
"Tian tumben pulang cepat sayang"
tanya gina yang heran melihat Bastian pulang lebih cepat. namun tak dapat jawaban dari orang yang ditanya. yang hanya berjalan melewati gina diruang keluarga tanpa menoleh menuju ke kamarnya.
"Zen ada apa dengan adik mu?"
"ga tau mah"
"ka Tian lagi kasambet cewek mah". sahut jay
"apa?". teriak gina terkejut menatap jay"
"mah ga usah teriak juga kali" sahut Jay sambil menutup kedua telinganya
"maksud mu apa Jay?"
"ga usah dengarin bocah ih mah"
"aku ga bocah lagi brother"
"mah Zen berangkat kekantor dulu. karena ada meeting siang ini".
"baiklah. hati-hati Zen"
Zen menyalami Herlin dan mencium pucuk rambutnya. kemudian beranjak pergi.
"mah Jay juga". melakukan hal yang sama dengan zen
"mah nanti Jay ceritakan tentang si raja hutan. oke". ucap Jay kemudian berlari mengejar Zen.
"dasar anak nakal". sahut gina sambil tersenyum melihat belakang jay.
"apa yang terjadi dengan mu Tian. apa kamu sakit atau ada Masalah yang baru. wanita.. wanita mana yang dimaksud Jay. apa wanita gila itu kembali Tian?". batin Herlin menatap pintu kamar Bastian dari kejauhan.
"malam mah. pah"
"malam Zen, malam Jay".
"malam Tian". namun tidak dapat jawaban
"ayo mah kita makan. cacing dalam Perut Jay udah ga sabar"
dimeja makan memang selalu menjadi tempat mengobrol antara Herlin dan Jay. sedangkan Zen dan Heru kadang hanya geleng-geleng kepala. kadang tersenyum dan kadang ikut tertawa. kecuali Tian yang selalu seperti jalan beraspal yang datar.
"kenapa kamu memeluk ku". kata-kata itu tiba-tiba muncul dipikiran Bastian.. membuatnya tanpa sadar sesekali terkekeh
"uhukkkk.. uhukkkk". Jay dan Herlin tersedak secara bersamaan mendengar kekehan dari Bastian. Zen, Jay, Heru dan Herlin menatap Bastian. kemudian saling menatap satu sama lain. sementara Bastian seakan tak ada orang lain disana. cuek tanpa melihat siapapun.
setelah menghabiskan semua makanannya. Bastian beranjak pergi menuju kamarnya tanpa permisi ataupun bicara. sementara yang lain hanya melongo memerhatikannya.
"Zen, Jay kenapa dengan Tian?" tanya herlin
Zen dan Jay serentak menggelengkan kepala.
__ADS_1
"kenapa kamu memeluk ku". lagi-lagi kata-kata itu mampir kedalam pikiran Bastian. membuatnya tersenyum-senyum sendiri didalam kamarnya.
"hussss..". pergi kamu dari pikiran ku. ucap Bastian pada dirinya sendiri. yang sadar sedang memikirkan kasih"
dirumah keluarga Bondan. didalam kamarnya kasih masih bergulat dengan bukunya untuk mengerjakan tugas dari sekolahan.
"kasih kamu belum tidur?"
"belum Tante".
"jangan begadang terlalu larut malam"
"iya Tante".
"Tante tidur duluan ya sayang". ucap gina kemudian berjalan keluar dari kamar kasih.
"ring..ring". suara hp kasih berdering
"hallo"
"hallo sayang"
"bapak". jawab kasih sponta.
ini untuk pertama kalinya Jarot menelfon. Jarot sudah sejak lama menyimpan no. hp kasih. namun baru kali ini dia menelfon. bukan karena takut tapi tidak ingin membuat kasih tak nyaman denganya.
"iya sayang. kenapa belum tidur?"
"aku merindui mu sayang. aku mencintaimu.
besok aku akan menjemput dan mengantarmu kesekolahan".
kasih yang mendengar hanya terdiam tanpa menjawab kata cinta dari Jarot.
"sayang apa kamu mendengar ku"
"iya pak. baiklah".
"baik lah sayang. sekarang tidurlah. aku mencinta mu ummmchhhhh".
Tut...Tut..suara telefon terputus.
"hiksss..hiksss".. apa ini takdir ku?. apa ini hidup ku?. tangisan kasih sambil menanamkan wajahnya dibantal. hidup dengan orang yang tidak dicintai tentu pintu menuju jurang derita baginya.
tak lama hpnya kembali berdering. kasih tak punya niat untuk mengangkat. karena memang masih dalam keadaan menangis. namun si penelfon kaya teror tak henti-henti menelfon.
