Bahagia Diujung Senja

Bahagia Diujung Senja
Pria Tampanku 7 Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Pria tampanku? bukankah itu terdengar sangat aneh? ternyata aku meiliki kisah masa kecil yang memalukan:)!!😂


...~Syeza Anastasya...


Aahh sudah seminggu semenjak aku pulang ke rumah, rumah yang sudah seperti tempat asing untukku, bagaimana tidak? aku harus menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturannya dan menyesuaikan diri untuk di layani! aku merasa tidak bebas mengerjakan sesuatu karena selalu di layani, ah sudah seperti putri raja saja!. dan aku tidak suka itu! dan satu hal lagi, jika sudah masuk ke rumah ini maka aku akan punya kemungkinan kecil untuk bisa keluar lagi! karena aku yakin ayah pasti akan memperketat keamanan agar aku tidak bebas keluar kemana-mana tanpa sepengetahuan ayah! ayah bilang "itu untuk kebaikan ku! dan agar aku selalu aman!".


Aakhh tapi aku bahkan tidak tau apakah ada musuh yang sedang mengintai ku?!.


"Apa kalian tidak bisa berhenti mengikuti ku?!"


Aku menghentikan langkah dan menoleh kearah dua orang pengawal yang mengikutiku mulai dari aku keluar kamar dan berkeliling rumah.


"Maaf nona, ini adalah perintah dari tuan besar"


"Lalu dimana ayah?! apa dia hanya memberikan perintah tanpa menunjukkan wajahnya di hadapan putrinya?! kalian tau? aku bahkan sudah seminggu disini, tapi aku bahkan belum bertemu ayah!! aakhh kalian pasti senangkan melihatku seperti putri yang tak di anggap?!"


Aku memasang wajah cemberut lalu duduk di salah satu sofa.


Para pengawal hanya terdiam, mereka pun bingung! lagi pula tidak mungkin bukan mereka meminta tuan besar untuk pulang? mereka tidak punya hak lebih untuk meminta hal seperti itu ke tuan besar! sedangkan disalah satu sudut tembok seorang pria berpakaian hitam-hitam yang mengikuti mereka secara diam-diam tersenyum kecil saat melihat gadis itu yang sedang cemberut.


"Ah kau tidak pernah berubah! kau masih sama seperti gadis kecil 17 tahun yang lalu!"


Batin pria itu.


Aku lalu melirik kearah dua pengawal yang masih setia berdiri.


"Apa kalian tidak capek berdiri terus seperti itu?! disini masih ada sofa yang kosong, kenapa kalian malah berdiri?!"


"Kami hanya......,"


"Hanya apa hah?!"


Aku memotong ucapan mereka.


"Hanya mengikuti perintah ayah begitu?! aakhh kenapa kalian begitu patuh terhadap perintah ayah?!"


Aku lalu beranjak berdiri dan melangkah menghampiri mereka lalu mengaitkan kedua tanga ku ke lengan mereka.


"Sekarang tidak ada ayah jadi, kalian tidak perlu khawatir! dan tenang saja aku bukan tipe anak yang suka mengadu jadi aku tidak akan melaporkan kalian! jadi kemari dan duduklah!!"


Aku lalu membawa mereka dan mendudukkannya diatas sofa, aku lalu berdiri di hadapan mereka.


"Nona apa yang kau lakukan?!"


Dua orang pengawal itu hendak berdiri namun aku menahan mereka.


"Jangan bergerak sedikit pun! ini juga adalah perintah!"


Dua pengawal itu terdiam.


"Kenapa? kalian tidak ingin mematuhi perintahku?! mau ku laporkan pada ayah bahwa kalian menolak perintahku?!"


"Tidak nona!"


"Baiklah, kalau begitu duduk diam disini dan jangan mengikuti ku!"


"Nona...."


"Ini perintah!!"


Aku memotong ucapan mereka.


Dua pengawal yang hendak berdiri, kembali duduk di sofa mereka.


