Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
episod 14


__ADS_3

"selamat pagi mah. pah". ucap Jay dan Zen. sembari mencium kening Harun dan Herlin yang masih tertidur pulas. sementara Bastian sudah menghilang tanpa jejak sebelum semuanya terbangun.


setelah 3 tahun berpisah. Harun dan Herlin memutuskan untuk melewati malam dengan tidur bersama ketiga putranya. didalam mansion terdapat satu kamar yang di desain khusus oleh Harun untuknya dan Herlin jika sewaktu-waktu ingin tidur bersama dengan Zen, Bastian dan Jay. kamar yang luas dengan tempat tidur yang dipesan khusus sehingga muat untuk lima orang.


tak henti-hentinya Herlin menitikan airmata. melihat ke 3 putranya sekarang berada di sampingnya. malam yang panjang mereka lewati dengan penuh canda, tawa dan kadang harun. kecuali Tian yang hanya memasang wajah dinginnya tanpa ekpresi. bahkan dia memilih tidur lebih dulu.


"Zen terima kasih sudah membawa adik-adik mu pulang. terima kasih". herlin memeluk Zen yang tidur disebelah kanannya. sedangkan Bastian di tengah dan jay disebelah kiri Harun.


tidak mah jangan berterima kasih. Zen tidak melakukan apa-apa. Zen gagal mah. Zen gagal menjadi kakak yang baik buat Tian. maafkan zen mah. maafkan zen. jawab Zen terlihat menitikan airmata.


"tidak sayang. zen Kaka yang baik. bahkan zen tidak ikut pulang selama 3 tahun ini demi bersama adik mu. hanya Jay yang pulang setiap weekend" tidak ada kakak yang lebih baik dari mu Zen".


"maafkan Zen mah. zen hanya tidak ingin Bastian kesepian dan merasa sendiri. karena terlalu mengkhawatirkan Tian, Zen jadi lupa dan melalaikan tugas Zen sebagai seorang anak". Zen memeluk Herlin penuh penyesalan.


"tidak Zen. kamu sungguh anak mamah yang paling baik. mamah beruntung mempunyai anak sulung seperti mu zen".


"tidak mah Zen dan Jay yang beruntung memiliki mamah dan papah. terimakasih mah . terima kasih atas segala yang mamah dan papah berikan selama ini" kembali Zen menitikan air matanya.


Zen dan gina hanyut dalam percakapan mereka. sedangkan yang lain sudah berlayar dalam mimpi masing-masing


memiliki orang tua yang berhati malaikat adalah harapan bagi setiap orang. terlebih-lebih untuk Jay dan Zen. memiliki kesempatan menjadi anak dari Herlin dan Harun adalah anugerah terindah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh mereka berdua. apalagi dengan kasih sayang yang mereka berikan tanpa membedakan anak kandung dan anak angkat. bagi Herlin dan Harun. Zen adalah anak sulung, dan Jay anak bungsu. kedua putranya juga berhak atas harta mereka yang berlimpah ruah. Harun juga sudah menyiapkan yang terbaik untuk kedua putranya.

__ADS_1


Zen dan Jay kembali kekamar masing-masing, yang posisinya bersampingan dengan kamar Bastian. begitu juga dengan Harun dan Herlin yang juga sudah terbangun dari tidurnya.


"pagi nyonya besar. tuan besar"


"pagi pak Mamang"


"pagi tuan muda. tuan Zen dan tuan zay"


"pagi pak Mamang". jawab Zen dan Jay. sementara Tian hanya memasang wajah dinginnya.


Harun dan Herlin saling bertatapan melihat sifat dingin putra mereka. meskipun tidak bertemu selama 3 tahun. namun Harun dan Herlin mengetahui semua yang terjadi pada Bastian. baik dari alasan Bastian pergi dari rumah, alasan Bastian tidak ingin bertemu dengan mereka serta perubahan besar yang terjadi pada Bastian. hal ini tentu dari si putra bungsu.


meja makan yang sudah lama hanya terisi oleh dua orang. Sekarang menjadi sempurna kembali. yang 3 tahun lamanya tanpa kehangatan sekarang terisi dengan canda dan tawa layaknya satu keluarga. Jay yang menjadi anak bungsu keluarga Harun tidak membiarkan keheningan berada ditengah-tengah mereka. Herlin, Harun dan zen tak hentinya tertawa mendengar perkataan polos Jay yang ceplas-ceplos. sementara Bastian hanya asik menikmati makanannya tanpa mendengar kan apapun yang mereka bicarakan.


"ya Allah, biarkan kelaurga ini seperti ini selamanya". batin Mamang yang tersenyum penuh haru melihat kehangatan keluarga majikannya.


"mah pah Bastian pergi dulu". ucap Bastian membuat suasana yang tadi hangat menjadi seketika hening kembali. Herlin menatap wajah Harun. begitu juga Zen dan Jay. Bastian yang menyadari perubahan wajah herlin berdiri dan mendekati harlin.


"mah Bastian akan pulang. jangan khawatir. Bastian hanya pergi kekantor" Bastian memeluk Herlin dan mencium lembut ujung rambut Herli. Herlin mengusap airmata nya mendengar perkataan Bastian. dia pikir anaknya akan pergi meninggalkannya lagi.


"aku berangkat". Bastian meninggalkan mereka yang masih berada dimeja makan. Zen dan Jay dengan cepat menghabiskan sisa makanan yang masih ada dipiring.

__ADS_1


"mah Zen berangkat dulu". Zen berlari mengejar Bastian. tanpa sempat bersalaman dengan Harun dan Herlin.


"mah Jay juga berangkat. takut si raja hutan ngamuk". ucap jay sambil mencium ujung rambut Herlin dan tangan keduanya orang tuanya. kemudian berlari mengejar Zen dan Bastian.


"dasar anak nakal" jawab Herlin yang melihat tingkah lucu putra bungsunya itu.


"pah mamah bahagia. sekarang anak-anak kita sudah kembali". Herlin memeluk erat tubuh Harun. menenggelamkan wajahnya didada harun.


"hiksss...hikkksss". Isak tangis Herlin kembali terdengar.


"mah sudahlah. jangan menangis lagi. anak-anak kita sudah kembali sekarang". Harun memeluk dan menenangkannya..


"tapi tian kita sudah berubah pah. dia bukan Tian kita yang dulu. mamah tersiksa melihatnya seperti itu". tolong kembali kan Tian mamah yang dulu pah.. hikss..hiks.."


"sabar mah. semoga Tian kita akan kembali seperti dulu".


benar saja.. kejadian sehari telah mengubah Bastian selama 3 tahun ini.


_________________


"hello readers.. author masih dalam tahap belajar. mohon bantuan, kritik dan sarannya baik yang bagus maupun tidak. author akan menerima dengan senang hati"..😁😁😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2