu memicing ke arah kakaknya.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"Kau membiarkan aku tidur disofa ini sedangkan kau menikmati kasurmu dikamar?!"
"Aku hanya tidak ingin menganggu tidurmu jadi, aku membiarkannya!"
"Tapi kau membuat badanku sakit!"
"Siapa suruh kau tertidur dibahuku?"
"Hah!! Menyebalkan!!"
__ADS_1
"Cepat bersiap-siap, semua orang sudah menunggumu!"
Syeza membuang muka lalu beranjak berdiri.
"Ah pinggangku! Sakit sekali!" Syeza memasang wajah memelas ke arah kakaknya.
"Kenapa memasang wajah seperti itu?"
"Gendong kak"
"Wakhh!! Kau sungguh memanggilku kakak hanya karena ada maunya?!"
"Aah aku janji setelah ini aku akan memanggilmu kakak"
"Tidak perlu! Lagi pula kau berat!"
"Menyebalkan!! Dasar kakak tidak berguna!" Ujar Syeza dengan kesal lalu beranjak dan melangkah pergi meninggalkannya.
"Bukannya tadi dia mengatakan pinggangnya sakit? Tapi ia bahkan berjalan seperti orang yang tidak kesakitan" Alghifari hanya tertawa kecil melihat tingkah adiknya.
Namun ia terlihat menghela nafas.
"Tapi, sampai kapan aku hidup dengan perasaan yang tak karuan seperti ini?" Batinnya.
...****************...
Syeza berdiri mematung didepan cermin, memandang dirinya yang memakai dress selutut berwarna navi senada dengan warna jas Alghifari.
"Kau sudah siap? Kenapa lama sekali?" Alghifari berjalan menghampirinya dan berdiri dibelakangnya.
Syeza memandangnya lewat kaca cermin dengan wajah malas.
"Ada apa? Kenapa wajahmu tidak semangat seperti itu?"
"Apa aku juga perlu ikut?"
"Tentu saja! Kau bagian dari keluarga ini juga bukan?"
"Aku tahu tapi, kau juga tahu aku tidak menyukai hal seperti ini bukan? Kenapa kau tidak meminta pada ayah agar aku tidak perlu ikut saja?!"
Alghifari tersenyum lalu melangkah mendekati adiknya, tangannya lalu terangkat mengusap kepala adiknya menatapnya lewat kaca cermin.
"Kau tidak perlu khawatir! Selama kau bersamaku semuanya akan baik-baik saja! Lagipula kau muncul tanpa memperlihatkan wajah aslimu bukan? Percayalah padaku!"
"Eemm baiklah! Aku mempercayaimu kak!"
"Ouhhh? Kau baru saja memanggilku kakak?" Ujar Alghifari menggoda.
"Aahh itu hanya spontanitas! Aku terbawa suasana!"
"Ahaha coba ucapkan sekali lagi!"
"Kenapa tidak kau saja?!"
"Apa?"
"Aaahh, ayo nanti terlambat!" Alghifari lalu melangkah pergi.
"Aahh ayo Al! Sekali saja!" Ujar Syeza tersenyum sambil mengejar langkah kakaknya.
"Tidak Syeza!"
"Kau belum pernah memanggilku adik Al!"
...****************...
Empat buah sedan hitam berhenti tepat ditengah-tengah lapangan, satu mobil tengah yang diisi oleh Elhameed bersama istrinya dan kedua anaknya, samping kanan ada mobil yang dikendarai oleh Alex dan pengawal Alghifari, disamping kiri ada mobil yang dikendarai oleh pengawal Elhameed dan dibelakang ada mobil yang dikendarai oleh pengawal yang dikirim Vino.
Diluar mobil sudah ramai oleh orang-orang yang menunggu, disamping kanan dan kiri lapangan dipenuhi oleh para wartawan dari berbagai media, hanya ada satu jalan ditengah-tengah yang digelari dengan karpet merah.
"Kalian sudah siap?" Elhameed menoleh ke arah kedua anaknya.