"Jangan mengikutiku atau aku akan melaporkannya pada ayah! mengerti?!"


Dua pengawal itu hanya mengangguk dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.


Aku tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan mereka.


Setelah bayangan nona mudanya tak terlihat dua pengawal tersebut terlihat panik dan hendak melangkah pergi menyusul nona mudanya namun sebuah tangan menghentikan mereka.


"Tidak perlu, biar aku yang menyusulnya! kalian kembalilah bekerja!"


Mendengar suara yang memerintahkan mereka, dua pengawal itu membungkukkan badannya.


"Baik tuan!"


Dua pengawal itu lalu melangkah pergi.


Pria itu hanya tersenyum lalu melangkahkan kakinya menyusul gadis yang disebut nona muda.


...****************...


Aku berdiri termenung di depan sebuah ruangan, yah ruangan yang dilarang oleh ayah siapa pun tidak boleh memasukinya tanpa perintah dari ayah, ruangan yang bertahun-tahun membuat ku penasaran tentang apa isinya sehingga ayah melarang orang-orang untuk masuk termasuk aku putrinya.


Ah ayah apa sebenarnya isi dari ruangan ini?.


"Apa yang kau lakukan disini nona?"


Aku menoleh ke asal suara yang menyapaku.


"Ouh? kau?"


"Kau masih mengingatku?"


Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku dan tersenyum tak percaya dengan apa yang kulihat didepanku.


Kalian tau siapa pria yang sedang berdiri di depanku? namanya Fino Alvaro! dia adalah asisten kepercayaan ayah, ia bekerja sudah cukup lama dengan ayah dan aku adalah pengagum beratnya, pertama kali aku bertemu dengannya saat aku masih berumur 10 tahun dan saat itu ia berumur 13 tahun tapi itu pun hanya beberapa bulan, setelah itu ayah mengirimnya ke amsterdam untuk belajar dan hari ini adalah pertemuan kedua kami setelah 7 tahun tak bertemu! aakhh ia tumbuh menjadi pria yang tampan dan terlihat berwibawa, senyumnya masih tetap sama tak pernah berubah dan senyum itu masih memukau dan memesona!.


Aakhh aku jadi teringat momen memalukan disaat aku menyatakan cinta sebelum ia berangkat ke amsterdam.


"Kau masih sama nona, tingkah gemasmu saat kau kesal dan melampiaskannya kepada orang lain ternyata masih ada dalam dirimu, dan itu yang aku sukai dari mu!"

__ADS_1


"Ouhh?"


Aku terdiam.


Apa maksudnya ini? dia tidak sedang menembakku bukan?.


"Sekarang kau sudah tumbuh menjadi gadis remaja!"


Aku hanya tersenyum kikuk.


"Sudah hampir tujuh tahun bukan kita tidak pernah bertemu? kau semakin cantik!"


Ouhh? astaga jantungku bahkan masih berdebar saat dia mengatakan kata"cantik" padahal kata itu selalu aku dengar darinya 7 tahun yang lalu!.


"Apa kabar nona syeza?"


"Aahh yaa, aku baik!"


Aku mencoba mengatur nafas ku.


Ah kau tidak perlu merasa deg-degan bukan?.


Fino hanya tersenyum melihat kelakuan nona mudanya yang tak pernah berubah, ternyata rasa kagum terhadapnya masih ada.


"Kau pasti masih mengagumi ku bukan?"


"Ahahah ternyata tingkat percaya dirimu pun masih sama"


"Aku memang masih sama seperti 7 tahun yang lalu! lalu kau sendiri bagaimana? apa masih sama seperti 7 tahun yang lalu?"


Ah apa maksudnya dia mengatakan bahwa dia masih sama seperti 7 tahun yang lalu? bahkan kata yang sering dia ucapkan adalah kata "cantik!" bukan "cinta!" lagi pula bukankah waktu itu aku yang lebih dulu menyatakan cinta kepadanya? aahh tunggu apa dia sedang mengejek ku?!.