"hallo"
"helloooo. Lo udah mati ya. gue udah puluhan kali hubungin Lo".
"maaf dir. tadi aku lagi dikamar mandi"
"kasih..Lo habis nangis ya?". tanya Dira pelan yang mendengar suara sember dari kasih.
__ADS_1
"Oo..nggak ko dir. aku emang lagi serak aja. kayanya mau batuk"
"Lo ga usah bohongi gue sih. gue kenal Lo udah dari kita orok. jadi gue tau Lo bohong apa nggak".
"hikss..hikss". rintihan tangis kasih kembali terisak.
"sih Lo kenapa" tanya Dira khawatir.
"dir tolong jemput aku. bawa aku pergi dari sini".
"baik sih. baik"
tanpa menunggu lama dira menemui ibu kost nya untuk meminjam motor. maklum dira hanya anak dari keluarga petani dan ayahnya hanya kuli bangunan. tidak mampu membelikannya motor. mendapat kiriman setiap bulanya 700 sampai 1 juta saja sudah sangat bersyukur baginya. kadang dia menerima pekerjaan sampingan dari para tetangga seperti bersih-bersih rumah. atau pekerjaan apa saja yang bisa dikerjakannya untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup dikota orang. dari hasil itu dia bisa menabung sedikit-demi sedikit dan hasilnya dia belikan sepeda untuknya berangkat kesekolahan.
dengan keberanian dan tekat yang kuat. Dira merantau ke kota saat usianya 8 tahun, bersama bibi dan paman. saat itu dia masih duduk kelas 2 SD. sampai kelas 3 SMP Dira tinggal bersama bibi dan pamannya yang kebetulan bertetangga dengan gina tante kasih pada saat itu. sampai akhirnya bibi dan paman Dira memutuskan kembali ke kampung halaman dan bermaksud membawa dira. namun Dira menolak. setelah berdebat panjang dengan pamannya dan berdiskusi dengan kedua orang tuanya. akhirnya Dira diijinkan tetap melanjutkan sekolahnya di kota. karna memang Dira orang yang keras kepala dengan keputusan nya.
"Titt..tittt". klakson motor Dira
"tretttt" kasih membuka pintu
"kasih". Dira mendekati kasih penuh khawatir. menatap matanya yang sembab.
"dir bawa aku pergi dari sini". ucap kasih memohon
Dira dan kasih beranjak pergi menuju ke kost Dira.
"sih Lo kenapa sih?"
"dir...hikss..hiksss". kasih memeluk erat Dira. sementara Dira yang mendapat pelukan dadakan dari kasih. dengan sigab membalas pelukan kasih.
"sihhh..cerita ke gue Lo kenapa?"
"mengapa Tuhan membenci ku dir?. mengapa selama hidup ku gak bisa bahagia seperti orang lain?. mengapa aku selalu gak punya pilihan? mengapa aku gak bisa memilih hidup bersama orang yang ku sayang? hikssss. hiksss.
"kasih gue gak punya jawaban untuk semua pertanyaan Lo. tapi gue yakin pasti ada kebahagian buat Lo. hikss..hikss". jawab Dira yang juga terisak menangis
"kapan dir?. kapan?. aku udah mulai lelah".
"sih Lo harus kuat. Lo harus semangat. Lo ga boleh nyerah. gue bakal selalu berada disamping Lo".
kasih adalah salah satu alasan Dira tetap tinggal dikota. karena baginya kasih bukan saja sahabatnya. tapi layak seperti adiknya. melindungi kasih semampunya dan selalu ada disampingnya sampai ia bahagia. itu adalah janjinya pada dirinya sendiri.
"sabar ku, kuat ku dan semangat ku udah hampir habis dir. sebentar lagi aku bakal nikah sama pak Jarot. setelah itu aku gak tau, apa aku bakal hidup atau enggak dir. hikss..hikss".
"Lo ga boleh ngomong kaya gitu sih. Lo pasti bisa ngelewatin ini semua" jawab Dira sedikit mengegas.
entah berapa jam kasih terus menangis. membuat Dira ikut terhanyut dalam kesedihan kasih. hingga akhirnya dia lelah dan terlelap tidur disebelah Dira.
"sih. gue benar-benar ga kuat liat kehidupan Lo. kenapa Lo semenderita ini sih. kenapa buat tersenyum aja susah banget buat hidup lo. gue akan selalu menemani Lo sih. guee janji. sampai lo Nemu kebahagiaan lo". batin Dira menatap iba wajah kasih yang terlihat pucat.
_________________
Hello readers.. author masih dalam tahap belajar. mohon bantuan, kritik dan sarannya baik yang bagus maupun tidak. author akan menerima dengan senang hati"..😁😁😁😁😁
__ADS_1