Syeza dan Alghifari hanya mengangguk.
"Syeza jangan lupa pakai topi dan kacamata hitammu!" Ujar Elhameed.
Syeza hanya mengangguk.
"Baiklah! Ayo!" Elhameed lalu melangkah keluar diikuti oleh Erlina.
Syeza terlihat menarik nafas.
"Kau gugup?" Tanya Al.
"Eemm? Aahh entahlah tapi, aku sedikit merasa gemetar" Syeza tersenyum kecil.
"Mau kupeluk sebentar? Siapa tahu bisa menenangkanmu" Ujar Al.
Syeza hanya mengangguk kecil.
"Kemarilah!" Alghifari tersenyum kecil lalu merentangkan kedua tangannya.
Syeza tersenyum lalu memeluk kakaknya, Alghifari lalu mengusap kepala adiknya dengan lembut.
"Bagaimana? Sudah lebih baik?"
"Eemm iya!" Syeza mengangguk.
"Ayo!" Alghifari melepaskan pelukannya lalu melangkah keluar.
Syeza kembali menarik nafas lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
"Kau masih grogi?" Bisik Al pada Syeza yang sedang berdiri disampingnya.
__ADS_1
Syeza hanya menggeleng.
"Aahh kalian sudah sampai?" Vino tersenyum menyambut kedatangan kakak dan keponakannya lalu ikut bergabung bersama mereka.
Mereka lalu melangkah beriringan, semua camera terangkat kearah mereka dari berbagai sudut.
"Syeza kau tidak apa-apa?" Vino menoleh sejenak ke arah Syeza.
"Eeemm aku baik-baik saja!"
"Baguslah!" Vino tersenyum.
"Wakh paman bagaimana bisa banyak orang dirumah kakek?"
"Itu karena sebelum pers hari ini, paman dan kakakmu sudah menyebarkan isu tentang Tuan Misterius yang ingin memperkenalkan dirinya dan juga keluarganya pada dunia!"
"Wakhh aku akui kalian memang hebat!" Syeza mengangguk-ngangguk.
Vino hanya tertawa kecil.
Dalam ruangan yang juga sudah dipenuhi oleh orang-orang, Elhameed bersama dengan yang lainnya melangkah keatas podium, semua camera lalu tertuju ke arah mereka.
"Seperti isu yang sudah tersebar, aku adalah Tuan Misterius! Aahh kalian mengenalnya sebagai Tuan Satrio namun, nama asliku adalah Elhameed!" Ujar Elhameed.
"Ini adalah istri pertamaku! Erlina Alvaro!" Elhameed tersenyum ke arah Erlina yang berdiri disampingnya.
"Iya! Aku memang memiliki dua istri! Istri keduaku Elisa, sudah meninggal empat belas tahun yang lalu di Indonesia"
"Tuan, aku pernah mendengar bahwa istri keduamu adalah orang ketiga dalam rumah tanggamu? Apakah benar ia yang merusak keluarga kecilmu?" Tanya seorang wartawan.
Erlina menatap ke arah Elhameed meminta agar ia yang berbicara, Elhameed tersenyum lalu mengangguk.
"Biar aku perjelas, Elisa bukan wanita seperti itu! Dia adalah wanita paling baik yang aku kenal! Keluarga kami bahkan hidup rukun dalam satu atap!" Ujar Erlina.
"Ibu, lihatlah! Kau memang benar, ibuku yang sedang berbicara adalah wanita yang sangat baik!" Batin Syeza.
"Nyonya apakah benar kau putri dari Tuan Alvaro? CEO yang pernah menduduki peringkat terkaya kelima diseluruh dunia?" Tanya salah satu wartawan.
Erlina hanya mengangguk kecil.
Terdengar bisik-bisik penuh kagum dari beberapa mulut para wartawan.
"Baiklah, biarkan aku perkenalkan lagi tiga orang yang berdiri bersama kami!" Ujar Elhameed.
"Lalu pria ini adalah adik iparku! Vino Alvaro!"