Aku lalu memicing ke arahnya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu nona?"


"Yah!! kau sedang mengejekku bukan?! dengar baik-baik, apa yang ku katakan 7 tahun yang lalu sebelum kau ke amsterdam bukanlah hal yang benar! saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami hal-hal seperti itu!"


"Memangnya apa yang kau katakan 7 tahun yang lalu?"


Aku kembali memicingkan mata.


Apa dia sungguh sudah melupakan perkataanku waktu itu? aahh tapi bukankah itu hal yang bagus?.


Aku tersenyum.


"Aahh kau tidak perlu khawatir! aku masih mengingatnya dengan baik apa yang kau katakan 7 tahun yang lalu sebelum aku ke amsterdam!"


"Ouhh?"


Mataku seketika terbelalak, aku lalu berbalik membelakanginya.


His menyebalkan!! apa dia sedang mempermainkanku?! tapi, kenapa aku tidak bisa marah kepadanya?! kenapa syeza?! apa kau sungguh masih menjadi penggemarnya?!.


"Apa yang kau fikirkan? apa kau sedang memikirkan kata apa yang kau ucapkan 7 tahun yang lalu? mau kubantu ingatkan?"


Aku berbalik dan mengibaskan tanganku ke arahnya.


"Aahh rupanya kau masih mengingatnya dengan baik yaa? aku fikir kau sudah melupakannya!"


Fino tersenyum.


Aku memejamkan mata sejenak.


Aakhh syeza kenapa kau begitu bodoh? kau sadar? kau baru saja menyatakan hal yang seharusnya tak dinyatakan!.


"Tapi terima kasih untuk 7 tahun yang lalunya dan terima kasih juga karena kau sudah tumbuh menjadi gadis yang baik dan cerdas!"


Aku hanya nyengir.


"Apa kau masih ingat pesan ku 7 tahun yang lalu sebelum aku ke amsterdam?"


"Pesanmu 7 tahun yang lalu?"


Aku mengerutkan alis mencoba mengingat pesannya 7 tahun yang lalu.


"Aakhh rupanya kau hanya mengingat pernyataanmu 7 tahun yang lalu dan melupakan pesanku!"


"Ahahah itu karena selama 17 tahun hidupku dipenuhi oleh cinta, jadinya aku hanya mengingat kata itu"


Aku mencoba mengarang hal yang mungkin tak masuk akal.


Fino terlihat tertawa kecil.


"Kau menertawaiku?!"


Aku memicing kearahnya.


"Ahahah tidak!! aku hanya memikirkan bahwa kau memang menggemaskan semenjak kau lahir hingga tumbuh dewasa pun kau masih tetap menggemaskan"


"Semenjak aku lahir?"


"Aakhh maksudku, semenjak kau lahir pasti kau bayi yang paling menggemaskan ditahun itu sehingga saat kau tumbuh dewasa pun kau masih tetap menggemaskan!!"


"Oouhh"


Aku mengangguk-ngangguk namun masih tetap memikirkan perkataannya.


Semenjak dari bayi? itu terdengar seperti dia mengenalku semenjak dari bayi bukan?! aakhh tapi....., huuufff kepalaku benar-benar pusing memikirkan hal ini!.


"Aiss apa lagi yang kau fikirkan? aku rasa kau juga tumbuh menjadi gadis yang pemikir!"


Aku memutar bola mata malas.

__ADS_1


Fino tersenyum.


"Mau mendengarkan pesanku 7 tahun yang lalu?"


Aku mengangguk.


"Aakhh kau begitu antusias!"


Aku kembali memicing kearahnya.


"Ahahah baiklah akan ku katakan!!"


Aakhh kenapa aku terlihat begitu akrab dengannya? mungkin kah 7 tahun yang lalu bukan pertemuan pertama kami? apakah itu pertemuan yang sekian kalinya? apa aku mengenalnya di tahun-tahun sebelum 7 tahun yang lalu?.