Vino tersenyum lalu membungkuk memberi salam.
"Ouhh? Bukankah kau adalah CEO terkaya ketiga diseluruh dunia yang baru muncul dan sedang diperbincangkan dimedia sosial?" Tanya seorang wartawan perempuan yang berdiri diujung.
Vino hanya mengangguk.
"Wakhh!! Aku penggemarmu!" Timpal wartawan itu membuat semua orang dalam ruangan tertawa kecil.
"Aakk terima kasih!" Jawab Vino sambil tertawa kecil.
"Wakh paman kau memang populer dikalangan gadis-gadis muda!" Timpal Syeza.
"Benar bukan? Aku memang pria tampan yang menawan!" Jawab Vino ngasal.
"Hah! Kau sangat percaya diri paman!" Timpal Alghifari.
Vino hanya tertawa kecil.
"Baiklah sedangkan pria yang berdiri disamping adik iparku adalah putraku, Alghifari Elhameed!"
Alghifari lalu membungkuk memberi salam.
"Tuan, apakah putramu adalah...?"
"Iya benar!" Potong Elhameed.
"Dia adalah CEO terkaya kedua diseluruh dunia!"
"Wakhh bukankah ini sangat keren?"
"Benar bukan? Bagaimana mungkin keluarga ini memiliki garis keturunan yang mewarisi kekayaan?"
"Aahh ini diluar dugaan!" Terdengar bisik-bisik suara yang memuji heran.
"Lalu, seorang gadis yang berdiri diantara mereka adalah putriku, Syeza Anastasya Elhameed adik dari Alghifari Elhameed!" Sambung Elhameed.
"Aakh jadi benar artikel yang sempat tranding satu tahun yang lalu bahwa kau memang memiliki seorang putri yang disembunyikan identitasnya?" Tanya seorang wartawan lagi.
"Iya benar!" Jawab Elhameed.
"Kenapa kau menyembunyikan identitas putrimu? Apakah itu juga menjadi alasan hingga hari ini pun putrimu muncul dengan misterius seperti ini?" Tanya seorangnya lagi.
"Aahh seperti yang kalian tahu, putriku memiliki keistimewaan yang akan menjadi sorotan publik! Aku hanya ingin menjaga putriku agar kehidupan sehari-harinya tak diganggu oleh media-media yang tak bertanggungjawab!" Jawab Elhameed.
Sebagian wartawan mengangguk setuju.
"Aakh itu artinya kau tidak pilih kasih bukan? Apa kau lebih menyayangi putrimu karena ia adalah anak dari selingkuhanmu?" Seorang wartawan perempuan bertanya dengan senyum sinis.
Syeza terlihat kaget dan hendak maju selangkah untuk berbicara namun, Alghifari menahan tangannya. Alghifari lalu maju selangkah.
"Bukankah tadi ibuku sudah memberitahumu? Apa perlu diperjelas lagi? Dengar, ibu keduaku bukan wanita murahan sepertimu Nona Adonia!" Ujar Alghifari membuat semua orang kaget karena Alghifari mengenal wartawan itu.
"Apa aku perlu memberitahu publik tentang pekerjaan kotormu?!" Ujar Alghifari lagi.
"Yakh apa maksudmu?!" Suara wartawan itu sedikit meninggi.
"Ahaha kau berlagak seperti seorang pemberani! Kau lupa? Boss dari departemenmu pernah berlutut dihadapaku meminta bantuan agar departemenmu tetap meliris berita! Kau jauh-jauh dari Ney York hanya untuk mencari kesalahan keluargaku?!" Alghifari tertawa sinis.
__ADS_1
"Jangan coba-coba merusak reputasi keluargaku! Aku bisa saja menuntut kau dan agensimu atas dasar pencemaran nama baik! Aakhh atau aku buat agensimu hancur lembur saja?! Agar tak perlu ada media-media kotor seperti kalian!"
"Ibu, lihatlah putramu yang dulu kau banggakan hari ini terlihat sangat keren!" Batin Syeza.