"Apa kau masih ingat tentang ini?"


Fino mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan sebuah gelang merah dengan tulisan di gelang itu yang melingkar di lengannya, aku lalu mendekat dan membaca tulisan di gelang tersebut.


"Pria tampanku?"


Aku mengerutkan alis.


"Aaakhh bukankah menurut mu ini terlihat norak?"


"Benarkah? kau yang membuatkannya untuk ku!"


"Ouhh? aku yang membuatnya?"


"Iyh!"


Fino mengangguk.


"Sungguh? aku yang membuatnya?! aahhh ini....., aku yang merajutnya sendiri?! benarkah?! aakkhh menurutmu bukankah aku gadis yang luar biasa?!"


Mataku seketika berbinar.


"Aakhh tadi kau baru saja mengatakan ini terlihat norak tapi, sedetik kemudian kau mengatakan ini luar biasa?"


"Aakhh itu karena aku tidak tau siapa yang membuatnya!"


Aku mencoba tersenyum menyembunyikan rasa maluku.


Fino tertawa kecil.


"Tapi iyh benar! kau memang gadis yang luar biasa!"


"Aakhh kau tidak perlu memujinya!"


Fino kembali tersenyum.


"Tapi bagaimana ceritanya aku yang merajut gelang ini?"


"Aakhh soal itu aku tidak terlalu tau, kau hanya mengatakan bahwa kau mempelajarinya dari ibumu!"


"Aakhh iyh! ibu adalah wanita yang pandai merajut! tapi, aku bahkan tidak mengingat kenangan itu! semua ingatan tentang ibu, tentang masa kecilku menghilang begitu saja tanpa ada yang tersisa diotakku!"


Aku tersenyum getir.


"Aakhh maaf, aku tidak bermaksud membuatmu bersedih!"


"Tidak apa-apa! lanjutkan bagaimana ceritanya aku memberikan gelang itu padamu? aku ingin mengetahuinya! itu bagian dari kisah masa kecilku bukan?"


Fino tersenyum dan mengangguk.


"Tujuh tahun yang lalu dimalam sebelum aku ke amsterdam kau menemui ku, memberikan gelang ini dengan alasan agar aku tidak melupakanmu! kau mengatakan bahwa kau belajar merajutnya dengan sangat giat hanya untuk gelang ini!"


"Benarkah? Aakhh aku pasti sangat mengangumimu waktu itu sehingga aku sangat segiat itu!"


Fino tersenyum.


"Lalu apakah aku memiliki alasan kenapa aku mengukir tulisan seperti itu?"


"Tentu saja! aku juga sempat bertanya, kenapa kau mengukir dengan tulisan pria tampanku digelang ini, lalu kau mengatakan bahwa dari semua pria yang kau kenal aku adalah pria tertampan!"


"Ahahah, apakah waktu itu aku begitu polos? Aalhh aku rasa tidak! aku bahkan mengatakan kau pria tertampan!"


Fino tertawa kecil.


"Jangan menertawaiku! itu memalukan!"


"Baiklah-baiklah!"


Fino berusaha menahan tawanya.


"Lalu apa pesanmu waktu itu?"


"kau ingin mendengarnya?"


"Iyh"


Aku mengangguk.


"Waktu itu, aku hanya berpesan agar kau tumbuh menjadi gadis yang cerdas, gadis yang penuh bahagia tanpa memikirkan rasa sakit! dan kau melakukannya dengan baik!"


"Aakhh benarkah? apa aku gadis yang penurut?"


"Ridak!"


Fino menggeleng.


"Ouh? tidak?"


"Iyh! kau hanya menurut kepadaku sedangkan ke ayahmu tidak sama sekali!"

__ADS_1


"Ahahahah, bukankah aku terlihat seperti gadis yang......? Aakhh itu memalukan!!"


Aku dan fino tertawa bersama.


__ADS_2